Warning !!

Peringatan!! Banyak mengandung artikel atau informasi untuk khusus DEWASA.
Informasi yang ada di sini bukan sebagai pengganti anjuran dan terapi yang diberikan oleh dokter atau ahli bidang bersangkutan, namun diharapkan dapat menambah pengetahuan Anda. Sebaiknya Anda tetap mengkonsultasikan masalah Anda dengan dokter keluarga Anda atau ahli bidang bersangkutan.

Bila Anda ingin berbagi artikel/ info yang menarik dan sesuai dengan topik blog ini, silahkan berbagi dengan join dan posting ke info_pria@yahoogroups.com.
Semua sumber/ penulis dari pada artikel/ tulisan/ informasi yang dimuat sudah kami usahakan untuk dicantumkan. Bila ada kesalahan harap hubungi kami pada (info_pria-owner[at]yahoogroups[dot]com). Terima kasih.

LEBIH LENGKAP!! Dapatkan DVD Info-Pria, yang berisikan e-book, kumpulan artikel, software dan lainnya. Lebih rinci klik disini.

Sunday, February 4, 2007

Oral Sex Pada Remaja: Gawat !

Gawat! Lebih dari separuh remaja usia 15-19 tahun, diduga telah akrab dengan seks, termasuk oral & anal sex.

Satu hal yang pasti, cara itu ditempuh mereka agar terhindar dari kehamilan dan terjangkit HIV/AIDS. "Disatu sisi, ini menggembirakan, karena merka sadar akan bahaya hamil muda dan penyakit AIDS," kutip jurnal Family Planning Perspectives.

Tapi disisi lain, hal ini menunjukkan betapa mereka telah dewasa sebelum waktunya. "Kondisi ini bisa berbahaya jika tak didukung oleh pengawasan yang ekstra ketat dari para orangtua." Remaja sekarang kreatif mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Betapa tidak, bahaya senggama tak lantas menyurutkan mereka melakukan seks, tapi membuat mereka kreatif membuat variasi seks yang lebih aman. Dalam survei yang dilakukan jurnal itu diketahui, 44% remaja melakukan oral seks, 11% lainnya mencoba anal seks.

"Melihat kenyataan itu, orangtua perlu memantau perilaku seksual putra-putri mereka," saran Gary J. Gates dan Freya L. Sonenstein, sanga peneliti. "Penularan penyakit seks juga bisa terjadi melalui oral dan anal seks yang dilakuakan."

Gates dan Sonenstein juga menyarankan para orangtua dan pendidik melakukan pendekatan pragmatis yang lebih bersahabat. Deskripsi "menyeramkan" ini memang bukan tentang remaja Indonesia. Tapi, tak ada salahnya meningkatkan kewaspadaan.

Ada komentar? [imaulana] (Astaga.com)