Warning !!

Peringatan!! Banyak mengandung artikel atau informasi untuk khusus DEWASA.
Informasi yang ada di sini bukan sebagai pengganti anjuran dan terapi yang diberikan oleh dokter atau ahli bidang bersangkutan, namun diharapkan dapat menambah pengetahuan Anda. Sebaiknya Anda tetap mengkonsultasikan masalah Anda dengan dokter keluarga Anda atau ahli bidang bersangkutan.

Bila Anda ingin berbagi artikel/ info yang menarik dan sesuai dengan topik blog ini, silahkan berbagi dengan join dan posting ke info_pria@yahoogroups.com.
Semua sumber/ penulis dari pada artikel/ tulisan/ informasi yang dimuat sudah kami usahakan untuk dicantumkan. Bila ada kesalahan harap hubungi kami pada (info_pria-owner[at]yahoogroups[dot]com). Terima kasih.

LEBIH LENGKAP!! Dapatkan DVD Info-Pria, yang berisikan e-book, kumpulan artikel, software dan lainnya. Lebih rinci klik disini.

Thursday, April 12, 2007

Perilaku Seksual yang Menyimpang...

Mungkin sering kita dengar atau saksikan seseorang dengan perilaku seksual yang menyimpang. Sepintas yang bersangkutan tak terlihat memiliki kelainan, namun ternyata dia adalah seorang pengidap sadomasokis.

Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya. Biasanya, cara yang digunakan oleh orang tersebut adalah menggunakan obyek seks yang tidak wajar. Penyebab terjadinya kelainan ini bersifat psikologis atau kejiwaan, seperti pengalaman sewaktu kecil, dari lingkungan pergaulan, dan faktor genetik.
Apasaja perilaku seks menyimpang itu? Yuk simak!

1 Homoseksual
Homoseksual merupakan kelainan seksual berupa disorientasi pasangan seksualnya. Disebut gay bila penderitanya laki-laki dan lesbi untuk penderita perempuan. Hal yang memprihatinkan disini adalah kaitan yang erat antara homoseksual dengan peningkatan risiko AIDS. Pernyataan ini dipertegas dalam jurnal kedokteran Amerika (JAMA tahun 2000), kaum homoseksual yang "mencari" pasangannya melalui internet, terpapar risiko penyakit menular seksual (termasuk AIDS) lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak.

2 Sadomasokisme
Sadisme seksual termasuk kelainan seksual. Dalam hal ini kepuasan seksual diperoleh bila mereka melakukan hubungan seksual dengan terlebih dahulu menyakiti atau menyiksa pasangannya.
Sedangkan masokisme seksual merupakan kebalikan dari sadisme seksual. Seseorang dengan sengaja membiarkan dirinya disakiti atau disiksa untuk memperoleh kepuasan seksual.

3 Ekshibisionisme
Penderita ekshibisionisme akan memperoleh kepuasan seksualnya dengan memperlihatkan alat kelamin mereka kepada orang lain yang sesuai dengan kehendaknya. Bila korban terkejut, jijik dan menjerit ketakutan, ia akan semakin terangsang. Kondisi begini sering diderita pria, dengan memperlihatkan penisnya yang dilanjutkan dengan masturbasi hingga ejakulasi.

4 Voyeurisme
Istilah voyeurisme (disebut juga scoptophilia) berasal dari bahasa Prancis yakni vayeur yang artinya mengintip. Penderita kelainan ini akan memperoleh kepuasan seksual dengan cara mengintip atau melihat orang lain yang sedang telanjang, mandi atau bahkan berhubungan seksual. Setelah melakukan kegiatan mengintipnya, penderita tidak melakukan tindakan lebih lanjut terhadap korban yang diintip. Dia hanya mengintip atau melihat, tidak lebih. Ejakuasinya dilakukan dengan cara bermasturbasi setelah atau selama mengintip atau melihat korbannya. Dengan kata lain, kegiatan mengintip atau melihat tadi merupakan rangsangan seksual bagi penderita untuk memperoleh kepuasan seksual. Yang jelas, para penderita perilaku seksual menyimpang sering membutuhkan bimbingan atau konseling kejiwaan, disamping dukungan orang-orang terdekatnya agar dapat membantu mengatasi keadaan mereka.

5 Fetishisme
Fatishi berarti sesuatu yang dipuja. Jadi pada penderita fetishisme, aktivitas seksualnya disalurkan melalui bermasturbasi dengan BH (breast holder), celana dalam, kaos kaki, atau benda lain yang dapat meningkatkan hasrat atau dorongan seksual. Sehingga, orang tersebut mengalami ejakulasi dan mendapatkan kepuasan. Namun, ada juga penderita yang meminta pasangannya untuk mengenakan benda-benda favoritnya, kemudian melakukan hubungan seksual yang sebenarnya dengan pasangannya tersebut.
(hanyawanita.com)

Ada Apa Dengan AIDS, Sekarang? Tak Sebatas Pita Merah

Oleh: Meita Annisa & S. Dian Andryanto

HIV/AIDS terus menjadi momok bagi setiap orang. Obat belum ditemukan, korban terus berjatuhan. Antisipasi dengan gaya hidup sehat. Hindari pula diskriminasi pada korbannya.

Dua puluh tahun lalu, banyak orang masih menganggap angin lalu persoalan penyebaran virus yang menyebabkan penurunan daya tahan tubuh. Sepuluh tahun kemudian, orang-orang terbuka mata dan pikirannya tentang dampak yang ditimbulkannya. Empat huruf, AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), seakan menjadi momok manusia bumi. Pita merah pun banyak dikenakan sebagai kepedulian terhadap korban yang berjatuhan.

Badan kesehatan dunia pun mencanangkan setiap 1 Desember sebagai peringatan eksistensi penyakit maut yang ditemukan sejak awal tahun 1980-an itu. Pada 2001, UNAIDS (United Nasional Joint Program on HIV/AIDS) memperkirakan jumlah ODHA mencapai 40 juta. Dari jumlah itu, sekitar 70 persen tersebar di sub-Sahara, Afrika. Belum lama ini, UNICEF atau badan PBB urusan anak-anak mengatakan 18 juta anak-anak di kawasan sub-Sahara Afrika bisa menjadi anak yatim karena AIDS sebelum akhir tahun 2010.

Meskipun diskriminasi terhadap penderita AIDS semakin hari tampak berkurang, kewaspadaan terhadap AIDS pun kelihatan makin tipis. Beberapa tahun lalu, selebritis, publik figur, tokoh masyarakat, bahkan pers beramairamai menunjukkan peduli AIDS, tapi belakangan menipis seiring merosotnya “tren” AIDS sebagai bahan pembicaraan. Memprihatinkan.

AIDS sebagai sekumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). “Jika HIV berhasil masuk ke tubuh seseorang, yang akan diserang adalah sel darah putih. Itu sebabnya penderita HIV gampang terserang penyakit,” kata Robiyana, Recruitment & Training Coordinator untuk Yayasan AIDS Indonesia.

HIV, si biang itu, hidup pada cairan tubuh seseorang yang sudah terinfeksi seperti dalam darah, sperma, atau cairan vagina. Tidak ada tanda khusus atau gejala-gejala yang menandakan seseorang terjangkit HIV. Satu-satunya cara mendeteksi hanya dengan tes darah. Lebih lanjut, menurut dr. Kartono Mohammad, penderita HIV bisa hidup normal laiknya orang biasa sekitar lima sampai 10 tahun. “Takdir itu di tangan Tuhan, jadi tidak benar jika penderita HIV positif langsung divonis tidak bisa bertahan lama. Semangat hidup turut memengaruhi,” kata Ketua Gerakan Nasional Perlindungan Pasien (GNPP) ini.

Berbagai faktor turut memicu bertambahnya korban akibat keganasan virus yang belum ditemukan penawarnya ini. Mulai gaya hidup, kemiskinan, pendidikan rendah, serta sosialisasi yang kurang membawa Indonesia dalam daftar masyarakat rawan HIV/AIDS. Sebagai catatan, kasus AIDS di Indonesia pertama kali ditemukan pada 15 April 1987. Seorang wisatawan Belanda, Edward Hop, 44 tahun, dinyatakan meninggal karena AIDS di Rumah Sakit Sanglah, Bali.

Hal itu juga diperparah oleh kurangnya kesadaran masyarakat akan bahaya AIDS. “Masyarakat harus aktif dalam upaya pencegahan HIV/AIDS, karena virus ini hanya bisa dicegah, tidak bisa diobati,” ujar mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia ini.

Kurangnya kepedulian masyarakat terjawab dengan data-data yang menunjukkan penderita HIV/AIDS semakin bertambah dari tahun ke tahun. Hingga Juni 2005, di Indonesia tercatat 3.739 untuk HIV positif dan 3.359 untuk AIDS positif, sedangkan yang meninggal sudah mencapai 828 orang. Namun, menurut Robiyana, angka-angka yang tercatat itu merupakan fenomena gunung es. “Angka itu berasal dari mereka yang melapor setelah mengetahui positif HIV, tapi jumlah yang tidak melapor tidak pernah kami ketahui,” kata gadis jebolan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka ini.

Selain kurangnya kesadaran masyarakat, penyakit ini memang belum ada penawarnya. Kalaupun ada, itu hanya sebatas penghambat pertumbuhan HIV di tubuh. ARV (Antiretrol Viral) menjadi santapan wajib bagi penderita HIV/AIDS. Obat ini tersedia dalam berbagai jenis, tergantung kebutuhan penderitanya.
Tanpa ARV, seseorang positif HIV mudah terserang penyakit. Bahkan, bisa meninggal hanya karena flu maupun diare. “Fungsi obat ini supaya daya tahan tubuh tidak cepat habis, tapi tidak untuk memusnahkan HIV-nya,” kata dokter pendiri Yayasan AIDS Indonesia ini.

Memang, belum ada yang tahu pasti bagaimana sebenarnya sejarah virus HIV. Banyak pakar menduga virus ini berasal dari babon, sejenis kera yang hidup di Afrika. Tapi, ada juga yang beranggapan HIV muncul karena perkembangan lingkungan yang memaksa virus ini untuk migrasi. “Mungkin contoh kasusnya seperti flu burung, mengapa penyakit ini baru ada sekarang? Mengapa tidak dari dulu?” kata Robiyana.

Tahun ini, hari AIDS sudah 18 kali diperingati di seluruh dunia. Berbagai kampanye serta peringatan tak lelah dilontarkan pemerintah, LSM, maupun badan-badan lain yang peduli. Berbagai harapan dipanjatkan agar dunia bisa bebas dari belenggu HIV. Namun, semua kembali pada kesadaran individu untuk mau bersama-sama memerangi AIDS. Seperti yang dituturkan aktris kawakan Elizabeth Tylor, “It is bad enough that people are dying of AIDS, but no one should die and of ignorance.”

Kampanye global untuk mencegah infeksi baru HIV/AIDS diluncurkan UNICEF tahun ini, melalui slogan Unite for Children, Unite against AIDS (bersatu untuk anak, bersatu melawan AIDS). Kampanye itu langsung dilakukan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan.

Menyadari sebuah gaya hidup tak harus berakibat AIDS, satu langkah bijak. Sematkan pita merah dalam hati, sekarang.

--------------------------------------------------------
5 CARA MENEPIS AIDS

1. Menerapkan cara hidup sehat dan menjauhi perilaku seksual berisiko.


2. Setia pada pasangan seksual atau gunakan “pelindung” yang berkualitas, jika memang ingin berganti pasangan.

3. Pilihlah jarum suntik yang higienis jika memang memerlukannya. Pastikan Anda melihat jarum tersebut memang masih baru.

4. Khitanan dapat mengurangi risiko tertular HIV karena alasan biologis.

5. Hindari transfusi darah yang belum terbukti negatif HIV.


HIV DAN AIDS DI DUNIA

1. Sekitar 40 juta orang hidup dengan HIV (2,2 jutanya adalah anak-anak).

2. Sebanyak 5 juta orang baru-baru ini terbukti positif HIV pada 2004.

3. Hanya 700 ribu atau sekitar 12 persen dari total keseluruhan pasien di negara berkembang yang menerima obat anti- HIV.

4. Sekitar 90 persen orang yang hidup dengan HIV berasal dari negara berkembang.

5. Peringkat terbesar untuk kasus HIV positif datang dari negara di Asia Tengah, Asia Timur, serta Eropa Barat.

6. Satu orang penderita HIV positif menghabiskan sekitar US$300 untuk konsumsi ARV atau obat anti-HIV.

7. Hingga kini, sudah lebih dari 20 juta orang dinyatakan meninggal karena AIDS.

Sumber:
http://www.worldaidsday.org

(majalahmanly.com)

Infeksi Bisa Timbul Pertama Kali Making Love

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa banyak wanita muda yang terkena infeksi papilomavirus manusia (HPV) saat melakukan hubungan seks pertama kali.

Infeksi HPV bisa menimbulkan kutil genital atau tanpa gejala, dan keturunan virus terkait dengan peningkatan risiko kanker serviks. Kemungkinan terinfeksi peningkatan HPV terkait dengan meningkatnya pasangan seksula seseorang. Demikian dikemukakan Dr Stuart Collin dari Universitas Manchester Inggris dan rekan-rekannya dalam jurnal BJOG: an International Journal of Obstetrics and Gynaecology.

Untuk meneliti bagaimana HPV bisa ditemukan di kalangan wanita yang pengalaman seksualnya sedikiti, Dr Collin dan rekan-rekannya itu memeriksa data 242 wanita yang datang ke klinik keluarga berencana dan melaporkan melakukan hubungan seks pertama kali dalam enam bulan terakhir ini. Para wanita itu usianya berkisar antara 15 dan 19 tahun dan hanya memiliki seorang pasangan seksual.

Selama tiga tahun pertama sejak melakukan hubungan seks, risiko infeksi HPV serviks adalah 46%. Untuk setengah dari wanita itu, infeksi dideteksi sekitar tiga bulan setelah melakukan hubungan seks pertama kali.

"Karena 180 wanita ini (74%) dilaporkan menggunakan pelindung kontrasepsi, walaupun secara berselang, selama ini, hubungan seks yang pertama mereka, sangatlah sulit untuk melihat nasihat apa selanjutnya yang bisa diberikan untuk mengurangi terjadinya infeksi papillomavirus manusia," kata timnya Collin.

Mereka menambahkan, "Mungkin infeksi serviks papillomavirus manusia harus dianggap sebagai dampak dari aktivitas manusia melakukan hubungan seks. Tentu saja tidak ada stigma yang bisa dikaitkan denga pendapat seperti itu."

Terdapat lebih dari 100 jenis HPV, termasuk yang bisa menimbulkan kutil genital. Sejumlah virus ini adalah bisa ditularkan melalui hubungan seksual, dan beberapa di antaranya terkait dengan kanker. Dipercaya bahwa HPV berisko tinggi tertentu merupakan penyebab utama terjadinya kanker serviks. Tetapi biasanya infeksi HPV hilang dengan sendirinya, dan kebanyakan wanita yang menderita infeksi ini tidak mengalami kanker serviks.

Mengenal HIV/AIDS Lebih Dekat........

HIV/AIDS semakin merambah dan mulai mengkhawatirkan, di Indonesia sendiri jumlah kasus HIV/ AIDS hingga akhir juni 2006 telah mencapai 10.859 kasus (4.527 kasus HIV dan 6.332 kasus AIDS) dan sekitar 73 persen penderitanya adalah kaum pria. Sedangkan menurut golongan umur, proporsi terbesar terdapat pada kelompok usia 20-29 tahun yaitu sebanyak 53 persen. Dari segi epidemi HIV/AIDS terbagi dalam tiga kategori yakni low level (kasus yang berjumlah sedikit), concentrated level (dikalangan atau diwilayah tertentu terdapat kasus melebihi lima persen), dan generalized level ( sudah meluas dalam masyarakat umum). Meski secara nasional kasus HIV/AIDS masih tergolong kasus low level, tetapi pada sejumlah wilayah di Indonesia seperti di Papua kasus ini telah masuk kedalam generalized level. Di wilayah ini sekitar 43 persen infeksi HIV baru terjadi pada ibu-ibu rumah tangga yang justru bukan pekerja seks komersial. Dan yang lebih menyedihkan, banyak penderita HIV/AIDS yang tidak mengetahui bahwa dirinya mengidap/tertular penyakit tersebut, sehingga rantai penularan virus ini semakin terus berkembang. Untuk itu, mengenal HIV/AIDS secara lebih dekat akan membantu kita dalam mencegah dan memutus rantai penularan virus tersebut.

Apa itu HIV ?
· HIV merupakan singkatan dari Human Imunnodeficiency Virus.
· HIV adalah virus yang menurunkan dan merusak sistem kekebalan tubuh manusia.
· Setelah beberapa tahun jumlah virus semakin banyak dan berkembang didalam tubuh sehingga system kekebalan tubuh tidak lagi mampu melawan penyakit yang masuk kedalam tubuh.

Apa itu AIDS ?
· AIDS merupakan kependekan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome.
· AIDS adalah kumpulan berbagai gejala penyakit akibat turunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi HIV.
· Ketika kekebalan tubuh seseorang telah sangat berkurang maka semua penyakit dapat masuk kedalam tubuh dengan mudah dan cepat.

Apa beda HIV dengan AIDS ?
· Seseorang yang baru terpapar HIV belum dikatakan AIDS. Orang yang baruterinfeksi HIV belum menampakkan gejala-gejala penyakit.
· Lama-kelamaan setelah sistem kekebalan tubuhnya semakin berkurang dan telah muncul berbagai penyakit-penyakit barulah orang tersebut dikatakan menderita AIDS.

Kapan HIV berubah menjadi AIDS ?
Ada beberapa fase yang dilalui sebelum seseorang yang terinfeksi HIV masuk kedalam status AIDS.
# Stadium pertama HIV (Window Period)
1. Telah terinfeksi HIV 1 - 6 bulan
2. Gejala-gejala penyakit belum terlihat meskipun ia belum melakukan tes darah.
3. Pada fase ini antibody terhadap HIV belum terbentuk.
4. Bisa saja timbul gejala ringan seperti flu (biasanya 2-3 hari dan sembuh sendiri)
# Stadium kedua (Asimtomatik / tanpa gejala)
1. Telah terinfeksi HIV 2 – 10 tahun.
2. Pada fase kedua ini individu sudah positif HIV, tetapi tubuh penderita tetap sehat dan belum menampakkan gejala sakit.
3. Sudah dapat menularkan pada orang lain.
4. Bisa saja timbul gejala ringan seperti flu (biasanya 2-3 hari dan sembuh sendiri).
# Stadium ketiga
1. Mulai muncul gejala- gejala awal penyakit.
2. Belum disebut sebagai AIDS
3. Gejala- gejala yang berkaitan antara lain keringat yang berlebihan pada waktu malam, diare terus-menerus, pembesaran kelenjar getah bening secara menetap dan merata, flu yang tidak sembuh-sembuh, nafsu makan berkurang dan badan menjadi lemah dan cepat lelah, serta berat badan terus berkurang.
# Stadium keempat (AIDS)
1. Sudah masuk pada fase AIDS
2. AIDS baru dapat di diagnosa setelah kekebalan tubuh sangat berkurang dilihat dari jumlah sel-Tnya.
3. Timbul penyakit tertentu yang disebut dengan infeksi oportunistik yaitu TBC, infeksi paru-paru yang menyebabkan radang paru-paru dan kesulitan untuk bernafas, kanker kulit (berupa koreng diseluruh badan), sariawan, infeksi usus yang menyebabkan diare kronis, dan infeksi otak yang menyebabkan kekacauan mental dan sakit kepala.

Bagaimana penularan HIV ?
# HIV dapat ditularkan melalui media :
1. Darah
2. Cairan sperma
3. Cairan vagina

# Cara penularan HIV dapat melalui :
1. Hubungan seksual tanpa perlindungan (kondom) dengan orang yang terinfeksi HIV.
2. Transfusi darah yang tercemar HIV.
3. Penggunaan jarum suntik, tindik, tato, pisau cukur secara bersama-sama / yang sebelumnya telah digunakan oleh orang yang terinfeksi HIV. (Cara-cara ini dapat menularkan HIV karena terjadi kontak darah).
4. Ibu Hamil kepada anak yang di kandungnya.
o Antenatal : yaitu saat bayi masih berada di dalam rahim melalui plasenta.
o Intranatal : yaitu saat proses persalinan, bayi terpapar darah ibu atau cairan vagina.
o Postnatal : yaitu setelah proses persalinan, melalui proses menyusui.
o Di negara berkembang, 25 – 35 % dari semua bayi yang dilahirkan oleh ibu yang terinfeksi HIV tercatat tertular HIV, dan 90 % bayi dan anak yang tertular HIV tertular dari ibunya.

# Perilaku beresiko tinggi yang menularkan HIV / AIDS
o Memiliki banyak pasangan seksual / berganti –ganti pasangan atau mempunyai pasangan yang memiliki banyak pasangan lain.
o Berhubungan seks melalui dubur/ anus, oral maupun vagina tanpa perlindungan.
o Menggunakan jarum dan peralatan yang sudah tercemar HIV secara bersama-sama, yang tidak steril /belum disterilkan
o Tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah yaitu hubungan seks yang tidak aman dan beresiko IMS (infeksi menular seksual). IMS memperbesar resiko penularan HIV /AIDS.

Bagaimana mencegah penularan HIV ?
Ada 5 cara untuk mencegah penularan HIV, yaitu :
A : Abstinence = Anda tidak melakukan hubungan seks beresiko tinggi.
B : Be faithful = Bersikap saling setia
C : Condom = Cegah dengan menggunakan Kondom secara konsisten dan benar
D : Drugs = Hindari pemakaian narkoba suntik
E : Equipment = Mintalah pelayanan kesehatan dengan peralatan steril

Bagaimana mengetahui seseorang terinfeksi HIV / AIDS ?
· Kita tidak akan tahu apakah seseorang terinfeksi HIV atau tidak, tanpa melakukan Tes HIV / AIDS lewat pemeriksaan darah orang yang bersangkutan.
· Tes HIV berfungsi untuk mengetahui adanya antibody terhadap HIV atau mengetes adanya antigen HIV dalam darah.
· Tes HIV yang biasa dilakukan antara lain : Tes Elisa, Tes Western Blot, dan Tes Dipstik.
· Hasil tes Elisa positif perlu dikonfirmasi ( ulang ) dengan metode Western Blot yang mempunyai spesifitas yang lebih tinggi.

HIV / AIDS tidak tertular melalui :
1. Bersentuhan dengan pakaian dan tempat yang habis dipakai oleh pengidap HIV /AIDS (seperti kamar mandi, toilet umum)
2. Pengidap HIV / AIDS bersin atau batuk didaekat kita, air mata dan keringat
3. Gigitan nyamuk atau serangga lainnya
4. Piring makan dan gelas minuman
5. Bersamaan, mengobrol, memeluk, mencium pipi.
6. Hidup serumah dengan ODHA (asal tidak melakukan hubungan seksual)

Apa Syarat dan Prosedur Tes Darah HIV/AIDS ?
o Syarat tes darah untuk keperluan HIV adalah :
- Bersifat rahasia
- Harus mengikuti konseling baik sebelum maupun sesudah tes.
- Tidak ada unsur paksaan

o Prosedur pemeriksaan darah untuk HIV / AIDS meliputi beberapa tahapan yaitu :
a. Pre tes konseling
- Identifikasi resiko perilaku seksual (pengukuran tingkat resiko perilaku)
- Penjelasan arti hasil tes dan prosedurnya (positif/negatif)
- Informasi HIV / AIDS sejelas- jelasnya
- Identifikasi kebutuhan pasien, setelah mengetahui hasil tes.
- Rencana perubahan perilaku
b. Tes darah Elisa
- Hasil tes Elisa (-) kembali melakukan konseling untuk penataan perilaku seks yang lebih aman (safer sex). Pemeriksaan diulang kembali dalam waktu 3-6 bulan berikutnya.
- Hasil tes Elisa (+) konfirmasikan dengan Western Blot
c. Tes Western Blot
- Hasil tes Western Blot (+) laporkan ke dinas kesehatan (dalam keadaan tanpa nama). Lakukan pasca konseling dan pendampingan (menghindari emosi putus asa keinginan untuk bunuh diri).
- Hasil Western Blot (-) sama dengan Elisa (-)

Bagaimana pengobatan HIV / AIDS ?
· Sampai saat ini belum ada obat-obatan yang dapat menghilangkan HIV dari dalam tubuh individu. Obat-obatan yang selama ini digunakan hanya berfungsi untuk menahan perkembangbiakan virus HIV dalam tubuh, bukan menghilangkan HIV dari dalam tubuh.
· Obat untuk HIV / AIDS yang ada adalah obat antiretroviral dan obat untuk infeksi oportunistik.
o Obat antiretroviral adalah obat yang dipergunakan untuk retrovirus seperti HIV guna menghambat perkembangbiakan virus. Obat-obatan yang termasuk antiretroviral yaitu AZT, Didanoisne, Zaecitabine, Stavudine.
o Obat infeksi oportunistik adalah obat yang digunakan untuk penyakit yang muncul sebagai efek samping rusaknya kekebalan tubuh. Yang penting untuk pengobatan oportunistik yaitu menggunakan obat-obat sesuai jenis penyakitnya, contoh : obat-obat anti TBC, dll.

Apa yang harus dilakukan bila mengidap HIV / AIDS ?
· ODHA adalah singkatan dari Orang Dengan HIV / AIDS
· Apa yang harus dilakukan oleh ODHA ?
1. Mendekatkan diri pada Tuhan
2. Menjaga kesehatan fisik
3. Tetap bersikap dan berpikir positif
4. Tetap mengaktualisasikan dirinya
5. Masuk dalam kelompok dukungan (support group)
6. Menghindari penyalahgunaan NAPZA
7. Menghindari seks bebas dan tidak aman
8. Berusaha mendapatkan terapi HIV /AIDS

· Bagaimana sikap kita terhadap ODHA ?
1. Tuntunlah mereka beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya agar hidupnya senang.
2. Bantu menghilangkan beban penderitaannya (misalnya dengan diajak berbicara dari hati ke hati, mengantar ke dokter / Puskesmas, memberi bantuan, diikutsertakan dalam kegiatan organisasi / menjadi relawan)
3. Perlakukan mereka secara manusiawi
4. Jadikan sebagai teman diskusi

Dengan mengenal HIV/AIDS, baik itu cara penularannya, pencegahannya, maupun pengobatannya diharapkan dapat merubah perilaku masyarakat menjadi lebih waspada dan bertanggung jawab dalam menyikapi masalah HIV ./AIDS, serta dapat bersikap rasional dan bijaksana dalam mendampingi ODHA . (dr. Sheilla V) - Gema Pria BKKBN

Sumber : - Penaggulangan HIV /AIDS melalui program KB Nasional, BKKBN 2003.
- HIV / AIDS, Fasilitasi KRR, BKKBN, 2004

Risiko Wanita Gonta-Ganti Pasangan

Makin banyak pasangan seks seorang wanita, dia akan makin berisiko terinfeksi virus penyakit menular seksual (PMS). Bukan hanya itu, risikonya juga akan makin tinggi terserang kanker mulut rahim (serviks). Hal ini terungkap dari hasil studi yang dilakukan oleh sekelompok peneliti dari Amerika Serikat belakangan ini.

Penelitian ini dilakukan oleh Profesor Anna-Barbara Moscicki dan rekan-rekannya. Menurutnya, risiko infeksi human papilloma virus (HPV) akan meningkat sepuluh kali lipat setiap kali seorang wanita melakukan hubungan seks dengan pasangan baru dalam sebulan. Para ilmuwan dari Universitas California, San Francisco, ini menegaskan hal tersebut setelah mempelajari kehidupan seks 800 wanita yang pernah mendatangi klinik KB tahun 1990.

Hasil riset tersebut dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association, edisi Juni 2001 ini. Disebutkan, lebih dari separo wanita muda yang aktif melakukan seks akan terinfeksi oleh HPV dalam tiga tahun berikut. Lima tahun kemudian, sekitar 30% di antaranya akan memperlihatkan tanda-tanda berubahnya sel-sel mulut rahim.

Perubahan ini disebut lesi intra-epitelial ukuran kecil (LSIL ? low-grade intra-epithelial lesion). Dikatakan, kemungkinan infeksi berubah menjadi LSIL selama tahun pertama setelah terinfeksi HPV cukup tinggi. Namun, perubahan itu sendiri pada dasarnya masih bersifat jinak. Akan tetapi, ada kemungkinan lesi tersebut langsung mengalami perkembangan menjadi kanker mulut rahim.

Sedangkan infeksi PMS tidak akan meningkatkan risiko LSIL. Menurut peneliti tersebut, harus ada faktor-faktor perilaku dan biologis yang berperan agar risiko tersebut meningkat, misalnya kebiasaan merokok setiap hari.

Yang menarik ialah penemuan bahwa bahwa, bagi sebagaian besar wanita yang masih muda, infeksi HPV tidak selalu berlangsung seumur hidup. Bertentangan dari pendapat lama, virus ini ternyata dapat hilang dengan sendirinya dalam tiga tahun.

Selain itu juga ditemukan bahwa, dalam tiga tahun, sebanyak 55% wanita yang aktif melakukan hubungan seks akan terinfeksi HPV meskipun sebelumnya tidak pernah mengalaminya. Infeksi virus herpes simpleks dan kutil kelamin dapat meningkatkan risiko tersebut.

Karena itu, para pakar sangat menganjurkan agar wanita senantiasa berpikir dua kali untuk melakukan hubungan seks dengan pasangan baru. Pakar ini juga menganjurkan agar, tindakan pencegahan selalu ditempuh apabila kemungkinan di atas terjadi. Soalnya, seks yang aman sangat penting untuk mencegah penularan PMS dan risiko yang menyertainya.

Pengidap HIV Masih Abaikan Seks Aman

Umumnya, orang-orang yang telah terinfeksi HIV cenderung mengabaikan kehidupan seks yang aman. Mereka tetap saja melakukan hubungan seks dengan pasangan yang sehat tanpa alat pelindung. Bahkan, mereka tidak memberitahu bahwa dirinya telah terinfeksi. Akibatnya, segelintir saja di antaranya yang melakukan itu dapat mengakibatkan ribuan orang lain berisiko tinggi terinfeksi virus mematikan ini.

Perilaku buruk ini terungkap setelah Dr. Simon Barton melakukan penelitian terhadap perilaku dan gaya hidup orang yang telah positif mengidap HIV. Dalam penelitian tersebut dilibatkan 600 pengidap virus perusak kekebalan tersebut. Ternyata, sepertiga di antaranya tetap melakukan hubungan seks tanpa alat pelindung sejak terdiagonosa positif. Bahkan, sebagian kecil di antaranya melakukannya dengan cukup sering.

Penelitian tersebut dilakukan dengan membagikan kuesioner kepada orang-orang yang membeli obat AIDS dari berbagai klinik di London. Menurut Barton, kepala Unit Penyakit Menular Seksual di Rumah Sakit Chelsea and Westminster, London, memang ada kecenderungan bahwa pengidap HIV langsung merasa sembuh setelah menggunakan obat. Akibatnya, mereka akan mudah kembali lagi ke kebiasaan seks bebas dan tidak aman.

Pakar lain juga mengamini bahwa perilaku ceroboh seperti ini merupakan faktor utama pesatnya penyebaran penyakit menular seksual, termasuk HIV. Penyebab sebagian besar orang yang tertular penyakit ini hanyalah segelintir orang yang perilaku seksnya sangat berisiko. Mereka ini sering disebut sebagai super-spreader (penular terbesar).

Sialnya, sebagian di antaranya dengan sengaja tidak mau mengubah perilaku berbahaya ini. Mereka telah sadar akan risikonya, namun tetap saja melakukan hubungan seks yang tidak aman. Sebagian penderitanya pun mengaku bahwa seks yang tidak aman ini makin lazim di kalangan penderita HIV, khususnya setelah munculnya obat-obat penghambat protease dan jenis obat HIV lainnya.

Lalu bagaimana cara mengatasi persoalan ini? Di Skotlandia, orang semacam ini sudah diancam hukuman karena kesengajaan menyebabkan kerugian pada orang lain. Di Inggris sendiri, perlindungan terhadap sikap sembrono seperti ini telah mendapat sorotan dan direncanakan akan segera diberlakukan dalam sistem hukumnya. Orang yang sengaja menularkan penyakitnya tanpa sepengetahuan orang lain dianggap sebagai pelecehan terhadap hak pribadi.

Tidak mustahil perilaku yang sama juga telah merebak di Indonesia. Soalnya, tingkat penyebaran HIV di negeri ini dianggap sebagai salah satu yang cukup memprihatinkan. Selain itu, tingkat kesadaran tentang seks yang aman pun masih sangat rendah. Apakah sistem hukum juga bisa menjadi benteng pertahanan terakhir bagi orang-orang yang masih bebas HIV? Semoga saja!

Thursday, March 29, 2007

Terapi Seks Sembuhkan Pasien Stroke Dari Kelumpuhan

Hah? Insan pasca stroke berhubungan intim? Jalan saja susah, masak mau berhubungan badan? Ya, kata Dr. Hermawan Suryadi, Sp.S, ngeseks justru bisa jadi obat manjur buat penderita stroke.

Harapan masih terbentang luas pasca serangan stroke. Itu kata Dr. Hermawan. Demi menumbuhkan harapan itu, dokter ahli sarah ini mengelola Klub Stroke Karmel dan mengadakan acara-cara yang menggembirakan para insan pasca stroke.

"Adalah salah jika menganggap penyakit stroke adalah penyakit yang menyebabkan mati pelan-pelan," katanya, ketika beicara dalam seminar seks untuk insan pasca stroke di Apotek Trio Sada, Jakarta Barat, Rabu lalu.

Pikiran salah lain soal stroke yang harus dihapus adalah bahwa setelah serangan stroke, tak ad alagi kehidupan seks untuk suami istri. Bahkan, ada pendapat bahwa bercinta dapat menyebabkan serangan stroke ulang. "Itu salah sama sekali," ujarnya.

Memang setelah serangan, pasien tak berdaya. Namun, dua bulan setelah serangan dan pasien bisa hidup mandiri, ngeseks bukan hal tabu. Satu dari 6 pasien stroke, menurut paparannya, aktif secara seksual.

Bahkan, orang yang mengalami stroke di otak kiri, gairah seksnya justr meningkat. Ada sekitar 10 persen yang mengalami peningkatan gairah setelah serangan stroke. Sebaliknya, orang yang mengalami stroke di otak sebelah kanan umumnya mengalami gangguan libibo, gairah seks, disfungsi ereksi, dan ejakulasi dini.

Soal tenaga untuk berhubungan intim, energi yang dibutuhkan kira-kira setara dengan naik tangga menuju 1 lantai. Bila ampu naik tangga tanpa kesulitan berarti, itu tandanya mampu berhubungan seks.

Meski begitu, untuk sebagian besar penderita stroke, ada sejumlah rambu yang diberikan oleh Dr. Hermawan. Tekanan darah harus dicek dulu sebelum berhubungan intim.

"Kalau tekanan darah naik dan mengalami sesak napas, sebaiknya hubungan seks ditunda dulu," katanya. Sementara jika saat berhubungan intim napas dan denyut jantung memburu, itu wajar terjadi.

Seks menurut penelitian di Jerman, kata Dr. Heramwan, justru dapat mempercepat penyembuhan kelumpuhan karena memperkuat rasa percaya diri. Buat penderita stroke yang mengalami depresi, terapi seks justru menyembuhkan karena memberi kebahagiaan, fileksasi, kepuasan, dan keintiman.

"Otak amnusia itu luar biasa. Dari peta fungsi anatomi manusia di otak, jempol kaki berdekatan dengan alat kelamin. Jika alat kelamin dirangsang, jempol kaki juga ikut terangsang. Jadi, buat insan pasca stroke yang mengalami kaki lemah, seks justru bisa menyembuhkan," katanya.

Yang perlu diingat, seks bukan berarti hubungan alat kelamin seamta. Seks adalah hubungan intim dan erat dengan antarpasangan. Jadi, membelai pasangan dengan mesra juga merupakan sebuah hubungan seks.

Karena seks adalah kegiatan yang melibatkan dua orang, sebaiknya insan pasca stroke melakukan komunikasi yang baik dengan pasangan. Sebab, untuk pasangan penderita stroke, mengurus mereka seharian penuh tentu melelahkan secara fisik dan mental. Permintaan untuk berhubungan intim mungkin malah membuat mereka marah-marah.

Hal lain yang tak kalah penting adalah memperhatikan penampilan. "Jangan sampai pasangan enggan didekati karena seharian nggak mandi," kata dokter yang menganjurkan posisi cow girl untuk pria penderita stroke dan missionary untuk wanita penderita stroke ini. @ diy

Sumber: Senior