Warning !!

Peringatan!! Banyak mengandung artikel atau informasi untuk khusus DEWASA.
Informasi yang ada di sini bukan sebagai pengganti anjuran dan terapi yang diberikan oleh dokter atau ahli bidang bersangkutan, namun diharapkan dapat menambah pengetahuan Anda. Sebaiknya Anda tetap mengkonsultasikan masalah Anda dengan dokter keluarga Anda atau ahli bidang bersangkutan.

Bila Anda ingin berbagi artikel/ info yang menarik dan sesuai dengan topik blog ini, silahkan berbagi dengan join dan posting ke info_pria@yahoogroups.com.
Semua sumber/ penulis dari pada artikel/ tulisan/ informasi yang dimuat sudah kami usahakan untuk dicantumkan. Bila ada kesalahan harap hubungi kami pada (info_pria-owner[at]yahoogroups[dot]com). Terima kasih.

LEBIH LENGKAP!! Dapatkan DVD Info-Pria, yang berisikan e-book, kumpulan artikel, software dan lainnya. Lebih rinci klik disini.

Showing posts with label senior. Show all posts
Showing posts with label senior. Show all posts

Wednesday, August 8, 2007

Waspadai Berkurangnya Hormon Testoteron

Sudah beberapa waktu belakangan ini Harun sering merasa gampang lelah, sulit berkonsentrasi, sering berkeringat, sulit tidur dan mengalami penurunan libido serta frekuensi ereksi.

Pria paruh baya ini tidak menyadari bahwa gejala yang mengakibatkan berkurangnya kualitas hidup tersebut sebenarnya disebabkan karena berkurangnya hormon testoteron atau andropause.

Testoterone Deficiency Syndrome (TDS), andropause, atau sindrom kekurangan testoteron merupakan suatu keadaan di mana produksi testoteron dari testis tidak cukup. Berkurangnya hormon ini pun akan mengakibatkan terganggunya metabolisme, disregulasi insulin (tingkat kadar gula darah abnormal), kolesterol tinggi serta hipertensi ringan. Pada akhirnya akan mengarah pada penyakit diabetes melitus dan jantung.

Testoteron sendiri merupakan hormon seks pria yang paling penting. Hormon ini berperan dalam seksualitas, pembentukan fisik, mental dan performa pria. Pada anak laki-laki, hormon ini bertanggung jawab pada masa pubertas mereka. Sedangkan pada pria dewasa, hormon ini berperan penting untuk meningkatkan gairah seksual, pembentukan otot dan pengurangan massa lemak, vitalitas, hingga rasa percaya diri pada pria.

Menurut Prof.Dr.dr Wimpie Pangkahila, SpAnd, puncak hormon pada pria terjadi pada usia 20-30 tahun. "Saat berusia 20 tahun, produksi semen (sperma) seorang pria bisa mencapai 700 juta. Setelahnya terjadi penurunan 6-7 juta pertahun," paparnya. Sekurang-kurangnya 5-7 mg testoteron dibuat oleh testis setiap hari.

Berkurangnya libido dan penurunan frekuensi ereksi adalah gejala umum yang paling sering terjadi akibat TDS, untuk itu jika gejala ini muncul, dokter menyarankan agar seseorang segera memeriksakan tingkat testoteronnya.

Sejatinya, penurunan kadar testoteron seorang pria disebabkan karena faktor penuaan, biasanya akan berkurang secara bertahap mulai usia 40 tahun, tetapi ada pula penyebab lain, yaitu gangguan fungsi testis (kemungkinan keturunan), keracunan, tumor, operasi, dan sebagainya. Selain pada pria dewasa, kekurangan testoteron juga bisa terjadi pada janin dan anak laki-laki.

Kekurangan testoteron pada janin bisa menyebabkan ketidaknormalan posisi testis dan ukuran penis yang sangat kecil (mikropenis). Sedangkan pada anak laki-laki sebelum masa pubertas akan menyebabkan tanda-tanda kejantanan tidak akan muncul, seperti tidak adanya perubahan suara, penis seperti anak kecil, tidak ada bulu di wajah dan badan, kulit kering, tidak berjerawat dan muka pucat.

Segera periksa

Saat timbul gejala yang menunjukkan kekurangan testoteron, sebaiknya seorang pria langsung datang ke dokter untuk memeriksakan kadar testoteronnya. "Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik yang meliputi mengukur tensi, berat badan, lingkar pinggang, pemeriksaan colok dubur, pertumbuhan organ seks, serta yang paling penting pemeriksaan laboratorium," kata dr.Nugroho Setiawan, MS.SpAnd dari RSUP Fatmawati Jakarta.

Saat terbaik untuk mengukur kadar testoteron adalah antara pukul 07.00 sampai 11.00, karena ini adalah saat berlangsungnya produksi testoteron pada testikel. Seorang pria dianggap menderita TDS bila kadar testoteron dalam darahnya berada di bawah 12 nmol per liter. Sebagai perbandingan, kisaran normal adalah 12 nmol per liter - 40nmol per liter.

Jika kadar testoteron berada di bawah normal, para ahli androlog merekomendasikan pasien untuk melakukan terapi testoteron untuk mengembalikan kadar normal testoteron untuk mengurangi gejala dan mencegah efek lanjutan dalam jangka waktu lama.

Efektivitas terapi testoteron telah dibuktikan selama bertahun-tahun. Ada berbagai cara penggunaan testoteron, mulai dari yang berupa gel dan ditempel (transdermal - lewat kulit), oral, serta injeksi. Tentang injeksi, jika dulu metode injeksi testoteron perlu dilakukan setiap dua sampai empat minggu sekali, kini sudah diperkenalkan terapi injeksi yang bisa dilakukan setiap 3 bulan sekali.

Terapi testoteron jenis undecanoate ini sudah beredar di banyak negara, termasuk di Indonesia sejak bulan September 2006. Seperti injeksi pada umumnya, penyuntikan testoteron menimbulkan rasa sakit sesaat karena kandungan minyak pada sediaan injeksi pelan-pelan harus didistribusikan ke dalam otot.

Keistimewaan terapi ini menurut dr.Nugroho adalah hampir tidak memiliki efek samping, selama diberikan dalam dosis yang tepat. Kendati begitu, ia menyebutkan bahwa terapi ini tidak disarankan bagi pasien dengan kanker prostat.
(An)

Mau Hidup Sehat Sampai Tua? Perhatikan Makanan Anda

Jika Anda merasa sudah mengatur pola makan dengan baik, coba teliti kembali apakah semua sudah pada tempatnya?
Ketika kita mencapai usia 50 tahun, hal yang berubah itu termasuk keperluan nutrisi kita. Sayangnya, banyak juga kaum senior yang justru kurang memperhatikan makanan yang dimasukkan ke dalam tubuh. Penelitian menunjukkan bahwa 4 dari 5 lansia mengalami gangguan kronis yang disebabkan oleh makanan yang salah 1 dari 5 lansia melewatkan minimal satu kali jadwal makan sehari, dan hanya 1 dari 10 lansia yang memenuhi pasokan minimum buah dan sayuran yang direkomendasikan. Padahal menurut Turniani Laksmiarti dan Herti Maryani dari Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan Surabaya dalam publikasinya di www.tempo.co.id, pasokan nutrisi termasuk vitamin dan mienral pada lansia tak boleh berkurang, malah ada beberapa yang bertambah.

Ketika Anda bertambah tua, sensasi rasa dan bau Anda berubah, sehinga rasanya makanan itu jadi berbeda. Nafsu makan dan juga indera pengecap Anda mungkin saja dipengaruhi oleh hal-hal tertentu. Belum lagi jika Anda mengalami perawatan tertentu dan harus mengonsumsi obat-pbat tertentu. Bisa saja karena obat-obat itu, ada reaksi di saluran pencernaan, atau pengurangan jumlah air ludah sehingga sulit untuk merasakan enaknya makanan. Penyakit-penyakit seperti diabetes, depresi dan Alzheimer mempengaruhi juga rasa di lidah kita. Belum lagi jika Anda ada masalah dengan gigi.

Memang, jika aktivitas kita tidak sebanyak dulu, kebutuhan kalori juga akan berkurang. Tapi, tetap saja, pengetahuan yang tepat tentang nutrisi yang dibutuhkan ketika memasuki masa paruh baya juga belum betul-betul dipahami.

Misalnya, ketika kita memasuki usia sekitar 50 tahun, kita tidak merasa pingin minum atau haus seperti layaknya ketika masih muda. Padahal, kebutuhan kita akan air meningkat ketika berusia paruh baya. Belum lagi, bahwa para lansia memerlukan lebih banyak kalsium, vitamin D, dan vitamin B12, dan lebih sedikit mineral besi.

Catat rekomendasi harian untuk Anda

Berikut ada rekomendasikan yang patut Anda perhatikan:

Makanlah 6 sampai 11 porsi roti, sereal, atau gandum.

Satu porsi artinya satu potong, satu iris atau satu buah muffin, setengah bagel atau muffin, setengah cangkir nasi atau pasta atau setengah cangkir sereal yang dimasak dan sekitar satu cangkir sereal yang siap saji.

Makan 3 sampai 5 porsi sayuran. Satu porsi = setengah cangkir selada iris atau sayur yang sudah dimasak. atau satu cangkir sayur yang bentuknya daun.

Makan 2 sampai 3 porsi buah. Satu porsi= satu irisan sedang buah atau melon, 3/4 cangkir jus; 1/2 cangkir buah kaleng atau 1/2 cangkir buah kering.

Makan tiga porsi susu, yoghurt, dan keju. Satu porsi=satu cangkir susu atau yoghurt, atau 1 1/2 sampai 2 ons keju.


Makan 2 sampi 3 porsi daging. Satu porsi = 2-3 ons daging ayam halus atau daging ikan yang sudah dimasak; 1/2 cangkir tuna; 1/2 cangkir kacang polong atau tahu yang sudah dimasak; satu buah telur; 1/2 cangkir kacang; dan 2 sendok makan selain kacang.

Perhatikan pasokan garam Anda. Batasi pada 1 sendok teh (2400 mg) garam setiap hari. Itu sudah termasuk yang Anda masukkan ke dalam masakan, dan juga yang sudah terdapat dalam makanan siap saji.

Perhatikan asupan lemak Anda. Terlalu banyak lemak, terlebih pembuluh darah Anda dan dapat berakhir ke sakit jantung! Lemak saturasi berasal dari hewani yaitu daging dan susu. Lemak ini biasanya berbentuk padat pada temperatur kamar. Batasi lemak tak lebih dari 30% dari total kalori yang Anda masukkan.

Minumlah 8 sampai 10 gelas air atau cairan dekafeinasi.

Sekali lagi... perhatikan lemak!

Anda sudah bosan dengan peringatan tentang lemak? Jangan dulu, karena memang semakin lama semakin nyata bahwa suka atau tidak itu adalah fakta. Walaupun sebenarnya yang harus memperhatikan hal ini adalah orang segala usia, namun perhatian khusus ada pada para lansia.

Yang paling berbahaya adalah lemak trans yang dapat meningkatkan resiko gangguan pada pembuluh darah arteri Anda. Lemak ini meningkatkan kadar kolestrol jahat -low density lipoproteinns alias LDL dan menurunkan kadar kolesterol baik ayitu high density lipoproteins atau HDL. Ini ditemukan di beberapa jenis migrain, biskuit, permen, makanan yang dipanggang, kue-kue, camilan, makanan yang digoreng, salad dressing dan banyak makanan olahan, seperti disebutkan oleh Food and Drug Administration (FDA) AS>

Tapi sebenarnya, bagaimana lemak trans bisa berbahaya? "Problem dari lemak trans adalah, tubuh kita tidak tahu mau lakukan apa dengan lemak itu," kata Dr. Brian Olshanky, Profesl dari bagian Internal Medicine dari Universitas lowa. "Asam lemak trans mungkin dipakai untuk membantu menjaga makanan tetap awet dan meningkatkan rasanya, tapi tubuh kita tidak bisa memecahnya apalagi menggunakannya, sehingga trans juga berhubungan dengan munculnya obesitas, penyakit jantung, diabetes, kolesterol tinggi, dan kematian mendadak karena gagal jantung.

Dokter Olshanky sendiri merekomendasikan pada pasiennya untuk menghindari makanan dengan kandungan asam lemak trans. "Termasuk juga dari makanan olahan dan fast food sampai kondisi tubuh mereka lebih baik," tambahnya. "Lebih baik," katanya lagi. "makanlah makanan yang segar, yang oleh penelitian sudah dibuktikan dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah seperti layaknya Anda mengonsumsi statin."

Apa yang harus dilakukan?

Setelah tahu batasan-batasannya, tips berikut dapat Anda iktui untuk dapat memperoleh pasokan nutrisi yang Anda butuhkan:

Makanlah beragam makanan

Baca label makanan yang hendak Anda konsumsi dan pilihlah makanan yang mengandung rendah lemak, garam dan kolesterol dan tinggi dalam serat.

Batasi konsumsi alkohol. Ketahuilah, bahwa alkohol itu berkalori tinggi dan dapat 'merebut' zat nutrisi penting dari tubuh Anda.

Belilah makanan segar secukupnya. Setiap Anda hendak memakannya, makanan masih dalam kondisi segar. Jika terlalu banyak, Anda bisa saja nanti terpaksa membuangnya, atau malah memaksakan diri memakannya.

Masak dahulu, lalu simpan dalam lemari pendingin atau freezer. Dengan demikian, Anda mempunyai beberapa pilihan ketika Anda ingin makan.

Makanlah secara teratur. Jika perlu pasang alarm untuk membantu Anda mengingat.

Tambahkan bumbu untuk meningkatkan rasa pada makanan Anda. Namun, hindari tambahan zat kimia dalam makanan Anda.

Kurangi gula, daripada menggunakan gula sebagai pemanis, dapatkan kebutuhan gula Anda dari buah-buahan. Dengan demikian, Anda dapat meraup manfaat vitamin yang ada dalam buah-buahan tersebut.

Perhatikan margarin yang Anda gunakan. Semakin lembut margarin jika disimpan pada temperatur kamar (sekitar 25 derajat Celcius) semakin kecil kadar lemak trans di dalamnya. Lebih baik lagi jika margarin yang Anda gunakan adalah yang jenis trans-fat-free alias bebas lemak trans.

Gunakan minyak kanola atau minyak zaitun untuk memasak. Disarankan juga untuk lebih cermat saat Anda makan di restoran. Seringkali, makanan yang diproses dengan menggunakan bahan mengandung lemak trans atau minyak sayur yang terhidrogenasi, dinyatakan dengan bebas kolesterol atau dimasak dengan minyak sayur.

Jika mungkin, olah sendiri makanan Anda.

Selain tips di atas, ada baiknya Anda mengunjungi dokter Anda secara teratur. Konsultasikan dengannya untuk mengatur pasokan nutrisi Anda, dan tanyakan juga jika obat-obatan yang sedang Anda minum bisa mempengaruhi nafsu makan atau kebutuhan Anda akan vitamin dan mineral. (cbn)

Pria STW Rentan Depresi

Bertambahnya usia berhubungan dengan menurunnya hormon seks pada pria, yaitu testosteron.

Kondisi tersebut memang banyak ditemui pada pria STW alias setengah tua. Setidaknya 30 persen dari pria berusia 55 tahun menghadapi masalah tersebut.

Menurunnya hormon testosteron ini rupanya menimbulkan banyak gejala seperti kelelahan. menurunnya gairah seksual, dan mudah marah. Meskipun belum jelas, gejala tersebut mirip dengan sindrom depresi.

Hal ini kemudian membuat para peneliti melakukan analisis rekam medis terhadap 278 pria berusia 45 tahun ke atas selama dua tahun. Sejumlah pria tersebut tidak didiagnosis depresi sebelum penelitian dilakukan, Namun, ada beberapa pria yang mempunyai kadar testosteron rendah dan normal. Pengujian hormon tersebut biasanya dilakukan bila dokter mendapati adanya masalah libido maupun fungsi seksual lain atas pasiennya.

Selama dua tahun, pria dengan kadar testosteron rendah ternyata mempunyai kemungkinan empat kali lebih besar untuk didiagnosis depresi klinis. Begitu hasil laporan Molly M. Shores, MD, peneliti dari The Veteran Affairs Puget Sound Health Care System dan Universitas Washington, Seattle, Amerika Serikat.

Menurut Molly, seperti dikutip WebMD, hal ini mungkin terjadi karena kadar testosteron yang rendah dapat memicu timbulnya gejala seperti anoreksia, kelelahan, serta penurunan libido yang berhubungan dengan mood. Di lain pihak, kondisi ini seperti yang diuji terhadap tikus, menunjukkan bahwa rendahnya harmon testosteron secara langsung dapat mempengaruhi kimiawi otak, terutama kadar serotonin.

Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa kadar serotonin pada pria paruh baya dengan depresi klinis, cukup rendah. Pria paruh baya memang lebih rentan terhadap efek tersebut. Ini karena reseptor serotonin mulai menurun akibat proses penuaan alamiah,” papar Molly.

Sayangnya, kadangkala para dokter tidak dapat mengenali gejala depresi pada pasiennya. Pun saat tanda depresi klinis terlihat jelas, para dokter masih sangat jarang melakukan pengujian kadar testosteron pada pria paruh baya.

“Karena depresi menjadi faktor risiko utama untuk kasus bunuh diri, maka identifikasi keadaan yang dapat meningkatkan risiko terjadinya depresi menjadi penting. Dengan begitu intervensi dan pengobatan dapat dilakukan sedari dini,” tambah Molly.

Pengobatan, baik untuk depresi klinis maupun kadar testosteron yang rendah, dapat memperbaiki kualitas hidup pria paruh baya. Hanya saja, Molly menegaskan penelitian lanjutan atas risiko terjadinya kanker prostat yang dihubungkan dengan terapi sulih testosteron tetap diperlukan. @ (Senior)

Pria Dan Andropause

“Kenapa ya akhir-akhir ini suamiku kerjanya marah-marah saja, cepat sekali tersinggungnya, boro-boro berhubungan, mesra-mesraan saja tidak pernah”. Jangan-jangan dia selingkuh ya? ujar Ibu Sri 55 tahun kepada sahabatnya. Keluhan dan kekhawatiran seperti ini sering kali terucap dari isteri-isteri yang mempunyai suami yang telah memasuki usia diatas setengah baya. Mereka khawatir dan curiga bahwa suaminya mulai mencintai wanita lain, karena suami-suami mereka tidak lagi bersikap mesra dan romantis seperti dulu. Padahal gejala-gejala penurunan minat terhadap seksual/libido, termasuk perubahan tingkah laku dan aktivitas seksual pada pria diatas usia setengah baya, adalah kumpulan gejala yang bisa terjadi pada pria kelompok usia tersebut, yang dalam istilah kedokteran disebut dengan Andropause. Sebenarnya, hingga saat ini andropause masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan, ada ilmuwan yang setuju bahwa pria akan mengalami masa menopause seperti wanita, tetapi ada pula ilmuwan yang menentangnya. Apa dan bagaimana sebenarnya andropause itu, akan dijelaskan pada tulisan dibawah ini.

Apa yang dimaksud dengan Andropause?
Andropause adalah kondisi pria diatas usia tengah baya yang mempunyai kumpulan gejala, tanda dan keluhan yang mirip dengan menopause pada wanita. Istilah andropause berasal dari bahasa Yunani, Andro artinya pria sedangkan Pause artinya penghentian. Jadi secara harfiah andropause adalah berhentinya fungsi fisiologis pada pria.Berbeda dengan wanita yang mengalami menopause, dimana produksi ovum, produksi hormon estrogen dan siklus haid yang akan berhenti dengan cara yang relatif mendadak, pada pria penurunan produksi spermatozoa, hormon testosteron dan hormon – hormon lainnya sedemikian perlahan.


Mekanisme terjadinya Andropause

Mekanisme terjadinya andropause adalah karena menurunnya fungsi dari sistem reproduksi pria, yang selanjutnya menyebabkan penurunan kadar testosteron sampai dengan dibawah angka normal.

Hormon yang turun pada pada andropause ternyata tidak hanya testosteron saja, melainkan penurunan multi hormonal yaitu penurunan hormon DHEA, DHEAS, Melantonin, Growth Hormon, dan IGFs (Insulin like growth factors). Oleh karena itulah banyak pakar yang menyebut andropause dengan sebutan lain seperti Adrenopause (deficiency DHEA/DHEAS), Somatopause ( deficiency GH/Insulin like Growth Factor), PTDAM (Partial Testosteron Deficiency in Aging Male), PADAM (Partial Androgen deficiency in Aging Male), Viropause, Climacterium pada pria, dsb.


Apa saja gejala Andropause ?

Kumpulan gejala dan tanda yang timbul pada andropause antara lain :

1. Gangguan vasomotor : tubuh terasa panas, berkeringat, insomnia, rasa gelisah dan takut.

2. Gangguan fungsi kognitif dan suasana hati: mudah lelah, menurunnya motivasi, berkurangnya ketajaman mental/institusi, keluhan depresi, hilangnya rasa percaya diri dan menghargai diri sendiri.

3. Gangguan virilitas: menurunnya kekuatan dan berkurangnya tenaga, menurunnya kekuatan dan massa otot, kehilangan rambut tubuh, penumpukan lemak pada daerah abdominal dan osteoporosis.

4. Gangguan seksual: menurunnya minat terhadap seksual/libido, perubahan tingkah laku dan aktifitas seksual, kualitas orgasme menurun, berkurangnya kemampuan ereksi / disfungsi ereksi / impotensi, berkurangnya kemampuan ejakulasi, dan menurunnya volume ejakulasi.

Kapan gejala Andropause mulai timbul ?
Umumnya andropause dimulai pada umur 50-60 tahun. Keluhan atau gejala-gejala pada andropause tidak terjadi sekaligus dan bisa terjadi pada umur yang sangat bervariasi. Perubahan hormonal dan biokimiawi tubuh secara pasti akan terjadi dengan bertambahnya usia, tetapi tidak semua pria akan mengalami keluhan andropause.

Apa penyebab Andropause ?
Penurunan hormon pada andropause terjadi secara perlahan sehingga sering kali tidak menimbulkan gejala. Keluhan baru timbul jika ada penyebab lain yang mempercepat penurunan hormon testosteron dan hormon-hormon lainnya.

Beberapa penyebab tersebut antara lain :
1. Faktor lingkungan
a. Bersifat fisik: bahan kimia yang bersifat estrogenik yang sering digunakan dalam bidang pertanian, pabrik dan rumah tangga.
b. Bersifat psikis:suasana lingkungan (tidak erotis), kebisingan dan perasaan tidak nyaman.

2. Faktor Organik (Perubahan hormonal)
Penyakit-penyakit tertentu dapat menyebabkan perubahan hormonal yang dapat mempercepat penurunan hormon testosteron dan hormon-hormon lainnya. Penyakit tersebut antara lain : diabetes mellitus (kencing manis), varikokel (pelebaran pembuluh darah testis), prostatitis kronis (Infeksi pada prostat), kolesterol yang tinggi, obesitas, atropi testis dsb.

3. Faktor Psikogenik
Penyebab psikogenik sering dianggap sebagai faktor timbulnya berbagai keluhan andropause setelah terjadi penurunan hormon testosteron.

Bagaimana cara mendiagnosa Andropause ?
Karena kumpulan gejala andropause yang mirip dengan penyakit lain, maka untuk mendiagnosa penyakit ini harus dirangkaikan dengan pemeriksaan lainnya, seperti :
- Perubahan hormonal dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium.
- Perubahan mental dan fisik dikonfirmasi dengan pemeriksaan fisik, fungsi tubuh, dan pemeriksaan psikologi.
- Perubahan tingkah laku dikonfirmasi dengan alloanamnesa (anamnesa terhadap keluarga / saudara)

Untuk mempermudah penegakkan diagnosa andropause, bagian geriatri Universitas St. Louis membuat 10 pertanyaan berdasarkan keluhan yang sering dirasakan oleh penderita. Pertanyaan tersebut yaitu :
1. Apakah libido atau dorongan seksual anda menurun?
2. Apakah anda merasa lemas atau kurang tenaga?
3. Apakah daya tahan anda dan kekuatan fisik anda menurun?
4. Apakah tinggi badan anda berkurang?
5. Apakah anda merasakan kenikmatan hidup menurun?
6. Apakah anda sering merasa kesal atau cepat marah?
7. Apakah ereksi anda kurang kuat?
8. Apakah anda merasakan penurunan kemampuan berolahraga?
9. Apakah anda sering mengantuk dan tertidur sesudah makan malam?
10. Apakah anda merasakan adanya penurunan prestasi kerja?

Jika jawaban nomor 1 dan 7 adalah “Ya” atau ada 3 jawaban “Ya” selain nomor tersebut, maka kemungkinan besar kadar testosteron menurun atau pria tersebut mengalami andropause. Disamping itu terdapat keluhan lain yang dapat meyakinkan bahwa pria tersebut menderita andropause, keluhan tambahan tersebut antara lain: disphoria, anxietas (kecemasan), ketakutan yang tidak beralasan dan merasakan ketidakmampuan dan perasaan-perasaan lain yang negatif. Selain itu berdasarkan alloananmnesa dengan keluarga/saudara terdapat pula perubahan tingkah laku dan mental psikologik.


Bagaimana Pencegahan dan Penanganan Andropause ?
Pencegahan andropause terutama ditujukan agar penderita dapat mengurangi keluhan maupun penderitaan saat memasuki usia tua. Dalam pencegahan ini, faktor psikologis tampaknya mempunyai peran yang sangat penting. Disamping itu memperbaiki faktor psikologis yang terganggu mempunyai arti penting pula dalam mempertahankan kesehatan secara umum. Selain faktor psikologis, para pria perlu juga menjaga kebugaran jasmani dan menerapkan pola hidup sehat.

Pengobatan utama andropause saat ini adalah pemberian hormon pengganti. Walaupun hormon yang menurun pada andropause terdiri dari bermacam-macam hormon, namun pemberian hormon multiple saat ini belum lazim dilakukan dan masih dalam tahap penelitian. Pengobatan yang dilakukan hanyalah pemberian hormon testosteron . Pemberian hormon testosteron ini dilakukan dengan hati-hati karena dikhawatirkan akan menimbulkan manifestasi seperti BPH (Benigna Prostat Hiperplasi) dan Kanker Prostat, walaupun penelitian terakhir membuktikan tidak ada korelasi langsung antara testosteron dengan BPH dan kanker prostat. Untuk menghindari resiko tersebut maka sebelum dilakukan pemberian hormon testosteron, pada penderita perlu dilakukan pemeriksaan rectal (anus) dan PSA (Prostat Spesific Antigent). Pemeriksaan tersebut disarankan tiap tiga bulan selama pengobatan testosteron. (Dr.Sheilla) - Gema Pria BKKBN

Sumber : Pemahaman dan Penanganan Andropause, Dr, Nugroho Setiawan, MS, Sp.And.

Paruh Baya Bukan Puber Kedua

Ketika memasuki usia paruh baya, seseorang sering berperilaku "mencurigakan". Ada yang genit, suka bersolek, dan menggoda lawan jenis. Ada pula yang menjadi alim dan sibuk dengan kegiatan spiritual. Inikah masa krisis dalam kehidupan seorang manusia?

Anda pernah melihat pasangan atau saudara kita tiba-tiba berubah tingkah ketika memasuki usia 40 tahun? Tiba-tiba suka bersolek, menyukai mobil sport mencorong, genit, suka main mata, bahkan punya pacar lagi atau meninggalkan pasangan dan anak-anaknya untuk menikahi orang lain.

Atau makin suka bicara seputar seks dan dengan berbagai cara berupaya keras mempertahankan "kemudaan"nya; aktif mengikuti kegiatan yang menurut anggapan umum lebih cocok untuk orang muda seperti berdansa dan berolahraga seperti arung jeram, mendaki gunung, atau bermain ski.

Inikah indikator bahwa sesuatu terjadi pada kaum paruh baya? Apakah mereka mengalami krisis?

Cukup banyak orang meyakini adanya midlife crisis (krisis paruh baya) sejak istilah itu dilontarkan oleh Gail Sheehy, Steve Levinson, dan rekan-rekan pada 1970-an. Sampai saat ini cukup banyak orang yang dengan serta merta mencurigai krisis paruh baya sebagai kambing hitam adanya perubahan tingkah laku mencolok yang ditampilkan orang-orang yang usianya mendekati kepala empat.

Bersisi ganda

Tidak dapat dipungkiri bahwa gejala-gejala tadi dialami oleh cukup banyak orang. Namun, perlu dipertanyakan apakah perubahan itu memang indikator terjadinya krisis. Robert R. McCrae dan P.T. Costa (1984) dalam penelitiannya terhadap pria paruh baya ternyata tidak menemukan bukti cukup kuat mengenai adanya krisis paruh baya. Sampai ada bukti lain meyakinkan, gejala perubahan tingkah laku yang kita alami atau amati pada seseorang sebaiknya kita anggap sebagai indikator adanya transisi usia paruh baya. Masa peralihan mengandung perubahan, namun tidak selalu mengakibatkan krisis.

Kalau kita telaah lebih lanjut, usia 40 dapat dikatakan sebagai "siang harinya kehidupan". Pada usia ini kita mulai berhitung berapa lama lagi waktu yang tersisa sebelum ajal menjemput. Ketika menghitung hari itulah, seakan-akan seseorang secara tiba-tiba disadarkan bahwa hanya tinggal sedikit waktu yang tersisa dalam hidupnya yang hanya satu kali ini.

Kesadaran akan hal itu dapat membuat sebagian kaum paruh baya menjadi lebih banyak merenung dan melakukan introspeksi mengenai berbagai hal yang perlu atau akan dilakukannya sepanjang sisa paruh kedua kehidupannya, ambisinya, dan cita-citanya. Sejalan dengan hal ini Carl Jung (1933), pakar psikologi, menyatakan bahwa usia 40-an adalah masa yang tepat untuk the illumination of the self, menggali pemahaman diri agar tercapai pencerahan diri.

Dalam masa peralihan ini, kaum paruh baya akan menghadapi berbagai pengalaman dan kesempatan yang dapat membuat mereka meninjau kembali beberapa aspek mengenai diri dan kehidupannya. Kaum paruh baya bukanlah kelompok yang homogen, melainkan cukup bervariasi.

Mereka cukup bervariasi dalam karakteristik kepribadiannya, karakteristik demografisnya, aspirasinya, cita-citanya, dan hal-hal yang diutamakan dalam kehidupan mereka. Ada yang sudah menikah dan berketurunan, ada yang tidak; ada yang berkarier, ada yang tidak; ada yang sudah mantap dalam berbagai aspek kehidupannya, ada yang masih gonjang-ganjing. Karena itu jangan terjebak dalam pandangan stereotipe mengenai kaum paruh baya.

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, semakin diketahui bahwa krisis paruh baya dapat bersisi ganda. Krisis dapat berarti gejolak yang berkonotasi negatif, namun juga dapat membuka peluang baru.

Di masa paruh baya ini dapat terbuka peluang untuk mengevaluasi dan mengeksplorasi kembali berbagai aspek diri seseorang yang selama ini tidak tersentuh atau agak terabaikan akibat kesibukan memenuhi berbagai tuntutan kehidupan sebagai "orang muda". Kemantapan karier, kehidupan keluarga, dan segi finansial amat mendukung seseorang untuk dapat secara lebih santai menekuni kembali hobi yang sudah lama terabaikan.

Dalam pandangan orang lain, perubahan tingkah laku ini mengesankan bahwa seakan-akan mereka baru mulai menekuni kegiatan yang tidak pernah dilakukan sebelumnya, padahal kegiatan atau hal itu sebenarnya pernah menjadi hobinya di masa remaja, dicita-citakan, atau diimpikannya sejak kecil. Jung dan Bernice L. Neugarten (1977) mengemukakan, pada usia 40-an orang cenderung melakukan berbagai hal yang sekan-akan berlawanan dengan yang biasa dia lakukan sebelum usia 40-an.

Namun, kita tidak dapat semata-mata mengambinghitamkan usia sebagai penyebab perubahan itu. Perubahan dan perkembangan dalam masyarakat secara luas pun memberi pengaruh terhadap tingkah laku kaum paruh baya. Pada umumnya, dan dalam dua dekade ini, di Indonesia semakin banyak kaum paruh baya yang memberi prioritas tinggi terhadap aspek spiritual atau keagamaan dalam kehidupannya. Dari kaum muda yang suka hura-hura, seseorang berubah menjadi kaum paruh baya yang alim dan sibuk dengan kegiatan spiritual.

Memasuki usia paruh baya sebenarnya semakin banyak yang menunjukkan sikap lebih matang dan lembut, tidak lagi ceplas-ceplos tanpa tenggang rasa. Bagi sebagian kaum paruh baya yang cukup mapan dan berhasil, inilah waktunya bagi mereka untuk menyempurnakan hidup.

Untuk menggambarkan persepsinya mengenai masa paruh baya, seorang perempuan Amerika mengibaratkan kehidupannya sebagai sebuah rumah. Dalam pandangannya, usia 40 tahunan adalah masa memberi sentuhan akhir untuk mempercantik rumah yang sudah dibangun sepanjang masa 40 tahun sebelumnya. Dalam usaha ini kadang kala seseorang merasa tidak memiliki ide atau tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk memperindah rumah yang sudah dia bangun itu.

Kesadaran mengenai sisa waktu kehidupan mungkin juga mendorong sebagian kaum paruh baya untuk mengejar ketinggalannya dalam berbagai aspek kehidupan. Bagi yang kurang puas dalam interaksi dengan lawan jenis, sekaranglah masanya menguji diri, apakah masih memiliki daya tarik? Sejalan dengan tema itu, mungkin saja ia jadi tampak seperti genit, melirik-lirik, merayu lawan jenis, atau bahkan selingkuh dan punya pacar lagi. Apalagi masyarakat masa kini juga menunjukkan perhatian besar terhadap penampilan dan kebugaran fisik.

Tidak hanya kaum muda, kaum paruh baya pun seakan-akan memuja kemudaan. Kemantapan kehidupan dan segi finansial sebagian kaum paruh baya juga menunjang mobilitas dan usaha meraih kesempatan yang pernah terlewatkan. Keberhasilan yang dicapainya selama ini memantapkan rasa percaya diri kaum paruh baya, sehingga mereka menjadi lebih berani dan yakin dalam melakukan sesuatu. Mereka tidak lagi terlalu mudah terusik oleh atau memusingkan pandangan orang lain, dan sudah memiliki nilai-nilai moral yang independen.

Karena itu, sebagian dari mereka menjadi lebih berani bereksperimen atau mencoba hal-hal baru, baik dalam rangka mumpung masih bisa atau menganggap bahwa nothing to lose. Coba saja, toh tidak ada ruginya, lebih rugi lagi kalau tidak pernah mencoba.

Hanya mitos

Sekadar untuk diketahui, yang namanya usia tidak hanya ditunjukkan dengan sekian tahun. Ada berbagai jenis usia. Selain itu, usia pun dapat memiliki makna ganda. Ada usia kronologis, yaitu jumlah tahun yang telah kita lalui sejak dilahirkan; usia biologis berkaitan dengan sisa waktu kehidupan sebelum ajal; usia psikologis berkaitan dengan kemampuan adaptasi maupun perasaan subjektif seseorang mengenai usianya; dan ada usia sosial yang berkaitan dengan peran, tanggung jawab, dan hak yang dimiliki seseorang dalam komunitasnya. Usia sosial inilah yang kerap dijadikan patokan kelayakan tingkah laku seseorang yang mungkin saja tidak sesuai dengan usia psikologis seseorang.

Dalam masyarakat ada patokan untuk model atau warna pakaian yang dianggap pantas untuk kaum remaja, kaum muda, atau kaum paruh baya. Peran dan usia seseorang menentukan harapan orang lain mengenai caranya berbicara, berinteraksi, maupun jenis kegiatan yang patut dia ikuti.

Seseorang juga cenderung memperlakukan atau menilai orang lain berdasarkan persepsinya mengenai usia orang itu. Hal ini tercermin dari komentar seperti, "Pakde gaya sekali. Sudah tua masih pakai baju merah". Atau, "Aduh, sudah sweet sewidak (60 tahun - Red.) kawin lagi", atau "Makin tua makin wah dandanannya".

Kaum paruh baya dianggap bermasalah dan mengundang gunjingan para tetangga bila tingkah lakunya berubah dan dianggap tidak sesuai untuk usianya atau peran sosial yang disandangnya. Kadang kala dalam kaitan dengan patokan sosial, kaum paruh baya pun seakan-akan mengalami diskriminasi. Mereka akan lebih berisiko mengalami sanksi sosial berupa cemoohan atau gunjingan apabila melakukan suatu tindakan yang dianggap lebih pantas dilakukan oleh kaum yang lebih muda usia.

Misalnya, menjalani operasi plastik untuk kecantikan, menjalani proses sedot lemak untuk merampingkan tubuh, atau menghi-langkan keriput di seputar mata. Kaum paruh baya kerap dinilai "lupa umur" apabila gemar berdansa, berkaraoke ria, atau menikmati alunan musik yang sedang digemari kaum muda. Padahal, kalau hal itu dilakukan oleh kaum muda, dianggap sah-sah saja. Ya, kalau dipikir-pikir, norma sosial yang berkaitan dengan kepantasan usia kerap bersifat diskriminatif dan tidak memiliki alasan mendasar yang rasional.

Lain padang lain belalangnya, lain daerah lain pula aturannya. Usia sosial bersumber dari masyarakat dan berisi aturan mengenai kapan (dalam rentang usia berapa) seseorang harus menunjukkan tingkah laku tertentu. Norma usia itu juga mengalami perubahan atau pergeseran. Kalau kita amati sekarang ini, tampak semakin banyak nenek yang berjiwa muda, melakukan kegiatan dan produktif seperti kaum muda, mewarnai rambutnya yang beruban dengan aneka warna, tetapi dapat tetap terlihat anggun. Banyak pria matang, bahkan kakek yang tetap produktif dan bersemangat meski di usia yang sudah jauh melampaui masa paruh baya. Usia subjektif umumnya memang tidak sejalan dengan usia kronologis.

Dalam beberapa penelitian diketahui, usia subjektif psikologis ternyata paling tidak sinkron dengan usia kronologis. Ketika remaja, orang merasa sudah dewasa; tetapi di usia paruh baya ke atas kebanyakan tidak merasakan perubahan usia psikologis subjektif yang berarti. Perubahan usia subjektif baru terjadi bila kaum paruh baya mulai mengalami berbagai kemunduran fisik, menyandang status baru dengan lahirnya sang cucu atau mengalami kematian teman sebayanya seorang demi seorang.

Jadi, apakah di usia paruh baya seseorang harus mengalami krisis? Itu hanya mitos. Yang ada adalah masa peralihan berkaitan dengan perubahan status, peran, kedudukan sosial, perubahan interaksi keluarga, dan lain-lain. Jauh lebih banyak orang yang melalui masa ini dengan tenang, aman, dan damai daripada yang penuh gejolak atau pencilatan, lirak-lirik, bergenit-genit apalagi berselingkuh.

Cukup banyak orang yang menyikapi masa paruh baya sebagai masa untuk evaluasi, introspeksi, dan kemudian mengembangkan aspek spiritual dalam diri mereka, menumbuhkan sikap bijak baik dalam interaksi sosial maupun menghadapi kehidupan secara lebih luas. Dengan demikian, salah satu anak tangga kehidupan dapat dilalui dengan bergairah menuju terbangunnya pribadi yang lebih bijaksana.

Shinto B. Adelar Psikolog, di Jakarta (Intisari)

Menikmati Seks Di Usia Senja

Usia bertambah bukan berarti Anda tak mampu mendapatkan kenikmatan seks. oh, banyak cara agar kehidupan seksual Anda berjalan mulus meski Anda sudah tak muda lagi.

Sebelum mengetahui bagaimana cara menikmati seks, sebaiknya diketahui lebih dulu penyebab berkurangnya kenikmatan seks pada usia tua. Ada dua faktor yang mempengaruhi yaitu organbiologis dan psikologis.

Wanita
Saat usia lanjut, kata Dr. Jusni Ichsan Solichin, Sp. KJ dari RS Mitra Menteng via, pada wanita terjadi peribahan hormonal dalam tubuh. Hormon estrogen turun drastis atau bahkan habis sehingga mengakibatkan mesntruasi menjadi terhenti. Keadaan ini mengakibatkan cairan vagina menjadi jauh berkurang atau bahkan sama sekali tidak ada.

Hubungan seksual pada wanita tetap bisa dilakukan meski si wanita tidak menikmatinya karena terjadi penurunan libido dan terasa sakit saat bersenggama. Sakit terjadi sebagai akibat adanya luka-luka kecil di sekitar vagina sebagai dampak dari minimnya pelumasan atau lubrikasi dalam vagina.

Dilihat dari faktor psikologis, wanita menopause merasa dirinya sudah tua sehingga merasa tidak bisa berfungsi secara seksual dan tidak dapat berproduksi. Akibatnya ia acap menghindari hubungan seksual. Pada usia pensiun dimana anak sudah besar dan di rumah hanya tinggal berdua, seharusnya para senoor menjadi lebih enjoy dalam menikmati seks karena beban keluarga sudah longgar.

Laki-laki
Menurut Djusni, pada lelaki dapat terjadi gangguan pembuluh darah seiring dengan perkembangan umur. Misalnya, pada usia muda, pembuluh darah masih kencang sehinnga pembuluh di penis dapat terisi penuh. Hal ini pun bergantung pada ada tidaknya penyakit diderita.

Bagi olahragawan, di usia 60-65 tahun, tubuh masih fit. Ereksi masih baik karena aliran pada pembuluh darah penis masih berjalan lancar. Hanya ada sedikit endapan lemak di pembuluh darah sehingga ereksi dapat sempurna.

Bagi laki-laki paruh baya yang menderita diabetes atau hipertensi, sebaiknya melakukan pengontrolan gula darah setiap bulan. Pasalnya bila orag menderita diabetes secara organbiologis terjadi endapan lemak di pembuluh darah kecil. Jika lemak mengendap di pembuluh darah penis maka aliran darah ke penis menjadi berkurang. Akibatnya, sewaktu ereksi penis menjadi lembek. Selanjutnya, libido pun menjadi turun sebelum bertempur. "Di usia paruh baya sudah mulai terjadi," tukas psikiater yang sering memberi konseling seks itu.

Beruntung sebetulnya kaum laki-laki. Sampai usia 100 tahun pun, kaum pria sebenarnya masih dapat membuahi sel telur dan masih bisa memiliki anak. Hanya hormonnya semakin berkurang. Meski berusia lanjut, tubuh tetap terus mengisi kantong sperma. Bila sudah penuh, sperma harus dikeluarkan agar tidak berdampak pada prostatnya yang memproduksi air mani. "Kalau orang tua, sesekali ya dikeluarkan untuk mengatasi hipertropi prostatnya," jelas Jusni.

Namun, penyebab psikologis dapat menyumbang cukup besar terhadap ketidakmulusan hubungan seks usia senior khususnya pada laki-laki. banyak laki-laki setengah pensiun, tidak dapat menikmati hubungan seks. Apalagi laki-laki yang tidak siap pensiun, ia merasa kehilangan pekerjaan. Padahal, ia masih membutuhkan banyakuang untuk kebutuhan ekonomi sehingga pikiran menjadi bertambah rumit dan menganggap dirinya sebagai orang yang tidak berguna. "Itu bisa menggangu, bisa menurunkan libido dan ereksi berkurang," ujar Jusni.

Dari faktor psikologis, laki-laki terpengaruh lebih fatal dibanding wanita dalam masalah hubungan intim. Pasalnya, laki-laki adalah sexually active, kalau tidak bisa ereksi maka dianggap gagal total melakukan hubugan intim. Sebaliknya, wanita masih bisa bersenggama meski tidak berlibido dan orgasme karena ia adalah sexually passive. "Bagi laki-laki, ereksi itu sebagai lambang laki-laki, jika ereksi tidak sempurna berarti tenaganya kurang. Harga dirinya menjadi turun," ucap Jusni.

Solusi pada wanita
* Makanlah makanan yangmengandung fitoestrogen supaya estrogen tetap ada dalam tubuh sehingga masa menopause menjadi lebih lama. Fitoestrogen dapat diperoleh dari kedelai dan buncis atau makanan berbahan kedelai seperti tempe dan tahu. Dapat pula diperoleh dari suplemen estrogen.

* Tetap berolah raga.

* Menggunakan jeli untuk lubrikasi saat bersenggama agar kegiatan seks dapat berjalan baik dan saling menikmati.

* Menggunakan suplemen hormon estrogen, namun dapat berefek samping pada orang yang sensitif misalnya terjadi tumor payudara.

* Secara psikologis, buatlah diri merasa enjoy dengan pasangan agar tetap harmonis dan dapat menikmati seks.

* Memiliki kesiapan psikologis misalnya menghadapi pensiun sehingga masalah-masalah psikologis tidak mengiring dirinya pada masalah seksual.

Solusi pada laki-laki
* Sebaiknya mencegah makanan berlemak karena dapat mengendap di pembuluh darah.

* Menjaga kesehatan. Bila menidap diabetes dan darah tinggi sebaiknya gula darah dan tekanan darah terkontrol.

* Olahraga teratur sehingga jantung dapat memompa darah dengan baik. Aliran darah ke pembuluh darah penis berjalan lancar.

* Mempersiapkan masa pensiun dengan kegiatan yang telah dikonsepkan sebelum pensiun sehingga sewaktu pensiun percaya diri tetap ada dan tidak menurun

* Tidak stress, cemas dan depresi terutama pada masa pensiun karena dapat berdampak pada penurunan libido dan ereksi.

Sumber: human health

Gairah Seks Pria Usia 30-50 Tahun Lebih Sering, Semakin Oke

Problem memuaskan pasangan di usia paro baya, menjadi fenomena dan lika-liku kehidupan seks pria pada umumnya.

Aktivitas seksual dalam kehidupan rumah tangga memang bukan segala-galanya.Tapi, efek dari intimacy itulah bisa merambat pada kebahagiaan serta langgeng atau tidaknya mahligai rumah tangga. Padahal, seiring bertambahnya usia, daya seksual pria makin tak tentu.

Seorang pakar psikologi dari Pasadena, California, Neil Clark Warren, Ph.D., dalam bukunya, Catching The Rhythm of Love, tertulis: umur seorang pria bisa dijadikan barometer untuk mengukur kadar emosi dan gairah seksualnya. “Dengan mengetahui gairah seks pria pada penggalan usia, wanita bisa memahami ‘harapan' pria tentang seks dari pasangannya," ujar Neil Clark Warren. Ia menambahkan, “Pria adalah mahluk yang penuh dengan petualangan seksual.” Nah, seperti apa sih gelora seks pria usia 30-40 tahun?

Usia 30-an tahun

Kadar testoteron tinggi dan gairah seks bergemuruh selalu dialami pria di usia ini. Tak heran, seandainya untuk urusan seks, pria rentang umur ini punya cara tersendiri, seperti selalu bercinta setiap waktu luang, mencapai klimaks, dan senang mengekplorasi berbagai posisi hubungan intim demi menyenangkan pasangannya. Dengan kata lain, lebih sering making love (ML), lebih asyik.

Gaya seks lelaki di usia ini mirip fast food saat gairahnya menurun. Seks kilat atau quickie sex, jalur yang kerap ditempuh pria di usia ini. Namun, di balik itu, masalah ejakulasi dini dan aktivitas foreplay yang lebih lama, sudah teratasi. Bagi mereka, seks sangat berperan dalam keharmonisan rumah tangga. Ketidakserasian seksual dengan pasangan dapat memicu masalah rumah tangga golongan usia ini.

Pria usia 30-an tahun tak lagi mengenal just for fun ketika ML. Namun, kualitas dan kuantitas yang diperlukan. Nah, untuk menyenangkan hasrat seksual pasangan, pria ini biasanya akan lebih terbuka dan tidak egois. Di mata pria, setiap permainan seks pasti menyenangkan, kemudian disudahi dengan orgasme hebat.


Usia 40-50-an tahun

Life begin at forty. Ini bukan kalimat untuk menyenangkan Anda yang memasuki usia ini. Pria di usia ini memiliki satu nilai plus yang tak bisa dinilai dengan uang. Yaitu, kematangan psikis dan pengalaman. Di mata wanita, pasti akan menikmati kenyamanan bercinta dengan pria usia baya ini. “Saat yang terbaik untuk wanita merasakan hubungan cinta yang berkualitas,” kata Sharyn Hillyer, ahli terapi seks di Beverly Hills, Amerika Serikat.

Menurunnya produksi hormon seksual dan masalah rumah tangga yang bertumpuk, membuat hubungan seks jarang dilakukan. Biasanya, pria akan ketakutan jika tak dapat berereksi sesering mungkin seperti masa muda. “Pada usia ini, akan terjadi penyakit khas pria, yaitu krisis tengah baya ketika energi fisiknya sudah mulai menurun,” kata psikolog Larme Shanor, penulis buku The Sexual Sensitivity of the American Male.

Untuk mengatasi gairah menurun, para seksolog menganjurkan untuk tetap melakukan hubungan seks meski sedang tak sangat ingin. Caranya, Anda bisa memberikan kejutan dengan permainan seks yang dibalut suasana romantis. Gairah bercinta dijamin akan terbakar.

Ahli terapi seks dan konselor Julia Cole mengatakan, ketika masih muda, seks dengan orgasme sebagai tujuan. Tetapi ketika beranjak tua, “Pasangan lebih banyak menikmati sensasi dari permainan seks dibandingkan orgasme itu sendiri,” tandas Cole.

--------------------------------------------------

Pria Vitalseksual
Pada 2004, Center for Maritial & Sexual Studies melakukan survei mengenai kehidupan seksual pria Indonesia. Hasilnya cukup mengagetkan. Berdasarkan jawaban responden di beberapa kota daerah dan Jakarta, terdapat perbedaan dalam beraktivitas seks selama satu minggu.

Untuk pria di beberapa kota seperti Medan, Surabaya, Semarang, Balikpapan, Palangka Raya, dan Jombang, melakukan hubungan seks 3-4 kali dalam seminggu. Sementara lelaki di Jakarta, hanya 1-2 kali dalam sepekan.

Robert Michael dan John H, ahli seks dari Amerika Serikat, mengungkapkan frekuensi hubungan seks yang normal dan sehat untuk pria berusia di atas 40 tahun minimal 2-3 kali dalam seminggu.

Tingkat penurunan daya seks pria di metropolis Jakarta juga dialami di kota-kota besar Eropa. Di Jerman, misalnya. Belum lama ini, muncul yang namanya komunitas pria vitalseksual. Survei terbaru PT Bayer HealthCare mengungkapkan rata-rata pria vitalseksual berusia di atas 40 tahun. Bagi mereka, kehidupan seks yang memuaskan sangat penting. Untuk itu, para lelaki ini sangat berharap kehidupan seks yang pernah mereka alami pada masa muda dapat dilakukan kembali.

Survei Bayer pun selanjutnya menulis bahwa 34 persen pria vitalseksual merasa khawatir tidak bisa memuaskan pasanganya. Bahkan, yang lebh menarik, untuk memuaskan pasangannya, para pria ini bersedia merujuk pada pertolongan medis. Yang mengejutkan lagi, 62 persen responden pria berani mengakui, “Terkadang tak mampu mempertahankan ereksi," kata Margaret Fairhurst, selaku Vice President Global Sstrategic Marketing Bayer HealthCare pada siaran persnya.

Upaya mendapatkan kembali kehidupan seks normal, pria vitalseksual di Eropa dan Jakarta cukup berbeda. Di Eropa, para pria mendatangi tenaga medis atau psikiater berdua dengan pasangannya. Di Jakarta, umumnya masih malu-malu.
Oleh: Haris Maryasno (Majalah Manly)

Thursday, April 12, 2007

Mengantisipasi Andropouse

Kekhawatiran akan timbul mencuat ketika pria mulai memasuki usia paruh baya. Hal yang paling ditakuti adalah menurunnya kemampuan seks, terutama berkurangnya ereksi, sukar untuk terangsang, orgasme yang terlambat datang, menurunnya libido, serta pancaran sperma yang kurang deras. Selain gangguan fisik, datang pula perubahan psikis: sering cemas, takut terhadap masa depan, lekas tersinggung, tak sabar dan tak merasa berharga.

Inilah beberapa gejala dari apa yang disebut sebagai menopouse pria (male menopouse) atau disebut juga andropouse. Dari pengalaman, Dr. A Aubrey M Hill yang menulis buku The Male Menopouse, yakni sebagian besar lelaki usia senja mengalami menopouse pria. Keadaan itu umumnya dialami antara usia 40-60 tahun. Sekitar lima persen laki-laki mengalami menopause pria pada akhir usia 30-an, dan 10 persen mengalaminya di atas 60 tahun. Banyak dari mereka amat menderita karena perubahan fisik dan psikis yang dialami seiring pertambahan usia. Malangnya, sang penderita tak memiliki akses informasi yang diperlukan untuk memahami gejala yang mereka rasakan.

Masalah seks akan menjadi lebih berat ketika menurunnya kejantanan seorang pria. Mereka tak bisa menerima keadaan tersebut. Inilah masalahnya. Padahal, kendati sudah memasuki usia tua, bukan hal mustahil untuk berhubungan seksual dengan aman dan menyenangkan. Tipsnya adalah sepertidi bawah ini.

1. Kuatkan kepercayaan diri. Bukan solusi yang terbaik jika Anda mencari wanita penghibur atau wanita lain yang lebih muda, berdandan lagaknya orang muda dan rasa gelisah yang tak beralasan. Satu-satunya jalan terbaik adalah menerima dengan ikhlas memang sudah waktunya Anda menghadapi fase ini. Menopause pria bukanlah penyakit, namun sindroma seperti halnya pubertas atau menopause pada wanita. Itu semua merupakan tahapan alami yang terjadi pada kehidupan

2. Membuka dialog yang penuh pengertian dengan pasangan Anda. Jika masing-masing saling mengerti kondisi, semuanya jadi terasa mudah. Anda tak takut gagal, sehingga menghindari aktivitas seksual. Sementara sang istri juga tak perlu mengira suaminya ada main dengan wanita lain. Dialaog merupakan cara terbaik untuk mereduksi problem seks di usia senja. Lakukanlah di saat santai. Penting pula untuk dimengerti, kemampuan seksual tidak hilang dari kehidupan mereka kecuali memang disebabkan penyakit khusus. Yang diperlukan adalah mendefinisikan kembali makna seks di usia senja

3. Kenalilah daerah-daerah sensitif pasangan Anda dengan melakukan eksplorasi. Lakukan variasi-variasi seks yang lain agar tidak membosankan. Tapi tetap disesuaikan dengan kondisi kesehatan. Dan yang pasti, jangan sampai ada unsur paksaan dan terpaksa. Menurut Hill, lelaki usia senja seharusnya tak memaksa diri menjadikan dirinya sebagai mesin seks yang hebat. Anda cukup menjadi pencinta yang ulung.

4. Jangan tergiur obat kuat atau pemberian hormon testosteron. Hill meragukan efektivitas pemberian hormon itu. Menurutnya, hormon laki-laki masih terus diproduksi dalam jumlah cukup, bahkan sampai usia 90-an. Ini berbeda dari hormon estrogen pada wanita yang tak lagi diproduksi setelah menopause. Lebih baik Anda berkonsultasi pada dokter atau psikiater. (rs/ebrbagai sumber)

Sumber: CBN

Thursday, March 29, 2007

Terapi Seks Sembuhkan Pasien Stroke Dari Kelumpuhan

Hah? Insan pasca stroke berhubungan intim? Jalan saja susah, masak mau berhubungan badan? Ya, kata Dr. Hermawan Suryadi, Sp.S, ngeseks justru bisa jadi obat manjur buat penderita stroke.

Harapan masih terbentang luas pasca serangan stroke. Itu kata Dr. Hermawan. Demi menumbuhkan harapan itu, dokter ahli sarah ini mengelola Klub Stroke Karmel dan mengadakan acara-cara yang menggembirakan para insan pasca stroke.

"Adalah salah jika menganggap penyakit stroke adalah penyakit yang menyebabkan mati pelan-pelan," katanya, ketika beicara dalam seminar seks untuk insan pasca stroke di Apotek Trio Sada, Jakarta Barat, Rabu lalu.

Pikiran salah lain soal stroke yang harus dihapus adalah bahwa setelah serangan stroke, tak ad alagi kehidupan seks untuk suami istri. Bahkan, ada pendapat bahwa bercinta dapat menyebabkan serangan stroke ulang. "Itu salah sama sekali," ujarnya.

Memang setelah serangan, pasien tak berdaya. Namun, dua bulan setelah serangan dan pasien bisa hidup mandiri, ngeseks bukan hal tabu. Satu dari 6 pasien stroke, menurut paparannya, aktif secara seksual.

Bahkan, orang yang mengalami stroke di otak kiri, gairah seksnya justr meningkat. Ada sekitar 10 persen yang mengalami peningkatan gairah setelah serangan stroke. Sebaliknya, orang yang mengalami stroke di otak sebelah kanan umumnya mengalami gangguan libibo, gairah seks, disfungsi ereksi, dan ejakulasi dini.

Soal tenaga untuk berhubungan intim, energi yang dibutuhkan kira-kira setara dengan naik tangga menuju 1 lantai. Bila ampu naik tangga tanpa kesulitan berarti, itu tandanya mampu berhubungan seks.

Meski begitu, untuk sebagian besar penderita stroke, ada sejumlah rambu yang diberikan oleh Dr. Hermawan. Tekanan darah harus dicek dulu sebelum berhubungan intim.

"Kalau tekanan darah naik dan mengalami sesak napas, sebaiknya hubungan seks ditunda dulu," katanya. Sementara jika saat berhubungan intim napas dan denyut jantung memburu, itu wajar terjadi.

Seks menurut penelitian di Jerman, kata Dr. Heramwan, justru dapat mempercepat penyembuhan kelumpuhan karena memperkuat rasa percaya diri. Buat penderita stroke yang mengalami depresi, terapi seks justru menyembuhkan karena memberi kebahagiaan, fileksasi, kepuasan, dan keintiman.

"Otak amnusia itu luar biasa. Dari peta fungsi anatomi manusia di otak, jempol kaki berdekatan dengan alat kelamin. Jika alat kelamin dirangsang, jempol kaki juga ikut terangsang. Jadi, buat insan pasca stroke yang mengalami kaki lemah, seks justru bisa menyembuhkan," katanya.

Yang perlu diingat, seks bukan berarti hubungan alat kelamin seamta. Seks adalah hubungan intim dan erat dengan antarpasangan. Jadi, membelai pasangan dengan mesra juga merupakan sebuah hubungan seks.

Karena seks adalah kegiatan yang melibatkan dua orang, sebaiknya insan pasca stroke melakukan komunikasi yang baik dengan pasangan. Sebab, untuk pasangan penderita stroke, mengurus mereka seharian penuh tentu melelahkan secara fisik dan mental. Permintaan untuk berhubungan intim mungkin malah membuat mereka marah-marah.

Hal lain yang tak kalah penting adalah memperhatikan penampilan. "Jangan sampai pasangan enggan didekati karena seharian nggak mandi," kata dokter yang menganjurkan posisi cow girl untuk pria penderita stroke dan missionary untuk wanita penderita stroke ini. @ diy

Sumber: Senior

Tertarik Pria Tua, Kenapa?

Bila seorang gadis tertarik dengan pria yang seumur ibunya dan terpaut 23 tahun dengannya, apa yang menjadi alasan? Sekadar materi atau ada kematangan psikis lainnya? Bagaimana dengan keharmonisan hubungan seks mereka kelak, jika jadi menikah?

Kasus:

“Saya seorang gadis berumur 23 tahun. Sejak 2 tahun yang lalu saya punya pacar, seorang duda berusia 46 tahun. Istrinya meninggal karena sakit kanker. Saya tidak mengerti mengapa saya jatuh cinta kepada dia yang jelas jauh lebih tua. Saya tahu dia jauh lebih tua, tetapi saya tidak dapat menahan gejolak cinta saya kepadanya. Mungkin saja karena dia sangat memperhatikan saya. Orangtua saya sangat keberatan dengan mengajukan berbagai alasan, antara lain usianya yang sama dengan usia ibu saya dan hanya lebih muda 2 tahun daripada ayah saya. Beberapa teman juga mengejek saya, dianggap saya pacaran dengan teman ayah saya. Saya benar-benar mencintai dia. Rasanya saya tidak dapat hidup tanpa dia. Hanya akhir-akhir ini saya mulai merenung, apakah secara ilmu pengetahuan akan terjadi akibat karena menikah dengan orang yang jauh lebih tua, khususnya dalam urusan hubungan seks suami istri? Mohon penjelasan, apakah pasti ada masalah kelak kalau saya nekat menikah dengan dengan dia yang jauh lebih tua? Apakah saya masih bisa hamil mengingat usia dia yang sudah tua? Apakah kalau melakukan hubungan seks dengan orangtua dapat menyebabkan saya cepat tua? Saya juga ingin tahu, apakah saya akan mengalami masalah seksual karena suami yang sudah tua? Apakah perbedaan usia yang jauh dapat menyebabkan terjadi perselingkuhan? Apakah saya harus putus dengan dia?”

(T.S.. Jakarta)

Jawaban:

Lima Alasan

Tidak sedikit gadis yang merasa tertarik dan jatuh cinta dengan pria yang jauh lebih tua, atau bahkan seusia ayahnya. Sebenarnya kejadian itu bukan sesuatu yang aneh atau tidak dapat dijelaskan. Kejadian itu justru dengan mudah dapat dijelaskan.
Ada beberapa alasan mengapa tidak sedikit gadis yang jatuh cinta kepada pria yang jauh lebih tua.

Pertama, pria yang jauh lebih tua relatif lebih tenang dan sabar, sehingga dianggap dapat mengayomi.

Kedua, karena usianya yang matang, pria itu berjiwa lebih stabil, sehingga tidak cepat berubah.

Ketiga, karena pengalamannya, pria itu lebih mengerti bagaimana menghadapi gadis.

Keempat, keadaan sosial ekonomi relatif lebih mapan, sehingga dapat mendukung hubungannya dengan gadis.

Kelima, mungkin juga karena si gadis menemukan figur seorang ayah yang tidak pernah dia dapatkan dalam hidupnya.

Jadi, kalau Anda jatuh cinta kepada pria yang seusia orangtua Anda, itu dapat dimengerti. Tentu ada daya tarik tersendiri pada duda itu, sehingga Anda benar-benar jatuh cinta walaupun usianya jauh lebih tua. Apa daya tarik itu, apakah bersifat fisik ataukah psikis, hanya Anda yang tahu.

Namun, larangan orangtua Anda sebaiknya memang Anda pikirkan dengan baik. Perbedaan usia yang terlampau jauh acapkali memang menimbulkan masalah karena munculnya perbedaan dari banyak segi.

Banyak Perbedaan

Contoh perbedaan yang sederhana adalah dalam hal minat. Pada masa muda, mungkin Anda masih senang bepergian dengan suasana yang bernuansa muda, sementara pada usia pertengahan orang sudah lebih senang menikmati suasana yang lebih tenang.
Perbedaan lain yang perlu diperhatikan adalah dalam kehidupan seksual. Kalau pada usia muda fungsi seksual sedang mencapai puncak, pada usia pertengahan sudah terjadi penurunan.

Seiring dengan proses penuaan, terjadi penurunan fungsi seksual pada pria. Kalau ini terjadi pada suami Anda, tentu dapat terjadi kesenjangan sehingga kehidupan seksual menjadi tidak harmonis. Meski begitu, penurunan ini dapat diatasi dengan pengobatan yang benar.

Kesuburan pria juga menurun karena proses penuaan. Walaupun proses pembentukan spermatozoa tidak berhenti total, terjadi penurunan dalam proses pembentukan sel spermatozoa. Itu berarti Anda tetap saja mungkin hamil, tetapi sangat tergantung kepada sejauh mana penurunan kesuburan terjadi pada calon suami Anda itu.

Tidak benar Anda menjadi cepat tua karena melakukan hubungan seksual dengan orang yang jauh lebih tua. Kalau Anda dapat memelihara kesehatan, baik fisik maupun psikis, Anda tidak akan menjadi cepat tua. Namun, mungkin saja terjadi penyesuaian dalam penampilan dan tindakan dengan suami yang lebih tua, sehingga Anda tampak lebih tua dari usia yang sebenarnya.

Mengenai perselingkuhan, banyak faktor penyebabnya. Salah satu adalah kehidupan seksual yang tidak harmonis.

Jadi, kalau kehidupan seksual Anda tidak harmonis karena suami mengalami gangguan seksual akibat penurunan pada usia lanjut, sebenarnya Anda dihadapkan pada risiko terjadinya perselingkuhan. Apakah kemudian itu terjadi atau tidak, tentu sangat bergantung kepada Anda dan suami, dan upaya apa yang dilakukan untuk mengatasi masalah seksual yang ada.

Saya sarankan Anda pikirkan dengan matang sebelum mengambil keputusan menikah dengan dia. Andaikata akhirnya Anda tetap bertekad menikah dengan dia, saya harap Anda sudah siap menghadapi segala kemungkinan akibat yang akan muncul.

Sunday, March 11, 2007

Memperbaiki Hubungan Dengan Si Dia

Anda telah melewati masa-masa indah bersama pasangan. Lalu tiba-tiba gairah seks Anda menurun.

Menurunnya selera Anda ini bisa disebabkan banyak hal. Dari trauma, sampai karena persoalan kesehatan. Tetapi Anda tak perlu khawatir, karena Anda tidaklah sendirian. Banyak wanita yang mengalami masa-masa sulit dalam hubungan dengan pasangannya. Selama masa menopause, misalnya, hampir separuh atau bahkan lebih, wanita yang mengalaminya disfungsi seksual.

Sesuai dengan perubahan usia, fungsi tubuh Andapun mengalami perubahan tanpa terkecuali fungsi seksual Anda. Ambil contoh pada usia 60, kebutuhan seksual, pola, dan penampilan Anda tidak lagi sama seperti 30 tahun yang lalu.

Walaupun masalah seks beraneka ragam, pada umumnya dapat diatasi. Dengan mengomunikasikan permasalahannya dan mengerti akan anatomi dan respon fisiologi tubuh Anda yang normal terhadap rangsangan seks, merupakan langkah penting untuk mencapai seks yang sehat.

Tetapkan permasalahannya
Disfungsi seksual secara tidak langsung merupakan masalah yang bisa terjadi berulang kali dialami.

Disfungsi seksual tidak dianggap merupakan gangguan selama Anda tidak khawatir atau tidak memberikan pengaruh negatif dalam hubungan seks dengan pasangan.

Disfungsi seksual wanita dapat terjadi di semua usia. Para dokter dan terapis seks biasanya membagi disfungsi seksual pada wanita menjadi empat kategori, yaitu:

1. Rendahnya gairah seksual. Hal ini merupakan jenis yang paling umum yang dialami oleh para wanita.

2. Gangguan rangsangan seksual. Gairah seks mungkin ada tetapi Anda tidak mampu terangsang atau tidak mampu mempertahankan rangsangan seks selama kegiatan seksual dilakukan.

3. Gangguan orgasme. Memiliki masalah yang berulang kali terjadi dalam mencapai orgasme sesudah rangsangan seksual yang memadai dan stimulasi yang dilakukan terus menerus.

4. Gangguan rasa sakit seksual. Rasa sakit yang diderita pada rangsangan seksual atau kontak melalui vagina. Tidak seluruh masalah seksual yang dialami oleh kaum wanita cocok dengan kategori yang disebutkan di atas.

Dengan bertambahnya informasi mengenai komplikasi alami dari respon seksual kaum wanita, maka muncullah suatu pandangan baru mengenai masalah yang berkaitan dengan masalah seksual kaum wanita - yang terpusat pada respons seksual sebagai interaksi kompleks dari berbagai macam komponen termasuk fisiologi, emosi, pengalaman, kepercayaan, gaya hidup dan hubungan.

Seluruh faktor yang disebutkan di atas harus memberikan pengaruh yang baik bagi seorang wanita agar tercipta keintiman emosi yang dapat memberikan respons terhadap rangsangan seksual yang mengarah pada kenikmatan. Kenikmatan tidak selalu menghasilkan orgasme. Orgasme tidak harus selalu merupakan tujuan dari suatu hubungan seksual tetapi lebih merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan.

Beragam sebab
Beberapa faktor dapat menyebabkan terjadinya disfungsi seksual. Kadang-kadang faktor-faktor tersebut saling berhubungan dan memerlukan beberapa terapi yang dikombinasikan.

- Fisik. Kondisi fisik dapat menyebabkan atau merupakan pendukungi terhadap masalah seksual termasuk arthritis, gangguan saluran kemih, gangguan usus besar, trauma dan operasi pelvis, lelah, sakit kepala, gangguan syaraf seperti multiple skerosis dan sindroma rasa sakit yang tidak diobati dengan benar. Beberapa obat-obatan termasuk antidepresan, obat-obatan untuk tekanan darah tinggi/rendah, antihistamin dan obat-obatan untuk kemoterapi dapat menurunkan gairah seksual dan kemampuan anda untuk mencapai orgasme.

- Hormonal. Menopause dapat mempengaruhi fungsi seksual pada wanita paruh baya. Kekurangan estrogen sesudah menopause dapat merubah alat genital dan respon seksual Anda. Juga pembengkakan dan lubrikasi dari vagina menjadi lebih lambat. Faktor-faktor ini menimbulkan dispareunia, yaitu rasa sakit pada waktu berhubungan intim dan pencapaian orgasme yang lama.

- Psikologis dan sosial. Faktor psikologis yang menyebabkan atau merupakan pendukung dari masalah seksual termasuk masalah emosi seperti rasa cemas yang tidak diatasi, depresi atau stress dan sejarah dari atau penyalahgunaan seks yang terjadi. Kesulitan dalam memenuhi berbagai macam kebutuhan dan peran seperti tuntutan pekerjaan, urusan rumah tangga, sebagai ibu dan sebagai anak yang harus merawat orang tua yang sudah lanjut usia.

Usia dan kesehatan pasangan, perasaan Anda terhadap pasangan, dan kurang percaya diri terhadap tubuh Anda atau terhadap tubuh pasangan Anda juga merupakan faktor-faktor tambahan yang dapat merupakan kombinasi dari penyebab masalah seksual. Budaya dan agama juga dapat merupakan faktor pendukung.

Atasi segera
Untuk kondisi fisik, konsultasikan dengan dokter Anda. Obat-obatan yang mempunya efek samping mungkin perlu diganti dengan obat-obatan yang lain. Perubahan fisik akibat menopause, seperti vagina yang menjadi lebih kering dan menipis, dapat menggunakan terapi hormon atau gel pelumas. Untuk menguatkan otot vagina atau meningkatkan rangsangan seksual, Anda dapat melakukan latihan Kegel, atau konsultasi dengan ahli.

Saran lain yang mungkin dapat membantu, cobalah mencari posisi baru, latihan otot relaksasi (kontraksi dan relaksasi otot pelvis), atau latihan otot vagina dengan menggunakan alat khusus.

Untuk masalah psikologis atau masalah hubungan konsultasikan dengan dokter yang biasanya akan merekomendasikan Anda untuk konseling atau melakukan psikoterapi. Biasanya terapi termasuk pendidikan seks mengenai fisiologi tubuh Anda dan teknik membangkitkan rangsangan yang Anda perlukan untuk mencapai orgasme.

Jenis psikoterapi, disebut terapi tingkah laku. termasuk latihan tuntunan diri, seperti sentuhan non-seksual atau pijatan sensual tanpa berhubungan intim sampai kepada peningkatan kenikmatan/gairah seksual. Latihan-latihan ini dipusatkan pada rangsangani bukan pada hubungan intim. Hubungan antara pikiran dan tubuh Bagi wanita, respons seksual merupakan masalah yang kompleks dan melibatkan hubungan antara pikiran dan tubuh.

Otak merupakan organ seks yang paling penting dari tubuh Anda. Ide, fantasi, gambaran, bau dan sentuhan semuanya merupakan reaksi otak yang membawa kepada suatu kenikmatan dan gairah. Respons seksual sering merupakan ungkapan perasaan anda terhadap pasangan anda yang juga merupakan hal yang sama terhadap rangsangan seksual.

Selain itu, banyak wanita yang memberikan respons seksual sebagai ungkapan rasa kasihnya kepada pasangannya. Bagi mereka, keintiman emosional seperti sentuhan berpegangan tangan diperlukan untuk mencapai keintiman seksual. Bicarakan secara teratur dan terbuka dengan pasangan anda mengenai perasaan anda. Hal ini dapat membantu anda dalam memperbaiki hubungan anda berdua.

Langkah pertama yang paling baik dilakukan adalah begitu Anda merasakan ada masalah, kenali masalah yang Anda alami dan segera konsultasikan ke dokter. Temukan keintiman yang lebih mendalam Kebutuhan akan keintiman tidak mengenal usia. Anda tidak akan pernah berhenti membutuhkan kasih sayang, pendekatan emosional dan cinta yang mendalam.

Tubuh Anda akan berubah sesuai dengan perubahan usia yang mana hal ini akan mempengaruhi seksualitas Anda. Tidak setiap orang merasa terganggu dengan perubahan ini, tetapi beberapa wanita merasakan disfungsi seksual sebagai masalah serius. Dengan mengetahui apa yang Anda harapkan dan dengan membicarakan masalah seks secara jujur dengan dokter dan pasangan, Anda dapat menemukan kembali keintiman yang lebih mendalam dan lebih memuaskan.
(tabloidnova.com)

Pria Dan Andropause

Menjadi tua, pastilah akan dialami setiap manusia di dunia ini. Rasanya tidak ada makhluk ciptaanNya yang terus segar bugar dan tidak tua-tua, apalagi tidak mati-mati. Barangkali yang ada hanya istilah awet muda, yang bisa saja dialami manusia jika memang ada usaha dan kerja keras di dalamnya.

Bagi pria, sebagian pakar kesehatan menilai akan terjadi fase ‘menopause’ sebagaimana yang dialami wanita. Pada wanita bila masa menopause tiba, maka mereka tidak lagi memproduksi telur, dan segala sesuatu akan berubah, seperti timbul pengendoran otot-otot, kulit keriput serta tulang keropos. “Semuanya adalah tanda-tanda pengeroposan, dan tidak ada makhluk di dunia ini yang tidak akan menjadi tua, termasuk pria,” ujar Prof. Dr. Arjatmo Tjokronegoro Ph.D, Sp.And.

Seiring dengan berjalannya waktu, pria pun akan mengalami masa tua, lemah serta sakit-sakitan. Demikian pula dengan potensi seksualnya yang juga menurun. Meski demikian, bukan tidak mungkin ada pria tua yang biasa disebut kakek-kakek yang berani kawin dengan wanita muda dan ternyata mampu menghasilkan keturunan.

Soal potensi seks pria lansia kadang menjadi sebuah ironi tersendiri, ketika rasa percaya diri justru memudar karena pola berpikir yang salah. Pernah dalam sebuah kasus, seorang kakek usia 65 tahun yang menikah dengan seorang gadis usia 25 tahun, justru menuduh sang istri nyeleweng dengan pria lain saat ketahuan si istri hamil. Pikir si kakek, tidak mungkin dirinya yang setua itu bisa membuahi si istri. “Si bapak ini lupa kalau dirinya meski tua, tapi potensi seks dan spermanya masih bagus,”tambah Arjatmo.

Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah benar keadaan reproduksi pria juga akan mengalami penurunan? “Jawabnya, tidak!” tandas Arjatmo.

Seorang pria tidak mengalami haid sebagaimana wanita, yang akan menentukan juga masa-masa kesuburannya. Pria, dalam hal ini, memiliki banyak factor untuk menentukan masa kesuburannya. Rata-rata perkembangan organ reproduksi pria ditandai dengan kematangan perkembangan seksual, perkembangan alat kelamin dan perkembangan karakter seksual sekunder.

Lantas bagaimana juga dengan jumlah dan mutu sperma pada pria, akankah menurun sesuai dengan bertambahnya usia? Yang jelas, berdasarkan penelitian para ahli, hampir sebagian besar pria umur 50 tahun ke atas, pernah mengalami impotensi atau disfungsi ereksi. Sebagian pria bahkan tidak lagi mampu menggauli istrinya, bahkan gairah seksualnya hilang sama sekali.

Pria dan Andropause

Masih diperdebatkan apakah pria seperti wanita, yakni mengalami masa menopause, di mana semua aktivitas seksual serta fungsi organ reproduksinya akan menurun.
Kenyataannya, pada pria, kapan berakhir masa kesuburan agak susah dikatakan. Tidak seperti wanita, setelah tidak haid lagi, maka berhenti juga masa kesuburannya serta tidak akan memperoleh keturunan.

Ada beberapa kelompok ilmuwan yang setuju dengan adanya anggapan bahwa pria pun akan mengalami masa andropause, karena terdapat perubahan bentuk faali secara bertahap pada organ reproduksi pria. Perubahan dan gejala faali tersebut tidak akan terjadi sekaligus dan bisa terjadi pada umur yang sangat bervariasi. Penurunan sekresi hormon androgen atau testosteron akan menurun sesuai dengan bertambahnya usia. Ada yang berpendapat penurunan kesuburan pria dimulai pada umur 50 tahun, namun ada juga yang mengatakan sampai di atas 60 tahun.

Mereka yang sebelumnya mengalami masalah dengan testis bisa saja mempunyai masa kesuburan yang terhenti lebih dini. Kadar testosteron yang menurun akan menyebabkan otot-otot tubuh menciut, keriput, kekuatan berkurang serta pembesaran kelenjar prostat.

Selanjutnya akan terjadi penurunan jumlah semen yang disertai juga dengan penurunan jumlah bibit sperma.

Meski demikian, ada sebagian peneliti yang tidak setuju dengan adanya masa akhir kesuburan pria, karena menurut mereka tidak ada gejala-gejala khusus untuk itu. Intinya, banyak factor yang berkaitan dan turut mempengaruhi kapan pria berhenti ksuburannya, dan bukan hanya soal usia.

Dikatakan Prof. Arjatmo, berbagai gejala klinis andropause bisa ditemui dan diketahui lebih dini oleh para pria, seperti penurunan kekuatan dan energi, penumpukan lemak tubuh yakni dengan keadaan tubuh yang lebih gemuk bahkan gendut.

Selain itu terdapat juga penurunan daya mental seperti cepat lupa, pengeroposan tulang (osteoporosis), depresi dan kehilangan rasa antusiasme, otot lemah serta kemungkinan terkena kanker meningkat.

Sedangkan yang berkaitan dengan kemampuan seksualitas mereka adalah penurunan gairah seksual (libido), menurunnya daya sensitivitas terhadap rangsangan, penurunan daya orgasme serta menderita disfungsi ereksi atau impoten.

Jika memang demikian, dikatakan Arjatmo, para pria bisa mengupayakan agar andropause bisa diperlambat jika memang tidak dapat dicegah. Adapun upaya memperlambat andropause sama halnya dngan upaya menjaga vitalitas dan kesehatan pada usia tua, baik secara fisik psikis, seperti lebih mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, banyak mengkonsumsi makanan bergizi serta memperhatikan asupan vitamin.

Selain itu, rajinlah berolah raga ringan seperti berenang, jalan, senam Tai Chi atau olah raga ringan lainnya. Selain itu, usahakan untuk senantiasa menikmati hidup dengan cara rekreasi, menyanyi, menari atau berdansa. Selanjutnya, jangan mengkonsumsi obat-obatan atau jamu tanpa konsultasi dengan dokter. “Satu yang juga penting bagi pria adalah ushakan untuk berhenti merokok atau minuman beralkohol,” tandas Arjatmo. (dian)

Seks Paro Baya

JIKA ada slogan hidup dimulai di usia 40 tahun, percayalah untuk hal seks itu kata-kata gombal. Sesungguhnya, pria yang memasuki usia paro baya itu pasti mengalami tekanan, ketakutan akan potensi seksualnya. Akhirnya, kompensasi pun mereka cari. Tapi tak sulit kok memahami "krisis" mereka.

Secara fisik, pria usia 40-an memang tak banyak berbeda dari pria usia 30-an. Cuma, secara psikologis, perbedaan itu tampak jelas. Umumnya, mereka baru mulai menyadari tidak akan hidup selamanya. Itu sebabnya pada usia ini pria cenderung memfokuskan diri ke hal-hal yang berbau kesehatan. Mereka mulai diet atau berolahraga seperti biasanya. Kesadaran yang cukup terlambat, ya?

Kesadaran ini juga memacu mereka untuk mencermati potensi seksual. Semua perubahan tubuh dicatat, dan selalu diarahkan untuk mencari arah apakah berpengaruh pada seksualitas. Dan, jika ada yang "nggak beres", mereka pun amat sensitif, ogah-ogahan bercinta, dan mulai acap mengenang masa lalu sebagai kompensasi diri.

Semua tekanan dan kekecewaan akibat masalah itu akhirnya akan mendapatkan titik kulminasi. Yaitu akan menjadikan penyakit khas pria di usia 40-an yang kita kenal dengan sebutan "krisis setengah baya". Kenapa? Karena mereka mulai merasakan bahwa energi fisiknya untuk melakukan ereksi sesering mungkin dan selama mungkin, tidak setangguh dulu lagi. Dengan kata lain, buyar sudah kekuatan-kekuatan masa usia 20 sampai 30 tahunan.

Mungkin mereka akan bertanya-tanya sendiri, "Apa yang seharusnya saya lakukan agar masih bisa melakukan yang satu itu sehebat dulu?". Dan untuk menenteramkan hati, biasanya mereka mulai mengalihkan perhatian ke pekerjaan di kantor dan melakukannya dengan gila-gilaan, membuat mereka terpaksa menjadi seorang workaholic, gila kerja.

Sebenarnya hal itu tidak perlu terlalu didramatisir. Di usia ini mereka dapat berubah menjadi seorang kekasih yang manis, pengertian dan penuh kasih sayang. Sebab di usia ini mereka jauh lebih mementingkan kualitas ketimbang kuantitas mengejar target bercinta, seperti dulu dilakukan setiap malam. Meski stamina tidak sedahsyat dulu, setidaknya mereka dapat memberikan perhatian yang lebih kepada pasangannya dengan memperlihatkan sisi pribadinya yang lebih matang, berpengalaman dan menyenangkan pasangannya. Sebaliknya, seorang istri harus melakukan penyesuaian terhadap perubahan fisiknya, terutama saat bercinta. Nah, penyesuaian dua pribadi ini akan membuat Anda dapat merasa tak ada perubahan pada dirinya --juga pada lemak dan gelambir di leher dan perutnya.

Jika perlu, lakukan foreplay lebih lama sebelum bercinta. Di usia ini, mereka membutuhkan rangsangan lebih lama untuk ereksi. Anda harus berani meminta pasangan Anda memegang kendali dalam bercinta, misalkan saja bercinta dengan posisi Anda di atas, mulai dijarangkan, dan ganti posisi yang sebaliknya, Anda di bawah. Dengan berada di bawah, Anda akan dapat memaksimalkan jari-jari lebih sempurna. Di usia ini, kemampuan jari Anda harus lebih ditingkatkan untuk membantu potensi seksual Anda.

Sebenarnya seiring dengan bertambahnya usia, para pria pun makin bijak. Lihat saja, mereka lebih mementingkan dan memikirkan kebutuhan pasangannya dalam bercinta. Jika selama ini Anda menjadi seorang pemain cinta yang hebat dan atentif, maka di usia ini Anda akan memberikan kepuasan seutuhnya untuk Anda semata. Dan, inilah saat yang terbaik bagi wanita, sebab mereka dapat merasakan suatu jalinan cinta yang tinggi sekali kualitasnya.

Seiring dengan waktu, harus ada pengertian dan kesabaran kedua belah pihak. Anda dapat membuat pasangan Anda memahami bahwa kegiatan bercinta semata-mata bukan hanya kemampuan fisik, dan hubungan cinta bukanlah menu yang utama. Tapi justru sebagai perpanjangan cinta yang selama ini telah terbina dengan baik dengan suami Anda. Bahkan ketika dulu aktivitas yang selalu dilakukan selalu berfaktor pada penentu kejantanan pasangan Anda, sekarang bukan masalah lagi bagi Anda. Toh, semasa jayanya dulu, Andalah yang menikmatinya.

Dengan pengertian dan "pembangkit rasa sayang" semacam itu, yakinlah, krisis pria paro baya tidak akan menerpa Anda. Menyenangkan, bukan?(dtrc/CN02) suaramerdeka.com