Di negeri tetangga, Thailand, pesatnya pembangunan ekonomi malah menyebabkan penyempitan pada lahan pertanian. Efeknya sangat luas, terutama pada kehdiupan kaum wanita. Dari kejadian itu, banyak kemudian wanita mencari jalan pintas untuk meraih kesenangan secara ekonomi atau hanya untuk sekedar mencari sesuap nasi, dengan menjadi pelacur. Kebanyakan dari mereka akhirnya lebih memilih tinggal di kota besar dan menjadi pemuas nafsu para hidung belang.
Kasus yang hampir sama terjadi juga di benua Afrika, yakni negeri Ghana. Suatu ketika pernah terjadi kasus penggusuran ribuan penduduk karena pembangunan sebuah bendungan di sungai volta. Buat kaum pria hal ini mungkin bukan masalah besar, karena mereka dengan cepat bisa mengganti profesi kerjanya menjadi buruh di perkotaan atau nelayan di pesisir lautan. Namun bagi kebanyakan wanita, hal ini menjadi masalah besar karena mereka tidak memiliki keahlian sebagaimana laki-laki. Akhirnya pilihan pekerjaan sebagai pelacur pun dijalani sebagai jawaban singkat atas masalah ekonomi yang menghimpit.
Ujung dari kedua masalah di atas sama. Sedikitnya pilihan dan keahlian membuat wanita lebih memilih jalan pintas, salah satunya menjadi pekerja seks komersial (PSK). Padahal, dengan profesi tersebut, kaum psk bisa menjadi sasaran empuk penularan virus HIV/AIDS, karena dari data terakhir menyebutkan bahwa 80 persen penularan virus mematikan yang belum ada obatnya itu, berasal dari hubungan seks yang tidak aman.
Masalahnya sekarang, melakukan hubungan seks yang dikatakan aman pun, dalam artian tidak berganti pasangan atau hanya dengan istri atau suami, bisa seratus persen terhindar dari penularan virus tersebut. Berdasarkan survey yang dilakukan Yayasan Kusuma Buana, ternyata di Indonesia banyak perempuan yang sudah menikah terancam positif AIDS. “Kebanyakan kasusnya adalah karena suami masih juga doyan ‘jajan’ meski sudah punya keluarga,” ujar dr Adi Sasongko, MA, ddari Yayasan Kusuma Buana.
Dalam hal ini, posisi tawar wanita memang tidak banyak di mata pria. Untuk itu, diprediksikan di masa akan datang akan semakin banyak wanita yang menjadi agen penyebaran virus mematikan tersebut.
Pasalnya, dikatakan Adi, selain sangat rentan secara biologis, wanita juga rentan secara sosiologis-gender. Selain itu, hanya perempuan yang dianugerahi kodrat untuk melahirkan, yang bisa menjadi salah satu faktor yang makin memperkuat tingginya angka penyebaran virus ini di dunia.
Secara Anatomis
Dijelaskan lebih jauh oleh Adi Sasongko bahwa kondisi anatomis kaum perempuan memang lebih memungkinkan masuknya virus HIV ke dalam organ reproduksinya. Struktur panggul wanita yang berada dalam posisi ‘menampung’, serta alat reproduksi wanita yang sifatnya ‘masuk ke dalam’, memungkinkan perkembangan berbagai macam infeksi tanpa bisa terdeteksi. “Kalau sudah terinfeksi, biasanya akan lebih mudah virus HIV/AIDS masuk ke dalam tubuh wanita.
Dibandingkan pria yang posisi kelaminnya ‘keluar, maka kemungkinan terjadinya infeksi pada alat vital bisa lebih dulu terdeteksi.
Disamping itu, lapisan mukosa (lapisan dalam) alat reproduksi wanita juga sangat halus dan mudah mengalami perlukaan pada proses hubungan seksual. Perlukaan ini juga memudahkan terjadinya infeksi virus HIV.
Faktor Psikologis
Sebuah pengujian data tentang lemahnya posisi tawar wanita hingga mengakibatkan tingginya probabilitas kaum ini terkena penyakit tersebut juga pernah dilakukan oleh Aishah Hajni Mohammed dari Malaysia. Publikasi mengenai hasil uji tersebut juga pernah dipublikasikan dalam jurnal Akademi bulan Juli 2002. Dari data kajian tentang wanita di Asia Tenggara secara umum, diketahui bahwa wanita dijangkiti AIDS karena status mereka yang subordinat kepada laki-laki dari segi sosial, ekonomi dan politik.
Selain itu, jangkitan AIDS di kalangan wanita juga dipengaruhi secara langsung oleh definisi budaya dan dibentuk secara sosial oleh peranan mereka dan definisi tentang seksualitas. “Selain itu, kekurangan dari segi pendapatan, kekuasaan dan kekayaan, telah menjadikan wanita tidak berupaya maksimal untuk menghindarkan diri mereka dari bahaya AIDS,” ujar Sasongko.
Meski demikian, beberapa kalangan wanita Indonesia, seperti artis Paquita Widjaya yang juga pemerhati masalah AIDS di Indonesia menampik anggapan kalau wanita Indonesia secara keseluruhan dikatakan lemah secara prikologis dibanding kaum pria. Dalam urusan seks, misalnya, dikatakan Paquita saat ini telah banyak wanita yang bisa mengatakan tidak kepada suami jika memang keadaan mereka sedang tidak sehat atau kelelahan, misalnya. “Jadi, kalau ada pangan yang mulai tidak toleran, saya yakin banyak kaum perempuan Indonesia yang sudah bisa bilang tidak,” tegasnya.
Meski demikian, Paquita memang tidak menyangkal kalau masih banyak perempuan yang berada di bawah tekanan pria secara psikologis, termasuk untuk urusan seks. Itu pula yang menjadikan wanita lebih rentan untuk tertular dan menularkan virus HIV/AIDS. “Tetapi tetap diyakini, bahwa faktor moral adalah hal utama yang bisa menyelamatkan seseorang dari bahaya AIDS. Kalau moralnya rendah, biar sudah punya pasangan tetap masih juga ingin menikmati yang lain, siapa bisa menjamin tak akan tertular?” tandas Paquita. (dian) - Gema Pria BKKBN
Warning !!
Peringatan!!
Banyak mengandung artikel atau informasi untuk khusus DEWASA.
Informasi yang ada di sini bukan sebagai pengganti anjuran dan terapi yang diberikan oleh dokter atau ahli bidang bersangkutan, namun diharapkan dapat menambah pengetahuan Anda. Sebaiknya Anda tetap mengkonsultasikan masalah Anda dengan dokter keluarga Anda atau ahli bidang bersangkutan.
Bila Anda ingin berbagi artikel/ info yang menarik dan sesuai dengan topik blog ini, silahkan berbagi dengan join dan posting ke info_pria@yahoogroups.com.
Semua sumber/ penulis dari pada artikel/ tulisan/ informasi yang dimuat sudah kami usahakan untuk dicantumkan. Bila ada kesalahan harap hubungi kami pada (info_pria-owner[at]yahoogroups[dot]com). Terima kasih.
Informasi yang ada di sini bukan sebagai pengganti anjuran dan terapi yang diberikan oleh dokter atau ahli bidang bersangkutan, namun diharapkan dapat menambah pengetahuan Anda. Sebaiknya Anda tetap mengkonsultasikan masalah Anda dengan dokter keluarga Anda atau ahli bidang bersangkutan.
Bila Anda ingin berbagi artikel/ info yang menarik dan sesuai dengan topik blog ini, silahkan berbagi dengan join dan posting ke info_pria@yahoogroups.com.
Semua sumber/ penulis dari pada artikel/ tulisan/ informasi yang dimuat sudah kami usahakan untuk dicantumkan. Bila ada kesalahan harap hubungi kami pada (info_pria-owner[at]yahoogroups[dot]com). Terima kasih.
LEBIH LENGKAP!! Dapatkan DVD Info-Pria, yang berisikan e-book, kumpulan artikel, software dan lainnya. Lebih rinci klik disini.
Showing posts with label penyakit. Show all posts
Showing posts with label penyakit. Show all posts
Tuesday, September 4, 2007
Kondom Bentuk Dan Rasa Karet Pengaman
Oleh: Christo Korohama
Kini, Kondom bukan semata berfungsi sebagai alat kontrasepsi. Aneka bentuk kondom ditawarkan untuk memikat konsumen. Muncullah kondom fashionable.
Laila Sultan terkejut bukan kepalang ketika menemukan sesuatu dalam sop kerang yang tengah disantapnya. Dalam sekejap, keterkejutan yang nyaris sama hinggap pada teman sekantornya yang makan siang bersama, saat itu.
Makan siang di McCormick and Schmick’s Seafood di Irvine, California, Amerika Serikat, 26 Februari 2002, itu menjadi kacau. Pasalnya, Laila merasa sesuatu yang kenyal nyangkut di antara giginya. Rasa aneh membuat dia mengeluarkan benda itu dari mulutnya. Dan, dia mendapati benda kenyal tersebut adalah kondom. Sontak, Laila berlari ke kamar mandi, mual, dan mulas hinggap di perutnya. Muntah pada akhirnya.
Kondom yang tiba-tiba ada terdapat dalam sop kerang yang tengah disantap Laila tentu bukan merupakan bagian dari kampanye penggunaan kondom. Kampanye pemakaian kondom yang marak dilakukan itu bertujuan untuk mencegah penyakit seks menular, termasuk HIV/AIDS. Data yang dikeluarkan www.aidsonline.com hingga akhir tahun 2004 menyatakan 39,4 juta orang di dunia saat ini hidup dengan HIV dan AIDS. Dari jumlah itu, 37,2 juta di antaranya adalah orang dewasa. Lantas, 19.6 juta dari jumlah orang dewasa itu adalah kaum pria!
Salah satu upaya untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS adalah melakukan hubungan seks yang aman dengan menggunakan kondom. Persoalan yang dihadapi, tidak semua pria mau menggunakan kondom. Itu sebabnya produsen kondom berusaha untuk membuat terobosan-terobosan dengan menciptakan kondom dengan aneka keunikan.
Perang produk kondom di pasaran kian seru. Salah satu produsen kondom mengeluarkan The Sensual Caress, sebuah varian kondom yang dilengkapi vibrator, berbentuk lingkaran dengan sejumlah jari-jari di sekelilingnya. Jari-jari ini juga yang berfungsi sebagai vibrator, dengan kecepatan gerak yang bervariasi. Para pengguna kondom jenis ini, menurut Majalah Gentlemen Quarterly, akan mendapatkan sensasi lebih dalam berhubungan seks.
Selain bentuk yang unik dan warna menarik, ada produsen yang menambahkan sejenis alat penjepit pada kondom untuk menahan sperma dan menperlambat aliran darah sehingga ereksi jadi lebih lama. Kondom varian ini ditawarkan dengan desain bermacam-macam.Ada yang berulir, ada pula yang berbintik-bintik. Desain-desain seperti ini untuk memberikan kenikmatan lebih kepada pasangan pengguna kondom.
Para pria yang menolak pemakaian kondom, dengan alasan lapisan lateks yang tebal menghilangkan sensasi hubungan seksual, kini hampir pasti kehilangan alasan. Sebab, saat ini lapisan lateks dibuat sangat tipis. Selain pertimbangan pemasaran, urusan sosial untuk menghindari penyakit menular seks membuat produsen kondom berupaya maksimal memenuhi kebutuhan penggunanya.
Untuk menambah gairah para pengguna kondom, ada beberapa produsen kondom menambahkan aroma dan rasa tertentu pada kondom. Mulai dari aroma dan rasa mint, pisang, mangga, durian, jeruk, strawbery, sampai kondom rasa cokelat. Semua untuk menambah sensasi tertentu ketika berhubungan seks. Tentu, mereka tak akan pernah berpikir untuk membuat kondom dengan aroma dan rasa sop kerang seperti yang disantap Laila.
----------------------------------------------------
12 Alasan Memakai Kondom
Menurut Dr. Nafsiah Mboy, konsultan untuk organisasiorganisasi internasional peduli HIV/AIDS, kampanye menggunakan kondom bukan bermaksud untuk melegalkan prostitusi. Penggunaan kondom, menurutnya, lebih pada upaya proteksi diri terhadap penyakit menular seks.
Berikut ini, terdapat 12 alasan mendasar mengapa kondom layak digunakan saat melakukan hubungan seks.
1. Perlindungan diri. Bila dipakai dengan benar dan konsisten, akan melindungi diri dari penyakit menular seksual dan HIV.
2. Keluarga berencana. Salah satu pilihan yang aman terpercaya untuk mencegah kehamilan.
3. Sangat praktis, mudah dibawa.
4. Semua orang bisa pakai dan tidak ada efek samping.
5. Mudah digunakan. Di tiap kemasan ada petunjuk pemakaian.
6. Menyenangkan. Pemakaian kondom bisa jadi bagian dari foreplay.
7. Dapat diandalkan. Setiap potong kondom harus lulus uji elektronis dan memenuhi Standar Mutu Internasional, ISO 4074.
8. Aman. Kondom lateks tidak berpori seperti sudah dibuktikan dalam penelitian di laboratorium. Dapat mencegah pertukaran cairan tubuh.
9. Seksi. Bisa tahan lama sehingga dapat meningkatkan kepuasan dalam bercinta.
10. Terjangkau. Harga murah.
11. Berpelicin.
12. Banyak pilihan. Ada berbagai bentuk dan aroma kondom yang bisa digunakan.
(majalahmanly.com)
Kini, Kondom bukan semata berfungsi sebagai alat kontrasepsi. Aneka bentuk kondom ditawarkan untuk memikat konsumen. Muncullah kondom fashionable.
Laila Sultan terkejut bukan kepalang ketika menemukan sesuatu dalam sop kerang yang tengah disantapnya. Dalam sekejap, keterkejutan yang nyaris sama hinggap pada teman sekantornya yang makan siang bersama, saat itu.
Makan siang di McCormick and Schmick’s Seafood di Irvine, California, Amerika Serikat, 26 Februari 2002, itu menjadi kacau. Pasalnya, Laila merasa sesuatu yang kenyal nyangkut di antara giginya. Rasa aneh membuat dia mengeluarkan benda itu dari mulutnya. Dan, dia mendapati benda kenyal tersebut adalah kondom. Sontak, Laila berlari ke kamar mandi, mual, dan mulas hinggap di perutnya. Muntah pada akhirnya.
Kondom yang tiba-tiba ada terdapat dalam sop kerang yang tengah disantap Laila tentu bukan merupakan bagian dari kampanye penggunaan kondom. Kampanye pemakaian kondom yang marak dilakukan itu bertujuan untuk mencegah penyakit seks menular, termasuk HIV/AIDS. Data yang dikeluarkan www.aidsonline.com hingga akhir tahun 2004 menyatakan 39,4 juta orang di dunia saat ini hidup dengan HIV dan AIDS. Dari jumlah itu, 37,2 juta di antaranya adalah orang dewasa. Lantas, 19.6 juta dari jumlah orang dewasa itu adalah kaum pria!
Salah satu upaya untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS adalah melakukan hubungan seks yang aman dengan menggunakan kondom. Persoalan yang dihadapi, tidak semua pria mau menggunakan kondom. Itu sebabnya produsen kondom berusaha untuk membuat terobosan-terobosan dengan menciptakan kondom dengan aneka keunikan.
Perang produk kondom di pasaran kian seru. Salah satu produsen kondom mengeluarkan The Sensual Caress, sebuah varian kondom yang dilengkapi vibrator, berbentuk lingkaran dengan sejumlah jari-jari di sekelilingnya. Jari-jari ini juga yang berfungsi sebagai vibrator, dengan kecepatan gerak yang bervariasi. Para pengguna kondom jenis ini, menurut Majalah Gentlemen Quarterly, akan mendapatkan sensasi lebih dalam berhubungan seks.
Selain bentuk yang unik dan warna menarik, ada produsen yang menambahkan sejenis alat penjepit pada kondom untuk menahan sperma dan menperlambat aliran darah sehingga ereksi jadi lebih lama. Kondom varian ini ditawarkan dengan desain bermacam-macam.Ada yang berulir, ada pula yang berbintik-bintik. Desain-desain seperti ini untuk memberikan kenikmatan lebih kepada pasangan pengguna kondom.
Para pria yang menolak pemakaian kondom, dengan alasan lapisan lateks yang tebal menghilangkan sensasi hubungan seksual, kini hampir pasti kehilangan alasan. Sebab, saat ini lapisan lateks dibuat sangat tipis. Selain pertimbangan pemasaran, urusan sosial untuk menghindari penyakit menular seks membuat produsen kondom berupaya maksimal memenuhi kebutuhan penggunanya.
Untuk menambah gairah para pengguna kondom, ada beberapa produsen kondom menambahkan aroma dan rasa tertentu pada kondom. Mulai dari aroma dan rasa mint, pisang, mangga, durian, jeruk, strawbery, sampai kondom rasa cokelat. Semua untuk menambah sensasi tertentu ketika berhubungan seks. Tentu, mereka tak akan pernah berpikir untuk membuat kondom dengan aroma dan rasa sop kerang seperti yang disantap Laila.
----------------------------------------------------
12 Alasan Memakai Kondom
Menurut Dr. Nafsiah Mboy, konsultan untuk organisasiorganisasi internasional peduli HIV/AIDS, kampanye menggunakan kondom bukan bermaksud untuk melegalkan prostitusi. Penggunaan kondom, menurutnya, lebih pada upaya proteksi diri terhadap penyakit menular seks.
Berikut ini, terdapat 12 alasan mendasar mengapa kondom layak digunakan saat melakukan hubungan seks.
1. Perlindungan diri. Bila dipakai dengan benar dan konsisten, akan melindungi diri dari penyakit menular seksual dan HIV.
2. Keluarga berencana. Salah satu pilihan yang aman terpercaya untuk mencegah kehamilan.
3. Sangat praktis, mudah dibawa.
4. Semua orang bisa pakai dan tidak ada efek samping.
5. Mudah digunakan. Di tiap kemasan ada petunjuk pemakaian.
6. Menyenangkan. Pemakaian kondom bisa jadi bagian dari foreplay.
7. Dapat diandalkan. Setiap potong kondom harus lulus uji elektronis dan memenuhi Standar Mutu Internasional, ISO 4074.
8. Aman. Kondom lateks tidak berpori seperti sudah dibuktikan dalam penelitian di laboratorium. Dapat mencegah pertukaran cairan tubuh.
9. Seksi. Bisa tahan lama sehingga dapat meningkatkan kepuasan dalam bercinta.
10. Terjangkau. Harga murah.
11. Berpelicin.
12. Banyak pilihan. Ada berbagai bentuk dan aroma kondom yang bisa digunakan.
(majalahmanly.com)
Kondom, Teliti Dulu Baru Dicoba
Setiap lelaki atau perempuan yang aktif secara seksual harus tahu bagaimana memilih dan menggunakan kondom. Ada beberapa jenis kondom klasik yang efektif sebagai alat kontrasepsi dan mencegah penyebaran penyakit menular seksual.
Kondom dibuat dari kulit biri-biri (lambskin) atau lateks, dan tersedia dalam versi dengan pelumas (lubricated) atau tanpa pelumas (nonlubricated). Sebagian mengandung spermisida yang dianggap membantu dalam mencegah penyebaran HIV.
Kondom jenis lain berwarna atau memiliki rasa mulai dari rasa mint sampai buah-buahan. Ukurannya mulai dari rata-rata, yang cocok untuk sebagaian besar laki-laki, sampai yang lebih besar.
Kondom jenis apa yang harus dibeli? Pertama, kondom yang dibeli harus memiliki standar yang ketat, yakni 99,99% yang dipilih secara acak harus lolos dari kebocoran. Itu berarti empat dari seribu kondom dapat bocor, sehingga menyebabkan pemakaian lubrikan spermisida menjadi penting.
Kondom lateks dan nonoxyno-9l menawarkan perlindungan terbaik terhadap penyakit menular seksual dan HIV.
Kondom yang nonlubricated atau flavored lebih disukai oleh sebagian kaum Hawa untuk melakukan fellatio. Setelah seks oral, gantilah menjadi kondom berpelumas yang mengandung spermisida . Jangan menggunakan lubrikan yang mengandung minyak pada kondom lateks karena dapat merusak atau menyebabkan kebocoran.
Kondom kulit domba (lambskin) menghasilkan sensasi lebih besar menurut banyak laki-laki tetapi tidak memberikan perlindungan terhadap infeksi. Kondom tersebut pori-porinya lebih banyak dibandingkan lateks dan dapat bocor. Kondom lateks adalah pilihan terbaik untuk untuk hubungan seks dan oral.
Sebaiknya tidak menggunakan kondom yang telah rusak, lengket, atau berubah warnanya. Simpan di tempat sejuk dan kering.
Consumer Report di Amerika menguji 37 jenis kondom. Tiga puluh merek lolos dari tes. Tujuh kondom yang berada di urutan teratas adalah Excita Extra Ultra-Ribed with spermicide; Ramses, Extra Ribed, with spermicide, Sheik Elite 1; Lifestyles Vibraribbed; Ramses Extra, with spermicide; Ramses Sensitol; Sheik Elite, Ribbed with spermisida.
Kapan harus menggunakan kondom? Setiap saat jika Anda berhubungan seksual atau fellatio dengan pasangan yang tidak melakukan hubungan monogami dengan Anda. Anda dapat menghentikan pemakaian kondom secara aman setelah membuat komitmen monogami dengan pasangan dan bebas dari penyakit menular seksual.
Penelitian di Amerika menunjukkan, pasangan yang tidak menikah biasanya menggunakan kondom tiga sampai enam kali, kemudian tidak menggunakannya lagi karena, 'telah mengenal satu sama lain'.
Kondom dibuat dari kulit biri-biri (lambskin) atau lateks, dan tersedia dalam versi dengan pelumas (lubricated) atau tanpa pelumas (nonlubricated). Sebagian mengandung spermisida yang dianggap membantu dalam mencegah penyebaran HIV.
Kondom jenis lain berwarna atau memiliki rasa mulai dari rasa mint sampai buah-buahan. Ukurannya mulai dari rata-rata, yang cocok untuk sebagaian besar laki-laki, sampai yang lebih besar.
Kondom jenis apa yang harus dibeli? Pertama, kondom yang dibeli harus memiliki standar yang ketat, yakni 99,99% yang dipilih secara acak harus lolos dari kebocoran. Itu berarti empat dari seribu kondom dapat bocor, sehingga menyebabkan pemakaian lubrikan spermisida menjadi penting.
Kondom lateks dan nonoxyno-9l menawarkan perlindungan terbaik terhadap penyakit menular seksual dan HIV.
Kondom yang nonlubricated atau flavored lebih disukai oleh sebagian kaum Hawa untuk melakukan fellatio. Setelah seks oral, gantilah menjadi kondom berpelumas yang mengandung spermisida . Jangan menggunakan lubrikan yang mengandung minyak pada kondom lateks karena dapat merusak atau menyebabkan kebocoran.
Kondom kulit domba (lambskin) menghasilkan sensasi lebih besar menurut banyak laki-laki tetapi tidak memberikan perlindungan terhadap infeksi. Kondom tersebut pori-porinya lebih banyak dibandingkan lateks dan dapat bocor. Kondom lateks adalah pilihan terbaik untuk untuk hubungan seks dan oral.
Sebaiknya tidak menggunakan kondom yang telah rusak, lengket, atau berubah warnanya. Simpan di tempat sejuk dan kering.
Consumer Report di Amerika menguji 37 jenis kondom. Tiga puluh merek lolos dari tes. Tujuh kondom yang berada di urutan teratas adalah Excita Extra Ultra-Ribed with spermicide; Ramses, Extra Ribed, with spermicide, Sheik Elite 1; Lifestyles Vibraribbed; Ramses Extra, with spermicide; Ramses Sensitol; Sheik Elite, Ribbed with spermisida.
Kapan harus menggunakan kondom? Setiap saat jika Anda berhubungan seksual atau fellatio dengan pasangan yang tidak melakukan hubungan monogami dengan Anda. Anda dapat menghentikan pemakaian kondom secara aman setelah membuat komitmen monogami dengan pasangan dan bebas dari penyakit menular seksual.
Penelitian di Amerika menunjukkan, pasangan yang tidak menikah biasanya menggunakan kondom tiga sampai enam kali, kemudian tidak menggunakannya lagi karena, 'telah mengenal satu sama lain'.
Sudah Tahu Cara Pakai Kondom Yang Baik?
Kalau sudah, jangan baca tulisan ini dan segera klik artikel lainnya. Tapi jika belum tahu, ada baiknya Anda simak baik-baik beberapa hal di bawah ini supaya dalam menggunakan si 'karet luwes' ini tepat guna dan tidak salah sasaran.
Kenapa saya perlu menekankan hal ini, mengingat seringnya terjadi penyimpangan tujuan pemakaian atau kebablasan. Inginnya sih pasangan tidak hamil, eh malah hamil. Niat supaya terhindar dari penyakit menular seksual (PMS), justru malah tertular.
Belum lagi kasus kebocoran salah satu alat kontrasepsi paling disukai para lelaki itu. Oleh karena itu, agar tidak salah lagi, silakan ikuti tips berikut ini.
1. Pasanglah kondom secara perlahan-lahan saat penis sudah berereksi, sebelum penis menyentuh daerah vagina pasangan. Pemasangan harus menyelubungi penis sampai ke pangkal.
2. Jika kondom yang digunakan tidak mempunyai ruang penampung di ujungnya, tariklah sekitar satu sentimeter agar air mani tertampung di sana. Hindari juga udara tersimpan dalam ruang kosong ini agar kondomnya tidak pecah.
3. Supaya kegiatan bercinta terasa lebih enak, oleskan sedikit pelumas berupa air di ujung kondom sebelum memasangnya.
4. Pegang cincin kondom, lalu selimuti hingga ke ujung penis. Apabila Anda belum disunat, tarik kulup penis ke pangkal penis sebelum kondom terpasang.
5. Bila kondom tersebut dirasakan bocor, hentikan kegiatan seks Anda segera. Tarik penis dan ganti dengan kondom yang baru.
6. Pasca ejakulasi, cepat tarik penis sebelum loyo supaya air mani tidak tumpah. Dengan tetap berhati-hati tentunya. Lakukan dengan menjepit pangkal kondom agar tidak tertinggal di vagina karena licin.
7. Kemudian bungkuslah kondom dengan tisu dan buang ke tempat sampah. Cuci tangan bersih-bersih.
8. Jangan pernah mencuci kondom dan menggunakannya kembali. Ingat, kondom hanya dipergunakan untuk sekali pakai.
Kenapa saya perlu menekankan hal ini, mengingat seringnya terjadi penyimpangan tujuan pemakaian atau kebablasan. Inginnya sih pasangan tidak hamil, eh malah hamil. Niat supaya terhindar dari penyakit menular seksual (PMS), justru malah tertular.
Belum lagi kasus kebocoran salah satu alat kontrasepsi paling disukai para lelaki itu. Oleh karena itu, agar tidak salah lagi, silakan ikuti tips berikut ini.
1. Pasanglah kondom secara perlahan-lahan saat penis sudah berereksi, sebelum penis menyentuh daerah vagina pasangan. Pemasangan harus menyelubungi penis sampai ke pangkal.
2. Jika kondom yang digunakan tidak mempunyai ruang penampung di ujungnya, tariklah sekitar satu sentimeter agar air mani tertampung di sana. Hindari juga udara tersimpan dalam ruang kosong ini agar kondomnya tidak pecah.
3. Supaya kegiatan bercinta terasa lebih enak, oleskan sedikit pelumas berupa air di ujung kondom sebelum memasangnya.
4. Pegang cincin kondom, lalu selimuti hingga ke ujung penis. Apabila Anda belum disunat, tarik kulup penis ke pangkal penis sebelum kondom terpasang.
5. Bila kondom tersebut dirasakan bocor, hentikan kegiatan seks Anda segera. Tarik penis dan ganti dengan kondom yang baru.
6. Pasca ejakulasi, cepat tarik penis sebelum loyo supaya air mani tidak tumpah. Dengan tetap berhati-hati tentunya. Lakukan dengan menjepit pangkal kondom agar tidak tertinggal di vagina karena licin.
7. Kemudian bungkuslah kondom dengan tisu dan buang ke tempat sampah. Cuci tangan bersih-bersih.
8. Jangan pernah mencuci kondom dan menggunakannya kembali. Ingat, kondom hanya dipergunakan untuk sekali pakai.
Thursday, April 12, 2007
Ada Apa Dengan AIDS, Sekarang? Tak Sebatas Pita Merah
Oleh: Meita Annisa & S. Dian Andryanto
HIV/AIDS terus menjadi momok bagi setiap orang. Obat belum ditemukan, korban terus berjatuhan. Antisipasi dengan gaya hidup sehat. Hindari pula diskriminasi pada korbannya.
Dua puluh tahun lalu, banyak orang masih menganggap angin lalu persoalan penyebaran virus yang menyebabkan penurunan daya tahan tubuh. Sepuluh tahun kemudian, orang-orang terbuka mata dan pikirannya tentang dampak yang ditimbulkannya. Empat huruf, AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), seakan menjadi momok manusia bumi. Pita merah pun banyak dikenakan sebagai kepedulian terhadap korban yang berjatuhan.
Badan kesehatan dunia pun mencanangkan setiap 1 Desember sebagai peringatan eksistensi penyakit maut yang ditemukan sejak awal tahun 1980-an itu. Pada 2001, UNAIDS (United Nasional Joint Program on HIV/AIDS) memperkirakan jumlah ODHA mencapai 40 juta. Dari jumlah itu, sekitar 70 persen tersebar di sub-Sahara, Afrika. Belum lama ini, UNICEF atau badan PBB urusan anak-anak mengatakan 18 juta anak-anak di kawasan sub-Sahara Afrika bisa menjadi anak yatim karena AIDS sebelum akhir tahun 2010.
Meskipun diskriminasi terhadap penderita AIDS semakin hari tampak berkurang, kewaspadaan terhadap AIDS pun kelihatan makin tipis. Beberapa tahun lalu, selebritis, publik figur, tokoh masyarakat, bahkan pers beramairamai menunjukkan peduli AIDS, tapi belakangan menipis seiring merosotnya “tren” AIDS sebagai bahan pembicaraan. Memprihatinkan.
AIDS sebagai sekumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). “Jika HIV berhasil masuk ke tubuh seseorang, yang akan diserang adalah sel darah putih. Itu sebabnya penderita HIV gampang terserang penyakit,” kata Robiyana, Recruitment & Training Coordinator untuk Yayasan AIDS Indonesia.
HIV, si biang itu, hidup pada cairan tubuh seseorang yang sudah terinfeksi seperti dalam darah, sperma, atau cairan vagina. Tidak ada tanda khusus atau gejala-gejala yang menandakan seseorang terjangkit HIV. Satu-satunya cara mendeteksi hanya dengan tes darah. Lebih lanjut, menurut dr. Kartono Mohammad, penderita HIV bisa hidup normal laiknya orang biasa sekitar lima sampai 10 tahun. “Takdir itu di tangan Tuhan, jadi tidak benar jika penderita HIV positif langsung divonis tidak bisa bertahan lama. Semangat hidup turut memengaruhi,” kata Ketua Gerakan Nasional Perlindungan Pasien (GNPP) ini.
Berbagai faktor turut memicu bertambahnya korban akibat keganasan virus yang belum ditemukan penawarnya ini. Mulai gaya hidup, kemiskinan, pendidikan rendah, serta sosialisasi yang kurang membawa Indonesia dalam daftar masyarakat rawan HIV/AIDS. Sebagai catatan, kasus AIDS di Indonesia pertama kali ditemukan pada 15 April 1987. Seorang wisatawan Belanda, Edward Hop, 44 tahun, dinyatakan meninggal karena AIDS di Rumah Sakit Sanglah, Bali.
Hal itu juga diperparah oleh kurangnya kesadaran masyarakat akan bahaya AIDS. “Masyarakat harus aktif dalam upaya pencegahan HIV/AIDS, karena virus ini hanya bisa dicegah, tidak bisa diobati,” ujar mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia ini.
Kurangnya kepedulian masyarakat terjawab dengan data-data yang menunjukkan penderita HIV/AIDS semakin bertambah dari tahun ke tahun. Hingga Juni 2005, di Indonesia tercatat 3.739 untuk HIV positif dan 3.359 untuk AIDS positif, sedangkan yang meninggal sudah mencapai 828 orang. Namun, menurut Robiyana, angka-angka yang tercatat itu merupakan fenomena gunung es. “Angka itu berasal dari mereka yang melapor setelah mengetahui positif HIV, tapi jumlah yang tidak melapor tidak pernah kami ketahui,” kata gadis jebolan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka ini.
Selain kurangnya kesadaran masyarakat, penyakit ini memang belum ada penawarnya. Kalaupun ada, itu hanya sebatas penghambat pertumbuhan HIV di tubuh. ARV (Antiretrol Viral) menjadi santapan wajib bagi penderita HIV/AIDS. Obat ini tersedia dalam berbagai jenis, tergantung kebutuhan penderitanya.
Tanpa ARV, seseorang positif HIV mudah terserang penyakit. Bahkan, bisa meninggal hanya karena flu maupun diare. “Fungsi obat ini supaya daya tahan tubuh tidak cepat habis, tapi tidak untuk memusnahkan HIV-nya,” kata dokter pendiri Yayasan AIDS Indonesia ini.
Memang, belum ada yang tahu pasti bagaimana sebenarnya sejarah virus HIV. Banyak pakar menduga virus ini berasal dari babon, sejenis kera yang hidup di Afrika. Tapi, ada juga yang beranggapan HIV muncul karena perkembangan lingkungan yang memaksa virus ini untuk migrasi. “Mungkin contoh kasusnya seperti flu burung, mengapa penyakit ini baru ada sekarang? Mengapa tidak dari dulu?” kata Robiyana.
Tahun ini, hari AIDS sudah 18 kali diperingati di seluruh dunia. Berbagai kampanye serta peringatan tak lelah dilontarkan pemerintah, LSM, maupun badan-badan lain yang peduli. Berbagai harapan dipanjatkan agar dunia bisa bebas dari belenggu HIV. Namun, semua kembali pada kesadaran individu untuk mau bersama-sama memerangi AIDS. Seperti yang dituturkan aktris kawakan Elizabeth Tylor, “It is bad enough that people are dying of AIDS, but no one should die and of ignorance.”
Kampanye global untuk mencegah infeksi baru HIV/AIDS diluncurkan UNICEF tahun ini, melalui slogan Unite for Children, Unite against AIDS (bersatu untuk anak, bersatu melawan AIDS). Kampanye itu langsung dilakukan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan.
Menyadari sebuah gaya hidup tak harus berakibat AIDS, satu langkah bijak. Sematkan pita merah dalam hati, sekarang.
--------------------------------------------------------
5 CARA MENEPIS AIDS
1. Menerapkan cara hidup sehat dan menjauhi perilaku seksual berisiko.
2. Setia pada pasangan seksual atau gunakan “pelindung” yang berkualitas, jika memang ingin berganti pasangan.
3. Pilihlah jarum suntik yang higienis jika memang memerlukannya. Pastikan Anda melihat jarum tersebut memang masih baru.
4. Khitanan dapat mengurangi risiko tertular HIV karena alasan biologis.
5. Hindari transfusi darah yang belum terbukti negatif HIV.
HIV DAN AIDS DI DUNIA
1. Sekitar 40 juta orang hidup dengan HIV (2,2 jutanya adalah anak-anak).
2. Sebanyak 5 juta orang baru-baru ini terbukti positif HIV pada 2004.
3. Hanya 700 ribu atau sekitar 12 persen dari total keseluruhan pasien di negara berkembang yang menerima obat anti- HIV.
4. Sekitar 90 persen orang yang hidup dengan HIV berasal dari negara berkembang.
5. Peringkat terbesar untuk kasus HIV positif datang dari negara di Asia Tengah, Asia Timur, serta Eropa Barat.
6. Satu orang penderita HIV positif menghabiskan sekitar US$300 untuk konsumsi ARV atau obat anti-HIV.
7. Hingga kini, sudah lebih dari 20 juta orang dinyatakan meninggal karena AIDS.
Sumber:
http://www.worldaidsday.org
(majalahmanly.com)
HIV/AIDS terus menjadi momok bagi setiap orang. Obat belum ditemukan, korban terus berjatuhan. Antisipasi dengan gaya hidup sehat. Hindari pula diskriminasi pada korbannya.
Dua puluh tahun lalu, banyak orang masih menganggap angin lalu persoalan penyebaran virus yang menyebabkan penurunan daya tahan tubuh. Sepuluh tahun kemudian, orang-orang terbuka mata dan pikirannya tentang dampak yang ditimbulkannya. Empat huruf, AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), seakan menjadi momok manusia bumi. Pita merah pun banyak dikenakan sebagai kepedulian terhadap korban yang berjatuhan.
Badan kesehatan dunia pun mencanangkan setiap 1 Desember sebagai peringatan eksistensi penyakit maut yang ditemukan sejak awal tahun 1980-an itu. Pada 2001, UNAIDS (United Nasional Joint Program on HIV/AIDS) memperkirakan jumlah ODHA mencapai 40 juta. Dari jumlah itu, sekitar 70 persen tersebar di sub-Sahara, Afrika. Belum lama ini, UNICEF atau badan PBB urusan anak-anak mengatakan 18 juta anak-anak di kawasan sub-Sahara Afrika bisa menjadi anak yatim karena AIDS sebelum akhir tahun 2010.
Meskipun diskriminasi terhadap penderita AIDS semakin hari tampak berkurang, kewaspadaan terhadap AIDS pun kelihatan makin tipis. Beberapa tahun lalu, selebritis, publik figur, tokoh masyarakat, bahkan pers beramairamai menunjukkan peduli AIDS, tapi belakangan menipis seiring merosotnya “tren” AIDS sebagai bahan pembicaraan. Memprihatinkan.
AIDS sebagai sekumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). “Jika HIV berhasil masuk ke tubuh seseorang, yang akan diserang adalah sel darah putih. Itu sebabnya penderita HIV gampang terserang penyakit,” kata Robiyana, Recruitment & Training Coordinator untuk Yayasan AIDS Indonesia.
HIV, si biang itu, hidup pada cairan tubuh seseorang yang sudah terinfeksi seperti dalam darah, sperma, atau cairan vagina. Tidak ada tanda khusus atau gejala-gejala yang menandakan seseorang terjangkit HIV. Satu-satunya cara mendeteksi hanya dengan tes darah. Lebih lanjut, menurut dr. Kartono Mohammad, penderita HIV bisa hidup normal laiknya orang biasa sekitar lima sampai 10 tahun. “Takdir itu di tangan Tuhan, jadi tidak benar jika penderita HIV positif langsung divonis tidak bisa bertahan lama. Semangat hidup turut memengaruhi,” kata Ketua Gerakan Nasional Perlindungan Pasien (GNPP) ini.
Berbagai faktor turut memicu bertambahnya korban akibat keganasan virus yang belum ditemukan penawarnya ini. Mulai gaya hidup, kemiskinan, pendidikan rendah, serta sosialisasi yang kurang membawa Indonesia dalam daftar masyarakat rawan HIV/AIDS. Sebagai catatan, kasus AIDS di Indonesia pertama kali ditemukan pada 15 April 1987. Seorang wisatawan Belanda, Edward Hop, 44 tahun, dinyatakan meninggal karena AIDS di Rumah Sakit Sanglah, Bali.
Hal itu juga diperparah oleh kurangnya kesadaran masyarakat akan bahaya AIDS. “Masyarakat harus aktif dalam upaya pencegahan HIV/AIDS, karena virus ini hanya bisa dicegah, tidak bisa diobati,” ujar mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia ini.
Kurangnya kepedulian masyarakat terjawab dengan data-data yang menunjukkan penderita HIV/AIDS semakin bertambah dari tahun ke tahun. Hingga Juni 2005, di Indonesia tercatat 3.739 untuk HIV positif dan 3.359 untuk AIDS positif, sedangkan yang meninggal sudah mencapai 828 orang. Namun, menurut Robiyana, angka-angka yang tercatat itu merupakan fenomena gunung es. “Angka itu berasal dari mereka yang melapor setelah mengetahui positif HIV, tapi jumlah yang tidak melapor tidak pernah kami ketahui,” kata gadis jebolan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka ini.
Selain kurangnya kesadaran masyarakat, penyakit ini memang belum ada penawarnya. Kalaupun ada, itu hanya sebatas penghambat pertumbuhan HIV di tubuh. ARV (Antiretrol Viral) menjadi santapan wajib bagi penderita HIV/AIDS. Obat ini tersedia dalam berbagai jenis, tergantung kebutuhan penderitanya.
Tanpa ARV, seseorang positif HIV mudah terserang penyakit. Bahkan, bisa meninggal hanya karena flu maupun diare. “Fungsi obat ini supaya daya tahan tubuh tidak cepat habis, tapi tidak untuk memusnahkan HIV-nya,” kata dokter pendiri Yayasan AIDS Indonesia ini.
Memang, belum ada yang tahu pasti bagaimana sebenarnya sejarah virus HIV. Banyak pakar menduga virus ini berasal dari babon, sejenis kera yang hidup di Afrika. Tapi, ada juga yang beranggapan HIV muncul karena perkembangan lingkungan yang memaksa virus ini untuk migrasi. “Mungkin contoh kasusnya seperti flu burung, mengapa penyakit ini baru ada sekarang? Mengapa tidak dari dulu?” kata Robiyana.
Tahun ini, hari AIDS sudah 18 kali diperingati di seluruh dunia. Berbagai kampanye serta peringatan tak lelah dilontarkan pemerintah, LSM, maupun badan-badan lain yang peduli. Berbagai harapan dipanjatkan agar dunia bisa bebas dari belenggu HIV. Namun, semua kembali pada kesadaran individu untuk mau bersama-sama memerangi AIDS. Seperti yang dituturkan aktris kawakan Elizabeth Tylor, “It is bad enough that people are dying of AIDS, but no one should die and of ignorance.”
Kampanye global untuk mencegah infeksi baru HIV/AIDS diluncurkan UNICEF tahun ini, melalui slogan Unite for Children, Unite against AIDS (bersatu untuk anak, bersatu melawan AIDS). Kampanye itu langsung dilakukan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan.
Menyadari sebuah gaya hidup tak harus berakibat AIDS, satu langkah bijak. Sematkan pita merah dalam hati, sekarang.
--------------------------------------------------------
5 CARA MENEPIS AIDS
1. Menerapkan cara hidup sehat dan menjauhi perilaku seksual berisiko.
2. Setia pada pasangan seksual atau gunakan “pelindung” yang berkualitas, jika memang ingin berganti pasangan.
3. Pilihlah jarum suntik yang higienis jika memang memerlukannya. Pastikan Anda melihat jarum tersebut memang masih baru.
4. Khitanan dapat mengurangi risiko tertular HIV karena alasan biologis.
5. Hindari transfusi darah yang belum terbukti negatif HIV.
HIV DAN AIDS DI DUNIA
1. Sekitar 40 juta orang hidup dengan HIV (2,2 jutanya adalah anak-anak).
2. Sebanyak 5 juta orang baru-baru ini terbukti positif HIV pada 2004.
3. Hanya 700 ribu atau sekitar 12 persen dari total keseluruhan pasien di negara berkembang yang menerima obat anti- HIV.
4. Sekitar 90 persen orang yang hidup dengan HIV berasal dari negara berkembang.
5. Peringkat terbesar untuk kasus HIV positif datang dari negara di Asia Tengah, Asia Timur, serta Eropa Barat.
6. Satu orang penderita HIV positif menghabiskan sekitar US$300 untuk konsumsi ARV atau obat anti-HIV.
7. Hingga kini, sudah lebih dari 20 juta orang dinyatakan meninggal karena AIDS.
Sumber:
http://www.worldaidsday.org
(majalahmanly.com)
Infeksi Bisa Timbul Pertama Kali Making Love
Sebuah penelitian menyebutkan bahwa banyak wanita muda yang terkena infeksi papilomavirus manusia (HPV) saat melakukan hubungan seks pertama kali.
Infeksi HPV bisa menimbulkan kutil genital atau tanpa gejala, dan keturunan virus terkait dengan peningkatan risiko kanker serviks. Kemungkinan terinfeksi peningkatan HPV terkait dengan meningkatnya pasangan seksula seseorang. Demikian dikemukakan Dr Stuart Collin dari Universitas Manchester Inggris dan rekan-rekannya dalam jurnal BJOG: an International Journal of Obstetrics and Gynaecology.
Untuk meneliti bagaimana HPV bisa ditemukan di kalangan wanita yang pengalaman seksualnya sedikiti, Dr Collin dan rekan-rekannya itu memeriksa data 242 wanita yang datang ke klinik keluarga berencana dan melaporkan melakukan hubungan seks pertama kali dalam enam bulan terakhir ini. Para wanita itu usianya berkisar antara 15 dan 19 tahun dan hanya memiliki seorang pasangan seksual.
Selama tiga tahun pertama sejak melakukan hubungan seks, risiko infeksi HPV serviks adalah 46%. Untuk setengah dari wanita itu, infeksi dideteksi sekitar tiga bulan setelah melakukan hubungan seks pertama kali.
"Karena 180 wanita ini (74%) dilaporkan menggunakan pelindung kontrasepsi, walaupun secara berselang, selama ini, hubungan seks yang pertama mereka, sangatlah sulit untuk melihat nasihat apa selanjutnya yang bisa diberikan untuk mengurangi terjadinya infeksi papillomavirus manusia," kata timnya Collin.
Mereka menambahkan, "Mungkin infeksi serviks papillomavirus manusia harus dianggap sebagai dampak dari aktivitas manusia melakukan hubungan seks. Tentu saja tidak ada stigma yang bisa dikaitkan denga pendapat seperti itu."
Terdapat lebih dari 100 jenis HPV, termasuk yang bisa menimbulkan kutil genital. Sejumlah virus ini adalah bisa ditularkan melalui hubungan seksual, dan beberapa di antaranya terkait dengan kanker. Dipercaya bahwa HPV berisko tinggi tertentu merupakan penyebab utama terjadinya kanker serviks. Tetapi biasanya infeksi HPV hilang dengan sendirinya, dan kebanyakan wanita yang menderita infeksi ini tidak mengalami kanker serviks.
Infeksi HPV bisa menimbulkan kutil genital atau tanpa gejala, dan keturunan virus terkait dengan peningkatan risiko kanker serviks. Kemungkinan terinfeksi peningkatan HPV terkait dengan meningkatnya pasangan seksula seseorang. Demikian dikemukakan Dr Stuart Collin dari Universitas Manchester Inggris dan rekan-rekannya dalam jurnal BJOG: an International Journal of Obstetrics and Gynaecology.
Untuk meneliti bagaimana HPV bisa ditemukan di kalangan wanita yang pengalaman seksualnya sedikiti, Dr Collin dan rekan-rekannya itu memeriksa data 242 wanita yang datang ke klinik keluarga berencana dan melaporkan melakukan hubungan seks pertama kali dalam enam bulan terakhir ini. Para wanita itu usianya berkisar antara 15 dan 19 tahun dan hanya memiliki seorang pasangan seksual.
Selama tiga tahun pertama sejak melakukan hubungan seks, risiko infeksi HPV serviks adalah 46%. Untuk setengah dari wanita itu, infeksi dideteksi sekitar tiga bulan setelah melakukan hubungan seks pertama kali.
"Karena 180 wanita ini (74%) dilaporkan menggunakan pelindung kontrasepsi, walaupun secara berselang, selama ini, hubungan seks yang pertama mereka, sangatlah sulit untuk melihat nasihat apa selanjutnya yang bisa diberikan untuk mengurangi terjadinya infeksi papillomavirus manusia," kata timnya Collin.
Mereka menambahkan, "Mungkin infeksi serviks papillomavirus manusia harus dianggap sebagai dampak dari aktivitas manusia melakukan hubungan seks. Tentu saja tidak ada stigma yang bisa dikaitkan denga pendapat seperti itu."
Terdapat lebih dari 100 jenis HPV, termasuk yang bisa menimbulkan kutil genital. Sejumlah virus ini adalah bisa ditularkan melalui hubungan seksual, dan beberapa di antaranya terkait dengan kanker. Dipercaya bahwa HPV berisko tinggi tertentu merupakan penyebab utama terjadinya kanker serviks. Tetapi biasanya infeksi HPV hilang dengan sendirinya, dan kebanyakan wanita yang menderita infeksi ini tidak mengalami kanker serviks.
Mengenal HIV/AIDS Lebih Dekat........
HIV/AIDS semakin merambah dan mulai mengkhawatirkan, di Indonesia sendiri jumlah kasus HIV/ AIDS hingga akhir juni 2006 telah mencapai 10.859 kasus (4.527 kasus HIV dan 6.332 kasus AIDS) dan sekitar 73 persen penderitanya adalah kaum pria. Sedangkan menurut golongan umur, proporsi terbesar terdapat pada kelompok usia 20-29 tahun yaitu sebanyak 53 persen. Dari segi epidemi HIV/AIDS terbagi dalam tiga kategori yakni low level (kasus yang berjumlah sedikit), concentrated level (dikalangan atau diwilayah tertentu terdapat kasus melebihi lima persen), dan generalized level ( sudah meluas dalam masyarakat umum). Meski secara nasional kasus HIV/AIDS masih tergolong kasus low level, tetapi pada sejumlah wilayah di Indonesia seperti di Papua kasus ini telah masuk kedalam generalized level. Di wilayah ini sekitar 43 persen infeksi HIV baru terjadi pada ibu-ibu rumah tangga yang justru bukan pekerja seks komersial. Dan yang lebih menyedihkan, banyak penderita HIV/AIDS yang tidak mengetahui bahwa dirinya mengidap/tertular penyakit tersebut, sehingga rantai penularan virus ini semakin terus berkembang. Untuk itu, mengenal HIV/AIDS secara lebih dekat akan membantu kita dalam mencegah dan memutus rantai penularan virus tersebut.
Apa itu HIV ?
· HIV merupakan singkatan dari Human Imunnodeficiency Virus.
· HIV adalah virus yang menurunkan dan merusak sistem kekebalan tubuh manusia.
· Setelah beberapa tahun jumlah virus semakin banyak dan berkembang didalam tubuh sehingga system kekebalan tubuh tidak lagi mampu melawan penyakit yang masuk kedalam tubuh.
Apa itu AIDS ?
· AIDS merupakan kependekan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome.
· AIDS adalah kumpulan berbagai gejala penyakit akibat turunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi HIV.
· Ketika kekebalan tubuh seseorang telah sangat berkurang maka semua penyakit dapat masuk kedalam tubuh dengan mudah dan cepat.
Apa beda HIV dengan AIDS ?
· Seseorang yang baru terpapar HIV belum dikatakan AIDS. Orang yang baruterinfeksi HIV belum menampakkan gejala-gejala penyakit.
· Lama-kelamaan setelah sistem kekebalan tubuhnya semakin berkurang dan telah muncul berbagai penyakit-penyakit barulah orang tersebut dikatakan menderita AIDS.
Kapan HIV berubah menjadi AIDS ?
Ada beberapa fase yang dilalui sebelum seseorang yang terinfeksi HIV masuk kedalam status AIDS.
# Stadium pertama HIV (Window Period)
1. Telah terinfeksi HIV 1 - 6 bulan
2. Gejala-gejala penyakit belum terlihat meskipun ia belum melakukan tes darah.
3. Pada fase ini antibody terhadap HIV belum terbentuk.
4. Bisa saja timbul gejala ringan seperti flu (biasanya 2-3 hari dan sembuh sendiri)
# Stadium kedua (Asimtomatik / tanpa gejala)
1. Telah terinfeksi HIV 2 – 10 tahun.
2. Pada fase kedua ini individu sudah positif HIV, tetapi tubuh penderita tetap sehat dan belum menampakkan gejala sakit.
3. Sudah dapat menularkan pada orang lain.
4. Bisa saja timbul gejala ringan seperti flu (biasanya 2-3 hari dan sembuh sendiri).
# Stadium ketiga
1. Mulai muncul gejala- gejala awal penyakit.
2. Belum disebut sebagai AIDS
3. Gejala- gejala yang berkaitan antara lain keringat yang berlebihan pada waktu malam, diare terus-menerus, pembesaran kelenjar getah bening secara menetap dan merata, flu yang tidak sembuh-sembuh, nafsu makan berkurang dan badan menjadi lemah dan cepat lelah, serta berat badan terus berkurang.
# Stadium keempat (AIDS)
1. Sudah masuk pada fase AIDS
2. AIDS baru dapat di diagnosa setelah kekebalan tubuh sangat berkurang dilihat dari jumlah sel-Tnya.
3. Timbul penyakit tertentu yang disebut dengan infeksi oportunistik yaitu TBC, infeksi paru-paru yang menyebabkan radang paru-paru dan kesulitan untuk bernafas, kanker kulit (berupa koreng diseluruh badan), sariawan, infeksi usus yang menyebabkan diare kronis, dan infeksi otak yang menyebabkan kekacauan mental dan sakit kepala.
Bagaimana penularan HIV ?
# HIV dapat ditularkan melalui media :
1. Darah
2. Cairan sperma
3. Cairan vagina
# Cara penularan HIV dapat melalui :
1. Hubungan seksual tanpa perlindungan (kondom) dengan orang yang terinfeksi HIV.
2. Transfusi darah yang tercemar HIV.
3. Penggunaan jarum suntik, tindik, tato, pisau cukur secara bersama-sama / yang sebelumnya telah digunakan oleh orang yang terinfeksi HIV. (Cara-cara ini dapat menularkan HIV karena terjadi kontak darah).
4. Ibu Hamil kepada anak yang di kandungnya.
o Antenatal : yaitu saat bayi masih berada di dalam rahim melalui plasenta.
o Intranatal : yaitu saat proses persalinan, bayi terpapar darah ibu atau cairan vagina.
o Postnatal : yaitu setelah proses persalinan, melalui proses menyusui.
o Di negara berkembang, 25 – 35 % dari semua bayi yang dilahirkan oleh ibu yang terinfeksi HIV tercatat tertular HIV, dan 90 % bayi dan anak yang tertular HIV tertular dari ibunya.
# Perilaku beresiko tinggi yang menularkan HIV / AIDS
o Memiliki banyak pasangan seksual / berganti –ganti pasangan atau mempunyai pasangan yang memiliki banyak pasangan lain.
o Berhubungan seks melalui dubur/ anus, oral maupun vagina tanpa perlindungan.
o Menggunakan jarum dan peralatan yang sudah tercemar HIV secara bersama-sama, yang tidak steril /belum disterilkan
o Tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah yaitu hubungan seks yang tidak aman dan beresiko IMS (infeksi menular seksual). IMS memperbesar resiko penularan HIV /AIDS.
Bagaimana mencegah penularan HIV ?
Ada 5 cara untuk mencegah penularan HIV, yaitu :
A : Abstinence = Anda tidak melakukan hubungan seks beresiko tinggi.
B : Be faithful = Bersikap saling setia
C : Condom = Cegah dengan menggunakan Kondom secara konsisten dan benar
D : Drugs = Hindari pemakaian narkoba suntik
E : Equipment = Mintalah pelayanan kesehatan dengan peralatan steril
Bagaimana mengetahui seseorang terinfeksi HIV / AIDS ?
· Kita tidak akan tahu apakah seseorang terinfeksi HIV atau tidak, tanpa melakukan Tes HIV / AIDS lewat pemeriksaan darah orang yang bersangkutan.
· Tes HIV berfungsi untuk mengetahui adanya antibody terhadap HIV atau mengetes adanya antigen HIV dalam darah.
· Tes HIV yang biasa dilakukan antara lain : Tes Elisa, Tes Western Blot, dan Tes Dipstik.
· Hasil tes Elisa positif perlu dikonfirmasi ( ulang ) dengan metode Western Blot yang mempunyai spesifitas yang lebih tinggi.
HIV / AIDS tidak tertular melalui :
1. Bersentuhan dengan pakaian dan tempat yang habis dipakai oleh pengidap HIV /AIDS (seperti kamar mandi, toilet umum)
2. Pengidap HIV / AIDS bersin atau batuk didaekat kita, air mata dan keringat
3. Gigitan nyamuk atau serangga lainnya
4. Piring makan dan gelas minuman
5. Bersamaan, mengobrol, memeluk, mencium pipi.
6. Hidup serumah dengan ODHA (asal tidak melakukan hubungan seksual)
Apa Syarat dan Prosedur Tes Darah HIV/AIDS ?
o Syarat tes darah untuk keperluan HIV adalah :
- Bersifat rahasia
- Harus mengikuti konseling baik sebelum maupun sesudah tes.
- Tidak ada unsur paksaan
o Prosedur pemeriksaan darah untuk HIV / AIDS meliputi beberapa tahapan yaitu :
a. Pre tes konseling
- Identifikasi resiko perilaku seksual (pengukuran tingkat resiko perilaku)
- Penjelasan arti hasil tes dan prosedurnya (positif/negatif)
- Informasi HIV / AIDS sejelas- jelasnya
- Identifikasi kebutuhan pasien, setelah mengetahui hasil tes.
- Rencana perubahan perilaku
b. Tes darah Elisa
- Hasil tes Elisa (-) kembali melakukan konseling untuk penataan perilaku seks yang lebih aman (safer sex). Pemeriksaan diulang kembali dalam waktu 3-6 bulan berikutnya.
- Hasil tes Elisa (+) konfirmasikan dengan Western Blot
c. Tes Western Blot
- Hasil tes Western Blot (+) laporkan ke dinas kesehatan (dalam keadaan tanpa nama). Lakukan pasca konseling dan pendampingan (menghindari emosi putus asa keinginan untuk bunuh diri).
- Hasil Western Blot (-) sama dengan Elisa (-)
Bagaimana pengobatan HIV / AIDS ?
· Sampai saat ini belum ada obat-obatan yang dapat menghilangkan HIV dari dalam tubuh individu. Obat-obatan yang selama ini digunakan hanya berfungsi untuk menahan perkembangbiakan virus HIV dalam tubuh, bukan menghilangkan HIV dari dalam tubuh.
· Obat untuk HIV / AIDS yang ada adalah obat antiretroviral dan obat untuk infeksi oportunistik.
o Obat antiretroviral adalah obat yang dipergunakan untuk retrovirus seperti HIV guna menghambat perkembangbiakan virus. Obat-obatan yang termasuk antiretroviral yaitu AZT, Didanoisne, Zaecitabine, Stavudine.
o Obat infeksi oportunistik adalah obat yang digunakan untuk penyakit yang muncul sebagai efek samping rusaknya kekebalan tubuh. Yang penting untuk pengobatan oportunistik yaitu menggunakan obat-obat sesuai jenis penyakitnya, contoh : obat-obat anti TBC, dll.
Apa yang harus dilakukan bila mengidap HIV / AIDS ?
· ODHA adalah singkatan dari Orang Dengan HIV / AIDS
· Apa yang harus dilakukan oleh ODHA ?
1. Mendekatkan diri pada Tuhan
2. Menjaga kesehatan fisik
3. Tetap bersikap dan berpikir positif
4. Tetap mengaktualisasikan dirinya
5. Masuk dalam kelompok dukungan (support group)
6. Menghindari penyalahgunaan NAPZA
7. Menghindari seks bebas dan tidak aman
8. Berusaha mendapatkan terapi HIV /AIDS
· Bagaimana sikap kita terhadap ODHA ?
1. Tuntunlah mereka beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya agar hidupnya senang.
2. Bantu menghilangkan beban penderitaannya (misalnya dengan diajak berbicara dari hati ke hati, mengantar ke dokter / Puskesmas, memberi bantuan, diikutsertakan dalam kegiatan organisasi / menjadi relawan)
3. Perlakukan mereka secara manusiawi
4. Jadikan sebagai teman diskusi
Dengan mengenal HIV/AIDS, baik itu cara penularannya, pencegahannya, maupun pengobatannya diharapkan dapat merubah perilaku masyarakat menjadi lebih waspada dan bertanggung jawab dalam menyikapi masalah HIV ./AIDS, serta dapat bersikap rasional dan bijaksana dalam mendampingi ODHA . (dr. Sheilla V) - Gema Pria BKKBN
Sumber : - Penaggulangan HIV /AIDS melalui program KB Nasional, BKKBN 2003.
- HIV / AIDS, Fasilitasi KRR, BKKBN, 2004
Apa itu HIV ?
· HIV merupakan singkatan dari Human Imunnodeficiency Virus.
· HIV adalah virus yang menurunkan dan merusak sistem kekebalan tubuh manusia.
· Setelah beberapa tahun jumlah virus semakin banyak dan berkembang didalam tubuh sehingga system kekebalan tubuh tidak lagi mampu melawan penyakit yang masuk kedalam tubuh.
Apa itu AIDS ?
· AIDS merupakan kependekan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome.
· AIDS adalah kumpulan berbagai gejala penyakit akibat turunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi HIV.
· Ketika kekebalan tubuh seseorang telah sangat berkurang maka semua penyakit dapat masuk kedalam tubuh dengan mudah dan cepat.
Apa beda HIV dengan AIDS ?
· Seseorang yang baru terpapar HIV belum dikatakan AIDS. Orang yang baruterinfeksi HIV belum menampakkan gejala-gejala penyakit.
· Lama-kelamaan setelah sistem kekebalan tubuhnya semakin berkurang dan telah muncul berbagai penyakit-penyakit barulah orang tersebut dikatakan menderita AIDS.
Kapan HIV berubah menjadi AIDS ?
Ada beberapa fase yang dilalui sebelum seseorang yang terinfeksi HIV masuk kedalam status AIDS.
# Stadium pertama HIV (Window Period)
1. Telah terinfeksi HIV 1 - 6 bulan
2. Gejala-gejala penyakit belum terlihat meskipun ia belum melakukan tes darah.
3. Pada fase ini antibody terhadap HIV belum terbentuk.
4. Bisa saja timbul gejala ringan seperti flu (biasanya 2-3 hari dan sembuh sendiri)
# Stadium kedua (Asimtomatik / tanpa gejala)
1. Telah terinfeksi HIV 2 – 10 tahun.
2. Pada fase kedua ini individu sudah positif HIV, tetapi tubuh penderita tetap sehat dan belum menampakkan gejala sakit.
3. Sudah dapat menularkan pada orang lain.
4. Bisa saja timbul gejala ringan seperti flu (biasanya 2-3 hari dan sembuh sendiri).
# Stadium ketiga
1. Mulai muncul gejala- gejala awal penyakit.
2. Belum disebut sebagai AIDS
3. Gejala- gejala yang berkaitan antara lain keringat yang berlebihan pada waktu malam, diare terus-menerus, pembesaran kelenjar getah bening secara menetap dan merata, flu yang tidak sembuh-sembuh, nafsu makan berkurang dan badan menjadi lemah dan cepat lelah, serta berat badan terus berkurang.
# Stadium keempat (AIDS)
1. Sudah masuk pada fase AIDS
2. AIDS baru dapat di diagnosa setelah kekebalan tubuh sangat berkurang dilihat dari jumlah sel-Tnya.
3. Timbul penyakit tertentu yang disebut dengan infeksi oportunistik yaitu TBC, infeksi paru-paru yang menyebabkan radang paru-paru dan kesulitan untuk bernafas, kanker kulit (berupa koreng diseluruh badan), sariawan, infeksi usus yang menyebabkan diare kronis, dan infeksi otak yang menyebabkan kekacauan mental dan sakit kepala.
Bagaimana penularan HIV ?
# HIV dapat ditularkan melalui media :
1. Darah
2. Cairan sperma
3. Cairan vagina
# Cara penularan HIV dapat melalui :
1. Hubungan seksual tanpa perlindungan (kondom) dengan orang yang terinfeksi HIV.
2. Transfusi darah yang tercemar HIV.
3. Penggunaan jarum suntik, tindik, tato, pisau cukur secara bersama-sama / yang sebelumnya telah digunakan oleh orang yang terinfeksi HIV. (Cara-cara ini dapat menularkan HIV karena terjadi kontak darah).
4. Ibu Hamil kepada anak yang di kandungnya.
o Antenatal : yaitu saat bayi masih berada di dalam rahim melalui plasenta.
o Intranatal : yaitu saat proses persalinan, bayi terpapar darah ibu atau cairan vagina.
o Postnatal : yaitu setelah proses persalinan, melalui proses menyusui.
o Di negara berkembang, 25 – 35 % dari semua bayi yang dilahirkan oleh ibu yang terinfeksi HIV tercatat tertular HIV, dan 90 % bayi dan anak yang tertular HIV tertular dari ibunya.
# Perilaku beresiko tinggi yang menularkan HIV / AIDS
o Memiliki banyak pasangan seksual / berganti –ganti pasangan atau mempunyai pasangan yang memiliki banyak pasangan lain.
o Berhubungan seks melalui dubur/ anus, oral maupun vagina tanpa perlindungan.
o Menggunakan jarum dan peralatan yang sudah tercemar HIV secara bersama-sama, yang tidak steril /belum disterilkan
o Tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah yaitu hubungan seks yang tidak aman dan beresiko IMS (infeksi menular seksual). IMS memperbesar resiko penularan HIV /AIDS.
Bagaimana mencegah penularan HIV ?
Ada 5 cara untuk mencegah penularan HIV, yaitu :
A : Abstinence = Anda tidak melakukan hubungan seks beresiko tinggi.
B : Be faithful = Bersikap saling setia
C : Condom = Cegah dengan menggunakan Kondom secara konsisten dan benar
D : Drugs = Hindari pemakaian narkoba suntik
E : Equipment = Mintalah pelayanan kesehatan dengan peralatan steril
Bagaimana mengetahui seseorang terinfeksi HIV / AIDS ?
· Kita tidak akan tahu apakah seseorang terinfeksi HIV atau tidak, tanpa melakukan Tes HIV / AIDS lewat pemeriksaan darah orang yang bersangkutan.
· Tes HIV berfungsi untuk mengetahui adanya antibody terhadap HIV atau mengetes adanya antigen HIV dalam darah.
· Tes HIV yang biasa dilakukan antara lain : Tes Elisa, Tes Western Blot, dan Tes Dipstik.
· Hasil tes Elisa positif perlu dikonfirmasi ( ulang ) dengan metode Western Blot yang mempunyai spesifitas yang lebih tinggi.
HIV / AIDS tidak tertular melalui :
1. Bersentuhan dengan pakaian dan tempat yang habis dipakai oleh pengidap HIV /AIDS (seperti kamar mandi, toilet umum)
2. Pengidap HIV / AIDS bersin atau batuk didaekat kita, air mata dan keringat
3. Gigitan nyamuk atau serangga lainnya
4. Piring makan dan gelas minuman
5. Bersamaan, mengobrol, memeluk, mencium pipi.
6. Hidup serumah dengan ODHA (asal tidak melakukan hubungan seksual)
Apa Syarat dan Prosedur Tes Darah HIV/AIDS ?
o Syarat tes darah untuk keperluan HIV adalah :
- Bersifat rahasia
- Harus mengikuti konseling baik sebelum maupun sesudah tes.
- Tidak ada unsur paksaan
o Prosedur pemeriksaan darah untuk HIV / AIDS meliputi beberapa tahapan yaitu :
a. Pre tes konseling
- Identifikasi resiko perilaku seksual (pengukuran tingkat resiko perilaku)
- Penjelasan arti hasil tes dan prosedurnya (positif/negatif)
- Informasi HIV / AIDS sejelas- jelasnya
- Identifikasi kebutuhan pasien, setelah mengetahui hasil tes.
- Rencana perubahan perilaku
b. Tes darah Elisa
- Hasil tes Elisa (-) kembali melakukan konseling untuk penataan perilaku seks yang lebih aman (safer sex). Pemeriksaan diulang kembali dalam waktu 3-6 bulan berikutnya.
- Hasil tes Elisa (+) konfirmasikan dengan Western Blot
c. Tes Western Blot
- Hasil tes Western Blot (+) laporkan ke dinas kesehatan (dalam keadaan tanpa nama). Lakukan pasca konseling dan pendampingan (menghindari emosi putus asa keinginan untuk bunuh diri).
- Hasil Western Blot (-) sama dengan Elisa (-)
Bagaimana pengobatan HIV / AIDS ?
· Sampai saat ini belum ada obat-obatan yang dapat menghilangkan HIV dari dalam tubuh individu. Obat-obatan yang selama ini digunakan hanya berfungsi untuk menahan perkembangbiakan virus HIV dalam tubuh, bukan menghilangkan HIV dari dalam tubuh.
· Obat untuk HIV / AIDS yang ada adalah obat antiretroviral dan obat untuk infeksi oportunistik.
o Obat antiretroviral adalah obat yang dipergunakan untuk retrovirus seperti HIV guna menghambat perkembangbiakan virus. Obat-obatan yang termasuk antiretroviral yaitu AZT, Didanoisne, Zaecitabine, Stavudine.
o Obat infeksi oportunistik adalah obat yang digunakan untuk penyakit yang muncul sebagai efek samping rusaknya kekebalan tubuh. Yang penting untuk pengobatan oportunistik yaitu menggunakan obat-obat sesuai jenis penyakitnya, contoh : obat-obat anti TBC, dll.
Apa yang harus dilakukan bila mengidap HIV / AIDS ?
· ODHA adalah singkatan dari Orang Dengan HIV / AIDS
· Apa yang harus dilakukan oleh ODHA ?
1. Mendekatkan diri pada Tuhan
2. Menjaga kesehatan fisik
3. Tetap bersikap dan berpikir positif
4. Tetap mengaktualisasikan dirinya
5. Masuk dalam kelompok dukungan (support group)
6. Menghindari penyalahgunaan NAPZA
7. Menghindari seks bebas dan tidak aman
8. Berusaha mendapatkan terapi HIV /AIDS
· Bagaimana sikap kita terhadap ODHA ?
1. Tuntunlah mereka beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya agar hidupnya senang.
2. Bantu menghilangkan beban penderitaannya (misalnya dengan diajak berbicara dari hati ke hati, mengantar ke dokter / Puskesmas, memberi bantuan, diikutsertakan dalam kegiatan organisasi / menjadi relawan)
3. Perlakukan mereka secara manusiawi
4. Jadikan sebagai teman diskusi
Dengan mengenal HIV/AIDS, baik itu cara penularannya, pencegahannya, maupun pengobatannya diharapkan dapat merubah perilaku masyarakat menjadi lebih waspada dan bertanggung jawab dalam menyikapi masalah HIV ./AIDS, serta dapat bersikap rasional dan bijaksana dalam mendampingi ODHA . (dr. Sheilla V) - Gema Pria BKKBN
Sumber : - Penaggulangan HIV /AIDS melalui program KB Nasional, BKKBN 2003.
- HIV / AIDS, Fasilitasi KRR, BKKBN, 2004
Risiko Wanita Gonta-Ganti Pasangan
Makin banyak pasangan seks seorang wanita, dia akan makin berisiko terinfeksi virus penyakit menular seksual (PMS). Bukan hanya itu, risikonya juga akan makin tinggi terserang kanker mulut rahim (serviks). Hal ini terungkap dari hasil studi yang dilakukan oleh sekelompok peneliti dari Amerika Serikat belakangan ini.
Penelitian ini dilakukan oleh Profesor Anna-Barbara Moscicki dan rekan-rekannya. Menurutnya, risiko infeksi human papilloma virus (HPV) akan meningkat sepuluh kali lipat setiap kali seorang wanita melakukan hubungan seks dengan pasangan baru dalam sebulan. Para ilmuwan dari Universitas California, San Francisco, ini menegaskan hal tersebut setelah mempelajari kehidupan seks 800 wanita yang pernah mendatangi klinik KB tahun 1990.
Hasil riset tersebut dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association, edisi Juni 2001 ini. Disebutkan, lebih dari separo wanita muda yang aktif melakukan seks akan terinfeksi oleh HPV dalam tiga tahun berikut. Lima tahun kemudian, sekitar 30% di antaranya akan memperlihatkan tanda-tanda berubahnya sel-sel mulut rahim.
Perubahan ini disebut lesi intra-epitelial ukuran kecil (LSIL ? low-grade intra-epithelial lesion). Dikatakan, kemungkinan infeksi berubah menjadi LSIL selama tahun pertama setelah terinfeksi HPV cukup tinggi. Namun, perubahan itu sendiri pada dasarnya masih bersifat jinak. Akan tetapi, ada kemungkinan lesi tersebut langsung mengalami perkembangan menjadi kanker mulut rahim.
Sedangkan infeksi PMS tidak akan meningkatkan risiko LSIL. Menurut peneliti tersebut, harus ada faktor-faktor perilaku dan biologis yang berperan agar risiko tersebut meningkat, misalnya kebiasaan merokok setiap hari.
Yang menarik ialah penemuan bahwa bahwa, bagi sebagaian besar wanita yang masih muda, infeksi HPV tidak selalu berlangsung seumur hidup. Bertentangan dari pendapat lama, virus ini ternyata dapat hilang dengan sendirinya dalam tiga tahun.
Selain itu juga ditemukan bahwa, dalam tiga tahun, sebanyak 55% wanita yang aktif melakukan hubungan seks akan terinfeksi HPV meskipun sebelumnya tidak pernah mengalaminya. Infeksi virus herpes simpleks dan kutil kelamin dapat meningkatkan risiko tersebut.
Karena itu, para pakar sangat menganjurkan agar wanita senantiasa berpikir dua kali untuk melakukan hubungan seks dengan pasangan baru. Pakar ini juga menganjurkan agar, tindakan pencegahan selalu ditempuh apabila kemungkinan di atas terjadi. Soalnya, seks yang aman sangat penting untuk mencegah penularan PMS dan risiko yang menyertainya.
Penelitian ini dilakukan oleh Profesor Anna-Barbara Moscicki dan rekan-rekannya. Menurutnya, risiko infeksi human papilloma virus (HPV) akan meningkat sepuluh kali lipat setiap kali seorang wanita melakukan hubungan seks dengan pasangan baru dalam sebulan. Para ilmuwan dari Universitas California, San Francisco, ini menegaskan hal tersebut setelah mempelajari kehidupan seks 800 wanita yang pernah mendatangi klinik KB tahun 1990.
Hasil riset tersebut dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association, edisi Juni 2001 ini. Disebutkan, lebih dari separo wanita muda yang aktif melakukan seks akan terinfeksi oleh HPV dalam tiga tahun berikut. Lima tahun kemudian, sekitar 30% di antaranya akan memperlihatkan tanda-tanda berubahnya sel-sel mulut rahim.
Perubahan ini disebut lesi intra-epitelial ukuran kecil (LSIL ? low-grade intra-epithelial lesion). Dikatakan, kemungkinan infeksi berubah menjadi LSIL selama tahun pertama setelah terinfeksi HPV cukup tinggi. Namun, perubahan itu sendiri pada dasarnya masih bersifat jinak. Akan tetapi, ada kemungkinan lesi tersebut langsung mengalami perkembangan menjadi kanker mulut rahim.
Sedangkan infeksi PMS tidak akan meningkatkan risiko LSIL. Menurut peneliti tersebut, harus ada faktor-faktor perilaku dan biologis yang berperan agar risiko tersebut meningkat, misalnya kebiasaan merokok setiap hari.
Yang menarik ialah penemuan bahwa bahwa, bagi sebagaian besar wanita yang masih muda, infeksi HPV tidak selalu berlangsung seumur hidup. Bertentangan dari pendapat lama, virus ini ternyata dapat hilang dengan sendirinya dalam tiga tahun.
Selain itu juga ditemukan bahwa, dalam tiga tahun, sebanyak 55% wanita yang aktif melakukan hubungan seks akan terinfeksi HPV meskipun sebelumnya tidak pernah mengalaminya. Infeksi virus herpes simpleks dan kutil kelamin dapat meningkatkan risiko tersebut.
Karena itu, para pakar sangat menganjurkan agar wanita senantiasa berpikir dua kali untuk melakukan hubungan seks dengan pasangan baru. Pakar ini juga menganjurkan agar, tindakan pencegahan selalu ditempuh apabila kemungkinan di atas terjadi. Soalnya, seks yang aman sangat penting untuk mencegah penularan PMS dan risiko yang menyertainya.
Pengidap HIV Masih Abaikan Seks Aman
Umumnya, orang-orang yang telah terinfeksi HIV cenderung mengabaikan kehidupan seks yang aman. Mereka tetap saja melakukan hubungan seks dengan pasangan yang sehat tanpa alat pelindung. Bahkan, mereka tidak memberitahu bahwa dirinya telah terinfeksi. Akibatnya, segelintir saja di antaranya yang melakukan itu dapat mengakibatkan ribuan orang lain berisiko tinggi terinfeksi virus mematikan ini.
Perilaku buruk ini terungkap setelah Dr. Simon Barton melakukan penelitian terhadap perilaku dan gaya hidup orang yang telah positif mengidap HIV. Dalam penelitian tersebut dilibatkan 600 pengidap virus perusak kekebalan tersebut. Ternyata, sepertiga di antaranya tetap melakukan hubungan seks tanpa alat pelindung sejak terdiagonosa positif. Bahkan, sebagian kecil di antaranya melakukannya dengan cukup sering.
Penelitian tersebut dilakukan dengan membagikan kuesioner kepada orang-orang yang membeli obat AIDS dari berbagai klinik di London. Menurut Barton, kepala Unit Penyakit Menular Seksual di Rumah Sakit Chelsea and Westminster, London, memang ada kecenderungan bahwa pengidap HIV langsung merasa sembuh setelah menggunakan obat. Akibatnya, mereka akan mudah kembali lagi ke kebiasaan seks bebas dan tidak aman.
Pakar lain juga mengamini bahwa perilaku ceroboh seperti ini merupakan faktor utama pesatnya penyebaran penyakit menular seksual, termasuk HIV. Penyebab sebagian besar orang yang tertular penyakit ini hanyalah segelintir orang yang perilaku seksnya sangat berisiko. Mereka ini sering disebut sebagai super-spreader (penular terbesar).
Sialnya, sebagian di antaranya dengan sengaja tidak mau mengubah perilaku berbahaya ini. Mereka telah sadar akan risikonya, namun tetap saja melakukan hubungan seks yang tidak aman. Sebagian penderitanya pun mengaku bahwa seks yang tidak aman ini makin lazim di kalangan penderita HIV, khususnya setelah munculnya obat-obat penghambat protease dan jenis obat HIV lainnya.
Lalu bagaimana cara mengatasi persoalan ini? Di Skotlandia, orang semacam ini sudah diancam hukuman karena kesengajaan menyebabkan kerugian pada orang lain. Di Inggris sendiri, perlindungan terhadap sikap sembrono seperti ini telah mendapat sorotan dan direncanakan akan segera diberlakukan dalam sistem hukumnya. Orang yang sengaja menularkan penyakitnya tanpa sepengetahuan orang lain dianggap sebagai pelecehan terhadap hak pribadi.
Tidak mustahil perilaku yang sama juga telah merebak di Indonesia. Soalnya, tingkat penyebaran HIV di negeri ini dianggap sebagai salah satu yang cukup memprihatinkan. Selain itu, tingkat kesadaran tentang seks yang aman pun masih sangat rendah. Apakah sistem hukum juga bisa menjadi benteng pertahanan terakhir bagi orang-orang yang masih bebas HIV? Semoga saja!
Perilaku buruk ini terungkap setelah Dr. Simon Barton melakukan penelitian terhadap perilaku dan gaya hidup orang yang telah positif mengidap HIV. Dalam penelitian tersebut dilibatkan 600 pengidap virus perusak kekebalan tersebut. Ternyata, sepertiga di antaranya tetap melakukan hubungan seks tanpa alat pelindung sejak terdiagonosa positif. Bahkan, sebagian kecil di antaranya melakukannya dengan cukup sering.
Penelitian tersebut dilakukan dengan membagikan kuesioner kepada orang-orang yang membeli obat AIDS dari berbagai klinik di London. Menurut Barton, kepala Unit Penyakit Menular Seksual di Rumah Sakit Chelsea and Westminster, London, memang ada kecenderungan bahwa pengidap HIV langsung merasa sembuh setelah menggunakan obat. Akibatnya, mereka akan mudah kembali lagi ke kebiasaan seks bebas dan tidak aman.
Pakar lain juga mengamini bahwa perilaku ceroboh seperti ini merupakan faktor utama pesatnya penyebaran penyakit menular seksual, termasuk HIV. Penyebab sebagian besar orang yang tertular penyakit ini hanyalah segelintir orang yang perilaku seksnya sangat berisiko. Mereka ini sering disebut sebagai super-spreader (penular terbesar).
Sialnya, sebagian di antaranya dengan sengaja tidak mau mengubah perilaku berbahaya ini. Mereka telah sadar akan risikonya, namun tetap saja melakukan hubungan seks yang tidak aman. Sebagian penderitanya pun mengaku bahwa seks yang tidak aman ini makin lazim di kalangan penderita HIV, khususnya setelah munculnya obat-obat penghambat protease dan jenis obat HIV lainnya.
Lalu bagaimana cara mengatasi persoalan ini? Di Skotlandia, orang semacam ini sudah diancam hukuman karena kesengajaan menyebabkan kerugian pada orang lain. Di Inggris sendiri, perlindungan terhadap sikap sembrono seperti ini telah mendapat sorotan dan direncanakan akan segera diberlakukan dalam sistem hukumnya. Orang yang sengaja menularkan penyakitnya tanpa sepengetahuan orang lain dianggap sebagai pelecehan terhadap hak pribadi.
Tidak mustahil perilaku yang sama juga telah merebak di Indonesia. Soalnya, tingkat penyebaran HIV di negeri ini dianggap sebagai salah satu yang cukup memprihatinkan. Selain itu, tingkat kesadaran tentang seks yang aman pun masih sangat rendah. Apakah sistem hukum juga bisa menjadi benteng pertahanan terakhir bagi orang-orang yang masih bebas HIV? Semoga saja!
Thursday, March 29, 2007
Pertanyaan Seputar Kondom
Apakah kondom ? Kondom adalah salah satu alat kontrasepsi yang terbuat karet/lateks, berbentuk tabung tidak tembus cairan dimana salah satu ujungnya tertutup rapat dan dilengkapi kantung untuk menampung sperma.
Bagaimana gambaran fisik kondom ? Kebanyakan kondom terbuat dari karet lateks tipis, tetapi ada yang membuatnya dari jaringan hewan (usus kambing) atau plastik (polietilen).
Sekarang banyak jenis kondom yang berbeda dalam hal : Bentuk : Ada yang ujungnya rata, ada juga yang ujungnya memiliki penampung untuk penampung sperma. Pada saat ini yang banyak beredar di pasaran adalah bentuk kondom yang memiliki bundaran kecil di ujungnya sebagai penampung sperma.
Warna : Ada yang tidak tembus pandang, ada pula yang transparan, dengan berbagai macam warna. Sekarang ini, Jenis transparan dengan berbagai macam warna sesuai aroma adalah yang banyak beredar di pasaran.
Lubrikasi : Ada yang menggunakan minyak silikon, Jelly, bedak atau yang kering. Jelly dan bedak untuk saat ini jarang digunakan pada kondom yang beredar di Indonesia.
Ketebalan : Kondom memiliki ketebalan yang standar dan tipis. Biasanya orang cenderung memilih yang sangat tipis untuk kenyamanan dalam pemakaian.
Permukaan : Hem, bergelombang, tidak licin. Sekarang ini permukaan kondom semakin bervariatif. Para produsen kondom lebih kreatif untuk menarik konsumen untuk menggunakan kondom. Misalnya saja sekarang banyak beredar kondom yang bergerigi, berulir dll. Hal ini betujuan untuk menambah sensasi dalam hubungan suami istri yang menggunakan kondom.
Spermicida : Kondom yang beredar ada yang menggunakan spermicida, ada juga yang tidak. Spermicida yang digunakan biasanya nonoxyne-9 atau menfegol. Spermicida berfungsi untuk membunuh sperma. Penggunaan spermicida ini untuk menambah efektifitas kondom sebagai alat kontrasepsi
Bagaimana kondom bisa berfungsi sebagai alat kontrasepsi ? Kondom akan menghalangi sperma masuk ke dalam rahim, sehingga akan melindungi wanita dari kehamilan yang tidak diinginkan, karena sel sperma dan sel telur tidak bertemu.
Kapan kondom digunakan ?
1. Bila hubungan seksual dilakukan pada saat istri sedang dalam masa subur
2. Bila istri tidak cocok dengan semua jenis alat/metode kontrasepsi
3. Setelah vasektomi kondom perlu dipakai sampai enam minggu
4. Sementara menunggu penggunaan metode/alat kontrasepsi lainnya
5. Bagi calon peserta Pil KB yang sedang menunggu haid
6. Apabila lupa minum pil KB dalam jangka waktu lebih dari 36 jam
7. Apabila salah satu dari pasangan suami istri menderita Penyakit Menular Seksual termasuk HIV/AIDS
8. Dalam keadaan tidak ada kontrasepsi lain yang tersedia atau yang dipakai pasangan suami istri
9. Sementara menunggu pencabutan implant/susuk KB/alat ontrasepsi bawah kulit, bila batas pemakaian implant telah habis.
Bagaimanan cara menggunakan kondom ?
1. Pegang bungkus kondom dengan kedua belah tangan, lalu dorong kondom dengan jari ke posisi bawah. Tujuannya agar tidak tersobek saat membuka bungkusnya. Selanjutnya sobek bagian atas bungkus kondom
2. Dorong kondom dari bawah agar keluar dari bungkusnya, kemudian pegang kondom dan perhatikan bagian yang menggulung harus berada di sebelah luar
3. Pencet ujung kondom dengan ibu jari dan telunjuk agar tidak ada udara yang masuk dan letakan pada kepala penis.
4. Pada saat kondom dipasang, penis harus dalam keadaan tegang (ereksi). Pasanglah kondom dengan menggunakan telapak tangan untuk mendorong gulungan kondom hingga pangkal penis (jangan menggunakan kuku karena kondom dapat robek).
5. Setelah ejakulasi, cabut penis dari vagina ketika masih ereksi, dan tahan kondom di pangkal penis dengan jari agar kondom tidak lepas dan tidak meninggalkan air mani di vagina
6. Setelah menggunakan, ikat kondom agar cairan sperma tidak keluar. Kondom bekas langsung dibuang ke tempat yang seharusnya, untuk mencegah mengkontaminasi orang lain, terutama anak-anak.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan kondom
1. Periksalah tanggal kadaluwarsa pada bungkus kondom. Periksalah kondisi bungkus kondom, jangan menerima atau membeli kondom yang bungkusnya sudah rusak, ada gelembung udara di dalamnya dan berlubang
2. Gunakan kondom baru setiap kali bersanggama
3. Hati-hati membuka bungkus kondom, jangan sampai kondom sobek.
4. Pasang kondom sebelum kontak genital, untuk mencegah masuknya sperma atau bibit penyakit ke dalam vagina, (atau sebaliknya)
5. Hati-hati dalam memasang dan melepaskan kondom bagi mereka yang memiliki kuku panjang atau cincin dengan bagian yang tajam
6. Jika pelican yang ada pada kondom dirasa kurang, gunakan lubrikan atau jelly yang dianjurkan. Jangan gunakan bahan-bahan seperti vaselin, lotion, atau produk minyak lainnya, karena dapat meningkatkan kemungkinan robeknya kondom.
7. Bila kondom pecah atau robek selama senggama, gunakan segera spermisida (busa atau gel), dan pertimbangkan menggunakan kontrasepsi darurat, untuk mencegah terjadinya kehamilan.
8. Simpan persediaan kondom di tempat yang sejuk dan kering. Jauhkan kondom dari sinar lampu neon, TL dan letakan di tempat yang tidak terkena matahari langsung atau di tempat yang panas.
9. Sebaiknya tidak meletakan kondom di saku celana, karena suhu tubuh dapat mempengaruhi kualitas kondom. Jangan gunakan kondom bila terlihat rusak atau lapuk, karena cenderung robek.
Apakah kelebihan kondom ?
1. Efektif sebagai alat kontrasepsi bila dipakai dengan baik dan benar
2. Murah dan mudah didapat tanpa resep dokter dan dapat didistribusikan oleh dan untuk masyarakat (community based)
3. Praktis dan dapat dipakai sendiri 4. Tidak ada efek hormonal
4. Dapat mencegah kemungkinan penularan Penyakit Menular Seksual termasuk HIV/AIDS
5. Mudah dibawa
6. Kondom menggunakan pelicin/pelumas sehingga dapat menambah frekuensi hubungan seksual dan secara psikologis menambah kenikmatan
7. Kondom membantu suami yang mengalami ejakulasi dini.
8. Adanya jaminan pengawasan kualitas produksi bahwa produk layak dipasarkan. Sebelum dipasarkan kondom harus diuji di laboratorium dan harus memenuhi Standar Internasional yang ditetapkan oleh ISO (International Organitation Standardization), CEN (Comitee European de Normalization), dan ASTM (American Socienty for Testing and Materials).
Apakah keterbatasan kondom ?
1. Kadang-kadang ada pasangan yang alergi terhadap karet kondom
2. Kondom hanya dapat dipakai satu kali
3. Secara psikologis kemungkinan mengganggu kenyamanan
4. Kondom kadaluarsa mudah sobek dan bocor.
Bagaimana efektifitas kondom dalam mencegah kehamilan ?
1. Efektif sebagai kontrasepsi bila dipakai dengan baik dan benar
2. Angka kegagalan teoritis 3%, praktis 5 -20%
3. Sangat efektif jika digunakan pada waktu istri dalam periode menyusui (Lactation Amenorrhae Method)
4. Akan lebih efektif bila dikombinasikan dengan sistem kalender.
Dimana mendapatkan kondom ? Kondom dapat diperoleh di:
1. Apotik
2. Klinik KB
3. PPKBD/sub PPKBD
4. Pos KB Desa
5. Toko Obat
6. Pasar Swalayan
7. Puskesmas/puskesmas pembantu
8. Vending Machine Kondom.
Disusun oleh : Farida dari berbagai sumber.
Bagaimana gambaran fisik kondom ? Kebanyakan kondom terbuat dari karet lateks tipis, tetapi ada yang membuatnya dari jaringan hewan (usus kambing) atau plastik (polietilen).
Sekarang banyak jenis kondom yang berbeda dalam hal : Bentuk : Ada yang ujungnya rata, ada juga yang ujungnya memiliki penampung untuk penampung sperma. Pada saat ini yang banyak beredar di pasaran adalah bentuk kondom yang memiliki bundaran kecil di ujungnya sebagai penampung sperma.
Warna : Ada yang tidak tembus pandang, ada pula yang transparan, dengan berbagai macam warna. Sekarang ini, Jenis transparan dengan berbagai macam warna sesuai aroma adalah yang banyak beredar di pasaran.
Lubrikasi : Ada yang menggunakan minyak silikon, Jelly, bedak atau yang kering. Jelly dan bedak untuk saat ini jarang digunakan pada kondom yang beredar di Indonesia.
Ketebalan : Kondom memiliki ketebalan yang standar dan tipis. Biasanya orang cenderung memilih yang sangat tipis untuk kenyamanan dalam pemakaian.
Permukaan : Hem, bergelombang, tidak licin. Sekarang ini permukaan kondom semakin bervariatif. Para produsen kondom lebih kreatif untuk menarik konsumen untuk menggunakan kondom. Misalnya saja sekarang banyak beredar kondom yang bergerigi, berulir dll. Hal ini betujuan untuk menambah sensasi dalam hubungan suami istri yang menggunakan kondom.
Spermicida : Kondom yang beredar ada yang menggunakan spermicida, ada juga yang tidak. Spermicida yang digunakan biasanya nonoxyne-9 atau menfegol. Spermicida berfungsi untuk membunuh sperma. Penggunaan spermicida ini untuk menambah efektifitas kondom sebagai alat kontrasepsi
Bagaimana kondom bisa berfungsi sebagai alat kontrasepsi ? Kondom akan menghalangi sperma masuk ke dalam rahim, sehingga akan melindungi wanita dari kehamilan yang tidak diinginkan, karena sel sperma dan sel telur tidak bertemu.
Kapan kondom digunakan ?
1. Bila hubungan seksual dilakukan pada saat istri sedang dalam masa subur
2. Bila istri tidak cocok dengan semua jenis alat/metode kontrasepsi
3. Setelah vasektomi kondom perlu dipakai sampai enam minggu
4. Sementara menunggu penggunaan metode/alat kontrasepsi lainnya
5. Bagi calon peserta Pil KB yang sedang menunggu haid
6. Apabila lupa minum pil KB dalam jangka waktu lebih dari 36 jam
7. Apabila salah satu dari pasangan suami istri menderita Penyakit Menular Seksual termasuk HIV/AIDS
8. Dalam keadaan tidak ada kontrasepsi lain yang tersedia atau yang dipakai pasangan suami istri
9. Sementara menunggu pencabutan implant/susuk KB/alat ontrasepsi bawah kulit, bila batas pemakaian implant telah habis.
Bagaimanan cara menggunakan kondom ?
1. Pegang bungkus kondom dengan kedua belah tangan, lalu dorong kondom dengan jari ke posisi bawah. Tujuannya agar tidak tersobek saat membuka bungkusnya. Selanjutnya sobek bagian atas bungkus kondom
2. Dorong kondom dari bawah agar keluar dari bungkusnya, kemudian pegang kondom dan perhatikan bagian yang menggulung harus berada di sebelah luar
3. Pencet ujung kondom dengan ibu jari dan telunjuk agar tidak ada udara yang masuk dan letakan pada kepala penis.
4. Pada saat kondom dipasang, penis harus dalam keadaan tegang (ereksi). Pasanglah kondom dengan menggunakan telapak tangan untuk mendorong gulungan kondom hingga pangkal penis (jangan menggunakan kuku karena kondom dapat robek).
5. Setelah ejakulasi, cabut penis dari vagina ketika masih ereksi, dan tahan kondom di pangkal penis dengan jari agar kondom tidak lepas dan tidak meninggalkan air mani di vagina
6. Setelah menggunakan, ikat kondom agar cairan sperma tidak keluar. Kondom bekas langsung dibuang ke tempat yang seharusnya, untuk mencegah mengkontaminasi orang lain, terutama anak-anak.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan kondom
1. Periksalah tanggal kadaluwarsa pada bungkus kondom. Periksalah kondisi bungkus kondom, jangan menerima atau membeli kondom yang bungkusnya sudah rusak, ada gelembung udara di dalamnya dan berlubang
2. Gunakan kondom baru setiap kali bersanggama
3. Hati-hati membuka bungkus kondom, jangan sampai kondom sobek.
4. Pasang kondom sebelum kontak genital, untuk mencegah masuknya sperma atau bibit penyakit ke dalam vagina, (atau sebaliknya)
5. Hati-hati dalam memasang dan melepaskan kondom bagi mereka yang memiliki kuku panjang atau cincin dengan bagian yang tajam
6. Jika pelican yang ada pada kondom dirasa kurang, gunakan lubrikan atau jelly yang dianjurkan. Jangan gunakan bahan-bahan seperti vaselin, lotion, atau produk minyak lainnya, karena dapat meningkatkan kemungkinan robeknya kondom.
7. Bila kondom pecah atau robek selama senggama, gunakan segera spermisida (busa atau gel), dan pertimbangkan menggunakan kontrasepsi darurat, untuk mencegah terjadinya kehamilan.
8. Simpan persediaan kondom di tempat yang sejuk dan kering. Jauhkan kondom dari sinar lampu neon, TL dan letakan di tempat yang tidak terkena matahari langsung atau di tempat yang panas.
9. Sebaiknya tidak meletakan kondom di saku celana, karena suhu tubuh dapat mempengaruhi kualitas kondom. Jangan gunakan kondom bila terlihat rusak atau lapuk, karena cenderung robek.
Apakah kelebihan kondom ?
1. Efektif sebagai alat kontrasepsi bila dipakai dengan baik dan benar
2. Murah dan mudah didapat tanpa resep dokter dan dapat didistribusikan oleh dan untuk masyarakat (community based)
3. Praktis dan dapat dipakai sendiri 4. Tidak ada efek hormonal
4. Dapat mencegah kemungkinan penularan Penyakit Menular Seksual termasuk HIV/AIDS
5. Mudah dibawa
6. Kondom menggunakan pelicin/pelumas sehingga dapat menambah frekuensi hubungan seksual dan secara psikologis menambah kenikmatan
7. Kondom membantu suami yang mengalami ejakulasi dini.
8. Adanya jaminan pengawasan kualitas produksi bahwa produk layak dipasarkan. Sebelum dipasarkan kondom harus diuji di laboratorium dan harus memenuhi Standar Internasional yang ditetapkan oleh ISO (International Organitation Standardization), CEN (Comitee European de Normalization), dan ASTM (American Socienty for Testing and Materials).
Apakah keterbatasan kondom ?
1. Kadang-kadang ada pasangan yang alergi terhadap karet kondom
2. Kondom hanya dapat dipakai satu kali
3. Secara psikologis kemungkinan mengganggu kenyamanan
4. Kondom kadaluarsa mudah sobek dan bocor.
Bagaimana efektifitas kondom dalam mencegah kehamilan ?
1. Efektif sebagai kontrasepsi bila dipakai dengan baik dan benar
2. Angka kegagalan teoritis 3%, praktis 5 -20%
3. Sangat efektif jika digunakan pada waktu istri dalam periode menyusui (Lactation Amenorrhae Method)
4. Akan lebih efektif bila dikombinasikan dengan sistem kalender.
Dimana mendapatkan kondom ? Kondom dapat diperoleh di:
1. Apotik
2. Klinik KB
3. PPKBD/sub PPKBD
4. Pos KB Desa
5. Toko Obat
6. Pasar Swalayan
7. Puskesmas/puskesmas pembantu
8. Vending Machine Kondom.
Disusun oleh : Farida dari berbagai sumber.
Teliti Sebelum Membeli (Kondom)
Setiap lelaki atau perempuan yang aktif secara seksual harus tahu bagaimana memilih dan menggunakan kondom. Ada beberapa jenis kondom klasik yang efektif sebagai alat kontrasepsi dan mencegah penyebaran penyakit menular seksual.
Kondom dibuat dari kulit biri-biri (lambskin) atau lateks, dan tersedia dalam versi dengan pelumas (lubricated) atau tanpa pelumas (nonlubricated). Sebagian mengandung spermisida yang dianggap membantu dalam mencegah penyebaran HIV.
Kondom jenis lain berwarna atau memiliki rasa mulai dari rasa mint sampai buah-buahan. Ukurannya mulai dari rata-rata, yang cocok untuk sebagaian besar laki-laki, sampai yang lebih besar.
Kondom jenis apa yang harus dibeli? Pertama, kondom yang dibeli harus memiliki standar yang ketat, yakni 99,99% yang dipilih secara acak harus lolos dari kebocoran. Itu berarti empat dari seribu kondom dapat bocor, sehingga menyebabkan pemakaian lubrikan spermisida menjadi penting.
Kondom lateks dan nonoxyno-9l menawarkan perlindungan terbaik terhadap penyakit menular seksual dan HIV.
Kondom yang nonlubricated atau flavored lebih disukai oleh sebagian kaum Hawa untuk melakukan fellatio. Setelah seks oral, gantilah menjadi kondom berpelumas yang mengandung spermisida. Jangan menggunakan lubrikan yang mengandung minyak pada kondom lateks karena dapat merusak atau menyebabkan kebocoran.
Kondom kulit domba (lambskin) menghasilkan sensasi lebih besar menurut banyak laki-laki tetapi tidak memberikan perlindungan terhadap infeksi. Kondom tersebut pori-porinya lebih banyak dibandingkan lateks dan dapat bocor. Kondom lateks adalah pilihan terbaik untuk untuk hubungan seks dan oral.
Sebaiknya tidak menggunakan kondom yang telah rusak, lengket, atau berubah warnanya. Simpan di tempat sejuk dan kering.
Consumer Report di Amerika menguji 37 jenis kondom. Tiga puluh merek lolos dari tes. Tujuh kondom yang berada di urutan teratas adalah Excita Extra Ultra-Ribed with spermicide; Ramses, Extra Ribed, with spermicide, Sheik Elite 1; Lifestyles Vibraribbed; Ramses Extra, with spermicide; Ramses Sensitol; Sheik Elite, Ribbed with spermisida.
Kapan harus menggunakan kondom? Setiap saat jika Anda berhubungan seksual atau fellatio dengan pasangan yang tidak melakukan hubungan monogami dengan Anda. Anda dapat menghentikan pemakaian kondom secara aman setelah membuat komitmen monogami dengan pasangan dan bebas dari penyakit menular seksual.
Penelitian di Amerika menunjukkan, pasangan yang tidak menikah biasanya menggunakan kondom tiga sampai enam kali, kemudian tidak menggunakannya lagi karena, 'telah mengenal satu sama lain'.
Sumber : Astaga
Kondom dibuat dari kulit biri-biri (lambskin) atau lateks, dan tersedia dalam versi dengan pelumas (lubricated) atau tanpa pelumas (nonlubricated). Sebagian mengandung spermisida yang dianggap membantu dalam mencegah penyebaran HIV.
Kondom jenis lain berwarna atau memiliki rasa mulai dari rasa mint sampai buah-buahan. Ukurannya mulai dari rata-rata, yang cocok untuk sebagaian besar laki-laki, sampai yang lebih besar.
Kondom jenis apa yang harus dibeli? Pertama, kondom yang dibeli harus memiliki standar yang ketat, yakni 99,99% yang dipilih secara acak harus lolos dari kebocoran. Itu berarti empat dari seribu kondom dapat bocor, sehingga menyebabkan pemakaian lubrikan spermisida menjadi penting.
Kondom lateks dan nonoxyno-9l menawarkan perlindungan terbaik terhadap penyakit menular seksual dan HIV.
Kondom yang nonlubricated atau flavored lebih disukai oleh sebagian kaum Hawa untuk melakukan fellatio. Setelah seks oral, gantilah menjadi kondom berpelumas yang mengandung spermisida. Jangan menggunakan lubrikan yang mengandung minyak pada kondom lateks karena dapat merusak atau menyebabkan kebocoran.
Kondom kulit domba (lambskin) menghasilkan sensasi lebih besar menurut banyak laki-laki tetapi tidak memberikan perlindungan terhadap infeksi. Kondom tersebut pori-porinya lebih banyak dibandingkan lateks dan dapat bocor. Kondom lateks adalah pilihan terbaik untuk untuk hubungan seks dan oral.
Sebaiknya tidak menggunakan kondom yang telah rusak, lengket, atau berubah warnanya. Simpan di tempat sejuk dan kering.
Consumer Report di Amerika menguji 37 jenis kondom. Tiga puluh merek lolos dari tes. Tujuh kondom yang berada di urutan teratas adalah Excita Extra Ultra-Ribed with spermicide; Ramses, Extra Ribed, with spermicide, Sheik Elite 1; Lifestyles Vibraribbed; Ramses Extra, with spermicide; Ramses Sensitol; Sheik Elite, Ribbed with spermisida.
Kapan harus menggunakan kondom? Setiap saat jika Anda berhubungan seksual atau fellatio dengan pasangan yang tidak melakukan hubungan monogami dengan Anda. Anda dapat menghentikan pemakaian kondom secara aman setelah membuat komitmen monogami dengan pasangan dan bebas dari penyakit menular seksual.
Penelitian di Amerika menunjukkan, pasangan yang tidak menikah biasanya menggunakan kondom tiga sampai enam kali, kemudian tidak menggunakannya lagi karena, 'telah mengenal satu sama lain'.
Sumber : Astaga
Cocokkah Kondom Buat Saya.....?
Profil
- Kondom tidak hanya mencegah kehamilan, tetapi juga mencegah IMS (Infeksi Menular Seksual) termasuk HIV/AIDS
- Efektif bila dipakai dengan baik dan benar
- Dapat dipakai bersama kontrasepsi lain untuk mencegah IMS
Kondom merupakan selubung/sarung karet yang dapat terbuat dari berbagai bahan diantaranya lateks (karet), plastik (vinil), atau bahan alami (produksi hewani) yang dipasang pada penis saat hubungan seksual. Kondom terbuat dari karet sintetis yang tipis, berbentuk silinder, dengan muaranya berpinggir tebal, yang bila digulung berbentuk rata atau mempunyai bentuk seperti puting susu.
Berbagai bahan telah ditambahkan pada kondom baik untuk meningkatkan efektivitasnya (misalnya penambahan spermisida) maupun sebagai aksesoris aktivitas seksual. Modifikasi tersebut dilakukan dalam hal :
- Bentuk
- Warna
- Pelumas
- Ketebalan
- Bahan
Cara Kerja
1. Kondom menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel telur dengan cara mengemas sperma di ujung selubung karet yang dipasang pada penis sehingga sperma tersebut tidak tercurah ke dalam saluran reproduksi perempuan
2. Khusus kondom yang terbuat dari lateks dan vinil mencegah penularan mikroorganisme penyebab IMS termasuk HBV (virus hepatitis B) dan HIV/AIDS dari satu pasangan kepada pasangan yang lain.
Efektivitas
Kondom cukup efektif bila dipakai secara benar pada setiap kali berhubungan seksual. Pada beberapa pasangan, pemakaian kondom tidak efektif karena tidak dipakai secara konsisten. Berdasarkan penelitian ilmiah didapatkan hanya sedikit angka kegagalan kondom yaitu 2-12 kehamilan per 100 perempuan per tahun
Manfaat
1. Kontrasepsi
- Efektif bila digunakan dengan benar
- Tidak mengganggu produksi ASI
- Tidak mengganggu kesehatan klien
- Tidak mempunyai pengaruh sistemik dalam tubuh
- Murah dan dapat dibeli secara umum
- Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan kesehatan khusus
- Metode kontrasepsi sementara bila metode kontrasepsi lainnya harus ditunda.
2. Nonkontrasepsi
- Memberi dorongan kepada pria untuk ikut ber-KB
- Dapat mencegah penularan IMS
- Mencegah ejakulasi dini
- Membantu mencegah terjadinya kanker leher rahim (kanker serviks) karena dapat mengurangi terjadinya iritasi akibat masuknya bahan pemicu/penyebab kanker dari luar (karsinogenik eksogen) pada serviks.
- Saling berinteraksi sesama pasangan
- Mencegah imuno infertilitas
Keterbatasan
- Efektifitas tidak terlalu tinggi
- Cara penggunaan sangat mempengaruhi keberhasilan kontrasepsi
- Agak mengganggu hubungan seksual (mengurangi sentuhan langsung).
- Pada beberapa klien bisa menyebabkan kesulitan untuk mempertahankan ereksi
- Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual
- Beberapa klien malu untuk membeli kondom di tempat umum
- Pembuangan kondom bekas mungkin menimbulkan masalah dalam hal limbah.
Penilaian Klien
Klien tidak memerlukan atau membutuhkan anamnesis atau pemeriksaan khusus untuk pemakaian kondom, tetapi mereka perlu diberi penjelasan lisan atau instruksi tertulis. Kondisi yang perlu dipertimbangkan untuk seleksi penggunaan kondom dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 1
Seleksi Klien Pengguna Kondom
KONDOM - Sesuai untuk pria yang :
- Ingin berpartisipasi dalam program KB
- Ingin segera mendapatkan alat kontrasepsi
- Ingin kontasepsi sementara
- Ingin kontrasepsi tambahan
- Hanya ingin menggunakan alat kontrasepsi jika akan berhubungan
- Berisiko tinggi tertular/menularkan IMS
KONDOM - Tidak sesuai untuk pria yang :
- Mempunyai pasangan yang berisiko tinggi apabila terjadi kehamilan
- Alergi terhadap bahan dasar kondom
- Menginginkan kontrasepsi jangka panjang
- Tidak mau terganggu dengan berbagai persiapan untuk melakukan hubungan seksual
- Tidak peduli berbagai persyaratan kontrasepsi
Cara Penggunaan/Instruksi bagi Klien
- Gunakan kondom setiap akan melakukan hubungan seksual
- Agar efek kontrasepsinya lebih baik, tambahkan spermisida ke dalam kondom
- Jangan menggunakan gigi, benda tajam seperti pisau, silet, gunting atau benda tajam lainnya pada saat membuka kemasan
- Pasangkan kondom saat penis sedang ereksi, tempelkan ujungnya pada glans penis (kepala penis) dan tempatkan bagian penampung sperma pada ujung uretra. Lepaskan gulungan karetnya dengan jalan menggeser gulungan tersebut ke arah pangkal penis. Pemasangan ini harus dilakukan sebelum penetrasi penis ke vagina
- Bila kondom tidak mempunyai penampungan sperma pada bagian ujungnya, maka saat memakai, longgarkan sedikit bagian ujungnya agar tidak terjadi robekan pada saat ejakulasi
- Kondom dilepas sebelum penis melembek
- Pegang bagian pangkal kondom sebelum mencabut penis sehingga kondom tidak terlepas pada saat penis dicabut dan lepaskan kondom di luar vagina agar tidak terjadi tumpahan cairan sperma di sekitar vagina
- Gunakan kondom hanya untuk satu kali pakai
- Buang kondom bekas pakai pada tempat yang aman
- Sediakan kondom dalam jumlah cukup di rumah dan jangan disimpan di tempat yang panas karena hal ini dapat menyebabkan kondom menjadi rusak atau robek saat digunakan
- Jangan gunakan kondom apabila kemasannya robek atau kondom tampak rapuh/kusut
- Jangan gunakan minyak goreng, minyak mineral, atau pelumas dari bahan petrolatum karena akan segera merusak kondom
Memberikan persediaan kondom kepada klien
- Jumlah kondom yang diberikan dapat bervariasi menurut pertimbangan orang per orang. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan adalah frekuensi hubungan seksual, jarak dari klinik/tempat pelayanan dan permintaan khusus. Kondom diberikan dalam jumlah yang cukup untuk melindungi pasangan selama 6 bulan
- Kondom yang diberikan pada klien harus terjamin mutunya dan petugas klinik harus mengetahui jenis dan spesifikasi dari kondom yang disalurkan dan sudah melalui pengkajian mutu. Kalau ada keraguan tentang mutu kondom sebaiknya jangan diberikan, kalau terpaksa diberikan sebaiknya dipakai bersama-sama dengan spermisida
Kujungan Ulang
Saat klien datang pada kunjungan ulang harus ditanyakan kalau ada masalah dalam penggunaan kondom dan kepuasan klien dalam menggunakannya. Kalau masalah timbul karena kekurangtahuan dalam penggunaan sebaiknya informasi diulangi kembali kepada klien dan pasangannya. Kalau masalah menyangkut ketidanyamanan dan kejemuan dalam menggunakan kondom sebaiknya dianjurkan untuk memilih metode kontrasepsi lainnya.
Tabel 2
Penanganan efek samping dan masalah kesehatan lainnya
- Kondom rusak atau diperkirakan bocor (sebelum berhubungan)
Buang dan pakai kondom baru atau pakai spermisida digabung kondom
- Kondom bocor atau dicurigai ada curahan di vagina saat berhubungan
Jika dicurigai ada kebocoran, pertimbangkan pemberian Morning After Pill
- Dicurigai adanya reaksi alergi (spermisida)
Reaksi alergi, meskipun jarang, dapat sangat mengganggu dan bisa berbahaya. Jika keluhan menetap sesudah berhubungan dan tidak ada gejala IMS, berikan kondom alami (produk hewani: lamb skin atau gut) atau bantu klien memilih metode lain
- Mengurangi kenikmatan hubungan seksual
Jika penurunan kepekaan tidak bisa ditolerir biarpun dengan kondom yang lebih tipis, anjurkan pemakaian metode lain
(Farida Ekasari,SIP,MKM) - Gema Pria BKKBN
Sumber : Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, 2003
- Kondom tidak hanya mencegah kehamilan, tetapi juga mencegah IMS (Infeksi Menular Seksual) termasuk HIV/AIDS
- Efektif bila dipakai dengan baik dan benar
- Dapat dipakai bersama kontrasepsi lain untuk mencegah IMS
Kondom merupakan selubung/sarung karet yang dapat terbuat dari berbagai bahan diantaranya lateks (karet), plastik (vinil), atau bahan alami (produksi hewani) yang dipasang pada penis saat hubungan seksual. Kondom terbuat dari karet sintetis yang tipis, berbentuk silinder, dengan muaranya berpinggir tebal, yang bila digulung berbentuk rata atau mempunyai bentuk seperti puting susu.
Berbagai bahan telah ditambahkan pada kondom baik untuk meningkatkan efektivitasnya (misalnya penambahan spermisida) maupun sebagai aksesoris aktivitas seksual. Modifikasi tersebut dilakukan dalam hal :
- Bentuk
- Warna
- Pelumas
- Ketebalan
- Bahan
Cara Kerja
1. Kondom menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel telur dengan cara mengemas sperma di ujung selubung karet yang dipasang pada penis sehingga sperma tersebut tidak tercurah ke dalam saluran reproduksi perempuan
2. Khusus kondom yang terbuat dari lateks dan vinil mencegah penularan mikroorganisme penyebab IMS termasuk HBV (virus hepatitis B) dan HIV/AIDS dari satu pasangan kepada pasangan yang lain.
Efektivitas
Kondom cukup efektif bila dipakai secara benar pada setiap kali berhubungan seksual. Pada beberapa pasangan, pemakaian kondom tidak efektif karena tidak dipakai secara konsisten. Berdasarkan penelitian ilmiah didapatkan hanya sedikit angka kegagalan kondom yaitu 2-12 kehamilan per 100 perempuan per tahun
Manfaat
1. Kontrasepsi
- Efektif bila digunakan dengan benar
- Tidak mengganggu produksi ASI
- Tidak mengganggu kesehatan klien
- Tidak mempunyai pengaruh sistemik dalam tubuh
- Murah dan dapat dibeli secara umum
- Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan kesehatan khusus
- Metode kontrasepsi sementara bila metode kontrasepsi lainnya harus ditunda.
2. Nonkontrasepsi
- Memberi dorongan kepada pria untuk ikut ber-KB
- Dapat mencegah penularan IMS
- Mencegah ejakulasi dini
- Membantu mencegah terjadinya kanker leher rahim (kanker serviks) karena dapat mengurangi terjadinya iritasi akibat masuknya bahan pemicu/penyebab kanker dari luar (karsinogenik eksogen) pada serviks.
- Saling berinteraksi sesama pasangan
- Mencegah imuno infertilitas
Keterbatasan
- Efektifitas tidak terlalu tinggi
- Cara penggunaan sangat mempengaruhi keberhasilan kontrasepsi
- Agak mengganggu hubungan seksual (mengurangi sentuhan langsung).
- Pada beberapa klien bisa menyebabkan kesulitan untuk mempertahankan ereksi
- Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual
- Beberapa klien malu untuk membeli kondom di tempat umum
- Pembuangan kondom bekas mungkin menimbulkan masalah dalam hal limbah.
Penilaian Klien
Klien tidak memerlukan atau membutuhkan anamnesis atau pemeriksaan khusus untuk pemakaian kondom, tetapi mereka perlu diberi penjelasan lisan atau instruksi tertulis. Kondisi yang perlu dipertimbangkan untuk seleksi penggunaan kondom dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 1
Seleksi Klien Pengguna Kondom
KONDOM - Sesuai untuk pria yang :
- Ingin berpartisipasi dalam program KB
- Ingin segera mendapatkan alat kontrasepsi
- Ingin kontasepsi sementara
- Ingin kontrasepsi tambahan
- Hanya ingin menggunakan alat kontrasepsi jika akan berhubungan
- Berisiko tinggi tertular/menularkan IMS
KONDOM - Tidak sesuai untuk pria yang :
- Mempunyai pasangan yang berisiko tinggi apabila terjadi kehamilan
- Alergi terhadap bahan dasar kondom
- Menginginkan kontrasepsi jangka panjang
- Tidak mau terganggu dengan berbagai persiapan untuk melakukan hubungan seksual
- Tidak peduli berbagai persyaratan kontrasepsi
Cara Penggunaan/Instruksi bagi Klien
- Gunakan kondom setiap akan melakukan hubungan seksual
- Agar efek kontrasepsinya lebih baik, tambahkan spermisida ke dalam kondom
- Jangan menggunakan gigi, benda tajam seperti pisau, silet, gunting atau benda tajam lainnya pada saat membuka kemasan
- Pasangkan kondom saat penis sedang ereksi, tempelkan ujungnya pada glans penis (kepala penis) dan tempatkan bagian penampung sperma pada ujung uretra. Lepaskan gulungan karetnya dengan jalan menggeser gulungan tersebut ke arah pangkal penis. Pemasangan ini harus dilakukan sebelum penetrasi penis ke vagina
- Bila kondom tidak mempunyai penampungan sperma pada bagian ujungnya, maka saat memakai, longgarkan sedikit bagian ujungnya agar tidak terjadi robekan pada saat ejakulasi
- Kondom dilepas sebelum penis melembek
- Pegang bagian pangkal kondom sebelum mencabut penis sehingga kondom tidak terlepas pada saat penis dicabut dan lepaskan kondom di luar vagina agar tidak terjadi tumpahan cairan sperma di sekitar vagina
- Gunakan kondom hanya untuk satu kali pakai
- Buang kondom bekas pakai pada tempat yang aman
- Sediakan kondom dalam jumlah cukup di rumah dan jangan disimpan di tempat yang panas karena hal ini dapat menyebabkan kondom menjadi rusak atau robek saat digunakan
- Jangan gunakan kondom apabila kemasannya robek atau kondom tampak rapuh/kusut
- Jangan gunakan minyak goreng, minyak mineral, atau pelumas dari bahan petrolatum karena akan segera merusak kondom
Memberikan persediaan kondom kepada klien
- Jumlah kondom yang diberikan dapat bervariasi menurut pertimbangan orang per orang. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan adalah frekuensi hubungan seksual, jarak dari klinik/tempat pelayanan dan permintaan khusus. Kondom diberikan dalam jumlah yang cukup untuk melindungi pasangan selama 6 bulan
- Kondom yang diberikan pada klien harus terjamin mutunya dan petugas klinik harus mengetahui jenis dan spesifikasi dari kondom yang disalurkan dan sudah melalui pengkajian mutu. Kalau ada keraguan tentang mutu kondom sebaiknya jangan diberikan, kalau terpaksa diberikan sebaiknya dipakai bersama-sama dengan spermisida
Kujungan Ulang
Saat klien datang pada kunjungan ulang harus ditanyakan kalau ada masalah dalam penggunaan kondom dan kepuasan klien dalam menggunakannya. Kalau masalah timbul karena kekurangtahuan dalam penggunaan sebaiknya informasi diulangi kembali kepada klien dan pasangannya. Kalau masalah menyangkut ketidanyamanan dan kejemuan dalam menggunakan kondom sebaiknya dianjurkan untuk memilih metode kontrasepsi lainnya.
Tabel 2
Penanganan efek samping dan masalah kesehatan lainnya
- Kondom rusak atau diperkirakan bocor (sebelum berhubungan)
Buang dan pakai kondom baru atau pakai spermisida digabung kondom
- Kondom bocor atau dicurigai ada curahan di vagina saat berhubungan
Jika dicurigai ada kebocoran, pertimbangkan pemberian Morning After Pill
- Dicurigai adanya reaksi alergi (spermisida)
Reaksi alergi, meskipun jarang, dapat sangat mengganggu dan bisa berbahaya. Jika keluhan menetap sesudah berhubungan dan tidak ada gejala IMS, berikan kondom alami (produk hewani: lamb skin atau gut) atau bantu klien memilih metode lain
- Mengurangi kenikmatan hubungan seksual
Jika penurunan kepekaan tidak bisa ditolerir biarpun dengan kondom yang lebih tipis, anjurkan pemakaian metode lain
(Farida Ekasari,SIP,MKM) - Gema Pria BKKBN
Sumber : Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, 2003
Penyakit Hubungan Seksual
Penyakit hubungan seksual dapat menjadi masalah yang serius. Penyakit tersebut dapat ditularkan akibat hubungan seksual, baik oral maupun anal. Penyakit hubungan seksual merupakan masalah serius karena dapat mengancam janin yang sedang berkembang.
Angka kejadian penyakit hubungan seksual (PHS) saat ini semakin meningkat. Penyakit tersebut lebih sering menyerang kaum wanita dibandingkan kaum pria. Wanita memang lebih rentan terhadap penyakit hubungan seksual karena organ reproduksinya terdapat didalam tubuhnya, yang merupakan tempat yang baik untuk tumbuhnya infeksi.
?
PHS dapat membahayakan bayi yang belum dilahirkan. Cukup banyak bayi yang dilahirkan dini akibat infeksi karena PHS yang tidak terdeteksi yang sampai ke tubuh mereka melalui ibunya. Efek akibat PHS dapat berupa pecahnya selaput ketuban dini, keguguran, kematian ketika lahir, dan kelahiran preterm. Efek lainnya yaitu kebutaan, retardasi mental, gangguan neurologi, kerusakan otak, dan bahkan kematian.
PHS dapat ditularkan ketika bayi kontak dengan virus selama proses kelahiran atau melalui darah ibu yang kemudian menginfeksi bayi selama kehamilan atau kelahiran.
PHS yang paling umum antara lain yaitu vulvovaginitis monilial, vaginitis trikomonal, kondiloma akuminatum (kutil kelamin), infeksi herpes simpleks, klamidia, gonorrhoe, sifilis, dan HIV/AIDS.
Beberapa PHS sebenarnya dapat didiagnosis dan disembuhkan selama kehamilan. Jika kita merasa atau mungkin pernah terpajan dengan hal-hal yang menyebabkan risiko terjadinya PHS, sebaiknya segera periksakan masalah tersebut kepada pakar kesehatan yang terpercaya agar diperoleh solusi yang tepat dan benar. ?
(info-sehat.com)
Angka kejadian penyakit hubungan seksual (PHS) saat ini semakin meningkat. Penyakit tersebut lebih sering menyerang kaum wanita dibandingkan kaum pria. Wanita memang lebih rentan terhadap penyakit hubungan seksual karena organ reproduksinya terdapat didalam tubuhnya, yang merupakan tempat yang baik untuk tumbuhnya infeksi.
?
PHS dapat membahayakan bayi yang belum dilahirkan. Cukup banyak bayi yang dilahirkan dini akibat infeksi karena PHS yang tidak terdeteksi yang sampai ke tubuh mereka melalui ibunya. Efek akibat PHS dapat berupa pecahnya selaput ketuban dini, keguguran, kematian ketika lahir, dan kelahiran preterm. Efek lainnya yaitu kebutaan, retardasi mental, gangguan neurologi, kerusakan otak, dan bahkan kematian.
PHS dapat ditularkan ketika bayi kontak dengan virus selama proses kelahiran atau melalui darah ibu yang kemudian menginfeksi bayi selama kehamilan atau kelahiran.
PHS yang paling umum antara lain yaitu vulvovaginitis monilial, vaginitis trikomonal, kondiloma akuminatum (kutil kelamin), infeksi herpes simpleks, klamidia, gonorrhoe, sifilis, dan HIV/AIDS.
Beberapa PHS sebenarnya dapat didiagnosis dan disembuhkan selama kehamilan. Jika kita merasa atau mungkin pernah terpajan dengan hal-hal yang menyebabkan risiko terjadinya PHS, sebaiknya segera periksakan masalah tersebut kepada pakar kesehatan yang terpercaya agar diperoleh solusi yang tepat dan benar. ?
(info-sehat.com)
Trichomoniasis: Penyakit Menular Seks Tanpa Gejala
Sebagai pria yang menyenangi kesehatan, tentunya Anda perlu mengetahui berbagai penyakit yang berada di sekitar kita. Apalagi jika berkaitan dengan penyakit yang bersamaan dengan seks. Mengerikan sekali jika kita tidak mengetahuinya sejak awal. salah satunya adalah Trichomoniasis.
Trichomoniasis alias "trich", merupakan infeksi parasit yang bisa terjadi pada laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki, tanda-tandanya muncul pada uretra (saluran yang mengalirkan urin ke luar tubuh). Pada perempuan, yang terkena adalah vagina dan serviks (leher rahim).
Pada laki-laki yang terinfeksi parasit ini tidak merasakan gejala apapun namun dapat menularkan ke pasangannya. Demikian juga sebaliknya, saat perempuan terinfeksi parasit ini, dia bisa juga tidak merasakan gejalanya. Trichomoniasis kerap terjadi bersama dengan penyakit menular seksual lainnya, seperti gonorrhea dan nongonococcal urethritis (chlamydia), khususnya pada perempuan.
Trichomoniasis di negara AS lebih tinggi terjadi pada perempuan dibanding laki-laki. Diperkirakan 5 juta kasus baru terjadi setiap tahunnya dan infeksi ini terjadi pada 10% perempuan yang datang untuk mengobati penyakit menular seksual yang dideritanya. Pada 2000, the Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan bahwa trichomoniasis biasanya dapat diobati pada perempuan muda dengan kehidupan seksual aktif.
Untuk lebih mengetahui penyebabnya, Anda perlu tahu adalah Trichomoniasis disebabkan oleh parasit yang disebut Trichomonas vaginalis, yang ditularkan khususnya melalui kontak seksual secara langsung. Penyakit ini juga dapat ditularkan melalui mutual masturbation dan berbagai sex toys (alat bantuk seks)
Gejala umumnya muncul dalam 4-20 hari setelah infeksi. Perempuan yang terinfeksi parasit Trichomonas akan mengeluarkan cairan dari vagina berwarna kuning kehijauan atau abu-abu serta berbusa dalam jumlah banyak, kadangkala disertai pendarahan dan bau tidak sedap, gatal pada vulva sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman.
Sering buang air kecil dan terasa sakit, pembengkakan vulva, rasa tidak nyaman selama berhubungan seksual dan sakit di wilayah perut. pendarahan di serviks mungkin terjadi, namun ini bukan gejala umum.
Sementara gejala pada laki-laki jarang terjadi. Namun jika pasangan mengeluhkan keluarnya cairan dari fanis berwarna putih pucat dan merasa sakit atau sulit saat buang air kecil, besar kemungkinan dia terkena trichomoniasis. Namun sekali lagi hal ini harus dipastikan dengan pemeriksaan klinis.
Trichomoniasis yang tidak ditangani tuntas dihubungkan dengan meningkatnya risiko terinfeksi HIV (virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang akan berkembang menjadi AIDS). Perempuan hamil yang terinfeksi Trichomonas berisiko melahirkan bayi prematur, berat badan lahir rendah dan infeksi hingga pelepasan plasenta. Sedangkan peradangan pada prostat (prostatitis) dan saluran kencing (cystitis) kerap dikaitkan dengan trichomoniasis pada laki-laki.
Diagnosis
Membiakkan sampel cairan vagina/penis merupakan metode yang dapat diandalkan untuk menegakkan diagnosis trichomoniasis. Diperkirakan butuh waktu 10 hari untuk mendapat hasilnya. Pada perempuan untuk menegakkan diagnosis juga perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopis cairan vagina, pap smear dan urinalysis. Leher rahim juga diperiksa jika terjadi pendarahan. Karena trichomoniasis sering terjadi bersama penyakit menular seksual lainnya, pasien perlu diperiksa untuk menentukan jenis infeksinya, apakah chlamydia, gonorrhea, syphilis, atau HIV.
Pengobatan
Sejauh ini metronidazole dikenal sebagai obat yang dapat mengobati trichomoniasis, yang diminum dalam dosis tunggal. Orang yang mengonsumsi metronidazole harus menghindari alkohol selama pengobatan, sebab reaksi kimia yang ditimbulkan dapat menyebabkan mual dan muntah. Efek samping yang timbul antara lain mual, sakit kepala dan kram bagian perut. Perempuan hamil yang hendak mengonsumsi obat ini harus konsultasi dulu ke dokter.
Meski gejala trichomoniasis pada laki-laki dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa minggu, namun karena laki-laki yang terinfeksi parasit Trichomonas bisa saja tak menunjukkan gejala sehingga dia dapat menularkannya ke orang lain, untuk itu sebaiknya rajin memeriksakan diri ke dokter dan meminum obatnya secara teratur untuk mematikan parasit ini.
Sumber: CBN
Trichomoniasis alias "trich", merupakan infeksi parasit yang bisa terjadi pada laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki, tanda-tandanya muncul pada uretra (saluran yang mengalirkan urin ke luar tubuh). Pada perempuan, yang terkena adalah vagina dan serviks (leher rahim).
Pada laki-laki yang terinfeksi parasit ini tidak merasakan gejala apapun namun dapat menularkan ke pasangannya. Demikian juga sebaliknya, saat perempuan terinfeksi parasit ini, dia bisa juga tidak merasakan gejalanya. Trichomoniasis kerap terjadi bersama dengan penyakit menular seksual lainnya, seperti gonorrhea dan nongonococcal urethritis (chlamydia), khususnya pada perempuan.
Trichomoniasis di negara AS lebih tinggi terjadi pada perempuan dibanding laki-laki. Diperkirakan 5 juta kasus baru terjadi setiap tahunnya dan infeksi ini terjadi pada 10% perempuan yang datang untuk mengobati penyakit menular seksual yang dideritanya. Pada 2000, the Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan bahwa trichomoniasis biasanya dapat diobati pada perempuan muda dengan kehidupan seksual aktif.
Untuk lebih mengetahui penyebabnya, Anda perlu tahu adalah Trichomoniasis disebabkan oleh parasit yang disebut Trichomonas vaginalis, yang ditularkan khususnya melalui kontak seksual secara langsung. Penyakit ini juga dapat ditularkan melalui mutual masturbation dan berbagai sex toys (alat bantuk seks)
Gejala umumnya muncul dalam 4-20 hari setelah infeksi. Perempuan yang terinfeksi parasit Trichomonas akan mengeluarkan cairan dari vagina berwarna kuning kehijauan atau abu-abu serta berbusa dalam jumlah banyak, kadangkala disertai pendarahan dan bau tidak sedap, gatal pada vulva sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman.
Sering buang air kecil dan terasa sakit, pembengkakan vulva, rasa tidak nyaman selama berhubungan seksual dan sakit di wilayah perut. pendarahan di serviks mungkin terjadi, namun ini bukan gejala umum.
Sementara gejala pada laki-laki jarang terjadi. Namun jika pasangan mengeluhkan keluarnya cairan dari fanis berwarna putih pucat dan merasa sakit atau sulit saat buang air kecil, besar kemungkinan dia terkena trichomoniasis. Namun sekali lagi hal ini harus dipastikan dengan pemeriksaan klinis.
Trichomoniasis yang tidak ditangani tuntas dihubungkan dengan meningkatnya risiko terinfeksi HIV (virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang akan berkembang menjadi AIDS). Perempuan hamil yang terinfeksi Trichomonas berisiko melahirkan bayi prematur, berat badan lahir rendah dan infeksi hingga pelepasan plasenta. Sedangkan peradangan pada prostat (prostatitis) dan saluran kencing (cystitis) kerap dikaitkan dengan trichomoniasis pada laki-laki.
Diagnosis
Membiakkan sampel cairan vagina/penis merupakan metode yang dapat diandalkan untuk menegakkan diagnosis trichomoniasis. Diperkirakan butuh waktu 10 hari untuk mendapat hasilnya. Pada perempuan untuk menegakkan diagnosis juga perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopis cairan vagina, pap smear dan urinalysis. Leher rahim juga diperiksa jika terjadi pendarahan. Karena trichomoniasis sering terjadi bersama penyakit menular seksual lainnya, pasien perlu diperiksa untuk menentukan jenis infeksinya, apakah chlamydia, gonorrhea, syphilis, atau HIV.
Pengobatan
Sejauh ini metronidazole dikenal sebagai obat yang dapat mengobati trichomoniasis, yang diminum dalam dosis tunggal. Orang yang mengonsumsi metronidazole harus menghindari alkohol selama pengobatan, sebab reaksi kimia yang ditimbulkan dapat menyebabkan mual dan muntah. Efek samping yang timbul antara lain mual, sakit kepala dan kram bagian perut. Perempuan hamil yang hendak mengonsumsi obat ini harus konsultasi dulu ke dokter.
Meski gejala trichomoniasis pada laki-laki dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa minggu, namun karena laki-laki yang terinfeksi parasit Trichomonas bisa saja tak menunjukkan gejala sehingga dia dapat menularkannya ke orang lain, untuk itu sebaiknya rajin memeriksakan diri ke dokter dan meminum obatnya secara teratur untuk mematikan parasit ini.
Sumber: CBN
Saturday, March 10, 2007
Benarkah Kondom Bisa Cegah Penyakit?
Belum lama ini, para pakar seksologi yang memberi perhatian tentang penularan penyakit kelamin mempertanyakan penggunaan kondom. Mereka menyangsikan apakah kondom memang sanggup mencegah semua jenis kuman penyebab penyakit tersebut. Mereka tidak menganjurkannya sebagai sarana yang tepat untuk mencegah penyakit kelamin.
Telah lama diakui, kondom mungkin efektif untuk mencegah penyebaran HIV dan gonorea. Tetapi beberapa pakar menegaskan bahwa alat itu ternyata tidak sanggup menghentikan penyakit menular seksual (PMS) lainnya, seperti klamidia dan sifilis. Itulah kesimpulan yang dilaporkan baru-baru ini.
Ini jelas berbeda dari pandangan umum selama ini. Menurut berbagai data, kondom cukup ampuh untuk mencegah penyebaran PMS kalau digunakan dengan benar. Itulah sebabnya alat ini menjadi andalan utama untuk mencegah penyebaran kuman penyakit menular seksual dan kehamilan.
Perbedaan pandangan ini muncul setelah sekelompok pakar membuka-buka kembali berbagai studi tentang kondom selama ini. Ditemukan, kondom efektif mengurangi penularan HIV lewat hubungan seksual pada laki-laki maupun wanita. Juga, kondom menurunkan risiko penularan gonorea bagi pria.
Namun, pakar ini meragukan apakah kondom dapat mencegah penularan PMS lainnya, seperti klamidia, sifilis, dan human papilloma virus. Virus terakhir ini adalah penyebab kutil kelamin dan kanker serviks. Menurut mereka, belum ada data tentang kemanjuran kondom dalam menghadang PMS, selain HIV dan gonorea, sebagaimana diungkapkan dalam Journal of the American Medical Association, edisi Juli 2001 ini.
Menanggapi ini, para pakar lain tidak setuju. Mereka menegaskan bahwa ukuran HIV begitu kecil, jauh lebih kecil ketimbang bakteri dan virus penyebab PMS lainnya. Jadi, apabila kondom dapat mencegah penyebaran HIV, bagaimana mungkin alat ini tidak dapat menghentikan PMS lainnya?
Kebanyakan studi memperlihatkan bahwa kondom merupakan cara yang efektif untuk mencegah PMS. Kondom dapat mencegah penyakit yang paling berbahaya, seperti PMS, HIV, dan gonorea. Karena itu, ditegaskan bahwa kondom perlu dipromosikan penggunaannnya terus-menerus.
Telah lama diakui, kondom mungkin efektif untuk mencegah penyebaran HIV dan gonorea. Tetapi beberapa pakar menegaskan bahwa alat itu ternyata tidak sanggup menghentikan penyakit menular seksual (PMS) lainnya, seperti klamidia dan sifilis. Itulah kesimpulan yang dilaporkan baru-baru ini.
Ini jelas berbeda dari pandangan umum selama ini. Menurut berbagai data, kondom cukup ampuh untuk mencegah penyebaran PMS kalau digunakan dengan benar. Itulah sebabnya alat ini menjadi andalan utama untuk mencegah penyebaran kuman penyakit menular seksual dan kehamilan.
Perbedaan pandangan ini muncul setelah sekelompok pakar membuka-buka kembali berbagai studi tentang kondom selama ini. Ditemukan, kondom efektif mengurangi penularan HIV lewat hubungan seksual pada laki-laki maupun wanita. Juga, kondom menurunkan risiko penularan gonorea bagi pria.
Namun, pakar ini meragukan apakah kondom dapat mencegah penularan PMS lainnya, seperti klamidia, sifilis, dan human papilloma virus. Virus terakhir ini adalah penyebab kutil kelamin dan kanker serviks. Menurut mereka, belum ada data tentang kemanjuran kondom dalam menghadang PMS, selain HIV dan gonorea, sebagaimana diungkapkan dalam Journal of the American Medical Association, edisi Juli 2001 ini.
Menanggapi ini, para pakar lain tidak setuju. Mereka menegaskan bahwa ukuran HIV begitu kecil, jauh lebih kecil ketimbang bakteri dan virus penyebab PMS lainnya. Jadi, apabila kondom dapat mencegah penyebaran HIV, bagaimana mungkin alat ini tidak dapat menghentikan PMS lainnya?
Kebanyakan studi memperlihatkan bahwa kondom merupakan cara yang efektif untuk mencegah PMS. Kondom dapat mencegah penyakit yang paling berbahaya, seperti PMS, HIV, dan gonorea. Karena itu, ditegaskan bahwa kondom perlu dipromosikan penggunaannnya terus-menerus.
Sunat Bisa Cegah HIV
Sunat atau menghilangkan kulit bagian ujung penis ternyata bisa mengurangi risiko terinfeksi virus HIV. Dan kini para peneliti sudah tahu mengapa hal itu terjadi.
Menurut Carlos R. Estrada dan rekan-rekannya dari Pusat Kesehatan St. Lukes Rush-Presbyterian di Chicago, Illinois, sekitar 80% infeksi HIV biasanya muncul selama melakukan hubungan seks. Dan tempat yang paling sering dilalui infeksi HIV ini pada pria biasanya melalui penis. Nah, kalau seorang pria disunat, maka bisa mengurangi risiko infeksi dua sampai delapan kali, katanya.
Dalam penelitian yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan Asosiasi Urologi AS, para peneliti mengevaluasi 14 contoh jaringan kulit ujung penis dari anak-anak dan orang dewasa. Mereka juga memeriksa spesimen jaringan serviks wanita.
Untuk menentukan seberapa rentannya jaringan yang mungkin bisa terinfeksi HIV, mereka memperhitungkan tiga tipe sel sistem kekebalan yang dikenal bisa menyebabkan infeksi HIV dalam tiap spesimen. Ketiga sel itu adalah CD4+T, makrofages dan sel Langerhan.
Dibandingkan dengan jaringan serviks, jaringan kulit ujung penis ternyata mengandung jumlah tertinggi dari ketiga tipe sel yang menyebabkan infeksi itu. Dan ketiga sel penyebab infeksi ini justru paling banyak terdapat pada pria dewasa.
Selanjutnya, ketika peneliti mencoba menginfeksi sampel dengan HIV, mereka menemukan bahwa bagian permukaan dalam kulit ujung penis itu tujuh kali lebih rentan terhadap infeksi dibandingkan pada jaringan serviks dan bagian luar dari ujung penis tersebut.
"Selama melakukan hubungan seks, lapisan dalam di daerah tersebut menjadi trauma dan terinfeksi. Sedangkan bagian luar dari kulit ujung penis tersebut tidak bisa terinfeksi," kata Estrada.
Estrada menambahkan, pasien dewasa yang pernah menderita infeksi — entah terinfeksi penyakit karena penularan seksual atau infeksi tipe lainnya — juga memiliki proporsi yang tinggi terhadap sel-sel penyebab infeksi ini, dan mungkin lebih meningkatkan risiko terkena infeksi HIV.
Estrada dan rekan-rekannya juga mengukur jumlah reseptor HIV tertentu pada permukaan sel-sel. Hal ini mengikat vius dan membantunya untuk meningkatkan masuk ke dalam sel. Satu tipe yang paling menonjol disebut CCR5.
Para peneliti mengatakan bahwa agen yang mampu menghambat tempat pengikatan HIV yang bisa diterapkan ke penis atau vagina harus dikembangkan.
Mengingat sunat bisa melindungi diri terhadap pengaruh HIV, Estrada berharap bahwa negara-negara seperti di Afrika yang banyak terjangkiti HIV bisa menggalakkan sunat ini.
Penemuan ini diharapkan bisa membantu mengembangkan terapi baru yang bisa mencegah penyebaran virus penyebab AIDS.
Menurut Carlos R. Estrada dan rekan-rekannya dari Pusat Kesehatan St. Lukes Rush-Presbyterian di Chicago, Illinois, sekitar 80% infeksi HIV biasanya muncul selama melakukan hubungan seks. Dan tempat yang paling sering dilalui infeksi HIV ini pada pria biasanya melalui penis. Nah, kalau seorang pria disunat, maka bisa mengurangi risiko infeksi dua sampai delapan kali, katanya.
Dalam penelitian yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan Asosiasi Urologi AS, para peneliti mengevaluasi 14 contoh jaringan kulit ujung penis dari anak-anak dan orang dewasa. Mereka juga memeriksa spesimen jaringan serviks wanita.
Untuk menentukan seberapa rentannya jaringan yang mungkin bisa terinfeksi HIV, mereka memperhitungkan tiga tipe sel sistem kekebalan yang dikenal bisa menyebabkan infeksi HIV dalam tiap spesimen. Ketiga sel itu adalah CD4+T, makrofages dan sel Langerhan.
Dibandingkan dengan jaringan serviks, jaringan kulit ujung penis ternyata mengandung jumlah tertinggi dari ketiga tipe sel yang menyebabkan infeksi itu. Dan ketiga sel penyebab infeksi ini justru paling banyak terdapat pada pria dewasa.
Selanjutnya, ketika peneliti mencoba menginfeksi sampel dengan HIV, mereka menemukan bahwa bagian permukaan dalam kulit ujung penis itu tujuh kali lebih rentan terhadap infeksi dibandingkan pada jaringan serviks dan bagian luar dari ujung penis tersebut.
"Selama melakukan hubungan seks, lapisan dalam di daerah tersebut menjadi trauma dan terinfeksi. Sedangkan bagian luar dari kulit ujung penis tersebut tidak bisa terinfeksi," kata Estrada.
Estrada menambahkan, pasien dewasa yang pernah menderita infeksi — entah terinfeksi penyakit karena penularan seksual atau infeksi tipe lainnya — juga memiliki proporsi yang tinggi terhadap sel-sel penyebab infeksi ini, dan mungkin lebih meningkatkan risiko terkena infeksi HIV.
Estrada dan rekan-rekannya juga mengukur jumlah reseptor HIV tertentu pada permukaan sel-sel. Hal ini mengikat vius dan membantunya untuk meningkatkan masuk ke dalam sel. Satu tipe yang paling menonjol disebut CCR5.
Para peneliti mengatakan bahwa agen yang mampu menghambat tempat pengikatan HIV yang bisa diterapkan ke penis atau vagina harus dikembangkan.
Mengingat sunat bisa melindungi diri terhadap pengaruh HIV, Estrada berharap bahwa negara-negara seperti di Afrika yang banyak terjangkiti HIV bisa menggalakkan sunat ini.
Penemuan ini diharapkan bisa membantu mengembangkan terapi baru yang bisa mencegah penyebaran virus penyebab AIDS.
Tahu Dari Mana Seseorang Kena Sifilis?
Amit…amit deh. Jangan sampai aku ketularan sifilis. Lagian juga mana mungkin aku dapat penyakit ini kalau suamiku bukan termasuk orang yang suka jajan. Begitulah seorang wanita ketika berbincang-bincang dengan temannya mengenai penyakit yang memalukan itu.
Seperti kita ketahui bersama, penyakit sifilis merupakan salah satu penyakit menular seksual (PMS) yang banyak terjadi pada pria yang sering bergonta ganti pasangan. Penyakit ini bisa menular jika pria tersebut melakukan hubungan seksual dengan wanita lainnya. Namun tidak hanya sebatas itu, seorang ibu yang sedang hamil, yang telah tertular penyakit ini, bisa menularkannya kepada janinnya.
Kalau Anda menduga bahwa Anda menderita sifilis atau kalau Anda mempunyai pasangan yang mungkin menderitanya, Anda dan pasangan perlu mengunjungi dokter spesialis kulit dan kelamin. Kalau mereka mendiagnosa adanya sifilis, Anda akan diberikan antibiotik. Setiap orang yang menjadi partner seksual tanpa perlindungan juga harus segera diperiksa untuk mengetahui apakah mereka telah terinfeksi sifilis. Begitulah himbauan dokter menyangkut penyakit ini.
Namun demikian bagaimana sih penyakit sifilis ini sesungguhnya? Mungkin sedikit uraian berikut ini bisa membantu Anda.
Sifilis atau yang disebut dengan 'raja singa' disebabkan oleh sejenis bakteri yang bernama treponema pallidum. Bakteri yang berasal dari famili spirochaetaceae ini, memiliki ukuran yang sangat kecil dan dapat hidup hampir di seluruh bagian tubuh. Spirochaeta penyebab sifilis dapat ditularkan dari satu orang ke orang yang lain melalui hubungan genito-genital (kelamin-kelamin) maupun oro-genital (seks oral). Infeksi ini juga dapat ditularkan oleh seorang ibu kepada bayinya selama masa kehamilan. Anda tidak dapat tertular oleh sifilis dari handuk, pegangan pintu atau tempat duduk WC.
Gambaran tentang penyakit sifilis seperti yang dikemukakan tersebut mungkin masih membuat Anda penasaran, karena wanita yang tidak tahu kalau suaminya sering 'jajan' mungkin tidak menyadari kalau dirinya sudah mengidap penyakit sifilis.
Jadi uraian selanjutnya adalah mengenali gejala yang mungkin terjadi pada wanita, yang terurai dalam empat stadium berbeda.
Stadium satu
Stadium ini ditandai oleh munculnya luka yang kemerahan dan basah di daerah vagina, poros usus atau mulut. Luka ini disebut dengan chancre, dan muncul di tempat spirochaeta masuk ke tubuh seseorang untuk pertama kalinya. Pembengkakan kelenjar getah bening juga ditemukan selama stadium ini. Setelah beberapa minggu, chancre tersebut akan menghilang. Stadium ini merupakan stadium yang sangat menular.
Stadium dua
Kalau sifilis stadium satu tidak diobati, biasanya para penderita akan mengalami ruam, khususnya di telapak kaki dan tangan. Mereka juga dapat menemukan adanya luka-luka di bibir, mulut, tenggorokan, vagina dan dubur. Gejala-gejala yang mirip dengan flu, seperti demam dan pegal-pegal, mungkin juga dialami pada stadium ini. Stadium ini biasanya berlangsung selama satu sampai dua minggu.
Stadium tiga
Kalau sifilis stadium dua masih juga belum diobati, para penderitanya akan mengalami apa yang disebut dengan sifilis laten. Hal ini berarti bahwa semua gejala penyakit akan menghilang, namun penyakit tersebut sesungguhnya masih bersarang dalam tubuh, dan bakteri penyebabnya pun masih bergerak di seluruh tubuh. Sifilis laten ini dapat berlangsung hingga bertahun-tahun lamanya.
Stadium empat
Penyakit ini akhirnya dikenal sebagai sifilis tersier. Pada stadium ini, spirochaeta telah menyebar ke seluruh tubuh dan dapat merusak otak, jantung, batang otak dan tulang.
Apakah tahap-tahap stadium yang dilewati wanita sama dengan pria?
Seorang pria yang telah tertular oleh sifilis memiliki gejala-gejala yang mirip dengan apa yang dialami oleh seorang penderita wanita. Perbedaan utamanya ialah bahwa pada tahap pertama, chancre tersebut akan muncul di daerah penis. Dan pada tahap kedua, akan muncul luka-luka di daerah penis, mulut, tenggorokan dan dubur.
Orang yang telah tertular oleh spirochaeta penyebab sifilis dapat menemukan adanya chancre setelah tiga hari - tiga bulan bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh. Kalau sifilis stadium satu ini tidak diobati, tahap kedua penyakit ini dapat muncul kapan saja, mulai dari tiga sampai enam minggu setelah timbulnya chancre.
Sifilis dapat mempertinggi risiko terinfeksi HIV. Hal ini dikarenakan oleh lebih mudahnya virus HIV masuk ke dalam tubuh seseorang bila terdapat luka. Sifilis yang diderita juga akan sangat membahayakan kesehatan seseorang bila tidak diobati. Baik pada penderita pria maupun wanita, spirochaeta dapat menyebar ke seluruh tubuh dan menyebabkan rusaknya organ-organ vital yang sebagian besar tidak dapat dipulihkan. Sifilis pada ibu hamil yang tidak diobati, juga dapat menyebabkan terjadinya cacat lahir primer pada bayi yang ia kandung.
Seperti kita ketahui bersama, penyakit sifilis merupakan salah satu penyakit menular seksual (PMS) yang banyak terjadi pada pria yang sering bergonta ganti pasangan. Penyakit ini bisa menular jika pria tersebut melakukan hubungan seksual dengan wanita lainnya. Namun tidak hanya sebatas itu, seorang ibu yang sedang hamil, yang telah tertular penyakit ini, bisa menularkannya kepada janinnya.
Kalau Anda menduga bahwa Anda menderita sifilis atau kalau Anda mempunyai pasangan yang mungkin menderitanya, Anda dan pasangan perlu mengunjungi dokter spesialis kulit dan kelamin. Kalau mereka mendiagnosa adanya sifilis, Anda akan diberikan antibiotik. Setiap orang yang menjadi partner seksual tanpa perlindungan juga harus segera diperiksa untuk mengetahui apakah mereka telah terinfeksi sifilis. Begitulah himbauan dokter menyangkut penyakit ini.
Namun demikian bagaimana sih penyakit sifilis ini sesungguhnya? Mungkin sedikit uraian berikut ini bisa membantu Anda.
Sifilis atau yang disebut dengan 'raja singa' disebabkan oleh sejenis bakteri yang bernama treponema pallidum. Bakteri yang berasal dari famili spirochaetaceae ini, memiliki ukuran yang sangat kecil dan dapat hidup hampir di seluruh bagian tubuh. Spirochaeta penyebab sifilis dapat ditularkan dari satu orang ke orang yang lain melalui hubungan genito-genital (kelamin-kelamin) maupun oro-genital (seks oral). Infeksi ini juga dapat ditularkan oleh seorang ibu kepada bayinya selama masa kehamilan. Anda tidak dapat tertular oleh sifilis dari handuk, pegangan pintu atau tempat duduk WC.
Gambaran tentang penyakit sifilis seperti yang dikemukakan tersebut mungkin masih membuat Anda penasaran, karena wanita yang tidak tahu kalau suaminya sering 'jajan' mungkin tidak menyadari kalau dirinya sudah mengidap penyakit sifilis.
Jadi uraian selanjutnya adalah mengenali gejala yang mungkin terjadi pada wanita, yang terurai dalam empat stadium berbeda.
Stadium satu
Stadium ini ditandai oleh munculnya luka yang kemerahan dan basah di daerah vagina, poros usus atau mulut. Luka ini disebut dengan chancre, dan muncul di tempat spirochaeta masuk ke tubuh seseorang untuk pertama kalinya. Pembengkakan kelenjar getah bening juga ditemukan selama stadium ini. Setelah beberapa minggu, chancre tersebut akan menghilang. Stadium ini merupakan stadium yang sangat menular.
Stadium dua
Kalau sifilis stadium satu tidak diobati, biasanya para penderita akan mengalami ruam, khususnya di telapak kaki dan tangan. Mereka juga dapat menemukan adanya luka-luka di bibir, mulut, tenggorokan, vagina dan dubur. Gejala-gejala yang mirip dengan flu, seperti demam dan pegal-pegal, mungkin juga dialami pada stadium ini. Stadium ini biasanya berlangsung selama satu sampai dua minggu.
Stadium tiga
Kalau sifilis stadium dua masih juga belum diobati, para penderitanya akan mengalami apa yang disebut dengan sifilis laten. Hal ini berarti bahwa semua gejala penyakit akan menghilang, namun penyakit tersebut sesungguhnya masih bersarang dalam tubuh, dan bakteri penyebabnya pun masih bergerak di seluruh tubuh. Sifilis laten ini dapat berlangsung hingga bertahun-tahun lamanya.
Stadium empat
Penyakit ini akhirnya dikenal sebagai sifilis tersier. Pada stadium ini, spirochaeta telah menyebar ke seluruh tubuh dan dapat merusak otak, jantung, batang otak dan tulang.
Apakah tahap-tahap stadium yang dilewati wanita sama dengan pria?
Seorang pria yang telah tertular oleh sifilis memiliki gejala-gejala yang mirip dengan apa yang dialami oleh seorang penderita wanita. Perbedaan utamanya ialah bahwa pada tahap pertama, chancre tersebut akan muncul di daerah penis. Dan pada tahap kedua, akan muncul luka-luka di daerah penis, mulut, tenggorokan dan dubur.
Orang yang telah tertular oleh spirochaeta penyebab sifilis dapat menemukan adanya chancre setelah tiga hari - tiga bulan bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh. Kalau sifilis stadium satu ini tidak diobati, tahap kedua penyakit ini dapat muncul kapan saja, mulai dari tiga sampai enam minggu setelah timbulnya chancre.
Sifilis dapat mempertinggi risiko terinfeksi HIV. Hal ini dikarenakan oleh lebih mudahnya virus HIV masuk ke dalam tubuh seseorang bila terdapat luka. Sifilis yang diderita juga akan sangat membahayakan kesehatan seseorang bila tidak diobati. Baik pada penderita pria maupun wanita, spirochaeta dapat menyebar ke seluruh tubuh dan menyebabkan rusaknya organ-organ vital yang sebagian besar tidak dapat dipulihkan. Sifilis pada ibu hamil yang tidak diobati, juga dapat menyebabkan terjadinya cacat lahir primer pada bayi yang ia kandung.
Tidak Sakit Belum Tentu Berarti…
Dua dari jenis penyakit menular seksual yang paling umum, human pappilomavirus (HPV) dan chlamydia, menyebar tanpa menunjukkan gejala tertentu. Penderita HPV umumnya tidak mengetahui terkena virus tersebut setelah tiga minggu. Mereka tidak merasa sakit, padahal jika tidak diobati, virus-virus berbahaya itu dapat menyebabkan perubahan sel pada leher rahim (dan kadang-kadang pada vagina), yang pada kasus tertentu akan berujung pada kanker.
Dalam kasus chlamydia, sebagian besar penderita juga tidak menunjukkan gejala tertentu. Jika positif terinfeksi chlamydia, sebaiknya Anda dan pasangan menjalani pengobatan antibiotik selama tujuh hari. Bila tidak segera diperiksakan, virus ini bisa menyebabkan penyakit radang rongga pinggul, yaitu infeksi pada saluran reproduksi bagian atas, serta bisa menyebabkan kemandulan.
Karena itu, setiap wanita di bawah 25 tahun yang telah melakukan hubungan seks secara aktif sebaiknya melakukan tes chlamydia, setidaknya setahun sekali.
Spermicide Bisa Bikin Alergi
Jika Anda rajin memakai zat pembunuh sperma yang disebut spermicide sebagai salah satu pendukung alat kontrasepsi, hati-hati, deh. Apalagi bila vagina Anda terasa gatal, pedih, serta dipenuhi dengan bintil-bintil kemerahan. Bisa jadi Anda alergi terhadap zat tersebut.
Jika Anda menggunakan jenis foam (busa) atau suppository (kapsul yang dimasukkan ke dalam vagina), cobalah menggantinya dengan jenis krim atau gel. Untuk mencegah alergi, pilihlah kondom yang tidak dilapisi spermicide atau konsultasikan pada dokter Anda mengenai metode kontrasepsi hormonal lainnya.
Satu lagi, sebenarnya spermicide tidak dapat mencegah penularan penyakit seksual seperti HIV, chlamydia dan gonorrhea. Untuk perlindungan maksimal, gunakan saja spermicide dan kondom.
Dalam kasus chlamydia, sebagian besar penderita juga tidak menunjukkan gejala tertentu. Jika positif terinfeksi chlamydia, sebaiknya Anda dan pasangan menjalani pengobatan antibiotik selama tujuh hari. Bila tidak segera diperiksakan, virus ini bisa menyebabkan penyakit radang rongga pinggul, yaitu infeksi pada saluran reproduksi bagian atas, serta bisa menyebabkan kemandulan.
Karena itu, setiap wanita di bawah 25 tahun yang telah melakukan hubungan seks secara aktif sebaiknya melakukan tes chlamydia, setidaknya setahun sekali.
Spermicide Bisa Bikin Alergi
Jika Anda rajin memakai zat pembunuh sperma yang disebut spermicide sebagai salah satu pendukung alat kontrasepsi, hati-hati, deh. Apalagi bila vagina Anda terasa gatal, pedih, serta dipenuhi dengan bintil-bintil kemerahan. Bisa jadi Anda alergi terhadap zat tersebut.
Jika Anda menggunakan jenis foam (busa) atau suppository (kapsul yang dimasukkan ke dalam vagina), cobalah menggantinya dengan jenis krim atau gel. Untuk mencegah alergi, pilihlah kondom yang tidak dilapisi spermicide atau konsultasikan pada dokter Anda mengenai metode kontrasepsi hormonal lainnya.
Satu lagi, sebenarnya spermicide tidak dapat mencegah penularan penyakit seksual seperti HIV, chlamydia dan gonorrhea. Untuk perlindungan maksimal, gunakan saja spermicide dan kondom.
Ajak Pria Tes AIDS Pra Kencan, Amanlah Anda!
Memang, semua orang ingin memiliki pasangan yang bebas HIV/AIDS. Mau tidak mau ajaklah orang yang akan Anda kencani agar mau melakukan tes HIV/HIV. Tetapi kalau ia tidak mau, suruhlah pasangan Anda memakai alat pelindung kontrasepsi.
Memilih pasangan seks yang tes HIVnya negatif adalah salah satu cara yang paling efektif untuk melindungi diri terhadap AIDS. Tetapi ketentuan lain bisa juga secara substansial mengurangi penyebaran HIV. Demikian menurut hasil penelitian Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).
Berdasarkan data riset yang lalu dan juga model-model matematika, para peneliti menghitung risiko yang dikaitkan dengan perilaku seks berbeda dan taktik pencegahan penyakit. Mereka menemukan bahwa ketentuan yang biasa kita ketahui –termasuk penggunaan kondom atau menjalani seks jenis berisiko rendah — bisa melindungi diri sendiri terhadap risiko HIV. Tetapi usaha pencegahan kombinasi dianggap lebih baik, terutama bagi pria gay atau biseksual.
Risiko infeksi HIV tampaknya semakin rendah ketika seseorang memilih pasangan yang sudah menjalani tes HIV dan dinyatakan negatif, serta melakukan seks oral menggunakan kondom, kata Dr Beena Varghese dan rekan-rekannya dari CDC di Atlanta, Georgia.
Sebaliknya risiko HIV tinggi ketika seseorang melakukan seks anal dari seorang pasangan yang positif menderita HIV tanpa menggunakan kondom. Dalam kasus ini kemungkinan untuk tertular HIV adalah lima dalam seribu orang, demikian menurut penemuan yang termuat dalam jurnal Sexually Transmitted Diseases.
Para peneliti memberi catatan bahwa meskipun risiko ini mungkin kelihatannya rendah, tetapi jelas ini merupakan refleksi adanya risiko tiap kali seseorang melakukan perbuatan yang menyebabkan risikonya tinggi selama beberapa kali.
Seperti yang diharapkan, penggunaan kondom sendiri bisa mengurangi risiko HIV bagi pria heteroseksual dan homoseksual dan juga wanita sampai 20 kali dari keseluruhan. Untuk individu, perilaku seks yang tanpa pelindung yang dilakukan dengan seks oral mengandung risiko yang paling rendah, sedangkan seks vaginal berisiko tinggi dan bahkan seks anal berisiko lebih tinggi lagi.
Secara logika, melakukan seks dengan pasangan yang positif HIV secara substansial meningkatkan risiko seseorang terkena HIV, tetapi begitu pula jika melakukan seks dengan seseorang yang status HIVnya tidak ketahuan yang mengaku negatif terhadap HIV.
Hanya mengambil satu ukuran pencegahan saja secara signifikan memotong risiko HIV untuk pria heterokseksual dan wanita ke antara dua sampai 10 dalam 10 juta per perilaku seks, demikian menurut perkiraan peneliti.
Tetapi untuk pria gay dan biseksual, yang berhadapan dengan tingginya risiko HIV, taktik menggunakan dua perilaku seks aman mungkin perlu untuk melihat penurunan seperti itu dalam risiko memindahkan penyakit, kata peneliti.
Varghese dan rekan-rekannya menambahkan bahwa sementara penemuan mereka mungkin secara intuitif jelas adalah penting untuk mengerti perbedaan risiko HIV terkait dengan perilaku yang berbeda.
"Kami berharap orang akan menggunakan informasi ini untuk memilih kombinasi perilaku pengurangan risiko yang mereka bisa pertahankan," kata peneliti.
Memilih pasangan seks yang tes HIVnya negatif adalah salah satu cara yang paling efektif untuk melindungi diri terhadap AIDS. Tetapi ketentuan lain bisa juga secara substansial mengurangi penyebaran HIV. Demikian menurut hasil penelitian Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).
Berdasarkan data riset yang lalu dan juga model-model matematika, para peneliti menghitung risiko yang dikaitkan dengan perilaku seks berbeda dan taktik pencegahan penyakit. Mereka menemukan bahwa ketentuan yang biasa kita ketahui –termasuk penggunaan kondom atau menjalani seks jenis berisiko rendah — bisa melindungi diri sendiri terhadap risiko HIV. Tetapi usaha pencegahan kombinasi dianggap lebih baik, terutama bagi pria gay atau biseksual.
Risiko infeksi HIV tampaknya semakin rendah ketika seseorang memilih pasangan yang sudah menjalani tes HIV dan dinyatakan negatif, serta melakukan seks oral menggunakan kondom, kata Dr Beena Varghese dan rekan-rekannya dari CDC di Atlanta, Georgia.
Sebaliknya risiko HIV tinggi ketika seseorang melakukan seks anal dari seorang pasangan yang positif menderita HIV tanpa menggunakan kondom. Dalam kasus ini kemungkinan untuk tertular HIV adalah lima dalam seribu orang, demikian menurut penemuan yang termuat dalam jurnal Sexually Transmitted Diseases.
Para peneliti memberi catatan bahwa meskipun risiko ini mungkin kelihatannya rendah, tetapi jelas ini merupakan refleksi adanya risiko tiap kali seseorang melakukan perbuatan yang menyebabkan risikonya tinggi selama beberapa kali.
Seperti yang diharapkan, penggunaan kondom sendiri bisa mengurangi risiko HIV bagi pria heteroseksual dan homoseksual dan juga wanita sampai 20 kali dari keseluruhan. Untuk individu, perilaku seks yang tanpa pelindung yang dilakukan dengan seks oral mengandung risiko yang paling rendah, sedangkan seks vaginal berisiko tinggi dan bahkan seks anal berisiko lebih tinggi lagi.
Secara logika, melakukan seks dengan pasangan yang positif HIV secara substansial meningkatkan risiko seseorang terkena HIV, tetapi begitu pula jika melakukan seks dengan seseorang yang status HIVnya tidak ketahuan yang mengaku negatif terhadap HIV.
Hanya mengambil satu ukuran pencegahan saja secara signifikan memotong risiko HIV untuk pria heterokseksual dan wanita ke antara dua sampai 10 dalam 10 juta per perilaku seks, demikian menurut perkiraan peneliti.
Tetapi untuk pria gay dan biseksual, yang berhadapan dengan tingginya risiko HIV, taktik menggunakan dua perilaku seks aman mungkin perlu untuk melihat penurunan seperti itu dalam risiko memindahkan penyakit, kata peneliti.
Varghese dan rekan-rekannya menambahkan bahwa sementara penemuan mereka mungkin secara intuitif jelas adalah penting untuk mengerti perbedaan risiko HIV terkait dengan perilaku yang berbeda.
"Kami berharap orang akan menggunakan informasi ini untuk memilih kombinasi perilaku pengurangan risiko yang mereka bisa pertahankan," kata peneliti.
PMS Kenali Untuk Di Hindari
Sesuai dengan sebutannya, "Penyakit Menular Seksual" (PMS), adalah penyakit-penyakit yang umumnya dapat ditularkan melalui berbagai kontak/cara hubungan seksual, macamnya juga sangat banyak, beberapa diantaranya ada yang menyebabkan mandul (infertilitas), cacat, bahkan kematian, bila tidak segera mendapat perawatan/pengobatan yang baik dan benar.
Sebelumnya PMS lebih dikenal dengan sebutan penyakit kelamin. hal ini bisa dimaklumi karena penyakit tersebut umumnya memang timbul disekitar kelamin yang terjadi akibat adanya hubungan seksual. Adapun penyebab PMS, sedikitnya juga terdiri dari lima macam 'kuman' yaitu: Bakteri, virus, protozoa, jamur dan parasit. Kuman-kuman tersebut berpindah dari tubuh atau darah orang yang telah terinfeksi, kepada yang masih sehat dan biasanya memang terjadi melalui hubungan seksual.
Saat ini penyebaran PMS semakin memprihatinkan lalu, siapakah sebenarnya yang pertama kali menularkan penyakit kelamin? pria atau wanita?. Tidak ada yang dapat memastikannya. Mirip dengan pertanyaan: Mana yang lebih dahulu, ayam atau telur?. PMS tidak terbatas hanya akan terjadi/menyerang kepada orang dewasa, atau remaja tetapi juga kepada anak-anak. PMS dapat pula menular kepada janin yang sedang dikandung oleh ibu yang terinfeksi/mengindap PMS. Juga melalui jarum suntik yang tidak steril, dan akibat transfusi darah yang juga tidak steril, telah tercemar kuman/virus. Sama pula halnya dengan penyakit Hepatitis B, yang sesungguhnya bukan penyakit kelamin, tetapi dapat ditularkan lewat hubungan seksual, jarum suntik, dan juga akibat transfusi darah.
Dibawah ini kami coba sajikan beberapa jenis PMS untuk dapat dikenali dan dihindarkan antara lain:
SIFILIS
Sifilis adalah suatu penyakit kelamin yang disebabkan oleh kuman treponema palidum, bentuknya sangat kecil dan berpilin-pilin. Kuman atau bakteri tersebut umumnya hidup di mukosa (saluran) genetalia, rektum, dan mulut yang hangat dan basah. Sifilis tidak ditularkan tanpa hubungan seksual, apalagi melalui benda mati seperti misalnya bangku, tempat duduk toilet, handuk, gelas, atau benda-benda lain yang bekas digunakan/dipakai oleh pengindap. Namun demikian, selain penularanan sifilis melalui hubungan seksual, sifilis masih dapat menular melalui alat suntik atau transfusi darah yang mengandung kuman tersebut.
GONORE
Gonore, adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh kuman kecil berbentuk diplokokus, yaitu seperti biji kopi yang terbelah, dan disebut gonokokus, atau juga oleh sejenis virus yang disebut klamidia trakomatis. Terutama yang diakibatkan oleh mikro-organisme yang dikenal dengan nama neisseria gonorrhoeae.
Penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual, namun demikian penularan penyakit ini dapat juga diakibatkan karena "sentuhan tangan, pakaian, atau barang-barang yang telah digunakan penderita/orang yang mengindap penyakit gonore.
Ciri-ciri orang yang terkena gonore adalah: bila pria, ia akan merasa 'panas' ketika buang air kecil (kencing), dan bila diamati, ternyata setelah mengeluarkan air seni, dari ujung alat kelaminnya akan terlihat adanya nanah yang ikut terbawa keluar. Pada wanita gonore umumnya tidak menimbulkan rasa panas atau sakit, terkecuali jika ia terjangkit penyakit keputihan dengan gelaja keluarnya semacam lendir atau cairan kuning kehijau-hijauan (semacam nanah), dalam jumlah yang cukup banyak. Selain menimbulkan rasa panas dan bernanah, gonore juga menyebabkan merah dan bengkak pada ujung alat kelamin kaum pria, juga diseliling vagina (liang senggama) kaum wanita.
KLAMIDIA
Klamidia adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh virus chlamydia trachomatis (klamidia trakomatis). Klamidia, sering menyebabkan apa yang dinamakan uretritis non spesifik yakni radang saluran kemih yang tidak spesifik, yang dikenal merupakan salah satu infeksi/penyakit, akibat dari hubungan seksual yang terjadi pada pria. Sedangkan pada wanita klamidia lebih sering menyebabkan cervicitis (serviksitis), yaitu infeksi leher rahim, dan penyakit peradangan pelvis (pinggul/panggul), bahkan menyebabkan infertilitas.
HERPES
Herpes sebenarnya hanyalah suatu penyakit bersifat gangguan temporer (sementara) dan umumnya dapat dicegah oleh setiap orang. Sebagai salah satu penyakit kelamin penularan herpes melalui oral dan kelamin. virus herpes terdiri dari 2 jenis yakni herpes simpleks tipe 1 dan herpes simplek tipe 2. Herpes simplek tipe 1, umumnya menginfeksi didalam dan disekitar mulut, sedangkan herpes simplek tipe 2, biasanya pada genital (alat kelamin), hingga disebut pula herpes genitalis. Gejala penyakit herpes mirif dengan flu yakni dengan gejala pertama suhu badan akan meningkat, sakit pada kerongkongan, pening, kelelahan dan sebagainya yang umum pula terjadi pada orang demam. Gejala-gejala yang mengikuti herpes pada tahap pertama itulah, yang biasanya sering mendatangkan derita yang berat, karena sistim imun pada diri penderita atau orang yang terinfeksinya, umumnya memang tidak siap untuk memerangi infeksi yang timbul. Pada tahap kedua akan muncul lepuhan-lepuhan kecil yang berderet-deret pada permukaan kulit, yang disertai rasa panas dan gatal, yang terkadang sangat menyiksa, tidak tertahankan untuk tidak menggaruknya. Herpes akan lebih cepat muncul apabila kulit sedang iritasi (luka-luka atau lecet), seperti halnya hubungan seks dapat pula menyebabkan timbulnya hespes kelamin, bila terdapat luka/lecet pada organ genetalia (alat kelamin pria atau wanita).
Bagaimana menghindarinya?
Untuk menghindari Penyakit Menular Seks seksual, yang paling mudah adalah tidak melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang telah terinfeksi PMS. Namun hal ini tentunya tidak mudah dilakukan. Dibawah ini kami mencoba menyampai upaya pencegahan antara lain sebagai berikut:
§ selalu menjaga higienis ( kebersihan/kesehatan) organ genetalia (atau alat kelamin pria dan wanita secara teratur.
§ Setia kepada pasangannya, dengan tidak berganti-ganti pasangan.
§ Jangan lupa menggunakan kondom, bila pasangan kita sudah terinfeksi PMS
§ Mintalah jarum suntik baru setiap kali menerima pelayanan medis yang menggunakan jarum suntik.
Masih banyak penyakit menular seksual, seperti yang sedang menjadi perhatian kita semua seperti HIV/AIDS.
Sumber: Henry Kusnandar “Mengenal PMS”
Sebelumnya PMS lebih dikenal dengan sebutan penyakit kelamin. hal ini bisa dimaklumi karena penyakit tersebut umumnya memang timbul disekitar kelamin yang terjadi akibat adanya hubungan seksual. Adapun penyebab PMS, sedikitnya juga terdiri dari lima macam 'kuman' yaitu: Bakteri, virus, protozoa, jamur dan parasit. Kuman-kuman tersebut berpindah dari tubuh atau darah orang yang telah terinfeksi, kepada yang masih sehat dan biasanya memang terjadi melalui hubungan seksual.
Saat ini penyebaran PMS semakin memprihatinkan lalu, siapakah sebenarnya yang pertama kali menularkan penyakit kelamin? pria atau wanita?. Tidak ada yang dapat memastikannya. Mirip dengan pertanyaan: Mana yang lebih dahulu, ayam atau telur?. PMS tidak terbatas hanya akan terjadi/menyerang kepada orang dewasa, atau remaja tetapi juga kepada anak-anak. PMS dapat pula menular kepada janin yang sedang dikandung oleh ibu yang terinfeksi/mengindap PMS. Juga melalui jarum suntik yang tidak steril, dan akibat transfusi darah yang juga tidak steril, telah tercemar kuman/virus. Sama pula halnya dengan penyakit Hepatitis B, yang sesungguhnya bukan penyakit kelamin, tetapi dapat ditularkan lewat hubungan seksual, jarum suntik, dan juga akibat transfusi darah.
Dibawah ini kami coba sajikan beberapa jenis PMS untuk dapat dikenali dan dihindarkan antara lain:
SIFILIS
Sifilis adalah suatu penyakit kelamin yang disebabkan oleh kuman treponema palidum, bentuknya sangat kecil dan berpilin-pilin. Kuman atau bakteri tersebut umumnya hidup di mukosa (saluran) genetalia, rektum, dan mulut yang hangat dan basah. Sifilis tidak ditularkan tanpa hubungan seksual, apalagi melalui benda mati seperti misalnya bangku, tempat duduk toilet, handuk, gelas, atau benda-benda lain yang bekas digunakan/dipakai oleh pengindap. Namun demikian, selain penularanan sifilis melalui hubungan seksual, sifilis masih dapat menular melalui alat suntik atau transfusi darah yang mengandung kuman tersebut.
GONORE
Gonore, adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh kuman kecil berbentuk diplokokus, yaitu seperti biji kopi yang terbelah, dan disebut gonokokus, atau juga oleh sejenis virus yang disebut klamidia trakomatis. Terutama yang diakibatkan oleh mikro-organisme yang dikenal dengan nama neisseria gonorrhoeae.
Penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual, namun demikian penularan penyakit ini dapat juga diakibatkan karena "sentuhan tangan, pakaian, atau barang-barang yang telah digunakan penderita/orang yang mengindap penyakit gonore.
Ciri-ciri orang yang terkena gonore adalah: bila pria, ia akan merasa 'panas' ketika buang air kecil (kencing), dan bila diamati, ternyata setelah mengeluarkan air seni, dari ujung alat kelaminnya akan terlihat adanya nanah yang ikut terbawa keluar. Pada wanita gonore umumnya tidak menimbulkan rasa panas atau sakit, terkecuali jika ia terjangkit penyakit keputihan dengan gelaja keluarnya semacam lendir atau cairan kuning kehijau-hijauan (semacam nanah), dalam jumlah yang cukup banyak. Selain menimbulkan rasa panas dan bernanah, gonore juga menyebabkan merah dan bengkak pada ujung alat kelamin kaum pria, juga diseliling vagina (liang senggama) kaum wanita.
KLAMIDIA
Klamidia adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh virus chlamydia trachomatis (klamidia trakomatis). Klamidia, sering menyebabkan apa yang dinamakan uretritis non spesifik yakni radang saluran kemih yang tidak spesifik, yang dikenal merupakan salah satu infeksi/penyakit, akibat dari hubungan seksual yang terjadi pada pria. Sedangkan pada wanita klamidia lebih sering menyebabkan cervicitis (serviksitis), yaitu infeksi leher rahim, dan penyakit peradangan pelvis (pinggul/panggul), bahkan menyebabkan infertilitas.
HERPES
Herpes sebenarnya hanyalah suatu penyakit bersifat gangguan temporer (sementara) dan umumnya dapat dicegah oleh setiap orang. Sebagai salah satu penyakit kelamin penularan herpes melalui oral dan kelamin. virus herpes terdiri dari 2 jenis yakni herpes simpleks tipe 1 dan herpes simplek tipe 2. Herpes simplek tipe 1, umumnya menginfeksi didalam dan disekitar mulut, sedangkan herpes simplek tipe 2, biasanya pada genital (alat kelamin), hingga disebut pula herpes genitalis. Gejala penyakit herpes mirif dengan flu yakni dengan gejala pertama suhu badan akan meningkat, sakit pada kerongkongan, pening, kelelahan dan sebagainya yang umum pula terjadi pada orang demam. Gejala-gejala yang mengikuti herpes pada tahap pertama itulah, yang biasanya sering mendatangkan derita yang berat, karena sistim imun pada diri penderita atau orang yang terinfeksinya, umumnya memang tidak siap untuk memerangi infeksi yang timbul. Pada tahap kedua akan muncul lepuhan-lepuhan kecil yang berderet-deret pada permukaan kulit, yang disertai rasa panas dan gatal, yang terkadang sangat menyiksa, tidak tertahankan untuk tidak menggaruknya. Herpes akan lebih cepat muncul apabila kulit sedang iritasi (luka-luka atau lecet), seperti halnya hubungan seks dapat pula menyebabkan timbulnya hespes kelamin, bila terdapat luka/lecet pada organ genetalia (alat kelamin pria atau wanita).
Bagaimana menghindarinya?
Untuk menghindari Penyakit Menular Seks seksual, yang paling mudah adalah tidak melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang telah terinfeksi PMS. Namun hal ini tentunya tidak mudah dilakukan. Dibawah ini kami mencoba menyampai upaya pencegahan antara lain sebagai berikut:
§ selalu menjaga higienis ( kebersihan/kesehatan) organ genetalia (atau alat kelamin pria dan wanita secara teratur.
§ Setia kepada pasangannya, dengan tidak berganti-ganti pasangan.
§ Jangan lupa menggunakan kondom, bila pasangan kita sudah terinfeksi PMS
§ Mintalah jarum suntik baru setiap kali menerima pelayanan medis yang menggunakan jarum suntik.
Masih banyak penyakit menular seksual, seperti yang sedang menjadi perhatian kita semua seperti HIV/AIDS.
Sumber: Henry Kusnandar “Mengenal PMS”
Subscribe to:
Posts (Atom)