Warning !!

Peringatan!! Banyak mengandung artikel atau informasi untuk khusus DEWASA.
Informasi yang ada di sini bukan sebagai pengganti anjuran dan terapi yang diberikan oleh dokter atau ahli bidang bersangkutan, namun diharapkan dapat menambah pengetahuan Anda. Sebaiknya Anda tetap mengkonsultasikan masalah Anda dengan dokter keluarga Anda atau ahli bidang bersangkutan.

Bila Anda ingin berbagi artikel/ info yang menarik dan sesuai dengan topik blog ini, silahkan berbagi dengan join dan posting ke info_pria@yahoogroups.com.
Semua sumber/ penulis dari pada artikel/ tulisan/ informasi yang dimuat sudah kami usahakan untuk dicantumkan. Bila ada kesalahan harap hubungi kami pada (info_pria-owner[at]yahoogroups[dot]com). Terima kasih.

LEBIH LENGKAP!! Dapatkan DVD Info-Pria, yang berisikan e-book, kumpulan artikel, software dan lainnya. Lebih rinci klik disini.

Showing posts with label remaja. Show all posts
Showing posts with label remaja. Show all posts

Thursday, April 12, 2007

Orangtua Ceroboh, Banyak Anak Lakukan Adegan Porno

Semakin banyak kasus-kasus adegan porno yang dilakukan oleh anak-anak disebabkan karena kecerobohan orangtua.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur, Sri Sanituti Hariadi, SH, MS mengemukakan hal itu melihat gejala meningkatnya adegan porno yang dilakukan oleh anak-anak.

"Kalau orangtua mempunyai gambar-gambar purno, seharusnya disimpan rapat-rapat. Kalau menyimpannya dengan ceroboh kemudian diketahui anaknya, maka si anak akan cenderung meniru-niru dari apa yang dilihatnya itu," katanya, seperti dikutip dari Antara baru-baru ini. vIa memberi contoh kasus yang dilakukan dua siswa TK berlainan jenis (Jaka dan Sari, keduanya nama samaran) yang berusia enam tahun di Desa Cempakalima, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jatim, pertengahan Mei lalu. Kedua siswa itu melakukan adegan porno setelah menonton VCD porno milik orangtuanya.

Menurut dosen Antropologi Fisip Universitas Airlangga (Unair) itu, sesuai dengan tahap perkembangannya, seorang akan cenderung meniru apa yang disaksikan atau dilakukan oleh orang lain. Karena itu hendaknya para orangtua harus memberikan contoh yang baik terhadap anak-anaknya.

Sanituti menjelaskan, peristiwa yang dialami Jaka dan Sari itu untuk saat ini kemungkinan tidak akan terlalu menimbulkan masalah bagi dirinya, namun demikian hal itu akan menimbulkan rasa trauma ketika keduanya sudah menginjak remaja atau dewasa.

"Karena itu anak-anak ini harus ditangani secara profesional oleh seorang psikolog. Untuk yang laki-laki harus diberi pengertian secara pelan-pelan bahwa perbuatan itu tidak sopan dan tidak baik, sedangkan untuk Sari juga harus hati-hati. Ia tidak diboleh diperlakukan dengan kasar," katanya.

Selain itu, katanya, kedua bocah tersebut harus dilakukan pendampingan yang terus-menerus, baik oleh orangtua maupun psikolog yang menanganinya.

Ia juga meminta aparat kepolisian agar betul-betul mengawasi secara ketat peredaran VCD maupun gambar-gambar porno yang kini banyak beredar di tengah masyarakat. Kalau peradaran gambar porno itu tetap dibiarkan, maka hal itu justru akan menjerumuskan moral anak-anak.

Bimbingan Pribadi Turunkan Perilaku Seks Remaja

Sebagian orang tua mungkin merasa putus asa karena bimbingan dan anjuran yang mereka berikan kepada anaknya untuk melakukan hubungan seks yang aman sama sekali tidak membawa hasil. Agaknya, perubahan cara penyampaian pesan dapat membawa hasil dan menurunkan perilaku seks yang berisiko tersebut. Hal ini terungkap dari sebuah studi baru-baru ini.

Studi tersebut dilakukan terhadap 123 remaja putri di Amerika yang sedang menjalani pengobatan penyakit menular seksual (PMS). Menurut temuan para peneliti ini, remaja yang memperoleh bimbingan pribadi tentang perilaku seks yang aman ternyata makin sering menggunakan kondom ketika berhubungan. Selain itu, dibanding wanita usia muda yang mendapat “pendidikan standar”, kelompok yang memperoleh konseling pribadi ini mempunyai jumlah pasangan yang lebih sedikit. Juga, risiko mereka terkena PMS lainnya ternyata menurun. Semua hasil ini diperoleh setahun setelah mengikuti program tersebut.

Riset ini dilakukan sekelompok peneliti dari Fakultas Kedokteran Harvard di Boston, Amerika Serikat, dan hasilnya dimuat dalam Archives of Pediatric and Adolescent Medicine edisi Januari 2001 lalu. Menurut peneliti tersebut, harapan yang ingin dicapai dari studi ini ialah agar realitas PMS yang diderita kelompok ini dapat mendorong mereka mengubah perilaku berisiko tersebut.

Peneliti ini memberi kesempatan kepada remaja tersebut untuk mengubah bentuk bimbingan yang ditawarkan. Mereka dibiarkan memilih topik yang mereka anggap paling penting dan relevan bagi dirinya. Pemikiran dan perilaku masing-masing orang dipertimbangkan karena hal itu akan sangat mempengaruhi apa yang akan dia dengar dan sanggup dia terapkan dari bimbingan tersebut.

Usia remaja yang dilibatkan dalam studi ini berkisar antara 13 dan 22 tahun dan terdiri dari ras yang berbeda. Semua mengikuti empat kali pertemuan pribadi yang telah ditentukan dalam kurun waktu setahun. Dari pertemuan ini ditemukan bahwa perilaku seks yang berisiko turun tajam di kalangan remaja yang ikut program tersebut. Misalnya, mereka makin sering menggunakan kondom setiap kali berhubungan seks dibanding remaja lain pada umumnya.

Peneliti ini pun menganjurkan agar para orang tua memanfaatkan bentuk bimbingan semacam ini ketika bicara dengan anak-anaknya tentang hubungan seks yang aman. Menurutnya, orang tua perlu mengubah taktiknya untuk menyampaikan pesan-pesannya. Selain itu, orang tua juga perlu mengenali ‘pesaing’nya ? yaitu teman-teman, citra media, dan model-model peran yang ditiru anak-anaknya. Singkatnya, katanya, orang tua perlu membuka mata dan melakukan pembicaraan terbuka dengan anaknya.

Apa Susahnya Pacaran Tanpa Seks?

Kehamilan yang tidak diinginkan, AIDS, penyakit kelamin, dan seabreg masalah lainnya memang bisa timbul dari hubungan seks pra-nikah. Herannya, masalah kayak gini ini tetap saja sering dialami para remaja yang sedang 'semangat-semangat'nya berpacaran. Memangnya, susah ya pacaran nggak pakai 'acara' itu?

Banyak faktor pendorong terjadinya seks pra-nikah. Perasaan cinta yang terlalu dalam, pengikat hubungan dan rencana pernikahan dalam waktu dekat, bisa menjadi alasan. Termasuk pula pengaruh kebudayaan dan informasi global. Mungkin untuk mereka yang sudah kecemplung melakukannya, ada kiat-kiat untuk menghindari bahaya-bahaya seperti di atas. Namun, untuk mereka yang belum, sangat perlu buat melengkapi diri dengan 'jurus-jurus' jitu.

Definisi De Guzman& Diaz(1999) menyebutkan bahwa, pacaran adalah wujud kedekatan dua orang yang jatuh cinta, yang juga melibatkan hubungan seksual. Dan, ini wajar adanya. Tapi, kalau tanpa komitmen, hal ini malah bisa menjadi bumerang yang lebih dari sekadar merepotkan. Lebih dari itu, seks pra-nikah membutuhkan kesiapan, mental, material, dan fisik.

Menurut penelitian dari PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), seperti yang dituliskan Laily Hanifah (Benarkah Pacaran Faktor Utama Hubungan Seksual Pra Nikah Remaja?) dalam Jurnal Jender dan Kesehatan edisi Maret 2001, hubungan intim semasa pacaran lebih disebabkan keinginan pihak pria.

Nah, si pria yang diasumsikan secara general lebih aktif, dominan dan banyak maunya, mendorong si wanita dengan berbagai usaha untuk setuju ber'intim'-ria. Gayung pun bersambut, wanita dengan segala kepasrahannya akhirnya tersudut untuk 'membuktikan' cintanya cintanya dengan menyerahkan 'tahta'nya. Tampaknya memang jender sekali, tapi begitulah hasil penelitian itu menyebutkan.

Berani bilang 'tidak'

Lebih jauh, pacaran sebenarnya adalah tahap penjajakan yang belum tentu berakhir dengan pernikahan. Dalam fase tersebut, tidak menyertakan ke'intiman' dengan alasan moral ataupun risiko kesehatan adalah salah satu tanda sehatnya hubungan pacaran.

Untuk mengantisipasinya, komitmen adalah hal yang utama. Kalau dari awal jadian pasangan tersebut menyetujui tidak akan neko-neko dan 'macem-macem', salah satu pihak bisa komplain kalau di kemudian hari ada yang melanggar 'aturan main'.

Dari hasil penelitian, ternyata jurus bilang 'tidak' dengan alasan 'itu dosa' cukup ampuh. Soalnya, bilang takut hamil kan sudah ada kondom. Bilang takut terkena penyakit, kan sudah ada kondom, dan sebagainya. Biasanya, pria bakal berpikir dua-tiga kali untuk mengajak pasangannya berasyik-masyukkalau diingatkan akan dosa.

Memang, sebenarnya masih banyak yang bisa digali dan dipertanyakan mengenai keabsahan penelitian tersebut. Namun, untuk satu hal kita sepakat bahwa ke'intiman' dalam pacaran haruslah dibatasi untuk mencegah hal yang tidak diingini.

Tapi, kalau memang sudah merasa 'terlanjur', berhati-hatilah dalam melakukannya. Mau yang terbaik? Kawin aja, deh! Banyak orang bilang ternyata yang halal jauh lebih enak dari yang haram.

Seks Pra Nikah Turun Karena Remaja Putri Lebih Memilih

Perubahan tahun nampaknya mempengaruhi tingkat hubungan seksual pra nikah yang sebelumnya banyak terjadi. Ini menurut data di AS sana loh! Katanya, karena remaja putri sekarang lebih memilih melakukan hubungan seksual dengan orang yang mempunyai hubungan romantis, maka remaja putra banyak yang tidak melakukan hubungan seks ketika usia mereka antara 15 sampai 17 tahun. Kalau selama ini ada anggapan bahwa semua mahluk hidup melakukan hubungan seks, entah itu burung atau lebah. Tetapi tidak semua remaja melakukan hal itu sekarang ini.

Ternyata jumlah remaja, terutama pria, yang melakukan hubungan seks pra nikah turun sebagai akibat dari semakin sadarnya remaja perempuan tentang arti sebuah hubungan cinta.

Jumlah remaja pria berusia 15 sampai 17 tahun yang melakukan hubungan seks dalam 10 tahun terakhir ini turun sampai 8,5%. Ini menunjukkan bahwa para remaja semakin bertanggung jawab terhadap masalah hubungan seks ini. Terbukti dengan menurunnya angka kehamilan, aborsi dan penyakit menular seksual di kalangan mereka.

Tetapi itu baru penelitian yang dilakukan seorang sosiolog AS. Bagaimana dengan kondisi di negeri sendiri, nampaknya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

Hasil penelitian ini datang dari Barbara Risman dari Universitas Negeri Carolina Utara dan Pepper Schwarz dari Universitas Washington, yang terbit di jurnal Context, sebuah penerbitan yang dikeluarkan oleh Asosiasi Sosiologi AS.

Analisa penelitian ini datang dari survei Perilaku Berisiko Remaja dari Pusat Pengawas Penyakit (CDC) terhadap lebih dari 10 ribu pelajar SMU, dan juga data dari sumber-sumber lainnya.

Analisa data CDC oleh Risman dan Schwartz menunjukkan bahwa jumlah remaja berusia 15 sampai 17 tahun yang melakukan hubungan seks turun dari 54,1% di 1991 ke 48,4% di tahun 1997.

Data lainnya menunjukkan turunnya angka kehamilan remaja hingga 14%. Ini merupakan angka terendah sejak 1975. Dan angka aborsi remaja turun 31% antara tahun 1986 dan 1996.

Menurut hasil penelitian ini, menurunnya angka ini bukan karena sekarang remaja lebih konservatif atau pun mengikuti nilai-nilai seperti yang diajarkan di tahun 1950-an, tetapi permasalahannya lebih kompleks lagi, yaitu masalah gender.

Mereka menemukan bahwa secara kesuluruhan angka aktivitas seksual di kalangan remaja turun 5,7% kebanyakkan disebabkan karena menurunkan remaja pria yang melakukan hubungan seks ketika berusia 15 sampai 17 tahun. Angka remaja putri yang aktif melakukan hubungan seks lebih rendah pada periode yang sama yaitu dari tahun 1991-1997 sebanyak 50,8% menjadi 47,7%.

Yang berubah di tahun 1990an yang terkait dengan hubungan seks di kalangan remaja SMU adalah adanya norma budaya di kalangan para gadis remaja dalam urusan seks. Remaja putri sekarang menilai aktivitas seks merupakan suatu yang pribadi, bukan untuk diumbar, yaitu benar-benar hubungan romantis. Karena itulah anak laki-laki lebih sering mulai melakukan hubungan seksual yang pertama kalinya dengan pacarnya.

Ini kontras dengan ketika terjadi revolusi seksual pra nikah yaitu ketika remaja pria sering melakukan hubungan seks dengan remaja yang disebut 'abg nakal' atau 'perek' yang berada di luar lingkaran sosial mereka.

"Ini bukan berarti anak perempuan sekarang tidak melakukan hubungan seks, tetapi mereka berpikir untuk melakukannya dengan pacarnya," kata Schwartz. Tetapi masalahnya, definisi pacar itu sekarang sudah berubah, dan ini sering membuat orang tua kesal. Soalnya hubungan pacaran bisa hanya dilakukan setiap bulan, dan ganti pacar lagi. Jadi bukan pada pacaran yang serius yang bisa berlangsung sampai dua tahunan, katanya menambahkan.

Mengapa Remaja Amerika Lakukan Hubungan Seks Dini?

Sebuah studi baru mengungkap alasan dibalik hubungan seks dini para remaja di Amerika. Para remaja yang sedang berpacaran atau mengira rekan-rekan sebayanya sering melakukan hubungan seks lebih cenderung melakukan hubungan seks dini saat mereka duduk di sekolah menengah.

Menurut Drs. Rick S. Zimmerman dan Katharine Attwood dari University of Kentucky Louisville, para remaja yang mengkonsumsi alkohol juga lebih cenderung melakukan hubungan seks pada tahun-tahun awal di sekolah menengah.

Di antara remaja yang sudah berpacaran, 47% melakukan hubungan seks sejak kelas III SMP. Hanya 23% dari mereka yang tidak berpacaran melakukan hubungan seks. Hal ini disampaikan oleh para peneliti dalam pertemuan American Public Health Association di Boston, Massachusetts, A.S., belum lama ini.

Temuan ini didasarkan pada sebuah studi yang dilakukan selama 4 tahun dan melibatkan 950 siswa III SMP di 17 sekolah menengah di Ohio dan Kentucky. Para siswa diminta menjawab kuesioner setiap tahunnya hingga mereka duduk di kelas II SMU.

“Kami rasa cara terbaik untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan mengerti bahwa ada dua kelompok siswa. Kelompok pertama ialah mereka yang memulai seks dini, dan yang kedua ialah mereka yang memilih untuk menunggu hingga dewasa,” kata Attwood.

“Anda harus mengatakan kepada para remaja bahwa, meskipun mereka mengira semua rekan sebayanya telah melakukan hubungan seks, kenyataannya tidaklah seperti itu. Hanya 25 hingga 30 persen dari rekan sebayanya melakukan hubungan seks saat kelas III SMP,” jelas Attwood.

Para siswa yang menunda seks sampai mereka dewasa cenderung mendapat nilai Indeks Prestasi Kumulatif yang lebih tinggi atau terlibat dalam kelompok-kelompok keagamaan.

Bagaimana dengan kondisi di negara kita? Mungkin kita dapat mengambil manfaat dari informasi tersebut.

Thursday, March 29, 2007

Remaja Ragukan Seks Oral Sebagai Aktivitas Seks

Kini, kelihatannya ada kecenderungan berubahnya persepsi tentang seks di kalangan anak muda. Tindakan yang sebenarnya tergolong dalam kegiatan seks bukan lagi dianggap sebagai kegiatan seks. Khususnya ini berlaku untuk seks oral. Mereka malah meragukan apakah seks oral dapat dianggap sebagai kegiatan seks.

Setidaknya, itulah yang diyakini sebagian remaja, bahkan orang-orang dewasa yang usianya masih muda. Buktinya, misalnya, terlihat di kalangan remaja Amerika Serikat. Menurut survei, sebanyak 60% penduduk yang usianya masih muda tidak menganggap seks oral sebagai kegiatan seks.

Ini tentu saja merupakan kesalahan persepsi. Namun, menurut pakar, ada sesuatu yang lebih berbahaya dari itu. Remaja mungkin beranggapan bahwa, dengan melakukan seks oral, mereka tidak akan tertular penyakit seksual.

Bisa saja mereka sudah tahu bahwa PMS (penyakit menular seksual) dapat diperoleh melalui senggama. Namun, mereka tidak sadar penyakit yang sama juga dapat ditularkan melalui seks oral. Menurut Bruce Ambuel, nyatanya seks oral bisa menjadi cara HIV pindah ke pasangan seseorang. Bukan hanya itu, herpes, gonorea, sifilis pun dapat ditularkan lewat tindakan ini.

Dosen Medical College of Wisconsin dari Milwaukee, Amerika Serikat, ini mengatakan bahwa statistik tentang seks oral di antara remaja memang jarang. Tetapi, dapat dipastikan bahwa telah banyak siswa sekolah menengah aktif melakukan seks. Artinya, mereka telah melakukan hubungan senggama.

Menurut survei nasional Lembaga Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC ? Centers for Disease Control and Prevention), sekitar 33% anak perempuan dan 45% anak laki-laki SLTP telah melakukan senggama setidaknya sekali. Bahkan setelah memasuki kelas tiga SMU, angka ini meningkat menjadi 65% untuk anak perempuan dan 64% untuk anak laki-laki.

Apabila perilaku seks remaja sudah sedalam ini, bukan mustahil lagi kalau mereka juga telah melakukan seks oral. Bahkan, menurut Ambuel, seks oral merupakan hal umum di kalangan remaja yang pernah melakukan senggama.

Tentang hal ini, beberapa pakar psikologi dan psikiatri malah memberi tanggapan yang berbeda. Menurut mereka, eksperimen seks merupakan bagian dari perkembangan anak. Karena itu, mestinya tidak perlu dicemaskan kalau remaja melakukan seks oral atau masturbasi. Yang perlu perhatikan ialah langkah penyadaran tentang risiko yang ada dalam seks oral.

Dikatakan, anak-anak yang telah berusia tujuh belas tahun sudah sepantasnya mempelajari beberapa kegiatan seks, kecuali senggama. Kalau aspek psikologisnya normal dan mereka memang mempunyai orang yang dicintai, biasanya keinginan untuk mempunyai pengalaman seks sangat tinggi. Malah, menurut pakar, ini merupakan persiapan yang baik untuk menghadapi hilangnya keperawanan dalam perkawinan.

Hanya saja, ditegaskan, praktik seks seperti ini sebaiknya hanya dilakukan dalam hubungan yang memang telah saling mencintai, bukan dengan sembarang pasangan. Harus dibedakan mana hubungan di pinggir jalan dan mana hubungan yang sungguh-sungguh.

Risiko Film Porno Bagi Kehidupan Seks Remaja

Berbeda dari dugaan kita, film-film bioskop yang dikhususkan untuk orang-orang yang telah berumur lebih dari 17 tahun kini makin banyak ditonton oleh kalangan anak-anak yang masih remaja. Bahkan, film-film porno pun makin banyak beredar dan mudah dijangkau oleh masyarakat dari berbagai usia, termasuk anak-anak di bawah umur.

Menurut sebuah studi terbaru, alur cerita film-film berlabel X ini ? yang sering memperlihatkan bahwa hubungan seks sama sekali tidak mempunyai kosekuensi apa-apa ? telah menimbulkan masalah serius. Film-film seperti itu, katanya, sangat terkait dengan munculnya perilaku seks berisiko tinggi di kalangan remaja.

Masalah yang selama ini sangat banyak menyita perhatian mungkin hanyalah keprihatinan terhadap kekerasan yang diekspos oleh media massa dan dampak buruknya terhadap perkembangan anak-anak remaja.

Sangat sedikit perhatian yang diberikan terhadap kemungkinan pengaruh buruk dari kandungan film-film yang terang-terangan mengekspos seksual ini terhadap perilaku remaja. Inilah yang menjadi sorotan studi yang dilakukan Dr. Gina M. Wingood dari Emory University di Georgia, Amerika Serikat, bersama timnya.

Tim tersebut baru-baru ini melakukan penelitian terhadap 522 gadis dengan usia antara 14 sampai 18 tahun. Ternyata, sebanyak 30% mengaku pernah menyaksikan film porno selama tiga bulan terakhir. Menurut ukuran Wingood, angka ini sudah sangat memprihatinkan.

Peneliti ini tidak memastikan di mana gadis-gadis ini menonton film yang hanya diperbolehkan untuk orang dewasa itu. Namun, menurut Wingood, fakta ini saja sudah semestinya menjadi peringatan keras bagi para orangtua. Meskipun ada larangan, banyak remaja tidak kesulitan memperoleh akses ke film-film khusus dewasa tersebut.

Namun, yang lebih mengkhawatirkan ialah pengaruh film-film tersebut terhadap perilaku seksual remaja dalam kehidupan nyata. Menurut laporan tim tersebut dalam jurnal Pediatrics edisi Mei ini, remaja perempuan yang pernah menonton film jenis ini kemungkinan besar akan mempunyai lebih dari satu pasangan seksual. Mereka ternyata juga lebih sering melakukan hubungan seks.

Dalam kegiatan seksnya, mereka juga lebih besar kemungkinan mengabaikan penggunaan kondom. Juga, mereka tidak begitu peduli terhadap penggunaan pil KB. Akibatnya ? dan ini yang lebih menakutkan ? gadis-gadis ini ternyata mempunyai kemungkinan sebesar 70% terinfeksi oleh penyakit kelamin klamidia.

Menurut Wingood, perilaku seks remaja akan lebih mudah terpengaruh ketimbang dewasa oleh media massa. Besar kemungkinan kelompok usia ini akan meniru apa yang mereka tonton dalam film-film khusus dewasa tersebut.

Memang harus diakui, penelitian ini dilakukan di Amerika Serikat dengan kultur dan lingkungan yang berbeda. Namun, tanpa kita sadari, hal yang sama pun kemungkinan besar terjadi juga di negeri ini. Karena itu, ada baiknya apabila batas usia yang tertera dalam setiap judul film benar-benar diterapkan di bioskop-bioskop yang terdapat di berbagai sudut negeri ini.***

DDT Paksa Remaja Puber Lebih Dini

Telah lama pestisida DDT menjadi bahan perdebatan dan kini terkuak lagi salah satu efek negatifnya. Ternyata, pestisida ini dapat menyebabkan makin cepatnya masa puber di kalangan remaja wanita. Ini terutama ditemukan di negara-negara yang sedang bekembang, yang masih memberlakukan pemakaian zat kimia ini. Hal ini terungkap lewat hasil studi sekelompok peneliti dari Belgia baru-baru ini.

Menurut pengamatan tim yang diketuai oleh Jean-Pierre Bourguignon dari University of Liege ini, anak-anak imigran dari berbagai negara berkembang mempunyai kemungkinan 80 kali lebih besar untuk memasuki masa puber dalam usia yang sangat muda. Selain itu, juga ditemukan bahwa tiga perempat di antara remaja ini mempunyai derivatif kimia DDT yang kadarnya sangat tinggi dalam darah.

Penyebab pubertas dini ini ialah bahwa bahan kimia DDT sendiri, DDE, mempunyai efek yang mirip dengan hormon estrogen. Hormon ini diketahui sangat berperan dalam mengatur perkembangan seks wanita.

Anak-anak remaja dalam studi yang muncul dalam majalah New Scientist ini mulai mengalami pertumbuhan payudara pada usia delapan tahun. Sedangkan masa haid mereka mulai muncul sebelum memasuki usia 10 tahun. Tim ini menemukan bahwa anak-anak imigran yang datang ke negara-negara Eropa lainnya juga lebih cenderung mengalami masa puber dini. Mereka yakin, ini tidak mungkin terjadi akibat konsumsi makanan yang lebih bergizi.

Peneliti ini mengetahuinya setelah melakukan tes berbagai jenis pestisida dalam darah anak-anak tersebut. Ternyata, sebanyak 21 orang dari 26 anak-anak imigran yang mengalami pubertas dini mempunyai kadar DDE yang sangat tinggi dalam darahnya. Sebagai perbandingan, zat kimia ini hanya ditemukan dalam darah dua orang dari 15 anak-anak asli Belgia.

Sejauh ini, masalah-masalah kronis yang timbul akibat DDT adalah kanker dan gangguan reproduksi. Zat kimia ini dapat merusak sel dan juga sistem endokrin. Substansi yang sangat mengganggu ini masuk ke tubuh manusia biasanya lewat makanan yang dikonsumsi.

Karena itu, para pakar makin diyakinkan bahwa kecurigaan terhadap kemungkinan gangguan pestisida terhadap hormon seks adalah benar. Efeknya pun sangat merugikan dalam jangka panjang. Mereka pun mendesak agar dilakukan pelarangan terhadap setiap pestisida yang dapat mengganggu hormon.

Di Uni Eropa dan Amerika Serikat sendiri, penggunaan DDT telah dilarang sejak puluhan tahun lalu. Namun, zat kimia ini masih saja digunakan di negara-negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia. Terutama, pestisida ini dipakai untuk membasmi malaria.

Sebenarnya, studi ini hanya mempertegas efek negatif DDT terhadap hormon wanita. Sebuah studi pernah dilakukan selama tiga tahun di Amerika Serikat 20 tahun lalu terhadap ibu-ibu hamil. Ternyata, kandungan DDT yang sangat tinggi dalam darah dan air susu ibu-ibu ini menyebabkan anak-anak mereka lebih cepat dewasa secara seksual.

Sumpah Keperawanan Dan Keperjakaan

Para remaja yang berjanji untuk tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah ternyata memang memiliki kemungkinan lebih kecil untuk melakukan hubungan seks dibandingkan dengan para remaja yang tidak berjanji, demikian hasil sebuah penelitian.

Janji “keperawanan/keperjakaan” dilahirkan dari sebuah gerakan sosial yang disponsori oleh Southern Baptist Church. Lebih dari 2,5 juta remaja telah ambil bagian dalam janji massal untuk tidak melakukan hubungan badan hingga menikah, dan ternyata janji semacam itu cukup efektif.

Penelitian yang didanai oleh sebuah sumbangan dari National Institute of Child Health and Human Development, dengan dana kerjasama dari berbagai badan termasuk National Cancer Institute dan Centers for Disease Control and Preventionini mellibatkan para remaja pria dan wanita dari ras kulit putih, kulit hitam, keturunan Spanyol, dan juga Asia.

Dengan menganalisis data dari tahun 1994 sampai 1996, para peneliti menemukan:

1. Mereka yang berjanji memiliki kemungkinan untuk melakukan hubungan seks 34% lebih rendah daripada mereka yang tidak berjanji.

2. Para remaja dengan orang tua yang tidak menyetujui seks pra-nikah memiliki kemungkinan lebih besar untuk menunda hubungan seks sepanjang masa remaja.

3. Keberhasilan akademik dan partisipasi olahraga merupakan faktor penunda terkuat dalam awal dan pertengahan masa remaja bagi para remaja putri yang tidak berkulit hitam.

4. Komitmen emosional terhadap sebuah hubungan meningkatkan risiko aktivitas seksual bagi seluruh remaja – kecuali para remaja pria kulit hitam.

5. Para remaja yang telah membuat janji, memiliki kemungkinan lebih kecil untuk menggunakan kontrasepsi saat hubungan seks pertama. Hal ini wajar, karena hampir tidak mungkin mempersiapkan alat kontrasepsi saat mereka sebenarnya berniat untuk tidak melakukan hubungan seks.

6. Mereka yang telah berjanji tapi kemudian tetap melakukan hubungan seks pra-nikah, tidak terlihat mengalami kehilangan harga diri seperti yang semula diduga oleh para penentang “gerakan membuat janji” tersebut.

Sesungguhnya, mungkin para remaja tidak perlu sampai membuat janji atau bersumpah secara terbuka. Cukup dengan membulatkan tekad untuk benar-benar tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah. Toh, semuanya berawal dan niat dan tekad kita masing-masing.

Tapi, dipihak lain, janji seperti ini mungkin dapat menjadi “senjata” untuk menolak permintaan pasangannya untuk melakukan hubungan seksual. Alasannya, saya sudah berjanji hanya melakukan hubungan seks setelah menikah, jadi sabar ya.

Mengajari Remaja Seks Aman Atau Membiarkan Mereka

Menggelisahkan karena kami masih harus menekan hal utama ini: HIV/AIDS adalah krisis tergawat yang dihadapi manusia saat ini. Epidemi ini adalah kelaliman yang tidak dapat dipertahankan dan kejam serupa dengan banyak hal dalam sejarah. Dengan semakin banyaknya orang yang meninggal karena AIDS, seharusnya kita sudah tidak perlu lagi menggambarkan bahayanya dalam esai seperti ini. Namun, amat disayangkan, desakan kita masih diperlukan.

Di seluruh dunia, enam orang di bawah usia 25 tahun tertular HIV setiap menit. Di beberapa negara, separo dari orang yang berusia 15 tahun akan meninggal karena AIDS. Saat orang dewasa menunda-nunda dalam menghadapi penyakit ini, anak-anak meninggal dunia. Ini lebih dari bencana. Ini adalah kebangkrutan moral dan menandai kegagalan dunia untuk melindungi anak-anaknya.

Anak tidak memahami apa-apa waktu hadir di dunia. Tugas kita sebagai orang dewasa adalah mendidik mereka, dan kita harus memberi tahu mereka bahwa cara terbaik untuk menghindari AIDS adalah menghindari seks tidak aman. Kalau tidak, kita terlibat dalam kematian berjuta-juta orang yang tidak berdosa.

Namun, di delapan negara dengan epidemi AIDS, sekitar separo gadis menganggap mereka tidak berisiko terkena penyakit ini. Di seluruh Afrika, sebagian besar gadis tidak tahu bahwa orang meski tampaknya sehat mungkin sudah terkena AIDS.

Kita membutuhkan tidak kurang dari "perang kemerdekaan" untuk menghadapi epidemi ini. Senjata kita adalah pendidikan. Namun saat ini kita kalah dalam peperangan ini. Program yang lebih kuat mendesak diperlukan untuk melawan mitos mengenai penyakit ini dan memberi remaja pengetahuan untuk melindungi dirinya.

Di dunia berkembang, tempat tinggal 90% korban epidemi ini, pokok dari program pencegahan dapat diringkas dalam dua kata: seks aman. Namun, hanya sebagian kecil dana yang disediakan untuk perang terhadap HIV/AIDS diperuntukkan bagi penyuluhan pesan tersebut dan keterampilan untuk mempraktekkannya.

Anak-anak, walaupun sangat rentan, juga berkesempatan penting untuk menang. Mereka sering menjadi penghubung terbaik, memberi tahu sebayanya bagaimana melindungi dirinya dengan cara yang paling efektif.

Kita semua mengerti arti perang kemerdekaan. Itu berarti memobilisasikan setiap sumber daya; melibatkan pria dan wanita secara sama rata; menerima peranan penting para remaja; dan mengindahkan upaya-upaya dan tak membiarkan pengalihan perhatian sehingga semua masyarakat merdeka.

Itu yang diperlukan sekarang–tidak kurang. Kita harus berperang, bukan mengumpulkan pasukan. Kita harus menyelamatkan nyawa hari ini.

Pendidikan Seks Gagal Cegah Kehamilan Remaja

Pendidikan seks tidak mengurangi tingkat kehamilan remaja atau meningkatkan pemakaian alat kontrasepsi. Demikian menurut dua penelitian berbeda yang dilakukan di Kanada dan Inggris.

Seperti dikemukakan peneliti Kanada, program pendidikan seks gagal untuk menahan tingkat hubungan seks, gagal untuk meningkatkan pemakaian alat pelindung kehamilan ataupun mengurangi tingkat kehamilan remaja.

Hal yang serupa juga dikemukakan peneliti Skotlandia. Menurutnya, pendidikan seks memang meningkatkan kualitas hubungan antara anak muda dan juga pengetahuan seks yang sehat. Tetapi pendidikan seks tetap tidak berpengaruh terhadap tingkat penggunaan alat kontrasepsi.

Sementara Asosiasi Perencanaan Keluarga Inggris mengatakan bahwa pendidikan seks hanyalah satu faktor untuk mengurangi kehamilan remaja tetapi keberhasilan inisiatif ini memerlukan pendekatan yang lebih luas lagi.

Para peneliti Kanada meninjau kembali 31 ujicoba pada remaja berusia 11 sampai 18 tahun dengan mengevaluasi kelas pendidikan seks, program pemantangan, klinik perencanaan keluarga dan program kemasyarakatan.

Dalam lima dari ujicoba itu — empat program pemantangan dan program seks di sekolah — peningkatan kehamilan di kalangan pasangan para pria yang terlibat diperiksa.

Penulis penelitian ini dari Universitas McMaster di Hamilton, Ontario, Kanada mengatakan bahwa masih belum jelas solusi untuk mengurangi tingkat kehamilan.

Dalam British Medical Journal, mereka mengatakan bahwa pendidikan seks sebaiknya dimulai secepat mungkin, selagi anak masih sangat muda, misalnya usia lima tahun.

Selain itu mereka menambahkan bahwa alasan sosial untuk kehamilan remaja ini perlu diselidiki lebih lanjut, para orang dewasa perlu dilibatkan untuk merancang program pendidikan seks dan negara seperti Belanda yang angka kehamilan remajanya rendah perlu dikaji.

Sementara peneliti Skotlandia membandingkan program pendidikan yang disebut SHARE yang melibatkan anak usia 13 sampai 15 tahun dengan pendidikan seks konvensional. Dalam hal ini melibatkan 25 sekolah SMP dengan 5.854 murid yang ditanya sebelum dan setelah diberikan skim. Para remaja memilih skim SHARE. Mereka yang terlibat dalam program hanya sedikit yang menolak hubungan seks pertama dengan pasangan mereka yang mengajaknya. Menurut mereka, pengetahuan seks yang sehat telah mereka tingkatkan. Tetapi tidak ada perbedaan antara kelompok SHARE dan mereka yang mendapat pendidikan seks konvensional dalam masalah aktivits seks atau pemakaian kontrasepsi pada usia 16 tahun.

Dr Daniel Wight dari Medical Research Council's Social and Public Health Sciences Unit dari Universitas Glasgow mengatakan, "Salah satu yang membuat kita terkejut terhadap penelitian ini adalah mayoritas yang melakukan hubungan seks menggunakan kontrasepsi dan kondom secara bertanggung jawab. Mungkin itu karena pendidikan seks yang konvensional."

Apa yang dibuktikan dalam penelitian ini adalah betapa sulitnya mengubah perilaku minoritas. "Sangat berbahaya untuk menyimpulkan bahwa pendidikan seks tidak berguna. Sebaiknya, mungkin perlu menjangkau sejauh mana pendidikan seks seperti ini bisa mencakup," katanya menambahkan.

Pelecehan Seksual Pada Remaja

Remaja yang mengatakan bahwa mereka mengalami pelecehan seksual lebih cenderung untuk minum minuman keras, merokok, menggunakan obat-obatan terlarang, mengalami masalah makan, atau melaporkan bahwa mereka lebih sering memikirkan bunuh diri, daripada remaja lainnya.

Sebagai salah satu faktor resiko masalah kesehatan mental, “kekerasan seksual tidak ada hubungannya dengan status finansial, kekerasan fisik atau usia,” kata Dr. Linda M. Barthauer dari Strong Children?s Research Center di University of Rochester, New York.

Para remaja yang mengaku mengalami pelecehan seksual juga lebih cenderung mengatakan mereka telah tidak mendapat perawatan medis yang diperlukan dan berada pada tingkat kesehatan yang sedang hingga buruk. Namun dari semua yang melaporkan pelecehan seksual, hanya 27% wanita dan 26% pria yang telah pernah mendiskusikan pelecehan tersebut dengan seorang dokter atau petugas perawat kesehatan.

Laporan kekerasan seksual diperoleh dari 5,760 pelajar kelas 5 SD sampai kelas 12 (III SMA), yang merespon pertanyaan, “Apakah Anda pernah dilecehkan secara seksual?” dalam sebuah kuesioner tahun 1997 tentang kesehatan umum para siswa.

Penelitian ini patut diperhatikan secara khusus, karena “penemuan tersebut berlaku bagi anak laki-laki dan perempuan,” kata Barthauer. “Namun studi pelecehan seksual terhadap anak laki-laki sangat sedikit dilakukan,”

Pelecehan seksual tampaknya memiliki efek luas, dan kelihatannya relatif biasa?10% anak perempuan dan 4% anak laki-laki melaporkan tentang pelecehan seksual pada kuesioner?Barthauer yakin bahwa para dokter anak harus secara rutin menanyakan pasien mereka yang masih muda-muda itu tentang hal tersebut.

“Pertanyaan itu dapat diajukan dengan sangat hati-hati,” kata Barthauer. “sehingga hal tersebut tidaklah menimbulkan trauma, dan sebenarnya sangat membantu dan menyembuhkan” untuk menanyakan secara pribadi kepada seorang remaja tentang pelecehan seksual. Pengetahuan bahwa seorang anak muda telah dilecehkan secara seksual juga bisa membantu menolong perilaku risiko tinggi atau masalah kesehatan mental yang mana dokter dapat membantu menangani.

Karena ada kewajiban untuk melapor, beberapa dokter berkeberatan untuk menanyakan tentang kekerasan seksual, tambah Barthauer. Namun ia mencatat bahwa paling tidak kebanyakan pasien dapat dianjurkan mengikuti program konseling di sekolah.

Barthauer dan Karen M. Wilson, spesialis kesehatan masyarakat, menunjukkan hasil penemuan mereka pada pertemuan tahunan gabungan antara Pediatric Academic Societies dan American Academy of Pediatrics.

Seks Pertama Seringkali Tidak Aman

Anak-anak remaja mulai melakukan hubungan seks? Belakangan ini, hal tersebut bukan lagi merupakan sesuatu yang langka. Namun kita perlu menyadari bahwa seks pertama seringkali merupakan seks yang tidak aman, karena mereka seringkali tidak menggunakan alat kontrasepsi.

Kelihatannya, semakin seorang gadis tidak mengenal pasangan seks pertamanya, semakin kecil kemungkinan dirinya untuk menggunakan alat kontrasepsi. Para peneliti mengatakan bahwa para gadis remaja lebih dipengaruhi oleh pasangan seksnya, melebihi apa yang mereka duga selama ini.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh 3 orang sosiolog di Bowling Green University menunjukkan bahwa lebih dari setengah wanita dewasa yang pernah ‘tidur’ dengan pria yang baru dikenal ataupun sekedar teman biasa, tidak mengambil langkah-langkah pencegahan. Bandingkan dengan sekitar seperempat gadis yang dikategorikan memiliki “pasangan tetap” dan menggunakan kontrasepsi.

Penelitian tersebut meneliti 1.600 wanita muda yang melakukan hubungan seks pertama kali sebelum berusia 18 tahun.

Wendy Manning, rekanan penulis penelitian, dan seorang profesor sosiologi, mengatakan bahwa pasangan yang tidak serius sering kali harus diminta untuk mempergunakan alat kontrasepsi. Namun pasangan yang lebih serius, yang lebih menyadari bahwa hubungan mereka mungkin akan berlanjut ke suatu hubungan seksual, lebih mempersiapkan diri.

Program pendidikan seks
Manning mengatakan bahwa ia merasa terkejut ketika mengetahui bahwa penelitian yang difokuskan pada gadis-gadis muda belum pernah dilakukan selama ini. “Kita perlu mengajar mereka bagaimana cara mengatasi hal ini bila pasangan mereka menginginkan suatu hubungan seks,” katanya. “Program pendidikan seks harus lebih banyak berbicara tentang masalah-masalah seksual, kencan dan hubungan, karena sebagian remaja masih belum memiliki pengalaman dalam konteks hubungan heteroseksual,” katanya.

John Hutchins, editor senior dalam Kampanye Nasional untuk Mencegah Kehamilan Pada Remaja, mengatakan bahwa mereka belum mengetahui misteri dibalik menurunnya angka kehamilan dan kelahiran pada remaja. “Suatu jajak pendapat yang dilakukan dalam rangka kampanye tersebut menemukan bahwa lebih dari setengah remaja memberi alasan mengapa mereka tidak menggunakan alat kontrasepsi adalah karena pasangan mereka tidak menginginkannya. Penggunaan kondom dan pil kontrasepsi memberi arti yang berbeda untuk remaja pria dan wanita,” kata John.

Dari mereka yang menggunakan kontrasepsi dalam hubungan seks pertama mereka, sebanyak 75% menggunakan kondom, dan 17% menggunakan pil.

Namun sangat penting bagi kita - para orang tua - untuk meluangkan waktu dan mengajari anak-anak tentang bagaimana sesungguhnya seks yang sehat dan benar agar mereka tidak terpengaruh dengan cerita teman, buku-buku seks dan film biru yang beredar luas di pasaran. Walaupun dilindungi dengan alat kontrasepsi, seks bebas relatif tetap tidak aman. Yang paling aman, setialah pada pasangan anda.

Seks Untuk Remaja, Perlu Diajarkan Atau Tidak?

Seks! Siapa sih yang tidak mengenal kata tersebut. Semakin majunya jaman ternyata tidak membuat remaja mengubah sikapnya menjadi lebih baik, malah sekarang ini semakin banyak terjadi kehamilan di luar nikah sehingga membuat para orang tua berpikir lebih jauh, perlukah pendidikan mengenai seksual diajarkan?

Pada dasarnya pendidikan mengenai seks sangat diperlukan, mengingat masa remaja merupakan masa berkembangnya remaja menuju sesuatu hal yang baru, yang masih asing bagi mereka. Melalui pendidikan seks tersebut, para remaja bisa mengetahui lebih jauh mengenai informasi penyakit dan dampak dari seks pranikah.

Dukungan dari badan-badan penyuluhanpun sudah tersedia, umumnya mereka selalu menyediakan informasi mengenai dampak dan akibat dari aktifitas seksual, belum lagi dengan penjelasan mereka mengenai penyakit dan alat-alat kontrasepsi yang bisa digunakan.

Untuk memulai suatu pendidikan dalam lingkungan keluarga, bisa dilakukan diskusi antara anak dan orang tua, memang untuk beberapa orang tua sampai saat ini masih ‘tabu? untuk membicarakan seks dengan anak mereka. Ada baiknya jika pendidikan seks diajarkan dini, sehingga penjelasan yang diterima oleh anak bisa menjadi pertimbangan sebelum anak melakukan tindakan yang dapat merugikannya.

Buktikan Dulu Cintamu Padaku

Pakai apa? Dengan memberikan cintamu seutuhnya padaku. Caranya? Kamu bersedia melakukan hubungan badan denganku. Kalau tidak mau kenapa? Artinya, kamu tidak cinta padaku. GOMBAL.

Cinta tidak bisa begitu saja dihubungkan dengan hubungan badan. Kalau begitu, berhubungan badan saja dengan banyak orang, kan artinya menyebarkan cinta ke mana-mana.

Biasanya yang mengucapkan seperti itu memang kaum lelaki dan yang menjadi korban adalah pihak wanita. Setelah bersedia melakukan hubungan badan, lantas ditinggalkan begitu saja. Alasannya, kalau kamu bersedia main denganku, pasti kamu juga sudah pernah main dengan orang lain.

Hubungan seks memang salah satu bentuk pengungkapan rasa cinta, tapi rasa cinta tidak bisa dibuktikan dengan hubungan seks. Kalau begitu, para penjaja seks adalah orang yang paling penuh dengan rasa cinta dong.

Rasa cinta yang tulus sesungguhnya terbukti bila terjalin saling pengertian dan bukan pemaksaan kehendak walaupun secara halus. Hubungan seks seharusnya berlangsung setelah terkaitnya dua hati dalam satu ikatan tali perkawinan yang suci.

Cinta sejati justru terbukti dengan adanya saling pengertian untuk menunda hal yang indah ini untuk saat yang tepat. Pemaksaan kehendak dengan berbagai alasan hanya menghancurkan seks sebagai sesuatu yang indah dan menjadikannya sekedar pemuas nafsu belaka.

?Ah, sebentar lagi kita juga akan menikah, masa kamu enggak percaya sih. Lagian juga kita kan sudah saling mencinta. Nanti atau sekarang kan sama saja?.

Bodo amat. Bila pacar kamu mengajak melakukan hubungan seksual dengan alasan apapun, tolaklah. Katakan saja, bila kamu ingin membuktikan cintamu padaku, tunggulah sampai di hari pernikahan kita. Akan kuberikan keseluruhan diriku padamu.

Bagaimana kalau dia benar-benar memutuskan ?cinta?nya. Biarin aja, gitu aja kok dipikirin. Itu buktinya bahwa dia memang tidak benar-benar mencintai kamu. Daripada nyesel belakangan, mendingan mengetahui belangnya sekarang. Cari aja yang lain. Dunia tidak selebar daun kelor. Iya kan.

Sunday, March 11, 2007

Banyak Remaja Buta Tentang Kondom

Umumnya remaja sangat yakin bahwa mereka sudah mahir dalam hal penggunaan kondom. Namun tidak demikian menurut hasil temuan baru-baru ini. Malah, sebagian besar remaja pria kelihatannya lebih “bodoh” ketimbang remaja wanita dalam urusan yang satu ini.

Menurut penelitinya, sebenarnya remaja tersebut tidak begitu sadar dengan ketidaktahuan ini. Karena itu, dalam pendidikan seks, penjelasan tentang penggunaan kondom ini pun perlu juga diberikan agar tindakan pencegahan kehamilan dan penyakit menular seksual (PMS) dapat dibendung. Bahkan, sekalipun mereka mengaku telah mahir menggunakannya, penyuluhan tentang cara penggunaan kondom yang benar perlu selalu diberikan.

Studi ini dilakukan oleh Dr. Richard A. Crosby dari Lembaga Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat bersama Dr. William L Harber dari Universitas Indiana, Amerika Serikat terhadap sekelompok remaja di Amerika Serikat. Hasil studinya sendiri dimuat dalam Journal of Adolescent Health edisi Mei 2001 ini. Namun, agaknya hal yang sama pun berlaku di berbagai kelompok remaja, termasuk di negeri ini.

Dalam penelitiannya, keduanya melibatkan lebih dari 16.000 orang dengan usia antara 15 dan 21 tahun. Hampir separo di antara remaja ini mengaku sudah pernah melakukan hubungan intim. Tiga puluh persen di antaranya mengaku pernah mempunyai setidaknya empat pasangan. Sayangnya, hanya 28% mengaku pernah menggunakan kondom saat berhubungan seks.

Di antara orang yang menggunakan kondom ini, malah sebagian besar tidak tahu banyak tentang kondom. Menurut peneliti tersebut, yang paling menyolok ialah bahwa, ketika memasang kondom, mereka menduga harus memasukkannya dengan ketat pada penis. Mereka tidak menyediakan ruang kosong di bagian ujungnya sebagai tempat penampungan air mani. Bahkan orang yang telah berpengalaman melakukan hubungan intim pun masih banyak beranggapan seperti itu.

Selain itu, sekitar sepertiga di antaranya yakin bahwa lotion dapat dioleskan pada kondom. Sekitar seperlima mengira bahwa kondom yang terbuat dari kulit binatang (seperti domba) dapat lebih efektif melindungi penularan virus PMS, seperti virus AIDS, ketimbang kondom lateks.

Lucunya, ditemukan bahwa remaja pria jauh lebih banyak dibanding remaja wanita yang mempunyai berbagai kesalahpahaman seperti itu. Namun, orang yang benar-benar sudah pernah menggunakan kondom lebih tahu tentang penggunaan yang benar.

Itulah sebabnya peneliti ini menganjurkan agar kelompok penyuluhan seks selalu memberikan informasi yang lengkap tentang masalah ini. Sekalipun remaja ini mengaku sudah sangat mahir menggunakan kondom, penjelasan tentang hal itu selalu perlu diberikan. Ini perlu agar pencegahan terhadap PMS dan AIDS lebih berhasil dan angka kehamilan remaja pun dapat ditekan.

Banyak Remaja Menyesali Telah Berhubungan Seks

Menurut sebuah jajak pendapat oleh National Campaign to Prevent Teen Pregnancy, 55 persen anak lelaki dan 72 persen anak perempuan yang disurvey menyesali keputusan mereka untuk melakukan hubungan seks.

“Jajak pendapat ini hanyalah bukti terbaru bahwa banyak remaja yang mengambil sikap lebih berhati-hati terhadap hubungan seks,” ucap Sally Sachar, wakil direktur kampanye tersebut, dalam sebuah pernyataan. “Hal ini juga menjelaskan fakta bahwa para orang tua dapat, dan harus memainkan peran aktif secara terus menerus dalam membantu anak-anak mereka memahami bahwa seks dapat menunggu.”

Memang benar, 37 persen dari mereka yang disurvey mengatakan bahwa orangtua mereka merupakan pengaruh paling penting dalam keputusan mereka mengenai seks. Tiga puluh persen remaja mengatakan bahwa teman-teman mereka paling berpengaruh dalam keputusan mereka, sementara 11 persen mengatakan media dan 11 persen lainnya mengatakan komunitas keagamaan mereka sebagai pemberi pengaruh terbesar.

Survey tersebut juga menemukan bahwa 78 persen remaja akil baliq yang disurvey percaya bahwa para remaja seharusnya tidak aktif secara seksual. Namun, 54 persen dari para remaja yang disurvey mengatakan bahwa mereka yang aktif secara seksual seharusnya memiliki kemudahan memiliki alat kontrasepsi.

Dan 64 persen dari para remaja yang dimintai jajak pendapat mengatakan bahwa mereka akan menyarankan adik atau teman mereka untuk menunda berhubungan seks setidaknya hingga mereka menyelesaikan sekolah menengah.

Survey tersebut didasarkan pada wawancara-wawancara telepon dengan sekitar 500 remaja akil baliq berusia antara 12 hingga 17 tahun. Wawancara-wawancara tersebut dilakukan oleh sebuah perusahaan riset independen.

Jadi bila hampir dua pertiga dari para remaja Amerika yang telah melakukan hubungan seks berpikir bahwa mereka seharusnya menunggu dulu, mengapa para remaja di Indonesia tidak berusaha juga untuk melakukannya ? Cinta tidak selalu berkonotasi dengan seks, cinta berkonotasi dengan kasih sayang.

Seks, Remaja Dan Batas-Batas Pergaulan

Kasus-kasus penyimpangan masalah seks, khususnya yang dilakukan para remaja dari waktu ke waktu semakin mengkhawatirkan, sementara di masyarakat kita terjadi pergeseran nilai yang semakin jauh sehingga penyimpangan-penyimpangan dalam masalah seks itu sepertinya sudah tidak terlalu dipersoalkan, padahal perzinahan merupakan sesuatu yang sangat keji dan harus dihindari oleh setiap muslim sebagaimana yang disebutkan dalam QS 17:32.
Seks sebenarnya anugerah yang diberikan Allah pada makhluk-makhluk Allah seperti binatang, tumbuh-tumbuhan dan khususnya manusia. Karena itu amat wajar kalau manusia memiliki gairah seksual dan ingin melampiaskan keinginan seksual itu. Allah Swt sendiri tidak pernah melarang manusia untuk melampiaskan keinginan seksualnya selama menempuh jalur yang dibenarkan, cara-cara yang benar dan pada saat yang tidak terlarang. Ketentuan ini diberlakukan untuk kepentingan manusia juga. Jalur yang dibenarkan Allah bagi manusia untuk melampiaskan keinginan seksnya itu adalah jalur pernikahan, ini berarti orang yang belum menikah jangan coba-coba melampiaskan keinginan seksualnya, karena itu berpacaran semestinya dilakukan sesudah pernikahan bukan sebelum pernikahan, karena berpacaran itu sangat terkait dengan pelampiasan keinginan seksual. Tapi keinginan atau hawa nafsu itu tetap tidak boleh dibunuh, hanya harus dikendalikan agar manusia tidak dikendalikan oleh hawa nafsunya sendiri. Sedangkan cara-cara dan saat-saat yang benar tentu saja sebagaimana yang telah digariskan di dalam Islam dan kita telah mengetahuinya.
Remaja merupakan kelompok dari manusia yang baru tumbuh dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, pertumbuhan remaja ini salah satunya ditandai dengan kematangan biologis sehingga masa kanak-kanak ditinggalkan, bagi wanita dengan haid yang pertama dan bagi pria dengan mengeluarkan sperma dengan sebab mimpi, setelah itu pertumbuhan fisik berkembang cepat, badan jadi cepat gede dan tinggi, suara mulai pecah, tumbuh juga rambut-rambut atau bulu-bulu pada bagian tertentu dari tubuhnya yang bersamaan dengan itu juga terjadi perubahan psikologis atau kejiwaan.
Karena masa remaja itu merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, maka banyak orang yang menyebut masa ini –meskipun tidak selalu benar– sebagai masa yang labil. Dalam kondisi yang demikian itulah, masa remaja sangat membutuhkan bimbingan nilai-nilai Islam, bila mereka jauh dari nilai-nilai Islam, maka yang terjadi kemudian adalah ketidakmampuan mengendalikan diri. Dalam kaitan seks, para remaja harus mengendalikan hawa nafsunya, dan Rasulullah Saw mengajarkannya dengan melaksanakan ibadah puasa.

Pendidikan Seks.
Dalam kaitan seks di kalangan remaja yang semakin mengkhawatirkan - ini bisa kita simpulkan dari tingkat pergaulan bebas yang sudah demikian luas hingga terjadi kasus-kasus pemerkosaan yang dilakukan remaja, perzinahan yang mengakibatkan kehamilan diluar pernikahan serta terjadinya tindakan pengguguran kandungan-, maka muncul gagasan yang menghendaki agar diadakan perndidikan seks di sekolah, sehingga para remaja menjadi tahu tentang persoalan seks.
Pendidikan seks sebenarnya bermula dari negara-negara Barat yang generasi muda mereka memang sudah sangat bebas dalam masalah seks, pendidikan seks bagi mereka adalah untuk mencegah agar jangan sampai terjadi kehamilan di kalangan remaja setelah berzina, sehingga kalau pendidikan seks diberikan diharapkan tidak terjadi lagi kehamilan remaja itu meskipun hubungan seks dilakukan. Hamil dikalangan remaja barat itu terjadi karena para remaja memang tidak mengerti masalah seks yang sesungguhnya, maka pendidikan seks diberikan agar tidak terjadi kehamilan remaja yang dinilai bisa memutuskan masa depan yang cerah bagi diri, keluarga dan bangsanya.
Oleh karena itu pendidikan seks semacam itu jelas tidak dibenarkan di dalam Islam. Kalau kemudian orang bertanya tentang bagaimana pendidikan seks dalam pandangan Islam, maka jawabannya adalah pendidikan seks dalam Islam itu adalah mendidik para remaja agar tidak berzina, membenci perzinahan dan terus berusaha untuk menjauhinya. Maka yang diterangkan dalam pendidikan seks adalah hinanya perzinahan, bagaimana agar menghindari zina, hukuman untuk para pezina dan sebagainya.

Peringatan Untuk Remaja.
Seks itu bisa mulia dan hina, mulia kalau melampiaskan keinginannya dengan hal-hal yang dikehendaki Allah dan hina bila melanggar ketentuan-ketentuan Allah Swt. Oleh karena itu para remaja khususnya dan semua orang sebenarnya harus mengendalikan diri agar bisa mencegah dirinya dari perbuatan zina yang keji itu. Allah Swt telah berfirman di dalam Al-Qur?an yang artinya: Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang yang keji dan suatu jalan yang buruk (QS 17:32).
Agar para remaja dan kita semua bisa mencegah diri kita dari hal-hal yang mendekati zina, ada ketentuan-ketentuan yang membatasi pergaulan antara pria dengan wanita yang harus mendapat perhatiannya. Batas-batas pergaulan itu adalah; pertama, menjaga pandangan mata dari melihat lain jenis yang berlebihan, dalam hal ini Allah Swt berfirman yang artinya: Katakanlah kepada laki-laki yang beriman; hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. ….. katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman; hendaklah mereka menahan pandangan matanya dan memelihara kemaluannya … (QS 24:30-31).
Di dalam hadits, Rasulullah Saw bersabda:
Telah berkata Jarir bin Abdullah: Saya pernah bertanya kepada Rasulullah Saw tentang melihat wanita dengan tidak disengaja, maka sabdanya: palingkanlah pandanganmu (HR. Muslim).
Ya Ali, janganlah engkau iringkan satu pandangan (kepada wanita) dengan satu pandangan , karena yang pertama itu tidak menjadi kesalahan, tetapi tidak yang kedua (HR. Abu Daud).
Kedua, tidak berdua-duaan antara pria dengan wanita yang bukan mahram, karena hal ini sangat rawan terhadap godaan syaitan yang memang selalu menggoda manusia ke jalan yang nista. Hal ini ditegaskan oleh Rasul Saw dalam haditsnya:
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia bersendirian dengan seorang wanita di suatu tempat tanpa disertai mahramnya, karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaitan (HR. Ahmad).
Ketiga, tidak bersentuhan kulit antara pria dengan wanita, termasuk berjabatan tangan sebagaimana dalam beberapa hadits disebutkan:
Sesungguhnya aku tidak berjabatan tangan dengan seorang wanita (HR. Malik, Tirmidzi dan Nasa?i).
Tak pernah sekali-kali tangan Rasulullah menyentuh tangan wanita yang tidak halal baginya (HR. Bukhari dan Muslim).
Ditikan seseorang dari kamu di kepalanya dengan jarum dari besi, itu lebih baik daripada ia menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya (HR. Thabrani).
Keempat, tidak berbaur antara pria dengan wanita dalam satu tempat, hal ini terdapat dalam hadits Rasul Saw:
Telah berkata Abu Asied: Rasulullah Saw pernah keluar dari masjid, padahal di waktu itu laki-laki dan wanita bercampur di jalan, maka sabda Rasulullah (kepada wanita-wanita): mundurlah! bukan hak kamu berjalan di tengah jalan; hendaklah kamu ambil pinggir jalan (HR. Abu Daud).
Telah berkata Ibnu Umar: Rasulullah melarang laki-laki berjalan diantara dua wanita (HR. Abu Daud).

Dari gambaran ini menjadi jelas bagi kita bahwa pria dengan wanita memang harus menjaga batasan pergaulan agar tidak tidak terjadi perzinahan. Disamping itu perzinahan harus dihindari juga dengan menumbuhkan rasa malu dan menghukum orang yang berzina sebagaimana seharusnya. ini semua harus kita lakukan karena zina membawa akibat yang sangat patal, tidak hanya di dunia seperti dengan terjangkitnya penyakit AIDS, tapi juga di akhirat dengan siksa neraka yang sangat pedih.

Seks Di Luar Nikah Karena Pengaruh Lingkungan

Melakukan hubungan seksual di luar nikah tampaknya bukan lagi hal yang tabu bagi para remaja. Sebuah survei yang diadakan di Cirebon membuktikan hal itu. Lingkungan yang tidak benar dianggap sebagai biang keladinya.

Pengaruh negatif kebudayaan barat terhadap kehidupan remaja Kota Cirebon saat ini sudah diambang sangat memprihatinkan. Pasalnya apa yang dilihatnya dari kebudayaan barat tersebut bukan sekedar dijadikan pengetahuan, melainkan sudah banyak yang mempratekannya, termasuk kehidupan seks luar nikah.

Psikolog Mitra Citra Remaja (MCR) Cirebon, Dra Susilowati, Selasa (2/4) mengatakan, dari hasil survai salah satu dampak negatif dari kebudayaan barat yang kini sudah banyak dipraktekan kalangan remaja Cirebon tersebut adalah tentang seks.

"Hubungan seksual di luar nikah di kalangan remaja Cirebon tersebut seperti halnya pengetahuan tentang seks ternyata banyak dipraktekan khususnya oleh remaja usia SLTA dan jumlahnya ternyata cukup tinggi," ujar dia. Dikatakannya, dari hasil survei dan penelitian MCR melalui angket yang dibagikan kepada 500 remaja usia SLTA, hasilnya tujuh persen remaja mengakui melakukan hubungan seksual di luar nikah, empat persen pernah menggunakan alat dan 75% remaja melakukan onani.

Tingginya angka remaja usia sekolah (SLTA) yang melakukan hubungan seksual di luar nikah, kata dia, ternyata karena pengaruh lingkungan yang tidak benar.

"Berdasarkan hasil survei tersebut, sedikitnya 30% responden menyatakan bahwa hal yang menyebabkan tingginya angka remaja melakukan hubungan seksual di luar nikah karena lingkungan," tandasnya.

Masalah seks di luar nikah di kalangan remaja tersebut, kata Susilowati, seharusnya menjadi bahan perhatian penuh baik masyarakat maupun pemerintah, sebab jika terus dibiarkan tanpa adanya upaya untuk mengatasinya, maka hal itu akan menjadi masalah besar bagi pemerintah dan masyarakat pada umumnya. "Melakukan hubungan seksual di luar nikah, tidak saja merusak nilai-nilai agama dan budaya masyarakat yang selama ini dipegang teguh, tetapi lebih berbahaya lagi bagi kesehatan reproduksi kalangan remaja. Dengan melakukan hubungan seks di luar nikah tersebut, bisa menyebabkan timbulnya penyakit kelamin dan penyakit-penyakit lainnya,` ungkap dia.

Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut, menurut Susilowati, antara lain saat ini tengah dilakukan oleh pemerintah bekerjasama dengan MCR Cirebon, melalui misinya, yakni menyediakan pelayanan informasi pendidikan, konseling dan pelayanan kesehatan reproduksi untuk remaja usia 10-24 khususnya SLTA.

"MCR terus berupaya mengatasi masalah penyimpangan seks di kalangan remaja tersebut dengan berbagai upaya dan bekerjasama dengan pemerintah maupun lembaga lain yang peduli terhadap hal itu," kata Susilowati.

Sebuah Kegiatan Bahaya Bernama Petting

ADA satu ritual yang mungkin pernah Anda lakukan minimal satu kali seumur hidup Anda dalam memulai sebuah hubungan seks. Kegiatan ini dikenal dengan nama Petting. Sebuah kegiatan seksual yang dilakukan dengan menggesek-gesekkan kemaluan antar dua lawan jenis.

Ada yang melakukannya dengan masih menggunakan pakaian, tapi ada juga yang tanpa pakaian. Petting termasuk perilaku seks yang cukup berbahaya, bagi Anda yang masih dalam tahap berpacaran, sebab sangat besar kemungkinan untuk terjadi hubungan seksual yang sebenarnya, sehingga bisa merusak keperawanan pasangan Anda.

Bahkan resiko untuk hamil pun cukup besar, hal ini terjadi karena pada laki-laki maupun perempuan, pada saat seseorang terangsang secara seksual, akan mengeluarkan semacam cairan yang berfungsi sebagai pelumas atau lubricant. Cairan ini biasanya bening dan tidak terlalu kental. Sedangkan sperma yang berwarna putih keruh, dan kental adalah cairan yang dikeluarkan laki-laki pada saat ejakulasi. Sel sperma merupakan bibit keturunan yang dimiliki laki-laki, dan apabila bertemu dengan sel telur perempuan melalui hubungan seksual, maka akan menyebabkan kehamilan.

Jadi, jika secara fisik petting dapat menimbulkan kehamilan pada seorang perempuan, ini tentu akan berpengaruh secara mental baik terhadap pihak laki-laki maupun perempuan jika ternyata mereka belum siap menjadi orang tua.

Lagipula, bila petting ini dilakukan oleh pasangan yang belum menikah, seringkali baik pihak perempuan maupun laki-laki dibayangi oleh perasaan bersalah atau berdosa. Satu hal lagi yang bikin kita mesti berpikir panjang adalah bahwa manusia tidak pernah puas. Mula-mula hanya petting tanpa melepas pakaian dalam, kemudian tanpa pakaian, lama-lama tergoda untuk melakukan hubungan seks betulan...

Makanya lebih baik pikir-pikir dahulu... Kalau memang belum siap menanggung risiko, lebih baik kita dengan tegas berkata tidak! (hanyalelaki.com)