Saya membaca sebuah buku yang berjudul Secrets of Better Sex yang ditulis oleh seorang ahli terapi seks asal Amerika. Di sebuah bab dijelaskan bahwa ada sekelompok penyimpangan yang sering dialami banyak orang terhadap perilaku seksnya. Ini bisa disadari oleh penderitanya, namun ada juga yang tidak disadarinya.
Penyimpangan perilaku seksual yang secara umum dianggap tidak lazim ini biasa disebut dengan Parafilia. Penyimpangan yang secara jelas sangat mengganggu hubungan personal ini juga dapat merusak kesehatan mental dan psikologis seseorang, bahkan bisa jadi melangar hak orang lain. Hal ini terjadi karena trauma masa kecil terhadap pengalaman seksualnya dan keingintahuan yang berlebihan tentang seks itu sendiri.
Penyimpangan ini dianggap sebagai salah satu gangguan mental atau gangguan kepribadian dan ini seringnya terjadi pada kaum pria. Parafilia bukan sebuah fantasi, ini lebih pada aktifitas seksual diluar kelaziman seperti halnya Fetisisme atau orang yang terangsang dengan pakaian dalam atau barang pribadi milik pasangannya.
Perilaku erotik ini justru menimbulkan rangsangan dasyat baginya jika dilakukan saat penderita menginginkannya. Ada juga penyimpangan perilaku seksual yang hampir mirip dengan Fetisisme, hanya saja ini biasa dilakukan oleh para heteroseksual.
Bisanya penderita ini senang memakai pakaian lawan jenisnya. Biasanya mereka tampil di depan umum dengan berpakaian layaknya wanita dan seorang pria menjadi sangat terangsang ketika ia mengenakan pakaian itu. Biasanya ini dikenal dengan nama Transvestisme.
Penyimpangan ini memang paling banyak dialami oleh para pria, karena itu ada beberapa pria yang senang memperlihatkan kelaminnya sendiri kepada orang-orang yang justru jelas-jelas merasa jijik atau menolaknya. Tentu saja hal ini sangat mengganggu dan merusak hubungan serta melanggar etika.
Perilaku ini biasanya disebut dengan Eksibisionisme. Hal ini sama halnya dengan Frotteurism, yaitu orang-orang yang suka menggesekkan badannya atau kelaminnya, bahkan tidak takut untuk memeluk orang lain yang jelas-jelas menolaknya atau tidak kenal dan menolaknya.
Tentu penyimpangan ini sangat mengganggu keamanan secara umum, namun memang sulit untuk mengetahui ciri-ciri penderita penyimpangan ini. Kita hanya mengetahuinya setelah mereka melakukannya.
Warning !!
Peringatan!!
Banyak mengandung artikel atau informasi untuk khusus DEWASA.
Informasi yang ada di sini bukan sebagai pengganti anjuran dan terapi yang diberikan oleh dokter atau ahli bidang bersangkutan, namun diharapkan dapat menambah pengetahuan Anda. Sebaiknya Anda tetap mengkonsultasikan masalah Anda dengan dokter keluarga Anda atau ahli bidang bersangkutan.
Bila Anda ingin berbagi artikel/ info yang menarik dan sesuai dengan topik blog ini, silahkan berbagi dengan join dan posting ke info_pria@yahoogroups.com.
Semua sumber/ penulis dari pada artikel/ tulisan/ informasi yang dimuat sudah kami usahakan untuk dicantumkan. Bila ada kesalahan harap hubungi kami pada (info_pria-owner[at]yahoogroups[dot]com). Terima kasih.
Informasi yang ada di sini bukan sebagai pengganti anjuran dan terapi yang diberikan oleh dokter atau ahli bidang bersangkutan, namun diharapkan dapat menambah pengetahuan Anda. Sebaiknya Anda tetap mengkonsultasikan masalah Anda dengan dokter keluarga Anda atau ahli bidang bersangkutan.
Bila Anda ingin berbagi artikel/ info yang menarik dan sesuai dengan topik blog ini, silahkan berbagi dengan join dan posting ke info_pria@yahoogroups.com.
Semua sumber/ penulis dari pada artikel/ tulisan/ informasi yang dimuat sudah kami usahakan untuk dicantumkan. Bila ada kesalahan harap hubungi kami pada (info_pria-owner[at]yahoogroups[dot]com). Terima kasih.
LEBIH LENGKAP!! Dapatkan DVD Info-Pria, yang berisikan e-book, kumpulan artikel, software dan lainnya. Lebih rinci klik disini.
Showing posts with label penyimpangan. Show all posts
Showing posts with label penyimpangan. Show all posts
Thursday, April 12, 2007
Hukum Cambuk Bagi Pelaku Incest Di Malaysia
Kasus incest ataupun perkosaan dalam keluarga yang meningkat di Malaysia membuat Perdana Menteri Mahathir Mohammad geram. Ia bahkan mengancam akan memberlakukan hukuman cambuk di muka umum jika rakyat memberi pemerintah mandat untuk melakukannya.
Seperti dilaporkan harian The Star, Mahathir mengatakan: ?Kami tak pernah memiliki hukuman cambuk di muka umum sebelumnya, namun jika rakyat menginginkannya dan memberi pemerintah mandat untuk melaksanakannya, kami bisa melakukannya karena ada banyak orang tak bermalu di masyarakat kami.?
Pernyataan Mahathir muncul di tengah kemarahan meluas di negara itu menyusul serentetan kasus incest yang diberitakan secara luas. Salah satu yang menghebohkan, seorang gadis remaja berusia 12 tahun yang diperkosa oleh ayahnya, kakek dan saudaranya sejak usia 5 tahun(!!!).
?Kami bisa mengantarkan hukuman yang lebih berat untuk mengatasi masalah ini, namun saya yakin kita tak bisa meningkatkan perlawanan moral melawan tindakan keji ini dan mengajarkan nilai positif di antara rakyat kita, itu tak akan membantu banyak,? ujar pemimpin negara terpilih yang terlama di Asia ini.
Laporan media Malaysia mengatakan banyak kasus incest terjadi di kawasan pedesaan dan pemukiman. Mahathir menyalahkan tingginya angka kasus incest karena tak efektifnya pelaksanaan syariat Islam. ?Kami menyediakan fasilitas bagi mereka untuk mempelajari agama, namun seringkali, daripada belajar tentang nilai moral, fokusnya malah ke politik,? katanya.
Politisi oposisi dan pembela hukum Karpal Singh keberatan dengan usulan hukum cambuk itu. ?Hukuman cambuk akan membuat negara mendapat kemarahan internasional,? ujarnya.
Kasus incest terakhir yang dikabarkan New Straits Times melibatkan Ismail Mat Akil (54) yang didakwa pengadilan, Senin, karena memperkosa keponakannya yang cacat mental berusia 13 tahun, yang kini hamil dua bulan.
Seperti dilaporkan harian The Star, Mahathir mengatakan: ?Kami tak pernah memiliki hukuman cambuk di muka umum sebelumnya, namun jika rakyat menginginkannya dan memberi pemerintah mandat untuk melaksanakannya, kami bisa melakukannya karena ada banyak orang tak bermalu di masyarakat kami.?
Pernyataan Mahathir muncul di tengah kemarahan meluas di negara itu menyusul serentetan kasus incest yang diberitakan secara luas. Salah satu yang menghebohkan, seorang gadis remaja berusia 12 tahun yang diperkosa oleh ayahnya, kakek dan saudaranya sejak usia 5 tahun(!!!).
?Kami bisa mengantarkan hukuman yang lebih berat untuk mengatasi masalah ini, namun saya yakin kita tak bisa meningkatkan perlawanan moral melawan tindakan keji ini dan mengajarkan nilai positif di antara rakyat kita, itu tak akan membantu banyak,? ujar pemimpin negara terpilih yang terlama di Asia ini.
Laporan media Malaysia mengatakan banyak kasus incest terjadi di kawasan pedesaan dan pemukiman. Mahathir menyalahkan tingginya angka kasus incest karena tak efektifnya pelaksanaan syariat Islam. ?Kami menyediakan fasilitas bagi mereka untuk mempelajari agama, namun seringkali, daripada belajar tentang nilai moral, fokusnya malah ke politik,? katanya.
Politisi oposisi dan pembela hukum Karpal Singh keberatan dengan usulan hukum cambuk itu. ?Hukuman cambuk akan membuat negara mendapat kemarahan internasional,? ujarnya.
Kasus incest terakhir yang dikabarkan New Straits Times melibatkan Ismail Mat Akil (54) yang didakwa pengadilan, Senin, karena memperkosa keponakannya yang cacat mental berusia 13 tahun, yang kini hamil dua bulan.
Perilaku Seksual yang Menyimpang...
Mungkin sering kita dengar atau saksikan seseorang dengan perilaku seksual yang menyimpang. Sepintas yang bersangkutan tak terlihat memiliki kelainan, namun ternyata dia adalah seorang pengidap sadomasokis.
Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya. Biasanya, cara yang digunakan oleh orang tersebut adalah menggunakan obyek seks yang tidak wajar. Penyebab terjadinya kelainan ini bersifat psikologis atau kejiwaan, seperti pengalaman sewaktu kecil, dari lingkungan pergaulan, dan faktor genetik.
Apasaja perilaku seks menyimpang itu? Yuk simak!
1 Homoseksual
Homoseksual merupakan kelainan seksual berupa disorientasi pasangan seksualnya. Disebut gay bila penderitanya laki-laki dan lesbi untuk penderita perempuan. Hal yang memprihatinkan disini adalah kaitan yang erat antara homoseksual dengan peningkatan risiko AIDS. Pernyataan ini dipertegas dalam jurnal kedokteran Amerika (JAMA tahun 2000), kaum homoseksual yang "mencari" pasangannya melalui internet, terpapar risiko penyakit menular seksual (termasuk AIDS) lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak.
2 Sadomasokisme
Sadisme seksual termasuk kelainan seksual. Dalam hal ini kepuasan seksual diperoleh bila mereka melakukan hubungan seksual dengan terlebih dahulu menyakiti atau menyiksa pasangannya.
Sedangkan masokisme seksual merupakan kebalikan dari sadisme seksual. Seseorang dengan sengaja membiarkan dirinya disakiti atau disiksa untuk memperoleh kepuasan seksual.
3 Ekshibisionisme
Penderita ekshibisionisme akan memperoleh kepuasan seksualnya dengan memperlihatkan alat kelamin mereka kepada orang lain yang sesuai dengan kehendaknya. Bila korban terkejut, jijik dan menjerit ketakutan, ia akan semakin terangsang. Kondisi begini sering diderita pria, dengan memperlihatkan penisnya yang dilanjutkan dengan masturbasi hingga ejakulasi.
4 Voyeurisme
Istilah voyeurisme (disebut juga scoptophilia) berasal dari bahasa Prancis yakni vayeur yang artinya mengintip. Penderita kelainan ini akan memperoleh kepuasan seksual dengan cara mengintip atau melihat orang lain yang sedang telanjang, mandi atau bahkan berhubungan seksual. Setelah melakukan kegiatan mengintipnya, penderita tidak melakukan tindakan lebih lanjut terhadap korban yang diintip. Dia hanya mengintip atau melihat, tidak lebih. Ejakuasinya dilakukan dengan cara bermasturbasi setelah atau selama mengintip atau melihat korbannya. Dengan kata lain, kegiatan mengintip atau melihat tadi merupakan rangsangan seksual bagi penderita untuk memperoleh kepuasan seksual. Yang jelas, para penderita perilaku seksual menyimpang sering membutuhkan bimbingan atau konseling kejiwaan, disamping dukungan orang-orang terdekatnya agar dapat membantu mengatasi keadaan mereka.
5 Fetishisme
Fatishi berarti sesuatu yang dipuja. Jadi pada penderita fetishisme, aktivitas seksualnya disalurkan melalui bermasturbasi dengan BH (breast holder), celana dalam, kaos kaki, atau benda lain yang dapat meningkatkan hasrat atau dorongan seksual. Sehingga, orang tersebut mengalami ejakulasi dan mendapatkan kepuasan. Namun, ada juga penderita yang meminta pasangannya untuk mengenakan benda-benda favoritnya, kemudian melakukan hubungan seksual yang sebenarnya dengan pasangannya tersebut.
(hanyawanita.com)
Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya. Biasanya, cara yang digunakan oleh orang tersebut adalah menggunakan obyek seks yang tidak wajar. Penyebab terjadinya kelainan ini bersifat psikologis atau kejiwaan, seperti pengalaman sewaktu kecil, dari lingkungan pergaulan, dan faktor genetik.
Apasaja perilaku seks menyimpang itu? Yuk simak!
1 Homoseksual
Homoseksual merupakan kelainan seksual berupa disorientasi pasangan seksualnya. Disebut gay bila penderitanya laki-laki dan lesbi untuk penderita perempuan. Hal yang memprihatinkan disini adalah kaitan yang erat antara homoseksual dengan peningkatan risiko AIDS. Pernyataan ini dipertegas dalam jurnal kedokteran Amerika (JAMA tahun 2000), kaum homoseksual yang "mencari" pasangannya melalui internet, terpapar risiko penyakit menular seksual (termasuk AIDS) lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak.
2 Sadomasokisme
Sadisme seksual termasuk kelainan seksual. Dalam hal ini kepuasan seksual diperoleh bila mereka melakukan hubungan seksual dengan terlebih dahulu menyakiti atau menyiksa pasangannya.
Sedangkan masokisme seksual merupakan kebalikan dari sadisme seksual. Seseorang dengan sengaja membiarkan dirinya disakiti atau disiksa untuk memperoleh kepuasan seksual.
3 Ekshibisionisme
Penderita ekshibisionisme akan memperoleh kepuasan seksualnya dengan memperlihatkan alat kelamin mereka kepada orang lain yang sesuai dengan kehendaknya. Bila korban terkejut, jijik dan menjerit ketakutan, ia akan semakin terangsang. Kondisi begini sering diderita pria, dengan memperlihatkan penisnya yang dilanjutkan dengan masturbasi hingga ejakulasi.
4 Voyeurisme
Istilah voyeurisme (disebut juga scoptophilia) berasal dari bahasa Prancis yakni vayeur yang artinya mengintip. Penderita kelainan ini akan memperoleh kepuasan seksual dengan cara mengintip atau melihat orang lain yang sedang telanjang, mandi atau bahkan berhubungan seksual. Setelah melakukan kegiatan mengintipnya, penderita tidak melakukan tindakan lebih lanjut terhadap korban yang diintip. Dia hanya mengintip atau melihat, tidak lebih. Ejakuasinya dilakukan dengan cara bermasturbasi setelah atau selama mengintip atau melihat korbannya. Dengan kata lain, kegiatan mengintip atau melihat tadi merupakan rangsangan seksual bagi penderita untuk memperoleh kepuasan seksual. Yang jelas, para penderita perilaku seksual menyimpang sering membutuhkan bimbingan atau konseling kejiwaan, disamping dukungan orang-orang terdekatnya agar dapat membantu mengatasi keadaan mereka.
5 Fetishisme
Fatishi berarti sesuatu yang dipuja. Jadi pada penderita fetishisme, aktivitas seksualnya disalurkan melalui bermasturbasi dengan BH (breast holder), celana dalam, kaos kaki, atau benda lain yang dapat meningkatkan hasrat atau dorongan seksual. Sehingga, orang tersebut mengalami ejakulasi dan mendapatkan kepuasan. Namun, ada juga penderita yang meminta pasangannya untuk mengenakan benda-benda favoritnya, kemudian melakukan hubungan seksual yang sebenarnya dengan pasangannya tersebut.
(hanyawanita.com)
Thursday, March 29, 2007
Mental Kaum Biseksual Lebih Rawan Dibanding Homoseksual
Orang yang mempunyai kelainan seksual biseksual ternyata lebih mungkin mengalami masalah kesehatan mental dibandingkan orang dewasa yang heteroseksual maupun homoseksual.
Sebuah penelitian yang dilakukan di Australia, yang diterbitkan dalam jurnal British Journal of Psychiatry menemukan bahwa orang dewasa muda dan menengah yang mengaku biseksual mempunyai perasaan yang sangat dalam terhadap kegelisahan, depresi dan berbagai pikiran negatif lainnya.
"Memang ada kemungkinan, entah itu orang berorientasi biseksual maupun homoseksual, mengalami tekanan, sebagai tambahan dari tekanan sosial karena mempunyai orientasi seksual yang berbeda dibandingkan kelompok mayoritas," kata penulis dalam artikel.
Pengalaman yang tidak menguntungkan ketika masa kanak-kanak dan dewasa, dukungan sosial yang buruk dan masalah keuangan diketahui sebagai faktor-faktor yang paling berisiko di balik masalah kesehatan pada orang biseksual.
Orang dewasa yang homoseksual tampaknya juga memiliki masalah yang sama, walau kondisi mereka tidak separah seperti yang umumnya dialami para biseksual. Kedua kelompok itu dikenal sangat mungkin untuk melakukan bunuh diri atau keinginan bunuh diri dibandingkan kelompok heteroseksual.
Laporan ini datang dari PATH Through Life Project, yang mewawancarai mereka yang berusia 20 sampai 24 tahun pada tahun 1999 dan 2000 dan usia 40 sampai 44 tahun di tahun 2000 sampai 2001 sebagai percobaan pertama selama 20 tahun dalam masalah kesehatan mental orang dewasa. Sebanyak 4.824 orang dewasa di Canberra, Australia ditanya.
Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa lebih banyak wanita yang berorientasi seksual homoseksual dan biseksual dibandingkan pria — 4,5% wanita muda dan 2,7% wanita yang lebih tua, dibandingkan dengan 2,7 pria muda dan 2,4% pria yang lebih tua.
Dari kelompok yang usianya lebih muda, 1% pria dan 1,8% wanita yang homoseksual sedangkan perbandingannya 1,8% pria dan 2,7% wanita yang biseksual.
Dari kelompok yang usianya lebih tua, 1,6% pria dan 2% wanita mengaku sebagai homoseksual dibandingkan 0,8% pria dan wanita yang mengaku biseksual.
Sebuah penelitian yang dilakukan di Australia, yang diterbitkan dalam jurnal British Journal of Psychiatry menemukan bahwa orang dewasa muda dan menengah yang mengaku biseksual mempunyai perasaan yang sangat dalam terhadap kegelisahan, depresi dan berbagai pikiran negatif lainnya.
"Memang ada kemungkinan, entah itu orang berorientasi biseksual maupun homoseksual, mengalami tekanan, sebagai tambahan dari tekanan sosial karena mempunyai orientasi seksual yang berbeda dibandingkan kelompok mayoritas," kata penulis dalam artikel.
Pengalaman yang tidak menguntungkan ketika masa kanak-kanak dan dewasa, dukungan sosial yang buruk dan masalah keuangan diketahui sebagai faktor-faktor yang paling berisiko di balik masalah kesehatan pada orang biseksual.
Orang dewasa yang homoseksual tampaknya juga memiliki masalah yang sama, walau kondisi mereka tidak separah seperti yang umumnya dialami para biseksual. Kedua kelompok itu dikenal sangat mungkin untuk melakukan bunuh diri atau keinginan bunuh diri dibandingkan kelompok heteroseksual.
Laporan ini datang dari PATH Through Life Project, yang mewawancarai mereka yang berusia 20 sampai 24 tahun pada tahun 1999 dan 2000 dan usia 40 sampai 44 tahun di tahun 2000 sampai 2001 sebagai percobaan pertama selama 20 tahun dalam masalah kesehatan mental orang dewasa. Sebanyak 4.824 orang dewasa di Canberra, Australia ditanya.
Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa lebih banyak wanita yang berorientasi seksual homoseksual dan biseksual dibandingkan pria — 4,5% wanita muda dan 2,7% wanita yang lebih tua, dibandingkan dengan 2,7 pria muda dan 2,4% pria yang lebih tua.
Dari kelompok yang usianya lebih muda, 1% pria dan 1,8% wanita yang homoseksual sedangkan perbandingannya 1,8% pria dan 2,7% wanita yang biseksual.
Dari kelompok yang usianya lebih tua, 1,6% pria dan 2% wanita mengaku sebagai homoseksual dibandingkan 0,8% pria dan wanita yang mengaku biseksual.
Pangeran Cabul dari Paris, Marquis de Sade
Sebutan sadomasokis kerap disampaikan muaranya kepada seorang lelaki Perancis, kelahiran 2 Juni 1740, Marquis de Sade. Penulis buku-buku erotis yang berdarah biru ini ternyata memiliki sejarah hidup yang gelap.
Lelaki yang bernama lengkap Count Donatien-Alphonse-Francois de Sade itu melewati masa kecilnya di sebuah mansion peninggalan leluhurnya, The Conde, Lantas, ketika memasuki usia sekolah, anak yang dikenal cerdas itu ikut pamannya, Abbe de Sade of Ebreuil, menimba pendidikan di Lycee Louis-le-Grand, Paris. Sebagai aristokrat sejati, Sade pada 1754 memperoleh pendidikan militer hingga 1763 sebelum menikah dengan perempuan bangsawan dari Montreuils, yang membuahkan dua anak lelaki (Louis Marie dan Donatien-Claude-Armand) dan seorang putri, Madeleine-Laure.
Petualangan cinta pun mulai merambah dirinya. Sebulan setelah menikah, ia berskandal dengan seorang aktris, La Beauvoisin, Dan yang paling menggemparkan saat ini menyetubuhi dengan brutal Rose Keller, pelacur muda usia yang ia temui di Easter Sunday, Paris suatu hari. Perbuatan itu membuatnya ditahan di benteng Pierre Encise dekat Lyon.
Selama dalam penjara , Sade menulis banyak buku tentang hubungan seksual yang abnormal. Yang paling kondang novel tentang gadis yang menyukai hubungan seks menyimpang, Justine, or the Mosfortune of Virtue (1791). Karyanya yang lain, Juliett, or The Luxuries of vice (1792), Philosophy in the Boudoir (1795), dan The Crimes of Love (1800). Yang paling spektakuler, ia menulis saat berada di penjara Bastille, Paris, yang diberinya judul Les 120 Journees de Sodome yang kemudian diterjemahkan menjadi The One Hundreds and Twenty Days of Sodom (1785) yang menghabiskan kertas sepanjang 12 meter. Banyak lagi tulisan certa pendek dan novel lahir dari pikirannya yang liat dalam penjara yang kemudian membuat namanya kondang.
Penyakit berhubungan seks secara kasar ternyata perlahan-lahan menggerogoti benaknya. terlebih setelah ia ke Marseille, berfoya-foyalah Sade dengan banyak perempuan pekerja seks di kota itu. Apalagi ketika ia bertemu lelaki misterius, Latour, yang punya perilaku serupa. Lagi-lagi, seorang wanota tuna susila belia menjadi korban, Sade dan Laotur memberi anak malang itu permen yang sudah dibubuhi racun sehingga ia meronta-ronta. Bukannya panik, mereka melakukan ritual seks yang abnormal sampai pelacur itu tewas.
Tentu saja pengadilan mengganjar keduanya hukuman mati dengan cara digantung. Vonis pada 12 September 1772 itu terhambat karena Sade melarikan diri dari benteng Mioland dan bersembunyi di ketika istrinya di Kastil La Coste. begitu banyak orang yang memusuhinya hingga ia buron dari satu tempat ke tempat lain. Dan, pada akhirnya Sade bersembunyi di sebuah biara di Charenton, dekat Paris, sampai ia menghembuskan napas terakhir pada 2 Desembar 1814. Namun, bagi pengikut sadomasokis, tak berakhir buah pikir Sade meski tubuhnya telah lama dihimpit bumi.
(S. Dian Andryanto)
Sumber: Majalah Manly
Lelaki yang bernama lengkap Count Donatien-Alphonse-Francois de Sade itu melewati masa kecilnya di sebuah mansion peninggalan leluhurnya, The Conde, Lantas, ketika memasuki usia sekolah, anak yang dikenal cerdas itu ikut pamannya, Abbe de Sade of Ebreuil, menimba pendidikan di Lycee Louis-le-Grand, Paris. Sebagai aristokrat sejati, Sade pada 1754 memperoleh pendidikan militer hingga 1763 sebelum menikah dengan perempuan bangsawan dari Montreuils, yang membuahkan dua anak lelaki (Louis Marie dan Donatien-Claude-Armand) dan seorang putri, Madeleine-Laure.
Petualangan cinta pun mulai merambah dirinya. Sebulan setelah menikah, ia berskandal dengan seorang aktris, La Beauvoisin, Dan yang paling menggemparkan saat ini menyetubuhi dengan brutal Rose Keller, pelacur muda usia yang ia temui di Easter Sunday, Paris suatu hari. Perbuatan itu membuatnya ditahan di benteng Pierre Encise dekat Lyon.
Selama dalam penjara , Sade menulis banyak buku tentang hubungan seksual yang abnormal. Yang paling kondang novel tentang gadis yang menyukai hubungan seks menyimpang, Justine, or the Mosfortune of Virtue (1791). Karyanya yang lain, Juliett, or The Luxuries of vice (1792), Philosophy in the Boudoir (1795), dan The Crimes of Love (1800). Yang paling spektakuler, ia menulis saat berada di penjara Bastille, Paris, yang diberinya judul Les 120 Journees de Sodome yang kemudian diterjemahkan menjadi The One Hundreds and Twenty Days of Sodom (1785) yang menghabiskan kertas sepanjang 12 meter. Banyak lagi tulisan certa pendek dan novel lahir dari pikirannya yang liat dalam penjara yang kemudian membuat namanya kondang.
Penyakit berhubungan seks secara kasar ternyata perlahan-lahan menggerogoti benaknya. terlebih setelah ia ke Marseille, berfoya-foyalah Sade dengan banyak perempuan pekerja seks di kota itu. Apalagi ketika ia bertemu lelaki misterius, Latour, yang punya perilaku serupa. Lagi-lagi, seorang wanota tuna susila belia menjadi korban, Sade dan Laotur memberi anak malang itu permen yang sudah dibubuhi racun sehingga ia meronta-ronta. Bukannya panik, mereka melakukan ritual seks yang abnormal sampai pelacur itu tewas.
Tentu saja pengadilan mengganjar keduanya hukuman mati dengan cara digantung. Vonis pada 12 September 1772 itu terhambat karena Sade melarikan diri dari benteng Mioland dan bersembunyi di ketika istrinya di Kastil La Coste. begitu banyak orang yang memusuhinya hingga ia buron dari satu tempat ke tempat lain. Dan, pada akhirnya Sade bersembunyi di sebuah biara di Charenton, dekat Paris, sampai ia menghembuskan napas terakhir pada 2 Desembar 1814. Namun, bagi pengikut sadomasokis, tak berakhir buah pikir Sade meski tubuhnya telah lama dihimpit bumi.
(S. Dian Andryanto)
Sumber: Majalah Manly
Tidak Boleh Atau Memang Tidak Mau?
Seringkali dalam kehidupan sehari-hari orang bersoloroh dengan temannya mengatakan bahwa si A itu orang yang aseksual. Tetapi sebenarnya maksud seloroh aseksual itu apa sih? Dan mengapa orang bisa menjadi aseksual.
Istilah aseksual berkaitan dengan ketidakhadiran aktivitas seksual atau kadar tanggapan seksual yang rendah. Persatuan sel-sel jantan dan betina secara seksual (seperti sperma dan telur pada manusia) merupakan inti dari reproduksi yang wajar di antara mamalia dan kebanyakan spesies non-mamalia.
Namun, banyak organisme yang bereproduksi melalui cara-cara aseksual, seperti pembentukan spora, berpucuk, atau pembelahan. Organisme yang bereproduksi melalui cara ini tidak memiliki jenis kelamin.
Aseksualitas juga dapat berkenaan dengan tidak adanya ketertarikan atau keterlibatan dalam seks pada spesies seksual. Beberapa aliran keagamaan mengharuskan anggotanya dalam tingkatan tertentu untuk menjauhkan diri dari seks.
Walaupun mungkin mereka memiliki rasa tertarik seksual yang normal, mereka diharuskan bersumpah untuk tidak melakukannya. Dalam beberapa waktu, tidak adanya keterlibatan dalam aktivitas seksual dapat menyebabkan hilangnya ketertarikan seksual. Sumpah untuk menjauhi seks dapat dilakukan diluar arena keagamaan, walaupun biasanya tergantung waktu dan kondisi.
Ketidaktertarikan akan seks juga dapat diakibatkan oleh disfungsi seksual: yaitu, kondisi psikologis atau organik yang menghambat perilaku dan tanggapan seksual normal. Khususnya, dalam kasus ketidak-tertarikan akan seks penuh, kondisi ini dapat di diagnosa sebagai kelainan keinginan seksual.
Pada kelainan ini penderita tidak mempunyai fantasi seksual atau keinginan melakukan seks yang tetap. Lebih jauh lagi, individu ini menunjukkan keengganan yang kuat terhadap kontak kelamin baik heteroseksual ataupun homoseksual. Sebagai tambahan, kegagalan yang berkelanjutan dalam tanggapan seksual dapat menyebabkan penghindaran dari seks atau situasi seksual. Hal ini dapat terjadi kapan saja dalam usia kehidupan seseorang, namun cenderung terjadi lebih sering pada kaum yang sudah berumur.
Kondisi seperti ini dapat memiliki akar emosional, atau dapat juga memiliki penyebab organik. Seringkali mereka dapat diobati melalui terapi seks dan/atau intervensi medis. Namun kelainan ini dapat juga mencerminkan masalah-masalah psikologis kompleks yang sulit disembuhkan. Sebagai tambahan, beberapa individu mungkin secara biologis tidak mampu memiliki keinginan seksual atau terlibat dalam aktivitas seksual dan walaupun merupakan anggota spesies seksual, mereka merupakan aseksual. Namun hal ini merupakan kondisi yang langka dan kebanyakan dari seksual disfungsi dapat diatasi dengan terapi intervensi.
Banyak metode yang bisa dilakukan untuk terapi ini, dan mungkin seorang seksolog akan meninjau masalah aseksual ini kasus per kasus. Tidak semua masalah aseksual bisa disembuhkan hanya dengan satu metode saja.
Istilah aseksual berkaitan dengan ketidakhadiran aktivitas seksual atau kadar tanggapan seksual yang rendah. Persatuan sel-sel jantan dan betina secara seksual (seperti sperma dan telur pada manusia) merupakan inti dari reproduksi yang wajar di antara mamalia dan kebanyakan spesies non-mamalia.
Namun, banyak organisme yang bereproduksi melalui cara-cara aseksual, seperti pembentukan spora, berpucuk, atau pembelahan. Organisme yang bereproduksi melalui cara ini tidak memiliki jenis kelamin.
Aseksualitas juga dapat berkenaan dengan tidak adanya ketertarikan atau keterlibatan dalam seks pada spesies seksual. Beberapa aliran keagamaan mengharuskan anggotanya dalam tingkatan tertentu untuk menjauhkan diri dari seks.
Walaupun mungkin mereka memiliki rasa tertarik seksual yang normal, mereka diharuskan bersumpah untuk tidak melakukannya. Dalam beberapa waktu, tidak adanya keterlibatan dalam aktivitas seksual dapat menyebabkan hilangnya ketertarikan seksual. Sumpah untuk menjauhi seks dapat dilakukan diluar arena keagamaan, walaupun biasanya tergantung waktu dan kondisi.
Ketidaktertarikan akan seks juga dapat diakibatkan oleh disfungsi seksual: yaitu, kondisi psikologis atau organik yang menghambat perilaku dan tanggapan seksual normal. Khususnya, dalam kasus ketidak-tertarikan akan seks penuh, kondisi ini dapat di diagnosa sebagai kelainan keinginan seksual.
Pada kelainan ini penderita tidak mempunyai fantasi seksual atau keinginan melakukan seks yang tetap. Lebih jauh lagi, individu ini menunjukkan keengganan yang kuat terhadap kontak kelamin baik heteroseksual ataupun homoseksual. Sebagai tambahan, kegagalan yang berkelanjutan dalam tanggapan seksual dapat menyebabkan penghindaran dari seks atau situasi seksual. Hal ini dapat terjadi kapan saja dalam usia kehidupan seseorang, namun cenderung terjadi lebih sering pada kaum yang sudah berumur.
Kondisi seperti ini dapat memiliki akar emosional, atau dapat juga memiliki penyebab organik. Seringkali mereka dapat diobati melalui terapi seks dan/atau intervensi medis. Namun kelainan ini dapat juga mencerminkan masalah-masalah psikologis kompleks yang sulit disembuhkan. Sebagai tambahan, beberapa individu mungkin secara biologis tidak mampu memiliki keinginan seksual atau terlibat dalam aktivitas seksual dan walaupun merupakan anggota spesies seksual, mereka merupakan aseksual. Namun hal ini merupakan kondisi yang langka dan kebanyakan dari seksual disfungsi dapat diatasi dengan terapi intervensi.
Banyak metode yang bisa dilakukan untuk terapi ini, dan mungkin seorang seksolog akan meninjau masalah aseksual ini kasus per kasus. Tidak semua masalah aseksual bisa disembuhkan hanya dengan satu metode saja.
Sunday, March 11, 2007
Pedofilia: Jaringan Kejahatan International
Oleh : Najlah Naqiyah
Kasus pedofilia yang diungkap oleh polwiltabes Surabaya melibatkan jaringan Koko Roy (58 th) menandaskan bahwa kasus eksploitasi seks anak baru gede bukan saja didasari oleh kelainan seksual semata tetapi juga bermotif ekonomi. (Jawa pos, 7/11/06). Koko roy telah menggauli 8 ABG dengan dihargai Rp 1 juta menurut pengakuannya. Selama ini, modus operandi yang dilakukan melibatkan banyak orang, mulai dari mucikari, perekam dan pelanggan serta pengedar film porno. Sekelumit fakta ini adalah sedikit dari sindikat pedofilia yang terditeksi. Masih banyak gerakan kejahatan yang belum ditangkap dan mengancam kehidupan para ABG dari berbagai daerah.
Jaringan trafficking para pedofilia saat ini mulai marak, seiring banyaknya publikasi di media masa menyoroti penyimpangan seks pedofilia yang mengerikan. Kesungguhan para polisi menguak sindikat kejahatan international berupa bisnis prostitusi, norkotika tidak bisa diacuhkan begitu saja. Jaringan pedofilia adalah salah satu jenis trafficking yang patut di cermati secara kritis, karena ancaman yang ditimbulkan oleh ulah pedofilia menghancurkan para generasi muda secara biadab. Trafficking oleh pedofilia menjadi bisnis kejahatan ekonomi yang mengorbankan kemanusiaan.
Pedofilia adalah ketertarikan untuk melakukan hubungan seksual dengan anak kecil. Pedofilia penyakit yang menimpa para orang tua yang telah berumur memiliki kelainan seksual. Mereka ini menyukai anak-anak di bawah umur untuk melampiaskan nafsunya. Kekerasan akibat ulah pedofilia meresahkan para orang tua dan anak-anak. Perbuatan pedofilia menghambat anak-anak untuk tumbuh kembang dengan normal. Para korban pedofilia mengalami siksaan fisik dan psikis berkepanjangan. Kekerasan seksual pada anak-anak menyebabkan stress dan trauma. Anak-anak korban kekerasan pedofilia mengakibatkan psycological abuse dan fisiological abuse. Anak-anak kehilangan masa pertumbuhan mereka karena ulah kejahatan tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.
Tindakan Koko Roy yang merekam 100 lebih adegan porno di hp selulernya tentang aktivitas seksualnya adalah indikasi kejahatan. Kemungkinan Koko roy akan mengedarkan ke jaringan mereka melalui hp dan internet di lintas negara. Tidak mustahil para pedofilia dari berbagai negara bisa mengakses dengan mudah gambar porno yang dihasilkan oleh Koko roy dengan membayar sejumlah uang. Dengan demikian, maraknya kejahatan seksual yang direkam akan menambah maraknya kejahatan trafficking lintas negara. Seiring kemajuan zaman dan teknologi, jaringan kejahatan international mengembangkan sistem operandi bisnis prostitusi dan narkotika lintas negara. Acap kali kejahatan international diorganisir melibatkan jaringan lokal dengan mengeksploitasi anak-anak baru gede untuk kepentingan ekonomi. Kemajuan teknologi telepon seluler, yang dipergunakan untuk menyimpan, menyebarkan gambar-gambar dan video porno merupakan salah satu dari modus operandi kejahatan yang bisa diakses di internet.
Dampak negatif dari kemajuan teknologi hp dan internet adalah memudahkan sekelompok orang menjalankan operandi kejahatan. Serangkaian tindakan dilakukan untuk menjerat anak-anak masuk jaringan bisnis prostitusi melalui komunikasi dengan hp. Telepon seluler digunakan sebagai alat menipu dan menjebak anak-anak dengan iming-iming harta melimpah.
Kebanyakan anak memiliki fasilitas telepon dari orang tua mereka. Tujuannya untuk menyenangkan anak-anak dan mudah mengontrol keberadaan anak-anak saat jauh dari rumah. Alih-alih para orang tua mendapat informasi yang benar, justru yang terjadi anak-anak sering mudah berbohong ke orang tua mereka. Para orang tua tidak lagi bisa mengendalikan dimana anak-anak mereka berada. Mereka hanya mengecek via sms atau menelpon langsung. Terkadang, anak-anak sulit terlacak dengan benar keberadaan mereka dimana. Dengan telepon seluler pula, anak-anak seringkali terperosok ke pergaulan, memilih teman dengan bebas. Anak-anakpun mudah bergaul dengan siapa saja melalui telepon selulernya, dan tidak bisa dipantau oleh orang tua secara langsung.
Mengatasi kasus traficking para pedofilia
Bagaimana mengatasi para pedofilia yang tengah menebarkan jaringan melalui jebakan harta dan popularitas? Pertama, upaya rehabilitasi bagi para pedofilia mesti dilakukan disamping upaya hukum. Pedofilia adalah penyakit mental yang berawal dari sikap penyimpangan seksual terhadap anak-anak di bawah umur. Upaya rehabilitasi bagi para usia lanjut yang mengidap kealainan mental, dilakukan oleh terapis. Upaya rehabilitasi untuk pedofilia bisa difasilitasi oleh pemerintah dan swasta melalui pusat perbaikan mental pedofilia. Biasanya, terapis mengajak para usia lanjut dengan cara berdiskusi, berlatih, menyadarkan pikiran, perbuatan dan sikap mereka. Perbuatan seks menyimpang bisa sembuh dengan keterampilan-keterampilan mengatasi dorongan impulsive (kesenangan sesaat) mereka. Membangun kesadaran pengidap pedofilia perlu digalakkan untuk meminimalisir gerakan mereka.
Kedua, Membatasi gerak jaringan pedofilia dengan cara menghukum pelaku pedofilia secara tegas. Upaya hukum yang seberat-beratnya bagi pelaku dilakukan tanpa pandang bulu. Pedofilia yang kaya tidak boleh mendapatkan keistimewaan hukum. Sebab kalau hal itu dilakukan maka akan membawa dampak bagi merebaknya tindak kejahatan yang makin terorganisir.
Ketiga, upaya perbaikan bagi korban pedofilia yang kebanyakan anak-anak baru gede perlu diberikan bimbingan dan pendampingan. Anak-anak dilatih dengan keterampilan mengelola stres dan mengatasi trauma. Anak-anak dibimbing untuk tumbuh kembang sesuai dengan masa perkembangan mereka. Upaya pencegahan dengan memberikan akses informasi akibat seks bebas. Akses pilihan pekerjaan yang sesuai dengan minat mereka.
(najlah.blogspot.com)
Kasus pedofilia yang diungkap oleh polwiltabes Surabaya melibatkan jaringan Koko Roy (58 th) menandaskan bahwa kasus eksploitasi seks anak baru gede bukan saja didasari oleh kelainan seksual semata tetapi juga bermotif ekonomi. (Jawa pos, 7/11/06). Koko roy telah menggauli 8 ABG dengan dihargai Rp 1 juta menurut pengakuannya. Selama ini, modus operandi yang dilakukan melibatkan banyak orang, mulai dari mucikari, perekam dan pelanggan serta pengedar film porno. Sekelumit fakta ini adalah sedikit dari sindikat pedofilia yang terditeksi. Masih banyak gerakan kejahatan yang belum ditangkap dan mengancam kehidupan para ABG dari berbagai daerah.
Jaringan trafficking para pedofilia saat ini mulai marak, seiring banyaknya publikasi di media masa menyoroti penyimpangan seks pedofilia yang mengerikan. Kesungguhan para polisi menguak sindikat kejahatan international berupa bisnis prostitusi, norkotika tidak bisa diacuhkan begitu saja. Jaringan pedofilia adalah salah satu jenis trafficking yang patut di cermati secara kritis, karena ancaman yang ditimbulkan oleh ulah pedofilia menghancurkan para generasi muda secara biadab. Trafficking oleh pedofilia menjadi bisnis kejahatan ekonomi yang mengorbankan kemanusiaan.
Pedofilia adalah ketertarikan untuk melakukan hubungan seksual dengan anak kecil. Pedofilia penyakit yang menimpa para orang tua yang telah berumur memiliki kelainan seksual. Mereka ini menyukai anak-anak di bawah umur untuk melampiaskan nafsunya. Kekerasan akibat ulah pedofilia meresahkan para orang tua dan anak-anak. Perbuatan pedofilia menghambat anak-anak untuk tumbuh kembang dengan normal. Para korban pedofilia mengalami siksaan fisik dan psikis berkepanjangan. Kekerasan seksual pada anak-anak menyebabkan stress dan trauma. Anak-anak korban kekerasan pedofilia mengakibatkan psycological abuse dan fisiological abuse. Anak-anak kehilangan masa pertumbuhan mereka karena ulah kejahatan tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.
Tindakan Koko Roy yang merekam 100 lebih adegan porno di hp selulernya tentang aktivitas seksualnya adalah indikasi kejahatan. Kemungkinan Koko roy akan mengedarkan ke jaringan mereka melalui hp dan internet di lintas negara. Tidak mustahil para pedofilia dari berbagai negara bisa mengakses dengan mudah gambar porno yang dihasilkan oleh Koko roy dengan membayar sejumlah uang. Dengan demikian, maraknya kejahatan seksual yang direkam akan menambah maraknya kejahatan trafficking lintas negara. Seiring kemajuan zaman dan teknologi, jaringan kejahatan international mengembangkan sistem operandi bisnis prostitusi dan narkotika lintas negara. Acap kali kejahatan international diorganisir melibatkan jaringan lokal dengan mengeksploitasi anak-anak baru gede untuk kepentingan ekonomi. Kemajuan teknologi telepon seluler, yang dipergunakan untuk menyimpan, menyebarkan gambar-gambar dan video porno merupakan salah satu dari modus operandi kejahatan yang bisa diakses di internet.
Dampak negatif dari kemajuan teknologi hp dan internet adalah memudahkan sekelompok orang menjalankan operandi kejahatan. Serangkaian tindakan dilakukan untuk menjerat anak-anak masuk jaringan bisnis prostitusi melalui komunikasi dengan hp. Telepon seluler digunakan sebagai alat menipu dan menjebak anak-anak dengan iming-iming harta melimpah.
Kebanyakan anak memiliki fasilitas telepon dari orang tua mereka. Tujuannya untuk menyenangkan anak-anak dan mudah mengontrol keberadaan anak-anak saat jauh dari rumah. Alih-alih para orang tua mendapat informasi yang benar, justru yang terjadi anak-anak sering mudah berbohong ke orang tua mereka. Para orang tua tidak lagi bisa mengendalikan dimana anak-anak mereka berada. Mereka hanya mengecek via sms atau menelpon langsung. Terkadang, anak-anak sulit terlacak dengan benar keberadaan mereka dimana. Dengan telepon seluler pula, anak-anak seringkali terperosok ke pergaulan, memilih teman dengan bebas. Anak-anakpun mudah bergaul dengan siapa saja melalui telepon selulernya, dan tidak bisa dipantau oleh orang tua secara langsung.
Mengatasi kasus traficking para pedofilia
Bagaimana mengatasi para pedofilia yang tengah menebarkan jaringan melalui jebakan harta dan popularitas? Pertama, upaya rehabilitasi bagi para pedofilia mesti dilakukan disamping upaya hukum. Pedofilia adalah penyakit mental yang berawal dari sikap penyimpangan seksual terhadap anak-anak di bawah umur. Upaya rehabilitasi bagi para usia lanjut yang mengidap kealainan mental, dilakukan oleh terapis. Upaya rehabilitasi untuk pedofilia bisa difasilitasi oleh pemerintah dan swasta melalui pusat perbaikan mental pedofilia. Biasanya, terapis mengajak para usia lanjut dengan cara berdiskusi, berlatih, menyadarkan pikiran, perbuatan dan sikap mereka. Perbuatan seks menyimpang bisa sembuh dengan keterampilan-keterampilan mengatasi dorongan impulsive (kesenangan sesaat) mereka. Membangun kesadaran pengidap pedofilia perlu digalakkan untuk meminimalisir gerakan mereka.
Kedua, Membatasi gerak jaringan pedofilia dengan cara menghukum pelaku pedofilia secara tegas. Upaya hukum yang seberat-beratnya bagi pelaku dilakukan tanpa pandang bulu. Pedofilia yang kaya tidak boleh mendapatkan keistimewaan hukum. Sebab kalau hal itu dilakukan maka akan membawa dampak bagi merebaknya tindak kejahatan yang makin terorganisir.
Ketiga, upaya perbaikan bagi korban pedofilia yang kebanyakan anak-anak baru gede perlu diberikan bimbingan dan pendampingan. Anak-anak dilatih dengan keterampilan mengelola stres dan mengatasi trauma. Anak-anak dibimbing untuk tumbuh kembang sesuai dengan masa perkembangan mereka. Upaya pencegahan dengan memberikan akses informasi akibat seks bebas. Akses pilihan pekerjaan yang sesuai dengan minat mereka.
(najlah.blogspot.com)
Saturday, March 10, 2007
Menjenguk Identitas Kaum Homoseksual
KEHIDUPAN perkotaan atau masyarakat urban belakangan ini berkembang dengan pesat. Bukan hanya soal gaya hidup, tatanan nilai dan norma-norma kehidupan pun mulai bergeser dan berkembang, menurut sebagian masyarakat. Suatu masyarakat memiliki kecenderungan menerima perkembangan dan perubahan itu. Namun, sebagian lagi, yang mengikuti tatanan norma, budaya, dan etika moral, menolaknya.
Bagaimana kita menyikapi perubahan itu. Terutama jika perubahan itu adalah hal yang sangat berbeda dengan nilai-nilai tradisi masyarakat. Beberapa wanita kosmopolitan, kelompok budaya, komunitas homoseksual, serta kelompok agama pun memiliki pendapat masing-masing. Dari berbagai kelompok masyarakat itu, British Council menyelenggarakan ajang diskusi interaktif bertemakan gaya hidup masyarakat urban di British Council, Jakarta.
Dalam diskusi itu hadir pembicara Marcel Latuihamallo PhD Msc dari Yayasan Mitra Indonesia, sutradara film Nia Dinata, Ismira Lutfia si Gadis Tiara Sunsilk 1997, dan dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Semarang Abdul Mu'ti.
Dalam diskusi, Marcel menceritakan makin terbukanya kaum homoseksual mengekspresikan diri dan membentuk kelompok 'gaul'. Bahkan mereka telah memiliki sebuah tempat hiburan yang dikhususkan bagi kaum gay, seperti di Jakarta dan Bali.
Menurut Marcel, banyak lelaki para homoseksual yang bisa berekspresi dengan bebas dan mendapatkan uang pula. Marcel pun menyebut nama aktor yang sering memerankan tokoh banci yang telah punya nama dan telah meraup uang dari ekspresinya di dunia entertaint dan dunia film. Dan itu merupakan kemajuan yang cukup baik. Gaya-gaya si aktor, baik bahasa tubuhnya maupun gaya bicaranya pun, kini banyak ditiru oleh banyak pemuda di Ibu Kota.
Kaum homoseksual di Ibu Kota sudah berani mengekspresikan diri serta mengekspresikan gaya bermain seksualnya. Menurut Marcel yang mengenali dunia homoseksual sejak dia muda (saat ini dia berusia 50), para homoseksual bukan hanya mengekspresikan jati dirinya saja, melainkan juga berani mengekspresikan cara-cara dia bermain seksual. Misalnya, dengan menaruh sapu tangan di kantung belakang celananya. Bila sapu tangan berwarna abu-abu, maka si pria itu menginginkan lelaki homo yang ditemuinya di mana pun, yang senang berstelan jas. Bila berwarna biru, berarti si homo berkeinginan melakukan seks memakai duburnya, dan sebagainya. ''Untung saya tidak melakukan itu,'' ujar Marcel, sambil tertawa.
Sedangkan Nia Dinata, sutradara film Ca Bau Khan dan Biola Tak Berdawai, menekankan perlunya anak diberi pengertian bahwa semua orang berbeda cara, pendapat, dan keinginannya. Cara, keinginan, dan pilihan masing-masing orang harus dihormati. ''Kita tidak hanya memberikan teori saja, tetapi memberikan contoh dan praktiknya sekaligus,'' kata Nia.
Dijelaskan Nia, dia sudah tidak kaget melihat kaum homoseksual, karena di jajaran keluarganya, ada dua orang pamannya yang menjadi homoseksual. Dan Nia sendiri pun memiliki rekan yang homoseksual, yang pernah tidur satu rumah dengannya selama di luar negeri. ''Suami saya memberi izin karena teman saya itu seperti teman wanita saya saja,'' kata Nia.
Saat tinggal di luar negeri, anak Nia sempat menanyakan soal perbedaan teman Nia (yang di mata anaknya seperti ayahnya) melakukan perawatan muka. Dia pun memberikan pengajaran soal adanya perbedaan dan pilihan bagi berbagai individu. Sehingga dia memasukkan anak-anaknya ke sekolah yang diisi oleh anak sekolah yang menganut berbagai macam agama. ''Sejak kecil anak saya sudah harus melihat adanya perbedaan itu, sehingga yang dia dapatkan bukan hanya teori, tapi juga praktik,'' ujar Nia.
Sementara itu, Abdullah Mu'ti, dosen IAIN Semarang, menyoroti banyaknya orang yang sering tidak saling menghormati. Padahal saling menghormati adalah hal yang sangat baik dan patut dijalankan oleh semua pemeluk ajaran mana pun untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.
Begitu juga soal pilihan untuk menjadi kaum homo, menurutnya, perlu dihormati. ''Kita tidak tahu apa masalah seseorang itu hingga memilih jati dirinya itu. Yang jelas kita harus menghormati pilihannya, karena tidak segala sesuatunya bisa diselesaikan dengan hubungan kemanusiaan,'' ujar Abdulah.
Dia juga menjelaskan, banyak individu yang merasa dirinya beragama, namun menjadi sombong dan berani menghakimi seseorang. ''Dia merasa beragama, sehingga sah menyalahkan dan menghakimi orang lain,'' kata Abdullah.
Menurut dia, agama saja memberikan kebebasan kepada manusia untuk berekspresi, dan hanya sedikit bentuk larangan di dalam agama. ''Tampil modis juga disuruh oleh agama,'' ujar Abdulah.
(MI-online)
Bagaimana kita menyikapi perubahan itu. Terutama jika perubahan itu adalah hal yang sangat berbeda dengan nilai-nilai tradisi masyarakat. Beberapa wanita kosmopolitan, kelompok budaya, komunitas homoseksual, serta kelompok agama pun memiliki pendapat masing-masing. Dari berbagai kelompok masyarakat itu, British Council menyelenggarakan ajang diskusi interaktif bertemakan gaya hidup masyarakat urban di British Council, Jakarta.
Dalam diskusi itu hadir pembicara Marcel Latuihamallo PhD Msc dari Yayasan Mitra Indonesia, sutradara film Nia Dinata, Ismira Lutfia si Gadis Tiara Sunsilk 1997, dan dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Semarang Abdul Mu'ti.
Dalam diskusi, Marcel menceritakan makin terbukanya kaum homoseksual mengekspresikan diri dan membentuk kelompok 'gaul'. Bahkan mereka telah memiliki sebuah tempat hiburan yang dikhususkan bagi kaum gay, seperti di Jakarta dan Bali.
Menurut Marcel, banyak lelaki para homoseksual yang bisa berekspresi dengan bebas dan mendapatkan uang pula. Marcel pun menyebut nama aktor yang sering memerankan tokoh banci yang telah punya nama dan telah meraup uang dari ekspresinya di dunia entertaint dan dunia film. Dan itu merupakan kemajuan yang cukup baik. Gaya-gaya si aktor, baik bahasa tubuhnya maupun gaya bicaranya pun, kini banyak ditiru oleh banyak pemuda di Ibu Kota.
Kaum homoseksual di Ibu Kota sudah berani mengekspresikan diri serta mengekspresikan gaya bermain seksualnya. Menurut Marcel yang mengenali dunia homoseksual sejak dia muda (saat ini dia berusia 50), para homoseksual bukan hanya mengekspresikan jati dirinya saja, melainkan juga berani mengekspresikan cara-cara dia bermain seksual. Misalnya, dengan menaruh sapu tangan di kantung belakang celananya. Bila sapu tangan berwarna abu-abu, maka si pria itu menginginkan lelaki homo yang ditemuinya di mana pun, yang senang berstelan jas. Bila berwarna biru, berarti si homo berkeinginan melakukan seks memakai duburnya, dan sebagainya. ''Untung saya tidak melakukan itu,'' ujar Marcel, sambil tertawa.
Sedangkan Nia Dinata, sutradara film Ca Bau Khan dan Biola Tak Berdawai, menekankan perlunya anak diberi pengertian bahwa semua orang berbeda cara, pendapat, dan keinginannya. Cara, keinginan, dan pilihan masing-masing orang harus dihormati. ''Kita tidak hanya memberikan teori saja, tetapi memberikan contoh dan praktiknya sekaligus,'' kata Nia.
Dijelaskan Nia, dia sudah tidak kaget melihat kaum homoseksual, karena di jajaran keluarganya, ada dua orang pamannya yang menjadi homoseksual. Dan Nia sendiri pun memiliki rekan yang homoseksual, yang pernah tidur satu rumah dengannya selama di luar negeri. ''Suami saya memberi izin karena teman saya itu seperti teman wanita saya saja,'' kata Nia.
Saat tinggal di luar negeri, anak Nia sempat menanyakan soal perbedaan teman Nia (yang di mata anaknya seperti ayahnya) melakukan perawatan muka. Dia pun memberikan pengajaran soal adanya perbedaan dan pilihan bagi berbagai individu. Sehingga dia memasukkan anak-anaknya ke sekolah yang diisi oleh anak sekolah yang menganut berbagai macam agama. ''Sejak kecil anak saya sudah harus melihat adanya perbedaan itu, sehingga yang dia dapatkan bukan hanya teori, tapi juga praktik,'' ujar Nia.
Sementara itu, Abdullah Mu'ti, dosen IAIN Semarang, menyoroti banyaknya orang yang sering tidak saling menghormati. Padahal saling menghormati adalah hal yang sangat baik dan patut dijalankan oleh semua pemeluk ajaran mana pun untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.
Begitu juga soal pilihan untuk menjadi kaum homo, menurutnya, perlu dihormati. ''Kita tidak tahu apa masalah seseorang itu hingga memilih jati dirinya itu. Yang jelas kita harus menghormati pilihannya, karena tidak segala sesuatunya bisa diselesaikan dengan hubungan kemanusiaan,'' ujar Abdulah.
Dia juga menjelaskan, banyak individu yang merasa dirinya beragama, namun menjadi sombong dan berani menghakimi seseorang. ''Dia merasa beragama, sehingga sah menyalahkan dan menghakimi orang lain,'' kata Abdullah.
Menurut dia, agama saja memberikan kebebasan kepada manusia untuk berekspresi, dan hanya sedikit bentuk larangan di dalam agama. ''Tampil modis juga disuruh oleh agama,'' ujar Abdulah.
(MI-online)
Parafilia, Penyimpangan Perilaku Seks
ADANYA kejanggalan di luar yang lazim dianggap sebagai kelainan. Begitu pula perilaku seksual, banyak di lingkungan seputar kita dapat dijumpai penderita parafilia (kelainan psikoseksual) yang disebut voyeurism, pengidap gangguan psikoseksual. Kebanyakan mereka adalah kaum laki-laki yang menyukai kegiatan seksual tidak lazim, mulai dari mengintip, memamerkan alat kelamin sampai mengenakan pakaian wanita. Dalam dunia kedokteran, voyeurism dikenal dengan istilah skopofilia, yakni adanya dorongan yang tidak terkendali untuk secara diam-diam melihat atau mengintip wanita yang sedang telanjang, melakukan kegiatan seksual, melepaskan pakaian wanita.
Mengintip menjadi cara eksklusif untuk mendapatkan kepuasan seksual. Dengan cara tersebut penderita mengalami kepuasan seksual dari situ. Dan anehnya lagi, ia sama sekali tidak menginginkan berhubungan seksual dengan wanita yang diintipnya. Ia hanya berharap memperoleh kepuasan orgasme dengan cara melakukan masturbasi.
Namun penyuka film porno jangan takut dikatakan menderita kelainan ini, karena para pemain film porno itu dengan sengaja menghendaki dan menyadari mereka akan ditonton orang lain. Makanya, ini berbeda dengan pria normal yang baru mendapatkan kepuasan seksual setelah melakukan persetubuhan (terkadang mastrubasi).
Penyimpangan psikologis
Ada jenis lain parafilia selain voyeurisme, seperti ekshibisionisme, transvestisme, paedofilia, masokisme, fetisisme, dll. Sebagai ciri utamanya, penyimpangan psikoseksual ini adalah timbulnya fantasi atau tindakan yang tidak lazim dan merupakan keharusan untuk mendapatkan kepuasan seksual. Fantasi ini cenderung berulang secara mendadak dan terjadi dengan sendirinya. Penyebab utamanya berhubungan dengan faktor psikologis. Sedangkan gangguan fungsi karena kelainan atau gangguan organik pada alat kelamin tidak dimasukkan dalam parafilia
Bila fantasinya tidak bisa dimanifestasikan dengan sesungguhnya, baik dengan pasangan maupun melakukan kegiatan sendirian, maka hal yang dibayangkan haruslah terdapat dalam fantasi yang menyertai masturbasi atau persetubuhan. Sebab pada saat itulah nafsu erotiknya bangkit, sebaliknya jika tidak terdapat fantasi parafilia yang dibayangkan, maka kepuasan seksual atau orgasme tidak akan tercapai.
Para penderita parafilia sering tidak mampu melakukan hubungan seksual yang penuh kasih sayang secara timbal balik. Juga terdapat disfungsi psikoseksual seperti nafsu seksual normal yang terhambat, ejakulasi dini, orgasme terhambat, atau pada wanita timbul diprapeunia (vagina terasa nyeri waktu melakukan hubungan seksual).
Ciri lain dari parafilia adalah berperilaku demikian umumnya tidak merasa cemas atau depresi, meski dalam banyak kasus ada juga yang merasa bersalah, malu atau depresi karena seringnya melakukan kegiatan seksual tidak normal atau lazim. Penderita rata-rata tidak merasa atau menganggap dirinya tidak sakit atau mengidap kelainan seksual, sampai ia mendapatkan perhatian dokter akibat perbuatan seksual itu yang menimbulkan konflik di sekitarnya.
Begitupun dalam dirinya juga terdapat gangguan kepribadian, terutama dalam hal kedewasaan emosi. Sehingga hubungan sosial dan seksual terganggu bila perilaku seksualnya itu diketahui orang dekatnya, seperti istri, atau bila pasangan sesksualnya tidak lazim. Oleh karena itu, pendekatan kepada penderita hendaknya dengan penuh pengertian, tidak dengan menghakimi atau mempermasalahkan. Juga dicoba menyelami perasaan dan jiwa mereka karena acap kali gangguan itu terbentuk dari keinginan dan pengalaman masa lalu.
Boneka wanita
Penderita fetisisme banyak menggunakan benda mati sebagi cara eksklusif untuk mencapai kepuasan seksual. Fetisy dapat berupa suatu bagian dari tubuh wanita seperti bulu kemaluan, rambut. Dapat juga berupa pakaian atau benda lain milik wanita semacam Bra (BH), sepatu, dan barang lainnya. Ada pula yang berkaitan dengan fetisys di masa kecil.
Kegiatan seksual dapat ditujukan pada fetisy itu sendiri seperti melakukan masturbasi menggunakan BH, lalu berejakulasi ke dalamnya. Atau, fetisy diintegrasikan dengan kegiatan seksual dengan orang lain, seperti menuntut agar pasangannya mengenakan BH warna tertentu atau sepatu berhak tinggi saat melakukan kegiatan seksual. Semua benda-benda itu mutlak dibutuhkan untuk dapat membangkitkan nafsu seksualnya.
Termasuk dalam golongan fetisme adalah manekinisme yang fetisy-nya berupa manekin (patung pamer pakaian) di toko. Ada lagi pigmalionisme yang fetisy-nya berbentuk arca hasil pahatan. Istilah ini diambil dari nama raja Cyprus, Pygmalion, yang jatuh cinta kepada patung wanita hasil pahatannya sendiri. Kadang-kadang penderita fetisme bisa berurusan dengan kepolisian dan aparat hukum karena mencuri BH yang sedang dijemur.
Berpakaian wanita
Terasa aneh kedengarannya penderita kelainan transvestisme. Pria heteroseksual dalam fantasinya atau secara aktual mengenakan pakaian wanita untuk membangkitkan nafsu seksual dan kemudian mendapatkan kepuasan seksual. Mengenakan pakaian wanita merupakan pernyataan identifikasi diri sebagai "wanita" (feminine identification). Jika keinginan mengenakan pakaian wanita tidak tersampaikan, ia akan frustrasi.
Biasanya kelainan ini bermula sejak anak-nak atau remaja. Seperangkat pakaian yang disukai dapat menjadi benda yang merangsang nafsu seksualnya. Yang dikenakan mula-mula hanya terbatas cross-dressing parsial (hanya mengenakan pakaian wanita BH dan celana dalam), lama kelamaan, ia mengenakan pakaian wanita lengkap, cross-dressing total.
Seiring dengan bertambahnya usia, kecenderungan untuk mendapatkan kepuasan seksual melalui cara ini dapat berkurang atau bahkan hilang. Walaupun ada kalanya sejumlah transvestif muncul pada usia lebih lanjut, yang menghendaki mengenakan pakaian wanita dan hidup sebagai wanita secara tetap.
Dalam kasus transeksualisme ini; penderita ingin berganti kelamin, menjadi seperti lawan jenis, dan tidak lagi mendapatkan kepuasan seksual hanya dengan cross-dressing. Penderita merasa dirinya benar-benar wanita.
Tertangkap basah
Ekshibisionisme penis merupakan jenis parafilia lainnya. Pada kelainan psikoseksual ini, penderita senang mempertontonkan penisnya kepada orang yang tidak dikenal. Tujuannya untuk memperoleh kepuasan seksual tanpa bermaksud melakukan kegiatan seksual dengan orang yang melihatnya.
Kepuasan seksual diperoleh penderita pada saat melihat reaksi takut, terperanjat, kagum, atau menjerit dari orang yang melihatnya. Orgasme dicapai dengan melakukan masturbasi saat itu juga atau sesaat kemudian. Perasaannya akan terasa lega begitu berhasil memamerkan penisnya pada wanita dewasa atau anak dengan usia dan bentuk tubuh sesuai keinginannya.
Acap kali seorang eksihibisionis dapat melakukan tindakan pengamanan supaya tidak tertangkap basah saat melakukannya. Ia teliti dahulu sebelum apakah ada pria lain yang mengamatinya atau menutup kembali penisnya bila tiba-tiba muncul seseorang. Ekshibisionis banyak ditemukan pada usia 20-an dan banyak di antaranya mengalami ereksi dalam aktivitas seksual lainnya.
Sadis serta menakutkan
Jenis-jenis parafilia di atas tadi tidak melibatkan kontak seksual yang merugikan lawan jenis. Tetapi tidak demikian dengan sadomasokisme dan paedofilia. Pada sadomasokisme terdapat penggabungan unsur sadistis dan masokistik saat melakukan hubungan seksual. Dikatakan sadistik kalau ia melukai atau menyakiti orang lain secara sengaja atau ancaman demi kepuasan seksual.
Dibilang masokistis kalau rangsangan seksual diperoleh ketika menjadi sasaran rasa sakit atau ancaman rasa sakit. Yang lebih menyedihkan bila kelainan itu berupa paedofilia. Sebab, sasaran kepuasan seksualnya diarahkan pada anak-anak yang belum puber. Sekitar dua pertiga korban kelainan ini adalah anak-anak berusia 8-11 tahun.
Kebanyakan paedofilia menjangkiti pria, tetapi ada pula kasus wanita berhubungan seks secara berulang dengan anak-anak. Banyak kaum paedofilia mengenal korbannya, seperti saudara, tetangga, atau kenalan. Kaum paedofil dikategorikan menjadi tiga golongan, yakni di atas 50 tahun, 20-an hingga 30 tahun. Dan para remaja. Sebagian besar mereka adalah para heteroseksual dan banyak juga para ayah.
Menangani parafilia
Tidak gampang untuk menangani para penderita parafilia. Karena mereka sering tidak menghendaki atau merasa tidak perlu mendapat terapi. Namun demikian, perlu ada beberapa terapi psikiatrik yang dapat dicoba. Pertama, melakukan pendekatan psikodinamik dan psikoanalitik (menggali pengalaman masa lalu yang menyebabkan kelainan kejiwaan). Kedua, Melakukan terapi perilaku yang terdiri dari aversive conditioning, yaitu conditioning untuk menimbulkan rangsangan (stimulus) terhadap lawan jenis.
Atau mengukur tingkat birahi dengan pletismometris penis. Tentang terapi ini Prof. Arif Adimoelya, seorang ahli androlog dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, terapi aversion diperlukan untuk menghilangkan conditioning yang ada atau hal-hal yang menyebabkan kelainan psikoseksual.
Penderita diberi kejutan listrik sementara disuguhi gambar-gambar atau film mengenai penyimpangan seksual. Khususnya pada voyeurisme dan ekshibisionisme, penderita hendaknya dipacu secara halus untuk lebih berani berkomunikasi langsung dengan lawan jenisnya, sehingga diharapkan lambat laun akan berani melakukan kontak badan langsung. Atau penderita diajari mengatasi rasa takut dan malu untuk mengungkapkan keinginan seks yang benar.
Ketiga, karena umumnya penderita mempunyai sifat dasar kekurangan social skill (kecakapan sosial), maka mereka perlu disertakan dalam program terapi yang mengajarkan kecakapan sosial serta empati terhadap dunia sekelilingnya. Ditambah lagi terapi perilaku secara individual.
Keempat, terapi farmakologi yang meliputi pemberian hormon wanita, anti androgen, dan obat-obatan golongan penghambat daur ulang serotonin yang biasanya digunakan untuk mengobati penderita depresi tetapi keberhasilan terapi ini tampak lebih disebabkan oleh penurunan nafsu birahinya. Terapi ini mungkin lebih efektif pada penderita parafilia bersifat hiperseks.
Kelima, tidak kurang pentingnya perhatian masyarakat terhadap penderita. Mereka hendaknya tidak dicemoohkan tetapi diberi pengarahan agar berusaha menghilangkan kebiasaan yang memalukan tersebut. (Asep Candra Abdillah, pemerhati masalah kesehatan bersumber dari Ints.)***
(pikiran-rakyat.com)
Mengintip menjadi cara eksklusif untuk mendapatkan kepuasan seksual. Dengan cara tersebut penderita mengalami kepuasan seksual dari situ. Dan anehnya lagi, ia sama sekali tidak menginginkan berhubungan seksual dengan wanita yang diintipnya. Ia hanya berharap memperoleh kepuasan orgasme dengan cara melakukan masturbasi.
Namun penyuka film porno jangan takut dikatakan menderita kelainan ini, karena para pemain film porno itu dengan sengaja menghendaki dan menyadari mereka akan ditonton orang lain. Makanya, ini berbeda dengan pria normal yang baru mendapatkan kepuasan seksual setelah melakukan persetubuhan (terkadang mastrubasi).
Penyimpangan psikologis
Ada jenis lain parafilia selain voyeurisme, seperti ekshibisionisme, transvestisme, paedofilia, masokisme, fetisisme, dll. Sebagai ciri utamanya, penyimpangan psikoseksual ini adalah timbulnya fantasi atau tindakan yang tidak lazim dan merupakan keharusan untuk mendapatkan kepuasan seksual. Fantasi ini cenderung berulang secara mendadak dan terjadi dengan sendirinya. Penyebab utamanya berhubungan dengan faktor psikologis. Sedangkan gangguan fungsi karena kelainan atau gangguan organik pada alat kelamin tidak dimasukkan dalam parafilia
Bila fantasinya tidak bisa dimanifestasikan dengan sesungguhnya, baik dengan pasangan maupun melakukan kegiatan sendirian, maka hal yang dibayangkan haruslah terdapat dalam fantasi yang menyertai masturbasi atau persetubuhan. Sebab pada saat itulah nafsu erotiknya bangkit, sebaliknya jika tidak terdapat fantasi parafilia yang dibayangkan, maka kepuasan seksual atau orgasme tidak akan tercapai.
Para penderita parafilia sering tidak mampu melakukan hubungan seksual yang penuh kasih sayang secara timbal balik. Juga terdapat disfungsi psikoseksual seperti nafsu seksual normal yang terhambat, ejakulasi dini, orgasme terhambat, atau pada wanita timbul diprapeunia (vagina terasa nyeri waktu melakukan hubungan seksual).
Ciri lain dari parafilia adalah berperilaku demikian umumnya tidak merasa cemas atau depresi, meski dalam banyak kasus ada juga yang merasa bersalah, malu atau depresi karena seringnya melakukan kegiatan seksual tidak normal atau lazim. Penderita rata-rata tidak merasa atau menganggap dirinya tidak sakit atau mengidap kelainan seksual, sampai ia mendapatkan perhatian dokter akibat perbuatan seksual itu yang menimbulkan konflik di sekitarnya.
Begitupun dalam dirinya juga terdapat gangguan kepribadian, terutama dalam hal kedewasaan emosi. Sehingga hubungan sosial dan seksual terganggu bila perilaku seksualnya itu diketahui orang dekatnya, seperti istri, atau bila pasangan sesksualnya tidak lazim. Oleh karena itu, pendekatan kepada penderita hendaknya dengan penuh pengertian, tidak dengan menghakimi atau mempermasalahkan. Juga dicoba menyelami perasaan dan jiwa mereka karena acap kali gangguan itu terbentuk dari keinginan dan pengalaman masa lalu.
Boneka wanita
Penderita fetisisme banyak menggunakan benda mati sebagi cara eksklusif untuk mencapai kepuasan seksual. Fetisy dapat berupa suatu bagian dari tubuh wanita seperti bulu kemaluan, rambut. Dapat juga berupa pakaian atau benda lain milik wanita semacam Bra (BH), sepatu, dan barang lainnya. Ada pula yang berkaitan dengan fetisys di masa kecil.
Kegiatan seksual dapat ditujukan pada fetisy itu sendiri seperti melakukan masturbasi menggunakan BH, lalu berejakulasi ke dalamnya. Atau, fetisy diintegrasikan dengan kegiatan seksual dengan orang lain, seperti menuntut agar pasangannya mengenakan BH warna tertentu atau sepatu berhak tinggi saat melakukan kegiatan seksual. Semua benda-benda itu mutlak dibutuhkan untuk dapat membangkitkan nafsu seksualnya.
Termasuk dalam golongan fetisme adalah manekinisme yang fetisy-nya berupa manekin (patung pamer pakaian) di toko. Ada lagi pigmalionisme yang fetisy-nya berbentuk arca hasil pahatan. Istilah ini diambil dari nama raja Cyprus, Pygmalion, yang jatuh cinta kepada patung wanita hasil pahatannya sendiri. Kadang-kadang penderita fetisme bisa berurusan dengan kepolisian dan aparat hukum karena mencuri BH yang sedang dijemur.
Berpakaian wanita
Terasa aneh kedengarannya penderita kelainan transvestisme. Pria heteroseksual dalam fantasinya atau secara aktual mengenakan pakaian wanita untuk membangkitkan nafsu seksual dan kemudian mendapatkan kepuasan seksual. Mengenakan pakaian wanita merupakan pernyataan identifikasi diri sebagai "wanita" (feminine identification). Jika keinginan mengenakan pakaian wanita tidak tersampaikan, ia akan frustrasi.
Biasanya kelainan ini bermula sejak anak-nak atau remaja. Seperangkat pakaian yang disukai dapat menjadi benda yang merangsang nafsu seksualnya. Yang dikenakan mula-mula hanya terbatas cross-dressing parsial (hanya mengenakan pakaian wanita BH dan celana dalam), lama kelamaan, ia mengenakan pakaian wanita lengkap, cross-dressing total.
Seiring dengan bertambahnya usia, kecenderungan untuk mendapatkan kepuasan seksual melalui cara ini dapat berkurang atau bahkan hilang. Walaupun ada kalanya sejumlah transvestif muncul pada usia lebih lanjut, yang menghendaki mengenakan pakaian wanita dan hidup sebagai wanita secara tetap.
Dalam kasus transeksualisme ini; penderita ingin berganti kelamin, menjadi seperti lawan jenis, dan tidak lagi mendapatkan kepuasan seksual hanya dengan cross-dressing. Penderita merasa dirinya benar-benar wanita.
Tertangkap basah
Ekshibisionisme penis merupakan jenis parafilia lainnya. Pada kelainan psikoseksual ini, penderita senang mempertontonkan penisnya kepada orang yang tidak dikenal. Tujuannya untuk memperoleh kepuasan seksual tanpa bermaksud melakukan kegiatan seksual dengan orang yang melihatnya.
Kepuasan seksual diperoleh penderita pada saat melihat reaksi takut, terperanjat, kagum, atau menjerit dari orang yang melihatnya. Orgasme dicapai dengan melakukan masturbasi saat itu juga atau sesaat kemudian. Perasaannya akan terasa lega begitu berhasil memamerkan penisnya pada wanita dewasa atau anak dengan usia dan bentuk tubuh sesuai keinginannya.
Acap kali seorang eksihibisionis dapat melakukan tindakan pengamanan supaya tidak tertangkap basah saat melakukannya. Ia teliti dahulu sebelum apakah ada pria lain yang mengamatinya atau menutup kembali penisnya bila tiba-tiba muncul seseorang. Ekshibisionis banyak ditemukan pada usia 20-an dan banyak di antaranya mengalami ereksi dalam aktivitas seksual lainnya.
Sadis serta menakutkan
Jenis-jenis parafilia di atas tadi tidak melibatkan kontak seksual yang merugikan lawan jenis. Tetapi tidak demikian dengan sadomasokisme dan paedofilia. Pada sadomasokisme terdapat penggabungan unsur sadistis dan masokistik saat melakukan hubungan seksual. Dikatakan sadistik kalau ia melukai atau menyakiti orang lain secara sengaja atau ancaman demi kepuasan seksual.
Dibilang masokistis kalau rangsangan seksual diperoleh ketika menjadi sasaran rasa sakit atau ancaman rasa sakit. Yang lebih menyedihkan bila kelainan itu berupa paedofilia. Sebab, sasaran kepuasan seksualnya diarahkan pada anak-anak yang belum puber. Sekitar dua pertiga korban kelainan ini adalah anak-anak berusia 8-11 tahun.
Kebanyakan paedofilia menjangkiti pria, tetapi ada pula kasus wanita berhubungan seks secara berulang dengan anak-anak. Banyak kaum paedofilia mengenal korbannya, seperti saudara, tetangga, atau kenalan. Kaum paedofil dikategorikan menjadi tiga golongan, yakni di atas 50 tahun, 20-an hingga 30 tahun. Dan para remaja. Sebagian besar mereka adalah para heteroseksual dan banyak juga para ayah.
Menangani parafilia
Tidak gampang untuk menangani para penderita parafilia. Karena mereka sering tidak menghendaki atau merasa tidak perlu mendapat terapi. Namun demikian, perlu ada beberapa terapi psikiatrik yang dapat dicoba. Pertama, melakukan pendekatan psikodinamik dan psikoanalitik (menggali pengalaman masa lalu yang menyebabkan kelainan kejiwaan). Kedua, Melakukan terapi perilaku yang terdiri dari aversive conditioning, yaitu conditioning untuk menimbulkan rangsangan (stimulus) terhadap lawan jenis.
Atau mengukur tingkat birahi dengan pletismometris penis. Tentang terapi ini Prof. Arif Adimoelya, seorang ahli androlog dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, terapi aversion diperlukan untuk menghilangkan conditioning yang ada atau hal-hal yang menyebabkan kelainan psikoseksual.
Penderita diberi kejutan listrik sementara disuguhi gambar-gambar atau film mengenai penyimpangan seksual. Khususnya pada voyeurisme dan ekshibisionisme, penderita hendaknya dipacu secara halus untuk lebih berani berkomunikasi langsung dengan lawan jenisnya, sehingga diharapkan lambat laun akan berani melakukan kontak badan langsung. Atau penderita diajari mengatasi rasa takut dan malu untuk mengungkapkan keinginan seks yang benar.
Ketiga, karena umumnya penderita mempunyai sifat dasar kekurangan social skill (kecakapan sosial), maka mereka perlu disertakan dalam program terapi yang mengajarkan kecakapan sosial serta empati terhadap dunia sekelilingnya. Ditambah lagi terapi perilaku secara individual.
Keempat, terapi farmakologi yang meliputi pemberian hormon wanita, anti androgen, dan obat-obatan golongan penghambat daur ulang serotonin yang biasanya digunakan untuk mengobati penderita depresi tetapi keberhasilan terapi ini tampak lebih disebabkan oleh penurunan nafsu birahinya. Terapi ini mungkin lebih efektif pada penderita parafilia bersifat hiperseks.
Kelima, tidak kurang pentingnya perhatian masyarakat terhadap penderita. Mereka hendaknya tidak dicemoohkan tetapi diberi pengarahan agar berusaha menghilangkan kebiasaan yang memalukan tersebut. (Asep Candra Abdillah, pemerhati masalah kesehatan bersumber dari Ints.)***
(pikiran-rakyat.com)
Remaja Biseks Sering Berseks Tidak Aman
Sebuah survei yang dilakukan terhadap murid SMU di AS menunjukkan bahwa remaja pria yang biseks nampaknya akan sulit melakukan seks yang aman dibandingkan mereka yang hanya mengencani pria atau wanita saja.
Penemuan ini menunjukkan bahwa program pendidikan AIDS di kalangan murid sekolah SMU sebaiknya harus diarahkan untuk remaja yang kemungkinan termasuk kelompok biseksual pula.
Para peneliti dari Massachusetts menemukan bahwa remaja pria yang pengalaman melakukan hubungan biseksual akan lebih mungkin melakukan hubungan seksual dengan empat orang atau lebih dari kedua jenis kelamin, menggunakan obat-obatan dan minum alkohol, dan nampaknya jarang memakai kondom dibandingkan remaja pria yang hanya memiliki pasangan pria atau pasangan wanita saja.
Secara keseluruhan 33% remaja yang mempunyai pasangan dari dua jenis kelamin memakai kondom hanya ketika melakukan hubungan seks, dibanding dengan 66% remaja yang hanya memiliki pasangan wanita dan 61% yang hanya memiliki pasangan pria.
Remaja biseksual juga akan delapan atau 10 kali lebih mungkin terdiagnosa penyakit menular seksual. Berbagai faktor ini bisa meningkatkan risiko seseorang menderita virus HIV. Demikian menurut laporan jurnal American Journal of Public Health, jurnalnya Asosiasi Kesehatan Maysarakat AS.
Saat ini diperkirakan terdapat 112.000 sampai 25.000 orang dewasa AS yang positif menderita HIV dimana setengah dari kelompok ini adalah remaja pria yang memiliki pasangan pria. "Perilaku yang mungkin mengarah terinfeksi HIV biasanya mulai terlihat ketika mereka beranjak dewasa," kata Dr Carol Goodenow dari Departemen Pendidikan Massachusetts di Malden dan rekan-rekannya.
"Memfokuskan pada saat dewasa bisa memberikan gambaran bagaimana cara melakukan pencegahan terhadap remaja yang masih sekolah," tulis mereka.
Dalam penelitian, ada sekitar 67% remaja yang biseks yang hanya ingat bahwa mereka mendapat pendidikan tentang AIDS di sekolah dibandingkan dengan 83% sampai 93% remaja. Kelompok yang disurvei itu, sebanyak 3.065 hanya memiliki pasangan wanita, 94 yang memiliki pasangan pria dan 108 memiliki pasangan dari kedua jenis kelamin.
Goodenow dan rekan-rekannya mencatat bahwa akibat dari ditemukannya perilaku seksual yang menyimpang di kalangan pria dewasa itu mungkin menjadi penyebab dari tidak efektifnya pendidikan seksual yang mereka terima dari luar. Misalnya, lebih dari duapertiga pria hanya melakukan hubungan sesama jenis dan lebih dari sepertiga kelompok biseksual pria menyebutnya sebagai kelompok heteroseksual.
Adanya stigma hubungan sejenis ini membuat para peneliti mencatat bahwa ada hal yang tidak realistik mengenai cara remaja pria mendapat informasi yang terkait AIDS. Banyak yang mendapat dari dukungan kelompok gay atau biseksual atau kelompok sosial.
"Akan lebih mungkin barangkali adalah menciptakan kelas yang yang bisa melingkupi semua murid, termasuk murid berperilaku seksual menyimpang, agar lebih berbudaya dan lebih dewasa."
"Sekarang ini sangat perlu program seperti itu digalakkan dan pesan mereka secara jelas relevan dengan kebutuhan dan pilihan yang dihadapi semua remaja beraktivitas seksual apa pun," tambah para peneliti.
Penemuan ini menunjukkan bahwa program pendidikan AIDS di kalangan murid sekolah SMU sebaiknya harus diarahkan untuk remaja yang kemungkinan termasuk kelompok biseksual pula.
Para peneliti dari Massachusetts menemukan bahwa remaja pria yang pengalaman melakukan hubungan biseksual akan lebih mungkin melakukan hubungan seksual dengan empat orang atau lebih dari kedua jenis kelamin, menggunakan obat-obatan dan minum alkohol, dan nampaknya jarang memakai kondom dibandingkan remaja pria yang hanya memiliki pasangan pria atau pasangan wanita saja.
Secara keseluruhan 33% remaja yang mempunyai pasangan dari dua jenis kelamin memakai kondom hanya ketika melakukan hubungan seks, dibanding dengan 66% remaja yang hanya memiliki pasangan wanita dan 61% yang hanya memiliki pasangan pria.
Remaja biseksual juga akan delapan atau 10 kali lebih mungkin terdiagnosa penyakit menular seksual. Berbagai faktor ini bisa meningkatkan risiko seseorang menderita virus HIV. Demikian menurut laporan jurnal American Journal of Public Health, jurnalnya Asosiasi Kesehatan Maysarakat AS.
Saat ini diperkirakan terdapat 112.000 sampai 25.000 orang dewasa AS yang positif menderita HIV dimana setengah dari kelompok ini adalah remaja pria yang memiliki pasangan pria. "Perilaku yang mungkin mengarah terinfeksi HIV biasanya mulai terlihat ketika mereka beranjak dewasa," kata Dr Carol Goodenow dari Departemen Pendidikan Massachusetts di Malden dan rekan-rekannya.
"Memfokuskan pada saat dewasa bisa memberikan gambaran bagaimana cara melakukan pencegahan terhadap remaja yang masih sekolah," tulis mereka.
Dalam penelitian, ada sekitar 67% remaja yang biseks yang hanya ingat bahwa mereka mendapat pendidikan tentang AIDS di sekolah dibandingkan dengan 83% sampai 93% remaja. Kelompok yang disurvei itu, sebanyak 3.065 hanya memiliki pasangan wanita, 94 yang memiliki pasangan pria dan 108 memiliki pasangan dari kedua jenis kelamin.
Goodenow dan rekan-rekannya mencatat bahwa akibat dari ditemukannya perilaku seksual yang menyimpang di kalangan pria dewasa itu mungkin menjadi penyebab dari tidak efektifnya pendidikan seksual yang mereka terima dari luar. Misalnya, lebih dari duapertiga pria hanya melakukan hubungan sesama jenis dan lebih dari sepertiga kelompok biseksual pria menyebutnya sebagai kelompok heteroseksual.
Adanya stigma hubungan sejenis ini membuat para peneliti mencatat bahwa ada hal yang tidak realistik mengenai cara remaja pria mendapat informasi yang terkait AIDS. Banyak yang mendapat dari dukungan kelompok gay atau biseksual atau kelompok sosial.
"Akan lebih mungkin barangkali adalah menciptakan kelas yang yang bisa melingkupi semua murid, termasuk murid berperilaku seksual menyimpang, agar lebih berbudaya dan lebih dewasa."
"Sekarang ini sangat perlu program seperti itu digalakkan dan pesan mereka secara jelas relevan dengan kebutuhan dan pilihan yang dihadapi semua remaja beraktivitas seksual apa pun," tambah para peneliti.
Pedofilia Yang Mengancam Anak-Anak Kita..!
Michael Jackson, mega bintang yang terkenal seantero dunia, dituntut oleh orang tua yang merasa anaknya telah mengalami pelecehan seksual oleh penyanyi tersebut. Serangkaian penyelidikan dan persidangan digelar untuk membuktikan benar tidaknya tuduhan tersebut. Dunia tersentak, figur yang selama ini dikenal dekat dengan anak-anak, sekarang menjadi tersangka kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.
Di Indonesia sendiri, kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur sering terjadi. Salah satu kasus yang paling menghebohkan adalah kasus Robot Gedek yang terbukti melakukan sodomi terhadap anak-anak dibawah umur. Beruntung ia dapat ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Namun demikian, masyarakat harus tetap waspada karena besar kemungkinan masih banyaknya pelaku pelecehan seksual terhadap anak-anak yang mengintai di lingkungan kita.
Pelecehan seksual pada anak dapat mencakup kontak atau interaksi antara anak dan orang dewasa dimana anak tersebut dipergunakan untuk stimulasi seksual oleh pelaku atau orang lain yang berada dalam posisi memiliki kekuatan atau kendali atas korban. Termasuk di dalamnya kontak fisik yang tidak pantas, membuat anak melihat tindakan seksual atau pornografi, menggunakan anak untuk membuat pornografi atau memperlihatkan alat genital orang dewasa kepada anak.
Banyaknya kasus pelecehan seksual pada anak tidak lepas dari fenomena fedofilia. Walaupun tidak semua pelecehan seksual pada anak dilakukan oleh penderita fedofilia, tetapi akan banyak manfaatnya bila kita mengetahui ciri-ciri seorang fedofil. Fedofilia memiliki pengertian sebagai suatu gangguan psikoseksual dimana orang dewasa memperoleh kepuasan seksual bersama seorang anak pra remaja. Ciri utamanya adalah bahwa berbuat atau berfantasi tentang kegiatan seksual cara yang paling sesuai untuk memperoleh kepuasan seksual.
Empat karakteristik utama yang dimiliki oleh seorang pedofil :
Pola perilaku jangka panjang dan persisten.
- Memiliki latar belakang pelecehan seksual. Penelitian menunjukkan bahwa banyak pelaku kekerasan seksual merupakan korban dari kekerasan seksual berikutnya.
- Memiliki kontak sosial terbatas pada masa remaja. Pada waktu remaja, pelaku biasanya menunjukkan ketertarikan seksual yang kurang terhadap seseorang yang seumur dengan mereka.
- Riwayat pernah dikeluarkan dari militer. Militer dan organisasi lainnya akan mengeluarkan pedofil dan akan membuat dakwaan dan tuntutan terhadap mereka.
- Sering berpindah tempat tinggal. Pedofil menunjukkan suatu pola hidup dengan tinggal di satu tempat selama beberapa tahun, mempunyai pekerjaan yang baik dan tiba-tiba pindah dan berganti pekerjaan tanpa alasan yang jelas.
- Riwayat pernah ditahan polisi sebelumnya. Catatan penahanan terdahulu merupakan indikator bahwa pelaku ditahan polisi karena perbuatan yang berulang-ulang, yaitu pelecehan seksual terhadap anak-anak.
- Korban banyak. Jika penyidikan mengungkap bahwa seseorang melakukan pelecehan seksual pada korban yang berlainan, ini merupakan indikator kuat bahwa ia adalah pedofil.
- Percobaan berulang dan beresiko tinggi. Usaha atau percobaan yang berulang untuk mendapatkan anak sebagai korban dengan cara yang sangat trampil merupakan indikator kuat bahwa pelaku adalah seorang pedofil.
Menjadikan anak-anak sebagai obyek preferensi seksual
- Usia > 25 tahun, single, tidak pernah menikah. Pedofil mempunyai preferensi seksual terhadap anak-anak, mereka mempunyai kesulitan dalam berhubungan seksual dengan orang dewasa dan oleh karena itu mereka tidak menikah.
- Tinggal sendiri atau bersama orang tua. Indikator ini berhubungan erat dengan indikator di atas.
- Bila tidak menikah, jarang berkencan. Seorang laki-laki yang tinggal sendiri, belum pernah menikah dan jarang berkencan , maka harus dicurigai sekiranya dia memiliki karakteristik yang disebutkan di sini.
- Bila menikah, mempunyai hubungan khusus dengan pasangan. Pedofil kadang-kadang menikah untuk kenyamanan dirinya atau untuk menutupi dan juga memperoleh akses terhadap anak-anak.
- Minat yang berlebih pada anak-anak. Indikator ini tidak membuktikan bahwa seseorang adalah seorang pedofil, tapi menjadi alasan untuk diwaspadai. Akan menjadi lebih signifikan apabila minat yang berlebih ini dikombinasikan dengan indikator-indikator lain.
- Memiliki teman-teman yang berusia muda. Pedofil sering bersosialisasi dengan anak-anak dan terlibat dengan aktifitas-aktifitas golongan remaja.
- Memiliki hubungan yang terbatas dengan teman sebaya. Seorang pedofil mempunyai sedikit teman dekat dikalangan dewasa. Jika seseorang yang dicurigai sebagai pedofil mempunyai teman dekat, maka ada kemungkinan temannya itu adalah juga seorang pedofil.
- Preferensi umur dan gender. Pedofil menyukai anak pada usia dan gender tertentu. Ada pedofil yang menyukai anak lelaki berusia 8-10 tahun , ada juga yang menyukai anak lelaki 6-12 tahun. Semakin tua preferensi umur, semakin eksklusif preferensi umur.
- Menganggap anak bersih, murni, tidak berdosa dan sebagai obyek.Pedofil kadang memiliki pandangan idealis mengenai anak-anak yang diekspresikan melalui tulisan dan bahasa, mereka menganggap anak-anak sebagai obyek, subyek dan hak milik mereka.
Memiliki teknik yang berkembang dengan baik dalam mendapatkan korban
- Trampil dalam mengidentifikasikan korban yang rapuh. Pedofil memilih korban mereka, kebanyakan anak-anak korban broken home atau korban dari penelantaran emosi atau fisik. Ketrampilan ini berkembang dengan latihan dan pengalaman.
- Berhubungan baik dengan anak, tahu cara mendengarkan anak. Pedofil biasanya mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dengan anak-anak lebih baik daripada orang dewasa lainnya. Mereka juga tahu cara mendengarkan anak dengan baik.
- Mempunyai akses ke anak-anak. Ini merupakan indikator terpenting bagi pedofil. Pedofil mempunyai metode tersendiri untuk memperoleh akses ke anak-anak. Pedofil akan berada di tempat anak-anak bermain, menikah atau berteman dengan wanita yang memiliki akses ke anak-anak, memilih pekerjaan yang memiliki akses ke anak-anak atau tempat dimana dia akhirnya dapat berhubungan khusus dengan anak-anak.
- Lebih sering beraktifitas dengan anak-anak, seringkali tidak melibatkan orang dewasa lain. Pedofil selalu mencoba untuk mendapatkan anak-anak dalam situasi dimana tanpa kehadiran orang lain.
- Trampil dalam memanipulasi anak. Pedofil menguunakan cara merayu, kompetisi, tekanan teman sebaya, psikologi anak dan kelompok, teknik motivasi dan ancaman.
- Merayu dengan perhatian, kasih sayang dan hadiah. Pedofil merayu anak-anak dengan berteman, berbicara, mendengarkan, memberi perhatian, menghabiskan waktu dengan anak-anak dan membeli hadiah.
- Memiliki hobi dan ketertarikan yang disukai anak. Pedofil mengkoleksi mainan, boneka atau menjadi badut atau ahli sulap untuk menarik perhatian anak-anak.
- Memperlihatkan materi-materi seksual secara eksplisit kepada anak-anak. Pedofil cenderung untuk mendukung atau membenarkan anak untuk menelepon ke pelayanan pornografi atau menghantar materi seksual yang eksplisit melalui komputer pada anak-anak.
Fantasi seksual yang difokuskan pada anak-anak
- Dekorasi rumah yang berorientasi remaja. Pedofilia yang tertarik pada remaja akan mendekorasi rumah mereka seperti seorang remaja lelaki. Ini termasuk pernak-pernik seperti mainan, stereo, poster penyanyi rock, dll.
- Memfoto anak-anak. Pedofil memfoto anak-anak yang berpakaian lenkap, setelah selesai dicetak, mereka menghayalkan melakukan hubungan seks dengan mereka.
- Mengkoleksi pornografi anak atau erotika anak. Pedofil menggunakan koleksi ini untuk mengancam korban agar tetap menjaga rahasia aktivitas seksual mereka. Koleksi ini juga digunakan untuk ditukar dengan koleksi pedofil yang lain.
Kewaspadaan masyarakat akan adanya bahaya pedofilia perlu ditingkatkan. Masing-masing keluarga juga harus meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak mereka agar tidak menjadi mangsa penderita pedofilia. Orang-orang terdekat dengan keluarga juga harus diwaspadai karena pelaku pedofilia adalah orang yang telah dikenal baik seperti saudara, tetangga, guru, dll. Bila anak-anak mengalami perubahan perilaku, hendaknya orangtua peka dan dapat berkomunikasi dengan anak sehingga diperoleh pemecahan masalah yang dihadapi anak.(Vita) - Gema Pria BKKBN
Di Indonesia sendiri, kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur sering terjadi. Salah satu kasus yang paling menghebohkan adalah kasus Robot Gedek yang terbukti melakukan sodomi terhadap anak-anak dibawah umur. Beruntung ia dapat ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Namun demikian, masyarakat harus tetap waspada karena besar kemungkinan masih banyaknya pelaku pelecehan seksual terhadap anak-anak yang mengintai di lingkungan kita.
Pelecehan seksual pada anak dapat mencakup kontak atau interaksi antara anak dan orang dewasa dimana anak tersebut dipergunakan untuk stimulasi seksual oleh pelaku atau orang lain yang berada dalam posisi memiliki kekuatan atau kendali atas korban. Termasuk di dalamnya kontak fisik yang tidak pantas, membuat anak melihat tindakan seksual atau pornografi, menggunakan anak untuk membuat pornografi atau memperlihatkan alat genital orang dewasa kepada anak.
Banyaknya kasus pelecehan seksual pada anak tidak lepas dari fenomena fedofilia. Walaupun tidak semua pelecehan seksual pada anak dilakukan oleh penderita fedofilia, tetapi akan banyak manfaatnya bila kita mengetahui ciri-ciri seorang fedofil. Fedofilia memiliki pengertian sebagai suatu gangguan psikoseksual dimana orang dewasa memperoleh kepuasan seksual bersama seorang anak pra remaja. Ciri utamanya adalah bahwa berbuat atau berfantasi tentang kegiatan seksual cara yang paling sesuai untuk memperoleh kepuasan seksual.
Empat karakteristik utama yang dimiliki oleh seorang pedofil :
Pola perilaku jangka panjang dan persisten.
- Memiliki latar belakang pelecehan seksual. Penelitian menunjukkan bahwa banyak pelaku kekerasan seksual merupakan korban dari kekerasan seksual berikutnya.
- Memiliki kontak sosial terbatas pada masa remaja. Pada waktu remaja, pelaku biasanya menunjukkan ketertarikan seksual yang kurang terhadap seseorang yang seumur dengan mereka.
- Riwayat pernah dikeluarkan dari militer. Militer dan organisasi lainnya akan mengeluarkan pedofil dan akan membuat dakwaan dan tuntutan terhadap mereka.
- Sering berpindah tempat tinggal. Pedofil menunjukkan suatu pola hidup dengan tinggal di satu tempat selama beberapa tahun, mempunyai pekerjaan yang baik dan tiba-tiba pindah dan berganti pekerjaan tanpa alasan yang jelas.
- Riwayat pernah ditahan polisi sebelumnya. Catatan penahanan terdahulu merupakan indikator bahwa pelaku ditahan polisi karena perbuatan yang berulang-ulang, yaitu pelecehan seksual terhadap anak-anak.
- Korban banyak. Jika penyidikan mengungkap bahwa seseorang melakukan pelecehan seksual pada korban yang berlainan, ini merupakan indikator kuat bahwa ia adalah pedofil.
- Percobaan berulang dan beresiko tinggi. Usaha atau percobaan yang berulang untuk mendapatkan anak sebagai korban dengan cara yang sangat trampil merupakan indikator kuat bahwa pelaku adalah seorang pedofil.
Menjadikan anak-anak sebagai obyek preferensi seksual
- Usia > 25 tahun, single, tidak pernah menikah. Pedofil mempunyai preferensi seksual terhadap anak-anak, mereka mempunyai kesulitan dalam berhubungan seksual dengan orang dewasa dan oleh karena itu mereka tidak menikah.
- Tinggal sendiri atau bersama orang tua. Indikator ini berhubungan erat dengan indikator di atas.
- Bila tidak menikah, jarang berkencan. Seorang laki-laki yang tinggal sendiri, belum pernah menikah dan jarang berkencan , maka harus dicurigai sekiranya dia memiliki karakteristik yang disebutkan di sini.
- Bila menikah, mempunyai hubungan khusus dengan pasangan. Pedofil kadang-kadang menikah untuk kenyamanan dirinya atau untuk menutupi dan juga memperoleh akses terhadap anak-anak.
- Minat yang berlebih pada anak-anak. Indikator ini tidak membuktikan bahwa seseorang adalah seorang pedofil, tapi menjadi alasan untuk diwaspadai. Akan menjadi lebih signifikan apabila minat yang berlebih ini dikombinasikan dengan indikator-indikator lain.
- Memiliki teman-teman yang berusia muda. Pedofil sering bersosialisasi dengan anak-anak dan terlibat dengan aktifitas-aktifitas golongan remaja.
- Memiliki hubungan yang terbatas dengan teman sebaya. Seorang pedofil mempunyai sedikit teman dekat dikalangan dewasa. Jika seseorang yang dicurigai sebagai pedofil mempunyai teman dekat, maka ada kemungkinan temannya itu adalah juga seorang pedofil.
- Preferensi umur dan gender. Pedofil menyukai anak pada usia dan gender tertentu. Ada pedofil yang menyukai anak lelaki berusia 8-10 tahun , ada juga yang menyukai anak lelaki 6-12 tahun. Semakin tua preferensi umur, semakin eksklusif preferensi umur.
- Menganggap anak bersih, murni, tidak berdosa dan sebagai obyek.Pedofil kadang memiliki pandangan idealis mengenai anak-anak yang diekspresikan melalui tulisan dan bahasa, mereka menganggap anak-anak sebagai obyek, subyek dan hak milik mereka.
Memiliki teknik yang berkembang dengan baik dalam mendapatkan korban
- Trampil dalam mengidentifikasikan korban yang rapuh. Pedofil memilih korban mereka, kebanyakan anak-anak korban broken home atau korban dari penelantaran emosi atau fisik. Ketrampilan ini berkembang dengan latihan dan pengalaman.
- Berhubungan baik dengan anak, tahu cara mendengarkan anak. Pedofil biasanya mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dengan anak-anak lebih baik daripada orang dewasa lainnya. Mereka juga tahu cara mendengarkan anak dengan baik.
- Mempunyai akses ke anak-anak. Ini merupakan indikator terpenting bagi pedofil. Pedofil mempunyai metode tersendiri untuk memperoleh akses ke anak-anak. Pedofil akan berada di tempat anak-anak bermain, menikah atau berteman dengan wanita yang memiliki akses ke anak-anak, memilih pekerjaan yang memiliki akses ke anak-anak atau tempat dimana dia akhirnya dapat berhubungan khusus dengan anak-anak.
- Lebih sering beraktifitas dengan anak-anak, seringkali tidak melibatkan orang dewasa lain. Pedofil selalu mencoba untuk mendapatkan anak-anak dalam situasi dimana tanpa kehadiran orang lain.
- Trampil dalam memanipulasi anak. Pedofil menguunakan cara merayu, kompetisi, tekanan teman sebaya, psikologi anak dan kelompok, teknik motivasi dan ancaman.
- Merayu dengan perhatian, kasih sayang dan hadiah. Pedofil merayu anak-anak dengan berteman, berbicara, mendengarkan, memberi perhatian, menghabiskan waktu dengan anak-anak dan membeli hadiah.
- Memiliki hobi dan ketertarikan yang disukai anak. Pedofil mengkoleksi mainan, boneka atau menjadi badut atau ahli sulap untuk menarik perhatian anak-anak.
- Memperlihatkan materi-materi seksual secara eksplisit kepada anak-anak. Pedofil cenderung untuk mendukung atau membenarkan anak untuk menelepon ke pelayanan pornografi atau menghantar materi seksual yang eksplisit melalui komputer pada anak-anak.
Fantasi seksual yang difokuskan pada anak-anak
- Dekorasi rumah yang berorientasi remaja. Pedofilia yang tertarik pada remaja akan mendekorasi rumah mereka seperti seorang remaja lelaki. Ini termasuk pernak-pernik seperti mainan, stereo, poster penyanyi rock, dll.
- Memfoto anak-anak. Pedofil memfoto anak-anak yang berpakaian lenkap, setelah selesai dicetak, mereka menghayalkan melakukan hubungan seks dengan mereka.
- Mengkoleksi pornografi anak atau erotika anak. Pedofil menggunakan koleksi ini untuk mengancam korban agar tetap menjaga rahasia aktivitas seksual mereka. Koleksi ini juga digunakan untuk ditukar dengan koleksi pedofil yang lain.
Kewaspadaan masyarakat akan adanya bahaya pedofilia perlu ditingkatkan. Masing-masing keluarga juga harus meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak mereka agar tidak menjadi mangsa penderita pedofilia. Orang-orang terdekat dengan keluarga juga harus diwaspadai karena pelaku pedofilia adalah orang yang telah dikenal baik seperti saudara, tetangga, guru, dll. Bila anak-anak mengalami perubahan perilaku, hendaknya orangtua peka dan dapat berkomunikasi dengan anak sehingga diperoleh pemecahan masalah yang dihadapi anak.(Vita) - Gema Pria BKKBN
Saturday, February 24, 2007
Suka Mengumpulkan Benda Wanita, Kenapa?
Setiap kali Ronald masuk kamar Andi pasti ada saja benda wanita yang ditemukan di ruangan sahabatnya itu. Entah itu rok wanita, sepatu wanita, bahkan pernah pula ia menemukan bra. Tetapi Ronlad tidak tahu milik siapa benda-benda tersebut, sebab sepengetahuannya, sahabatnya itu belum punya pacar. Kenapa ya?
Ada kemungkinan Anda mengalami penyimpangan seksual yang disebut Fetisisme. Penyimpangan ini adalah suatu keadaan dimana timbul rangsangan seksual terhadap benda mati atau bagian tubuh yang pada dasarnya bukan organ seks dan tidak ada hubungan dengan seks.
Namun, para penderita fetisisme mempunyai kebutuhan yang kompulsif terhadap obyek-obyek gairah untuk memperoleh pemuasan seksual. Dengan kata lain, orang yang bersangkutan tidak dapat terangsang tanpa kehadiran obyek gairah tersebut.
Benda mati yang merangsang itu sering berupa pakaian yang pernah dikenakan oleh perempuan, seperti BH, celana dalam, stoking, sepatu atau pakaian tidur wanita yang tipis. Orang tersebut mempunyai dorongan kuat untuk mendapatkannya demi kepuasan seksualnya. Sedangkan bagian tubuh tersebut bisa jadi jari seorang wanita, atau rambut, kaki, betis, merupakan contoh-contoh obyek fetis yang hidup.
Biasanya, obyek kegemaran itu tidak berubah-ubah. Kalau seseorang suka jari, dia akan tetap mendambakan jari saja, bukan bibir atau celana dalam. Orang yang menginginkan celana dalam tidak akan mudah beralih ke BH.
Setelah diperoleh, benda-benda tersebut sering disembunyikan dan sekali-sekali dikeluarkan untuk dielus, diendus atau dipandangi sambil masturbasi atau melakukan hubungan seks dengan pasangannya. Ada orang yang tingkat fetisismenya telah begitu dalam sampai dia sulit berada jauh dari benda yang menggairahkan itu.
Khusus tentang benda mati ini, fetisisme dapat dikategorikan ke dalam dua jenis: fetisisme bentuk dan fetisisme media. Dalam fetisisme bentuk, yang penting adalah bentuk objek tersebut dan objeknya sendiri, seperti sepatu hak tinggi. Sedangkan dalam fetisisme media, yang penting adalah bahan obyek itu sendiri, misalnya sutra atau kulit. Penderita fetisisme obyek sering mengumpulkan benda yang mereka senangi, bahkan mungkin juga dengan cara yang ekstrem seperti mencuri.
Apa saja yang menarik bagi penderita fetisisme?
Daftar benda mati yang dapat digunakan oleh penderita fetisisme ini sangat panjang. Di antara benda mati, yang paling umum adalah barang-barang wanita, seperti celana dalam, BH, rok dalam, stoking, pakaian tidur tipis, sepatu, sepatu boot dan sarung tangan. Sedangkan obyek-obyek media yang paling umum adalah benda yang terbuat dari kulit, karet, sutra, atau bulu.
Dalam beberapa kasus, gambar atau foto dapat juga meningkatkan gairah seks penderita fetisisme. Namun, umumnya penderita fetisisme lebih memilih barang yang pernah dipakai seorang wanita. Yang khas ialah bahwa barang ini tidak digunakan sebagai bahan simbolik untuk mengingat pemakainya. Soalnya, obyeknyalah yang didambakan oleh penderita fetisisme tersebut, bukan pemiliknya.
Sedangkan bagian tubuh yang menarik perhatian penderita ini umumnya adalah rambut, jari-jemari tangan, dengkul, betis, kuku, bibir, pinggul, dan pantat. Namun, yang paling umum adalah buah dada. Ini semua adalah contoh obyek bergerak yang sangat didambakan penderita fetisisme.
Dalam beberapa kasus, penderita fetisisme ini hanya dapat meningkatkan gairah seksnya dan mengalami orgasme bila benda pujaannya digunakan. Namun dalam kasus lain, respon seksualnya juga dapat timbul tanpa kehadiran benda tersebut, tetapi biasanya dengan kadar yang agak kurang.
Apabila obyek tersebut tidak ada, penderita fetisisme ini biasanya dapat meningkatkan gairah seksualnya hanya dengan membayangkan benda tersebut. Sedangkan bagi beberapa yang lain, obyek tersebut harus dikenakan oleh pasangannya dengan cara tertentu agar dapat menimbulkan gairah seks. Misalnya, pasangannya harus mengenakan celana dalam warna hitam dengan model tertentu dan sepatu hak tinggi.
Ada kemungkinan Anda mengalami penyimpangan seksual yang disebut Fetisisme. Penyimpangan ini adalah suatu keadaan dimana timbul rangsangan seksual terhadap benda mati atau bagian tubuh yang pada dasarnya bukan organ seks dan tidak ada hubungan dengan seks.
Namun, para penderita fetisisme mempunyai kebutuhan yang kompulsif terhadap obyek-obyek gairah untuk memperoleh pemuasan seksual. Dengan kata lain, orang yang bersangkutan tidak dapat terangsang tanpa kehadiran obyek gairah tersebut.
Benda mati yang merangsang itu sering berupa pakaian yang pernah dikenakan oleh perempuan, seperti BH, celana dalam, stoking, sepatu atau pakaian tidur wanita yang tipis. Orang tersebut mempunyai dorongan kuat untuk mendapatkannya demi kepuasan seksualnya. Sedangkan bagian tubuh tersebut bisa jadi jari seorang wanita, atau rambut, kaki, betis, merupakan contoh-contoh obyek fetis yang hidup.
Biasanya, obyek kegemaran itu tidak berubah-ubah. Kalau seseorang suka jari, dia akan tetap mendambakan jari saja, bukan bibir atau celana dalam. Orang yang menginginkan celana dalam tidak akan mudah beralih ke BH.
Setelah diperoleh, benda-benda tersebut sering disembunyikan dan sekali-sekali dikeluarkan untuk dielus, diendus atau dipandangi sambil masturbasi atau melakukan hubungan seks dengan pasangannya. Ada orang yang tingkat fetisismenya telah begitu dalam sampai dia sulit berada jauh dari benda yang menggairahkan itu.
Khusus tentang benda mati ini, fetisisme dapat dikategorikan ke dalam dua jenis: fetisisme bentuk dan fetisisme media. Dalam fetisisme bentuk, yang penting adalah bentuk objek tersebut dan objeknya sendiri, seperti sepatu hak tinggi. Sedangkan dalam fetisisme media, yang penting adalah bahan obyek itu sendiri, misalnya sutra atau kulit. Penderita fetisisme obyek sering mengumpulkan benda yang mereka senangi, bahkan mungkin juga dengan cara yang ekstrem seperti mencuri.
Apa saja yang menarik bagi penderita fetisisme?
Daftar benda mati yang dapat digunakan oleh penderita fetisisme ini sangat panjang. Di antara benda mati, yang paling umum adalah barang-barang wanita, seperti celana dalam, BH, rok dalam, stoking, pakaian tidur tipis, sepatu, sepatu boot dan sarung tangan. Sedangkan obyek-obyek media yang paling umum adalah benda yang terbuat dari kulit, karet, sutra, atau bulu.
Dalam beberapa kasus, gambar atau foto dapat juga meningkatkan gairah seks penderita fetisisme. Namun, umumnya penderita fetisisme lebih memilih barang yang pernah dipakai seorang wanita. Yang khas ialah bahwa barang ini tidak digunakan sebagai bahan simbolik untuk mengingat pemakainya. Soalnya, obyeknyalah yang didambakan oleh penderita fetisisme tersebut, bukan pemiliknya.
Sedangkan bagian tubuh yang menarik perhatian penderita ini umumnya adalah rambut, jari-jemari tangan, dengkul, betis, kuku, bibir, pinggul, dan pantat. Namun, yang paling umum adalah buah dada. Ini semua adalah contoh obyek bergerak yang sangat didambakan penderita fetisisme.
Dalam beberapa kasus, penderita fetisisme ini hanya dapat meningkatkan gairah seksnya dan mengalami orgasme bila benda pujaannya digunakan. Namun dalam kasus lain, respon seksualnya juga dapat timbul tanpa kehadiran benda tersebut, tetapi biasanya dengan kadar yang agak kurang.
Apabila obyek tersebut tidak ada, penderita fetisisme ini biasanya dapat meningkatkan gairah seksualnya hanya dengan membayangkan benda tersebut. Sedangkan bagi beberapa yang lain, obyek tersebut harus dikenakan oleh pasangannya dengan cara tertentu agar dapat menimbulkan gairah seks. Misalnya, pasangannya harus mengenakan celana dalam warna hitam dengan model tertentu dan sepatu hak tinggi.
Biseksualitas, Lelaki Atau Perempuan Sama Saja
Positif dan responsif. Begitu kesan (sementara) dari surat-surat (e-mail) para netters yang masuk ke redaksi. Ada bermacam-macam tanggapan, komentar dan saran. Syukur, tanggapan itu umumnya positif dan konstruktif. Bahkan, ada salah seorang netters yang meminta saya agar menulis masalah biseksualitas.
Nah, kali ini saya akan mengupas soal biseksualitas ini sebagai 'jawaban' untuk memenuhi keinginan salah seorang netters. Seperti Anda tahu, salah satu arti kata bi dalam bahasa Latin adalah dua. Biseksualitas berarti memiliki responsivitas seksual terhadap kedua jenis kelamin. Tak jarang anak-anak dan remaja memiliki ketertarikan seksual terhadap orang dengan jenis kelamin yang sama.
Banyak ahli yakin bahwa sebagian besar biseksualitas pada orang dewasa - yang jumlahnya sekitar 10 sampai 15% populasi - adalah heteroseksual atau homoseksual. Walaupun sebagian kecil mempertahankan hubungan seksual dengan lelaki dan perempuan secara serentak dalam cara yang sama atau hampir sama, sebagian besar menghabiskan lebih banyak waktu dengan salah satu jenis kelamin.
Biseksualitas sejati lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan lelaki. Apakah hal tersebut benar dengan alasan sosial atau biologis? Kita tidak tahu. Rata-rata lelaki menolak gagasan mencari pengalaman seksual dengan lelaki lain, sedangkan rata-rata perempuan, kendati tak punya kecenderungan ke arah biseksualitas, tak akan bereaksi secara berlebihan terhadap gagasan biseksual dengan perempuan lain.
Jika popularitas di antara lelaki erotika yang memperlihatkan perempuan biseksual atau lesbian merupakan suatu indikasi, banyak lelaki mungkin tertarik menonton atau membayangkan dua perempuan bersama-sama.
Sedikit wanita yang melaporkan respon tersebut terhadap dua lelaki yang bersama-sama. Juga, lebih mudah bagi perempuan heteroseksual untuk memiliki hubungan seksual yang sama dibandingkan lelaki, karena perempuan diharapkan memiliki persahabatan yang erat dan penuh perasaan dengan perempuan lain.
Banyak orang memiliki suatu tingkat ketertarikan bawah sadar dengan kedua jenis kelamin. Sigmund Freud berpendapat, bahwa kita semua biseksual bawaan, tetapi sebagian besar dari kita mengalami represi pada salah satu sisi.
The Kinsey Institute for Research in Sex, Gender and Reproduction, mengklasifikasikan orang dengan perilaku heteroseksual (normal) saja dengan angka 0 (nol) dan orang dengan perilaku homoseksual dengan angka 6. Memiliki fantasi berulang-ulang tentang pasangan seksual dengan jenis kelamin yang sama, akan memberikan poin di antara skala tersebut.
Nah, kali ini saya akan mengupas soal biseksualitas ini sebagai 'jawaban' untuk memenuhi keinginan salah seorang netters. Seperti Anda tahu, salah satu arti kata bi dalam bahasa Latin adalah dua. Biseksualitas berarti memiliki responsivitas seksual terhadap kedua jenis kelamin. Tak jarang anak-anak dan remaja memiliki ketertarikan seksual terhadap orang dengan jenis kelamin yang sama.
Banyak ahli yakin bahwa sebagian besar biseksualitas pada orang dewasa - yang jumlahnya sekitar 10 sampai 15% populasi - adalah heteroseksual atau homoseksual. Walaupun sebagian kecil mempertahankan hubungan seksual dengan lelaki dan perempuan secara serentak dalam cara yang sama atau hampir sama, sebagian besar menghabiskan lebih banyak waktu dengan salah satu jenis kelamin.
Biseksualitas sejati lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan lelaki. Apakah hal tersebut benar dengan alasan sosial atau biologis? Kita tidak tahu. Rata-rata lelaki menolak gagasan mencari pengalaman seksual dengan lelaki lain, sedangkan rata-rata perempuan, kendati tak punya kecenderungan ke arah biseksualitas, tak akan bereaksi secara berlebihan terhadap gagasan biseksual dengan perempuan lain.
Jika popularitas di antara lelaki erotika yang memperlihatkan perempuan biseksual atau lesbian merupakan suatu indikasi, banyak lelaki mungkin tertarik menonton atau membayangkan dua perempuan bersama-sama.
Sedikit wanita yang melaporkan respon tersebut terhadap dua lelaki yang bersama-sama. Juga, lebih mudah bagi perempuan heteroseksual untuk memiliki hubungan seksual yang sama dibandingkan lelaki, karena perempuan diharapkan memiliki persahabatan yang erat dan penuh perasaan dengan perempuan lain.
Banyak orang memiliki suatu tingkat ketertarikan bawah sadar dengan kedua jenis kelamin. Sigmund Freud berpendapat, bahwa kita semua biseksual bawaan, tetapi sebagian besar dari kita mengalami represi pada salah satu sisi.
The Kinsey Institute for Research in Sex, Gender and Reproduction, mengklasifikasikan orang dengan perilaku heteroseksual (normal) saja dengan angka 0 (nol) dan orang dengan perilaku homoseksual dengan angka 6. Memiliki fantasi berulang-ulang tentang pasangan seksual dengan jenis kelamin yang sama, akan memberikan poin di antara skala tersebut.
Subscribe to:
Posts (Atom)